|
Kawan, maaf aku tak sengaja mendengar percakapanmu melalui telepon dengan kawanmu di seberang “Nggak...Aku nggak bilang sama temen-temen lain soal kerjaanku sekarang. Malu...” Kalimatmu itu yang membuatku sedikit terhenyak. Tapi aku paham. Bahwa kau aktivis kampus pada masanya. Kawan-kawanmu – yang sebagian besar juga ku kenal – bekerja di media, LSM, lembaga penelitian, dan sejumlah kantor yang lumayan bonafid (bernama besar meski tak tahu di dalamnya seperti apa). Mungkin kau malu lantaran kau hanya berprofesi sebagai kuli naskah untuk tayangan TV yang kerap dicaci-maki banyak pihak. Sementara kawan-kawan lainnya memiliki profesi yang “wah”. Ehm...Ya, aku juga pernah merasakan hal yang sama. Merasa minder tatkala bertemu kawan-kawan lain dan mulai berbincang tentang profesi masing-masing. Tapi itu dulu. Hingga sejumlah peristiwa nyata yang terjadi di sekitarku, menyadarkanku bahwa tak ada profesi yang lebih berharga dan berada di atas profesi yang lain. Hakim yang tak jujur, anggota dewan dan aparat pemerintah yang korup, bukankah lebih rendah dibanding pemulung yang jujur bukan? Tapi lagi-lagi aku bisa mengerti sikapmu, kawan. Ucapanmu pada kawan di seberang telepon, mengingatkanku pada seorang kawan lainnya. Aku ingin memperkenalkannya padamu dan membuatmu meralat ucapanmu diatas. ---------------------------------------------------------------- Kawan lainnya adalah aktivis yang dikagumi oleh banyak pihak. Ia menolak saat ditawari bekerja di beberapa tempat, lantaran merasa tak se-ide. Merasa bahwa ia akan “ternoda” dan menjadi “rendah” jika berkompromi dengan tempat-tempat itu. Tapi selang beberapa waktu, sebuah berita mengejutkan mampir di telingaku. Sang aktivis dan jaringannya mengancam dan memeras Ketua dan Wakil Ketua KPU, atas suruhan seorang calon legislatif yang gagal mendapatkan kursi. ----------------------------------------------------------------- Apa pendapatmu sekarang, kawan? |
| lantip May 19, 2006 04:38 PM PDT malu, satu sifat yang dimiliki oleh siapapun. kalo dipikir-pikir, kita selalu malu menjadi orang Indonesia. selalu malu dengan ritual ibadah. tapi kalau berhenti di "kata" malu saja, buat apa? do something! sesuatu yang lepas, yang keluar dari kotak picik apapun di sekelilingmu. kalopun kamu masih merasa malu, satu saat nanti anakmu yang bangga untukmu. | ||
| yoyok May 18, 2006 12:16 AM PDT saya jg malu nih, ngantor kaosan melulu, disangka masih mahasiswa..tp boleh juga sih..awet muda teruus.... | ||
| phetot May 16, 2006 12:09 PM PDT LSM, Pegawai Pemerintah, atau kuli naskah cuma sebuah profesi dan sama derajatnya. jadi ga perlu iri hati atau mencap jelek sebuah profesi... semua tergantung dari sifat, sikap, pemikiran dan budi pekerti seseorang itu. tergantung dari bagaimana cara orang itu menyikapi profesinya. jgn mengklaim profesi sesorng atau siapapun mau dia LSM, mau dia PNS, mau mereka kuli, bahkan PSK sekalipun, sikapi aja profesi kita masing2 tanpa harus menodai profesi seseorng dan mencapnya ini itu! kenapa seh ga jadi diri sendiri aja?? aku pernah denger dari kawanku ya entah pepath atau cuma pegangan hidup, perkataan nya begini "kalo kita ga ingin di bicarakan orang jangan pernah membicaraan orang lain, kalo kita ga ingin di pandang sebelah mata, jangan pernah memandang orang lain dengan sebelah mata" kayanya kata itu cukup deh buat komentar disini | ||
| johan May 15, 2006 03:47 PM PDT gw juga banyak tahu orang lsm yg hemaprodit ... | ||
| Bang Pi'i May 14, 2006 01:21 PM PDT woh!!! "yang memberi makna suatu pekerjaan adalah orangnya, bukan jabatannya" (hadi purnomo, mantan dirjan pajak) kekekekekkeek eh mbak... saya lagi di mbetawi lho!!! sayang besok pagi harus balik lagi... | ||
| Leave a Comment: |