Berjumpa dengan kawan-kawan lama, selalu menyenangkan buat saya. Berbagi cerita, kabar, bahkan kenangan. Siapa yang sangka jika sang kawan justru mengingat kejadian atau bahkan kalimat sepele yang pernah kita ucapkan di masa lalu.
"Gila lo. Elo mau gue bunuh-bunuhan?"
Dan lelaki berkacamata itu tergelak. Syal abu-abu yang dikenakannya bergerak seirama tawanya. Sorot matanya tak percaya saat menatap kami, saya dan seorang kawan perempuan.
"Masa sih gue ngomong begitu?", tanyanya tak yakin.
"Iya. Waktu itu kan elo marah banget", ujar saya mengingatkannya.
Ia kembali tergelak. Tawanya lepas.
"Gue udah lupa. Elo berdua masih inget aja."
"Ingat nggak, waktu kita bertiga belajar renang di kolam yang buat anak-anak kecil itu?"
Kami bertiga kembali tertawa mengingat kekonyolan yang pernah dilakukan. Tiga orang dewasa berenang gaya batu di kolam untuk anak-anak. Meski airnya cuma setinggi lutut, kami bergantian memakai pelampung warna shocking pink. OMG! *tepok jidat*
Seperti biasanya setiap kali bertemu, reuni sepanjang sore hingga malam tadi tak melulu soal mengenang masa lalu. Ada cerita tentang rencana dan harapan di masa mendatang. Pekerjaan, keluarga, kekasih, sampai soal liburan dan rumah impian.
Saya, entah kenapa, selalu merasa gembira setiap kali berbagi harapan dengan mereka. Melihat mereka tersenyum dengan sorot mata berbinar-binar, membuat hari saya sempurna.
Makasih kawan, untuk semuanya.
Nb. Jadi penasaran, siapa yang bakal dibawa olehmu ke Taman Mini minggu depan ya Mas? :p
Hari ini saya ingin sekali menjadi putri tidur. Hidup dalam buaian mimpi indah hingga sang pangeran membangunkannya dengan satu kecupan mesra. Dan dunia di sekitar menjadi penuh warna. Tak ada yang perlu dicemaskan.
Sayangnya, saya tak bisa tidur. Dua jam lebih bergolek, miring kanan-miring kiri, sembari menikmati Home milik Michael Buble, tak membuat mata segera terpejam. Semestinya dalam putaran kedua atau ketiga, suara lembut Buble akan mengantarkan saya dalam lena yang panjang. Seperti yang biasa dilakukannya. Tapi kali ini tidak.
Jadi saya memutuskan untuk bangun. Pekerjaan baru datang nanti malam. Masih tersisa banyak waktu dan ada banyak hal yang ingin saya lakukan. Membongkar beberapa barang, membaui setiap lembarnya yang akan membawa saya terbang menjelajah hingga puncak Monas yang berkilauan di satu pagi.
Pagi terindah. Saya rebah. Menyerahkan diri sepenuhnya pada hamparan rumput hijau dan matahari keemasan yang mengintip dari sela-sela pucuk dedaunan. Angin bertiup dari utara, menyebarkan aroma asin di udara. Aroma laut.
Angan saya pun melompat pada ikan lumba-lumba. Matanya bulat hitam berbinar tatkala dua tangan kanan saling bersentuhan saat mengusap kulitnya yang licin dan berwarna kelabu. Senyum malu-malu tergambar di sudut kerlingan. Tak usai hingga angin terus membawa angan saya di sepanjang ruas jalan menuju Senayan.
Sayup-sayup lirik lagu Lenny Kravitz menyeruak, memaku angan. I belong to you. You belong to me.
Ada yang basah.
Jarum jam di dinding menunjukkan pukul empat lebih duapuluhlima menit. Masih ada waktu. Saya ingin jogging. Sesuatu yang saya ingin lakukan sejak dulu. Memutari Senayan, Monas, maupun boulevard UGM dan menikmati sentuhan lembut angin di wajah, saat kita berlari.
Sepatu hitam bergaris merah akan menemani saya. Ini pertama kalinya kami akan bersama-sama mengejar jejak jingga di ujung cakrawala. Tapi sayangnya, jejak jingga tak mau menghias langit sore ini. Ia bersembunyi dalam nestapa yang berkelindan rapi membungkus. Berharap bisa menjadi putri tidur.
Jeng Luvie yang baru saja pindah rumah itu, memberi PR untuk berbagi 10 kebiasaan dan menuliskannya disini. Sebagai kawan yang manis dan narsis, tentu saja, saya berusaha mengerjakan PR sebaik mungkin.
Ini 10 kebiasaan yang paling sering saya lakukan.
1. Tidur setelah subuh
2. Makan tak teratur
3. Menangis saat melihat film yang mengharukan
4. Membaca dua-tiga buku sekaligus
5. Membaca majalah dan koran, mulai dari halaman belakang
6. Mengoleksi bermacam-macam benda remeh-temeh mulai dari gantungan kunci, perangko, gambar di majalah, tiket nonton, bon, kartu undangan, tiket timezone, botol-botol kecil, uang logam, poster film, pembatas buku, souvenir pernikahan, kartu pos, pin, dan beberapa barang lainnya.
7. Mengganggu beberapa kawan dengan cara meneleponnya tengah malam hanya untuk menemani mengobrol.
8. Bernyanyi keras-keras di kamar mandi
9. Malas minum obat dari dokter
10. Mengupil
Jika ada yang ingin berbagi kebiasaannya juga, silahkan, monggo tulis disini, atau di blog masing-masing. Siapa tahu, kita punya kebiasaan yang sama
Sejak pertengahan Agustus 2008, si bungsu mulai bekerja di Mall Ambassador. Saya masih ingat, sehari sebelumnya, rupa si bungsu