|
Mengunjungi Calon Primadona Wisata Baru di Kota Kembang Satu minggu yang lalu, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Bandung. Menyelesaikan sedikit urusan sekaligus refreshing. Mencari suasana baru saat diri sedang berada di titik kejenuhan tertinggi. Dan kebetulan sejak Desember tahun lalu, nggak pernah bisa libur. Kerjaan numpuk nggak ada habis-habisnya. Keberangkatan waktu itu pun sempat terancam batal. Jam 4 sore, waktu lagi packing, ditelepon, harus edit naskah secepatnya. Malam itu juga harus dikirim. Terpaksa balik lagi ke kantor. Ngedit naskah dengan terburu-buru sambil sesekali melihat jam dinding. Akhirnya kelar juga jam setengah tujuh malam. Begitu naskah selesai dikirim, langsung pulang ke rumah, ambil tas dan bareng adik ngebut ke stasiun. Celakanya sampai di stasiun, kereta terakhir ke Bandung baru saja berangkat. Sempat bingung mau tetap ke Bandung atau nggak? Naik bus atau travel? Akhirnya, seorang kawan men-sms-ku. "Naik travel (titik-titik, nggak etis toh nyebut namanya!) aja, kantornya di daerah Kwitang, dekat pom bensin. Itu travel resmi". Maka Minggu (2/4) dinihari, sampailah di kota kembang tersebut. Setelah cari penginapan dan tidur sebentar, siang harinya berkeliling kota. Termasuk mencari lokasi Kopi Aroma yang katanya legendaris itu. Mas Dhenny yang jadi guide ternyata belum begitu hapal Kota Bandung. Hehehe...Jadi sempat tanya-tanya dulu sama petugas resepsionis di hotel dan orang-orang yang ditemui di jalan. Akhirnya ketemu juga. Tapi sayangnya tutup. Rupanya setiap hari Minggu, pemilik Aroma Coffee itu menutup tokonya. Rencana untuk beli kopi pun batal. Kebetulan sudah waktunya makan siang. Mas Dhenny pun mengusulkan untuk pergi makan di daerah Punclut. Terletak di ujung Ciambeuleuit (aduh, tolong dikoreksi ejaannya ya!), Punclut adalah salah satu bukit yang memagari Kota Bandung. Yang tidak membawa kendaraan pribadi lebih baik naik ojek. Cukup lima ribu rupiah. Tapi kalau mau dan kuat jalan kaki juga tidak masalah. Hanya saja jalan yang mesti dilalui cukup terjal. Sepanjang lebih dari 1 km dan terus mendaki. Dijamin ngos-ngosan, lutut lemas dan keringat bercucuran, begitu sampai di puncaknya. Jangan bayangkan kita akan menemui restoran mewah dengan fasilitas yang wah. Hanya ada warung-warung yang dinding dan lantainya terbuat dari batang bambu yang sudah dibersihkan dan dibelah-belah, kemudian dilapisi tikar pandan atau karpet tipis. Atapnya terus terang lupa terbuat dari apa. Lebih dari 15 warung berderet di sepanjang tempat itu, menawarkan menu yang seragam. Aneka masakan pepes, gorengan, lalapan dan sambal terasi. Tapi yang spesial, ada tiga macam nasi di tempat ini. Nasi putih, yang biasa kita makan sehari-hari; nasi merah dan nasi hitam (terbuat dari beras ketan hitam). Kami pun memesan nasi hitam, pepes belut, pepes tahu, pepes oncom, pepes ikan mas, pepes jamur, ayam bakar, ayam goreng, belut goreng, tahu goreng, lalapan, sambal terasi dan teh tawar. Sambil menunggu pesanan, kami memandang ke kejauhan. Ke arah Kota Bandung yang terletak jauh di bawah. Membentang memenuhi sepanjang lembah dengan berbagai bangunan beraneka ragam. Angin sepoi-sepoi bertiup, melenakan dan bikin ngantuk. Tapi nggak lama, makanan pesanan pun datang yang langsung kami habiskan. Pepesnya menurutku biasa saja, tapi sambal terasinya rruuuaarrr biasa! Segar dan pedas. Cocok dengan nasi hitamnya yang sedikit berminyak. Wuaaahhh...Super kenyang setelahnya. Dan rasanya cukup sebanding dengan pengorbanan untuk mencapai tempat tersebut. Di warung yang kami datangi tersebut, banyak pengunjung yang berasal dari kota lain atau daerah sekitar Punclut. Ada rombongan pengendara sepeda balap, ada keluarga, ada pasangan kekasih, ada pula anak-anak muda yang hanya ingin sekedar bersantai setelah kebut-kebutan di sepanjang jalan yang membentang di daerah Punclut. Selesai makan, kami berjalan pulang. Aku ngotot untuk jalan kaki. Meski waktu itu saltum, pakai high heels...Aduuuhh, nggak tahu kalau bakal ke tempat seperti ini. Kalau tahu kan sandal di hotel bisa ku ambil :p Mampir sebentar di sebuah warung dan beli kripik Punclut. Di labelnya tercantum tulisan "NO KOLESTEROL". Tapi bukan karena itu aku membelinya. Lebih karena kripiknya luar biasa renyah, tidak terlalu gurih dan tidak terlalu manis. Ada kripik ubi, pisang, singkong dan talas. Yang alergi dengan talas, sebaiknya jangan memakannya. Kalau tetap nekat, paling-paling bibirnya sedikit gatal-gatal. Meski tidak sampai 24 jam di Bandung, tapi rasanya kunjungan ke-5 ku di kota ini cukup menyenangkan. Dan itu karena Punclut. Entah kenapa merasa yakin kalau Punclut bisa menjadi primadona wisata baru di Bandung, selain kampung daun dan tempat makan lainnya. Bagi orang Jakarta sepertiku, Punclut dengan segala kesederhanaannya, justru menawarkan hal baru dan membuat pikiran jadi segar kembali. Thanks ya Mas Den...Atas rujukan tempat makannya. Lain kali aku pasti kesana lagi! |
| The Kuro April 12, 2006 02:26 PM PDT Kurang, ikan mujair goreng sama pete goreng, jangan lupa juga frutea 2 dan teh botol sosro 1.... hehehehehehe :P | ||
| Leave a Comment: |