 |

Wednesday, December 20, 2006
SELAMAT ULANG TAHUN, TA...
Menjadi
utusan yang mampu bersikap arif. Harapan itu lah yang dipanjatkan
bapak, menyertai kelahiran si tengah dalam keluarga kami. Kami
mengasihinya. Tapi tetap tak mampu menandingi kasih-NYA pada Duta. Duta Arifianto lengkapnya. Begitu
kasihnya IA hingga memberi limpahan rejeki yang luarbiasa untuk
menyambut kelahiran Duta. Bukan hanya untuk keluarga kami, tapi juga
seisi kampung. Panen kali itu memuaskan. Melimpah ruah. Bulir-bulir
padi padat berisi. Harga bagus. Saat
lahir, Duta tak menyusahkan ibu. Ibu tak merasakan sakit luar biasa
seperti saat melahirkan anak-anaknya yang lain. Bahkan tanpa bantuan
bidan atau dokter. Ketika
tumbuh besar, warna kulit Duta jauh lebih gelap dibanding kami
saudaranya. Duta juga jauh lebih mandiri. Tak haus perhatian bapak dan
Ibu. Ketika yang lainnya sibuk bermanja, merajuk, dan merengek saat
dimarahi, Duta tidak. Ia tak gampang menangis apalagi merengek. Ia
tegas pada pendiriannya. Termasuk memutuskan sekolah dan kegiatan apa
yang ingin ia pilih. Aku
ingat. Satu hari, ia muncul di depan pintu setelah lebih dari tiga
minggu tidak pulang ke rumah. Lusuh. Dekil. Kulitnya menghitam terbakar
sinar matahari. Rambutnya gondrong dan acak-acakan. Tubuhnya sedikit
lebih kurus. Tapi matanya berbinar dan senyumnya mengembang. "Gila lo. Jelek banget. Habis darimana?" "Ada deh", cengirnya nakal. Ibu menatapnya curiga. "Selama tiga minggu kamu kemana aja? Nggak di kost-an kan? Kamu bohong sama ibu kan?" Lagi-lagi cengiran nakal menghiasi wajahnya. Usai
mandi dan makan, dengan bersemangat ia bercerita kemana ia bertualang
selama tiga minggu itu. Ibu menahan nafas. Bapak mendelik marah. Aku
serta adik-adikku yang lain terkagum-kagum. Ia dan kawan-kawannya menyusuri Pulau Jawa lantas menyeberang ke Bali
dan Nusa Tenggara bersaudara. Memamerkan foto dirinya di atas bukit
yang melingkari Danau Tiga Warna. Berpose angkuh di Gunung Semeru. Ala boys band di Lereng Rinjani. Bercerita serunya melintasi padang rumput. Bermalam di tepi pantai dengan tubuh, kecuali kepala, terkubur pasir hangat. Aih, aku iri berat padanya. "Emangnya kamu punya uang?" "Ya ada, sedikit. Kita ngompreng. Trus pulangnya numpang pesawat tentara yang nggak ada pintu dan tempat duduknya itu." Ibu
bergidik ngeri. Bapak geleng-geleng kepala. Aku dan adik-adik yang lain
menatap iri. Lagi-lagi ia hanya memamerkan cengiran nakalnya. "Mbak, besok kalo lo udah nikah, gue kasih tahu tempat yang paling asyik buat bulan madu. Gue jamin, elo suka deh. Bali nggak ada apa-apanya", bisiknya. "Emang itu tempat apa?", balas berbisik. Nada sedikit jaim. Hihihihi... "Pantai.
Bersih banget. Pasirnya bagus. Tapi hebatnya, belum ada orang yang
tahu. Elo sama suami lo bisa ngapain aja. Termasuk...hehehehe...di
pantai. Nggak ada yang ngintip", kembali berbisik. Langsung ku keplak kepalanya dengan pipi bersemu merah. Hayah! Tapi
kini ia hanya berbaring di tempat tidur. Sangat kurus. Tak ada lagi
binar ceria yang berpendar dari mata tajamnya. Atau cengiran nakal tiap
kali ia menggodaku. Senyumnya bahkan layu saat aku mengunjunginya. Ia
mengeluh. "Gue cuma boleh jalan-jalan di dalam rumah. Nggak lebih dari 2 menit tiap kali jalan." Aku tersenyum. Duduk disampingnya dan berbisik. "Nggak apa-apa. Yang penting, Allah tetap sayang sama elo kan. DIA nggak mau lihat elo lebih sakit lagi waktu kita semua ketemu DIA disana." Ia tersenyum dan lantas memejamkan matanya. "Selamat ulang tahun, Ta..." *Speechless*
Posted at 06:16 pm by kisahmerahitam
Permalink
Sunday, December 03, 2006
KUCIUM AROMAMU DIMANA-MANA
Kucium
aromamu dimana-mana
Dan kerinduan
ini makin tak tertahankan...
Posted at 04:19 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, November 24, 2006
WELCOME TO THE FIGHT CLUB, BABY!
Yeaaahhh...Fight!
Fight! Fight!
Tapi
tunggu sebentar. Aku rehat dulu sejenak. Bukan untuk mundur, tapi membangun
kekuatan untuk mengalahkan dunia di luar sana.
N’ I promise, I’ll be back!
Nb.
*Akhirnya liburan juga. Ehm...Lirik tas ransel yang sudah penuh dengan barang-barang dan
tiket jam 8 pagi ini.
*For
someone out there. Uuuhh...I really miss you!
Posted at 04:14 am by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, November 23, 2006
Namanya
Budi. Aku lupa nama lengkapnya. Terbenam dalam tumpukan memori. Ya, aku cukup
memanggilnya dengan Mbak Budi. Usia kami hanya terpaut 10 bulan. Tapi lantaran
tradisi, aku menyebutnya dengan embel-embel kata “mbak”. Aku juga lupa, mulai
kapan kami berkenalan dan kemudian dekat.
Kami
akrab. Bagai saudara kembar. Tak terpisahkan. Makan bersama. Mandi berdua.
Berbagi coklat dan kue. Berlomba mengejar anak ayam. Memanjat pohon jambu. Ia
tak pernah menang melawanku memanjat pohon. Aku suka menertawakannya dan ia tak
marah.
Secara
fisik, kami berbeda banyak. Ia hitam manis. Rambutnya ikal dan panjang.
Badannya tipis. Senang mengenakan rok. Ia begitu tenang dan suaranya sangat
lembut. Dan aku? Kebalikannya. Rambutku selalu dipotong pendek. Tak suka
mengenakan rok. Kemana-mana selalu bercelana pendek. Suka memanjat pohon.
Cerewet. Sering protes. Tak pernah duduk tenang.
Tapi
bersamanya, aku melebur. Seperti halnya ia pun melebur. Tak ada aku dan dia.
Hanya ada kami. Seringkali orangtua kami bersusahpayah membujuk agar kami tidur
di rumah masing-masing dan kembali bermain esok hari.
Ketika
masuk sekolah dasar, kami duduk sebangku. Belajar bersama. Membaca buku cerita
berdua. Saling berbagi jawaban PR. Aku kerap melindunginya dari gangguan kawan-kawan
yang nakal. Meski kadang aku sebal padanya. Lantaran ia begitu lemah. Hanya
mampu teteskan airmata. Tapi aku menyayanginya. Seperti ia juga menyayangiku.
Mbak Budi
selalu menyisakan oleh-oleh yang dibawa bapaknya untukku. Ia tak peduli kakak
atau adiknya sudah kebagian atau belum. Ketika majalah langanannya datang, aku
orang pertama yang dipinjaminya. Ketika aku sakit, ia tak mau beranjak dari
sisiku.
Tapi,
satu hari, di tahun ketiga kami sekolah, ia mendatangiku. Terisak. Keluarganya
harus pindah ke kota kecil, di kaki Gunung Tanggamus.
Kami menangis. Saling berjanji tak akan melupakan satu sama lain.
Dua tahun
berlalu. Aku tak pernah mendengar kabar darinya. Aku juga tak pernah memberi
kabar padanya. Dan hidup terus berlanjut. Tapi aku tak pernah melupakannya. Sering
berharap ia kembali pulang dan kami bisa sekolah bersama-sama lagi.
Harapanku
terkabul. Beberapa kawan perempuan membawa kabar gembira, saat aku tengah
bermain gobak sodor di halaman rumah.
“Mbak
Budi pulang...”
“He eh.
Besok dia mulai sekelas lagi sama kita.”
Aku
tersenyum senang.
“Kita ke
rumahnya sekarang yuk!”
Aku
menggeleng. Memutuskan untuk tak ikut kawan-kawan mendatangi rumahnya yang
terletak di ujung utara desa. Ternyata aku tak siap bertemu kembali dengannya.
Mungkinkah dua tahun mengubah segalanya?
Tidak...tidak...tak
ada yang berubah. Aku tetap menyayanginya. Hanya saja kerinduanku padanya
begitu besar. Dan lantas menimbulkan ketakutan. Aku takut ia tak mengenaliku
lagi. Aku takut ia tak seperti dulu.
Dua
tahun. Rentang waktu yang begitu lama untuk anak kecil sepertiku.
Dua
tahun...
*****
Kami
saling bertatapan. Tak saling bicara. Bibirnya bergerak. Tapi tak ada kata yang
keluar. Aku tahu, ia ingin sekali bicara denganku. Seperti aku ingin sekali
memeluknya. Lantas bercerita. Tentang langit di kota
kecilnya. Juga tak lupa, mengenang kembali riak air sungai yang membelah desa
kami dan lantas mengalir bersama kumpulan rebon. Udang-udang kecil yang saling
berlompatan. Berjentik-jentik diatas air. Dulu, kami sering menangkap
udang-udang kecil itu.
Masihkah
ia mengingat itu?
Entahlah.
Ia berlalu dalam kebisuan menuju bangkunya. Ia duduk bersama orang lain. Hatiku
sedih. Tapi berusaha tak peduli. Sehari. Dua hari. Tiga hari. Kami tetap saling
berdiam diri. Namun sering kupergoki ia tengah mencuri pandang padaku.
Sikapnya
membuatku ingin berteriak.
“Hei
kamu, tahukah kalau aku ingin menggandeng tanganmu. Menyusuri tepian kebun.
Pematang sawah. Memetik jagung-jagung muda berambut panjang. Menjadikannya
boneka”.
Tapi aku
tak berteriak. Dan tetap terpaku di bangkuku. Tak pernah berani mendekatinya.
Dan ia tetap di bangkunya.
Sikap
kami membuat kawan-kawan merasa heran. Siang itu, di belakang sekolah,
kawan-kawan berinisiatif memperkenalkan kami kembali. Malu. Sangat ingin.
Menggebu-gebu. Takut. Bercampur jadi satu. Kujabat tangannya erat. Kami saling
tersenyum. Tapi hanya sebatas itu.
Aku tak
tahu apa yang ada di hatinya. Selepas hari itu, kami bersikap biasa. Layaknya
dua kawan yang baru berkenalan. Saling sapa seperlunya. Selebihnya, sibuk
dengan dunia masing-masing. Tapi aku masih sering memergokinya mencuri pandang
padaku.
Sebenarnya,
diam-diam, aku pun sering memperhatikannya. Ia tak seringkih dulu. Tapi ia
menjadi lebih pendiam. Ia sering memandang kosong buku diatas mejanya. Tak
memperdulikan kawan-kawan lain yang mengajaknya bermain. Sesekali mengangkat
kepalanya, hanya untuk menatapku.
Saat wali
kelas membagi kami menjadi kelompok-kelompok kecil, aku memintanya satu
kelompok denganku. Kami mulai bicara banyak. Tapi sebatas tugas kelompok.
Padahal aku pikir, aku dan dia bakal sering meluangkan waktu bersama. Tapi
nyatanya tidak.
Dan aku
mulai jemu. Pada ketakutanku. Pada kerinduanku. Pada kebungkaman kami. Hingga
akhirnya kuputuskan untuk melepaskan semuanya. Menganggap semuanya hanya sebuah
kenangan. Ya, hanya sebuah kenangan. Tak bermakna apapun. Aku tak perduli lagi
padanya. Aku tak perduli, apakah ia masih sering mencuri pandang padaku atau
tidak. Aku juga tak menginginkannya sekelompok denganku lagi. Kuperlakukan ia
sama seperti kawan-kawan yang lain. Bahkan ketika ia kerap diganggu kawan
lelaki yang genit, aku juga tak perduli. Aku malah sering menggodanya seperti
kawan-kawan yang lain. Kadang kulihat matanya berkaca-kaca. Tapi aku sudah tak
perduli.
*****
Hari
terakhir kami bersekolah, ia memberiku sebuah surat. Aku tak boleh membacanya saat itu. Aku
mengangguk. Menuruti permintaannya, aku baru membacanya selepas malam. Setelah
penat bermain seharian.
Ia
menulis, betapa ia merindukanku. Betapa ia ingin seperti dulu. Bersamaku
mengelilingi desa. Mengejar tukang es lilin. Setiap Hari Minggu, ke pasar desa
sama-sama. Membeli cenil, getuk, dan lupis. Ia ingin menggandeng tanganku ke
rumahnya, menunjukkan koleksi majalah dan buku ceritanya. Lantas membacanya
berdua.
Ia
menulis. Ia ingin aku membelanya lagi seperti dulu, setiap kali ada yang
mengganggunya. Ia ingin bercerita tentang cowok-cowok yang ia taksir. Dan ia
hanya ingin berbagi rahasia itu denganku. Seperti ia kerap menyimpan mangga
hingga busuk dilemarinya. Ia pun ingin menikmati mangga itu berdua denganku.
Hanya denganku. Tapi ia tak pernah punya keberanian melakukan itu semua. Ia
takut. Takut aku berubah. Tak mengenalinya lagi.
Ia
menulis. Ia akan kembali ke kota kecilnya di
kaki Gunung Tanggamus. Tinggal bersama neneknya dan bersekolah disana. Ia
merasa sudah tak punya harapan untuk bisa kembali bersahabat denganku. Ia sudah
melepaskan semuanya dan menganggapnya sebagai kenangan.
Aku
menangis. Malam itu aku ingin ke rumahnya. Memberitahunya bahwa aku pun
merindukannya. Bahwa aku ingin semua kembali seperti dulu. Tapi malam terlalu
pekat dan ibu tak mengijinkanku pergi.
“Baru aja
berangkat. Kalau mau, tulis surat
aja, biar kalau nanti ibu kesana, ibu kasihin ke Budi.”
Pandanganku
nanar. Aku terlambat.
Nb:
"Mbak, kalau kau membaca ini, kabari aku!"
Posted at 01:52 am by kisahmerahitam
Permalink
Monday, November 20, 2006
Duh Gusti, susah sekali menangkapnya
Ku mohon, beri aku kaki yang kuat dan
panjang
Agar aku sanggup mengejarnya
Beri aku hati yang teguh dan lapang
Agar aku tak pernah berputus asa
Nb.
Untuk dua sahabat nun disana. Aku
menyayangi kalian. Ku mohon, jangan pernah lepaskan Dia.
Posted at 11:53 am by kisahmerahitam
Permalink
Sunday, November 19, 2006
Kepada
Mbak Yang Terhormat...
Maaf loh
ya mbak, sama sekali nggak bermaksud menolak rejeki. Tapi terus-terang tahun
ini saya tak bisa menuruti permintaan mbak untuk membuat cerita yang mbak
inginkan. Jangan salah paham. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan
sentimen pribadi apalagi SARA.
Hanya
saja, sejak kecil saya belum pernah mempelajari keyakinanmu. Saya tak tahu apa
isi kitabmu. Dan saya tak mau menjadi orang yang sok tahu. Lantas mereka-reka
sesuka hati saya sendiri.
Oh ya,
saya mau saja mempelajarinya. Toh tak ada salahnya tahu dan lantas paham
keyakinan lain. Saya percaya, itu tak akan membuat rasa yakin saya pada apa
yang saya yakini selama ini berkurang. Malah mungkin bertambah. Tapi apa mbak
bisa memberi saya waktu? Enam bulan? Satu tahun? Tiga tahun? Bahkan mungkin
lebih? Wong mempelajari keyakinan yang sudah saya kenal sejak kecil saja,
hingga kini belum pernah tuntas belajarnya. Apalagi ini?
Kenapa?
Oh…Iya…Iya. Saya mengerti. Mbak tak bisa memberi waktu selama itu. Produksi
harus terus berjalan. Modal harus terus diputar. Ya…ya…ya…Saya mengerti. Dan
justru karena saya sangat mengerti itu, saya tak bisa menuruti permintaanmu
yang satu ini.
Sekali
lagi mohon maaf.
Salam
-Merahitam-
Posted at 10:02 am by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, November 18, 2006
IIH MAMA, CAPEK DEH!! Sasky
merasa kesal dengan sikap mamanya yang over protektif. Di usianya yang
menjelang remaja, Sasky tak bisa seperti teman-temannya yang lain.
Jangankan bebas pacaran, jalan-jalan ke mall atau sekedar main dengan
teman saja tidak bisa. Padahal Sasky sedang naksir berat pada Dante,
cowok paling keren di sekolahnya. Dan kelihatannya, Dante pun menaruh
hati padanya. Tapi gimana Sasky bisa kencan dengan Dante kalau mamanya
selalu memonitor setiap kegiatannya? Reni,
sahabat dekat Sasky mengusulkan agar Sasky mencarikan pacar untuk
mamanya. Sejak papa Sasky meninggal, mama Sasky belum pernah menjalin
hubungan khusus dengan lelaki manapun. Menurut Reni, orang yang punya
pacar, cenderung lebih memperhatikan pacarnya dan mengabaikan hal lain.
Maka dimulailah petualangan Sasky mencarikan lelaki sempurna untuk
dijadikan pacar mamanya. Berhasilkah
Sasky menemukan lelaki sempurna untuk mamanya? Benarkah masalah Sasky
akan selesai ketika mamanya punya pacar? Bagaimana kisah cinta Sasky
dan Dante? Mungkinkah Sasky juga menemukan pacar sempurna bagi dirinya?
Tertarik untuk mengetahui kisah selanjutnya? Tonton di Sinema Layar Teenlit, Minggu 19 November 2006, pukul 22.00 WIB di RCTI! Jangan sampai ketinggalan loh ya! 
Posted at 12:48 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, November 17, 2006
ROTI GORENG GULUNG ISI KLASMOB
Resepnya
didapat dari acara GULA-GULA yang ditayangkan salah satu stasiun televisi
swasta pada Sabtu pagi. Nama resepnya lupa, jadi ku kasih nama sesukaku.
“Roti Goreng Gulung
Isi KLaSmoB”
KLaSmoB
sendiri singkatan dari Keju, Lada, dan Smoked Beef. Maksa ya?
Ini salah
satu resep favorit keluarga dan kawan-kawan dekat. Selain karena rasanya yang
yummy, cara membuatnya pun simpel. Begini singkatnya.
BAHAN:
-
Roti
tawar.
Merk apa saja. Sebanyak
satu bungkus. Berisi sekitar 10-12 lembar. Buang pinggirannya yang keras. Lebih
praktis, cari yang sudah dibuang pinggirannya.
-
Smoked
Beef.
Cari yang paling tipis.
Lebarnya sesuaikan dengan lebar roti. Ada smoked
beef yang ukurannya besar, sedang dan kecil. Beli yang berukuran sedang dan
tipis. Ingat, jangan tebal. Karena nanti susah digulung.
-
Keju.
Bisa menggunakan keju
berupa lembaran, misalnya keju kraft. Atau bisa juga menggunakan keju batangan.
Berdasarkan pengalaman, lebih murah membeli keju yang batangan. Cari yang
ukuran kecil saja. Untuk merk … Harganya sekitar Rp.10.000,- per bungkus. Untuk
roti sebanyak 10-12 lembar, kita cukup membutuhkan satu bungkus kecil keju
batangan.
-
Lada
bubuk
-
Tepung
Roti
Satu bungkus kecil isi
200-300 gram.
-
Telur
ayam.
Sebanyak dua butir.
Kocok di dalam mangkuk kecil.
-
Minyak
goreng
ALAT:
-
Wajan/penggorengan
-
Sutil (sendok untuk menggoreng)
-
Talenan (papan yang digunakan untuk alas mengiris
atau memotong)
-
Pisau untuk mengiris atau memotong
-
Gulungan kayu yang biasa digunakan untuk
memipihkan adonan. Kalau tidak ada bisa menggunakan botol bekas sirup yang
sudah dicuci bersih.
-
Parutan keju. Kalau tidak ada bisa
menggunakan sendok garpu atau peretan pepaya. Jika tidak ada juga, cincang
halus dengan pisau.
-
Mangkuk kecil.
-
Piring
CARA
PEMBUATAN:
1.
Letakkan roti tawar yang sudah dibuang
pinggirannya, diatas talenan. Lantas pipihkan dengan gulungan kayu atau botol
bekas sirup. Sampai benar-benar pipih (tipis/gepeng).
2.
Goreng smoked beef. Apinya jangan terlalu
besar dan ingat, jangan sampai gosong. Setelah selesai, tiriskan.
3.
Letakkan
satu lembar smoked beef yang sudah digoreng, diatas lembaran roti yang
sudah dipipihkan.
4.
Taburi lada bubuk diatasnya. Buat yang
tidak terlalu suka pada keju, beri lada bubuk lebih banyak. Supaya rasa eneg
pada keju berkurang.
5.
Pada lapisan paling atas, taburkan keju
parut.
6.
Gulung roti yang sudah diberi lapisan
smoked beef, lada dan keju. Gulung sepadat mungkin. Rekatkan ujung gulungan
dengan mengolesinya dengan telur.
7.
Setelah semua roti selesai diberi lapisan dan
digulung, celupkan ke dalam telur yang sudah dikocok.
8.
Lantas baluri dengan tepung roti.
9.
Potong gulungan roti yang sudah dibaluri
tepung roti tersebut menjadi dua bagian sama panjang.
10. Goreng
hingga berwarna kecoklatan. Ingat, apinya jangan terlalu besar.
11. Sajikan
dalam piring.
Roti goreng gulung isi KlaSmoB lebih enak dimakan hangat-hangat
dengan saus tomat dan atau cabe. Bisa untuk sarapan maupun camilan sore hari.
Silahkan mencoba. Dijamin ketagihan. 
Nb. Porsi
diatas cukup untuk 4-6 orang.
Posted at 01:44 pm by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, November 16, 2006
ANDAI MBAH TRUNO MASIH ADA
Mulanya... Tiga
hari yang lalu, sariawan di lidah, meradang. Buat ngomong susah, makan
nggak enak. Rasanya pedih, perih. Sakit banget. Paling bete waktu
ditelepon bos. Mau nggak mau harus angkat telepon. Lima menit, oke lah. Masih tahan. Tapi lebih dari itu, Omigad… Harus
beli obat sariawan. Nggak bakalan sembuh-sembuh kalau cuma minum
vitamin C. Kebetulan di Kompas Minggu, ada iklan obat sariawan.
Kolomnya cukup besar. Mencolok mata. Nama obatnya ALBOTHYL®. Begitu
dijemput adik – horeee...malam itu tidur di rumah – mampir dulu ke
apotik dekat kantor. Tanpa ba-bi-bu, langsung minta Albothyl sama si
mas penjaganya. Mahal juga. 10 ml harganya Rp.25.500,-. Mungkin memang
benar ampuh seperti iklannya. Selesai
mandi dan ganti baju, bersiap-siap pakai Albothyl. Baca dulu
petunjuknya. Loh...kok...iihh...kok beda di iklan sih? Beneran nggak
neh? Aiihh...Masa salah beli? Apa mungkin ada dua obat bernama sama,
beda khasiat? Nggak...Nggak...Pasti ada yang salah. Cocokin
nama dan kemasan Albothyl yang sudah dibeli dengan gambar di iklannya.
Sama persis. Terus apa yang salah? Kenapa yang di iklan ditulis untuk
mengobati sariawan, sementara di lembaran kertas petunjuk pakai,
tertulis khasiatnya sbb: ALBOTHYL®
mempunyai efek selektif hanya bekerja terhadap jaringan rusak atau
patologis, yaitu koagulasi dan kemudian dikeluarkan atau dilepaskan.
Sedangkan epitel skuamosa yang sehat tidak dipengaruhi oleh ALBOTHYL®. Pada kontak langsung, ALBOTHYL®
dapat mematikan flora patogen dalam vagina (bakteri, jamur,
trikomonas), tetapi sebaliknya mempertahankan flora normal dan
memulihkan keasaman fisiologis dari vagina. ALBOTHYL®
segera pula menghilangkan keluhan-keluhan subyektif penderita seperti
pruntus (gatal-gatal), keputihan dan sebagainya...(dan seterusnya. Teks
aslinya masih panjang). Nah, bingung kan.
Pertama, tidak ada kalimat "menyembuhkan sariawan" atau semacamnya.
Kedua, tidak kenal/tahu beberapa istilah ilmiah yang ada di teks.
Tulisan dibawahnya, lebih kacau lagi. Makin banyak istilah asing.
(Tentunya buat orang awam sepertiku). INDIKASI Ginekologi Vaginitis,
keputihan vagina dan serviks (leher rahim) karena berbagai etiologi,
ektropia dan erosi dari porsio dan serviks, servisitis. Sebagai
hemostatik setelah biopsi dan pengangkatan polip di serviks, erosi
uretra eksterna dan papiloma uretra, kondiloma akuminata. Luka akibat
pemakaian instrumen ginekologi, untuk mempercepat proses penyembuhan
setelah elektro-koagulasi. Bedah Menghentikan
perdarahan lokal dan kapiler, mempercepat pelepasan dan pembersihan
jaringan nekrotik akibat luka bakar dan luka-luka biasa. Dermatologi Untuk
pembersihan dan stimulasi regenerasi jaringan luka/peradangan yang
kronik, lesi dekubitus, ulkus kruris, kondiloma akuminata, dsb. Otorinolaringologi Granulasi
berlebihan (proliferasi) dan polip akibat pembedahan radikal. Nekrosis,
proliferasi dan ekzema dari kanalis auditorius. Hemostasis pada
tonsilektomi dan epistaksis (mimisan). Stomatologi dan Odontologi Hemostasis
pada bedah endodontik, reseksi apeks, kistektomi, kuretase granuloma,
pasca ekstraksi gigi. Gingivitis, dry socket, stomatitis aftosa, herpes
labialis, ragades, kumur-kumur. Berkali-kali
dibaca, tetap tidak bisa paham semuanya. Seharusnya, pihak produsen
menyertakan juga arti dari istilah-istilah asing diatas. Seperti
epistaksis yang langsung diberi kata penjelas mimisan. Apa karena ini
termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter, sehingga pihak
produsen merasa tidak perlu menjelaskan arti istilah-istilah diatas.
Tapi, ini bukan alasan. Toh, buktinya aku bisa beli bebas di apotik,
tanpa ada resep dari dokter. Kenapa
tidak menelepon produsen obatnya langsung atau apotik? Di lembaran
kertas petunjuk pakai, tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi.
Nomor telepon apotiknya juga sudah keburu dibuang. Yang terakhir ini
kesalahan pribadi. Ceroboh! Lantas menelepon mas ini, yang punya riwayat akrab dengan sariawan. Tanya, pernah menggunakan obat ini atau tidak. "Oh iya, itu emang obat buat sariawan. Dokter biasanya nyaranin untuk makai obat itu kalau sariawannya sudah parah..." Oke...Berarti
iklannya tidak salah. Berdasarkan pernyataan si mas tadi dan luka di
lidah yang makin tidak bisa diajak kompromi, akhirnya obatnya kupakai
juga. Begitu cairan obatnya dioleskan di luka, rasanya...Amit-amit
deh...Perihnya nggak ketulungan. Selang beberapa saat, lidah terasa
menebal dan ludah membanjir. Tapi setelah 2-3 kali diolesi, sariawannya
tidak lagi terasa sakit. Ngomong lancar, makan juga enak. Akhirnya... Lantaran
di khasiatnya tertulis obat ini juga bisa digunakan untuk menghilangkan
pruntus (gatal-gatal), iseng-iseng kupakai juga untuk mengobati
gatal-gatal di kaki akibat digigit dihisap nyamuk. Sebenarnya, dihisap
nyamuknya sudah luama suekali. Tapi berhubung kulitku zuper zenzitif,
gatal-gatalnya tak kunjung hilang, malah jadi luka. Untung cuma di
punggung atas kaki kiri. (ket: kalau bagian bawah kaki di sebut
telapak, maka bagian atas kaki ku sebut punggung kaki). Begitu
cairannya diteteskan ke lukanya, rasanya juga amit-amit deh...Perih,
gatal, mengerunyap (ini istilahnya apa ya). Rasanya seperti didemo
ratusan kuman. Selama sehari-semalam terpaksa menahan rasa gatal yang
luarbiasa amit-amitnya. Melebihi hisapan si nyamuk. Tapi keesokan
harinya, rasa gatal itu hilang sama sekali. Lukanya juga mengering.
Sekarang baru tahu gimana rasanya bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian. Hehehe... Mbah Truno... Jadi
ingat, cara kerja obat ini hampir sama dengan cara kerja Mbah Truno.
Perempuan berusia lebih dari 60 tahun itu di desaku terkenal sebagai
pembasmi kuman, penyembuh luka, koreng dan bisul. Dulu, semasa Mbah
Truno masih hidup, sebagian besar orang di desaku yang menderita luka,
koreng dan bisul, memilih untuk berobat pada Mbah Truno daripada ke
dokter, mantri atau bidan. Jika
ke dokter, mantri dan bidan, luka itu baru bisa sembuh setelah 3-5 hari
diobati, tapi di Mbah Truno, hanya satu hari. Pengobatannya ajaib.
Berdasarkan usianya, mata Mbah Truno seharusnya sudah tidak berfungsi
dengan baik. Tapi, hebatnya, mata tua Mbah Truno mampu melihat kuman –
yang pastinya zuper kecil – yang ada di dalam luka, koreng atau bisul.
Jari tangan Mbah Truno dengan lincah mengambil kuman-kuman itu dari
dalam luka/koreng. Memitesnya (menekan objek diantara kuku jempol kanan
dan kuku jempol kiri) hingga mati. Bunyinya ctik…ctik…ctik… Terus-menerus
hingga kuman itu habis tak bersisa. Bisa dibayangkan, bagaimana
sakitnya si penderita ketika Mbah Truno beraksi. Tapi keesokan harinya,
luka itu lantas mengering dan sembuh. Tapi
sayang, beliau sudah meninggal belasan tahun lalu. Jika tidak, mungkin
tak perlu repot-repot membaca lembaran petunjuk pakai yang penuh dengan
istilah asing itu. Nb. - Panjang bener ya?
- Harusnya dapat bayaran dari Albothyl nih. Hehehe...
- Dr.Tito, pe-er buatmu. Tolong jelaskan arti istilah-istilah asing diatas. :D
Posted at 01:48 pm by kisahmerahitam
Permalink
Wednesday, November 08, 2006
Layakkah mempertahankan sesuatu yang mulai terasa tidak nyaman?
Posted at 01:32 am by kisahmerahitam
Permalink
|
 |
|
|
|
|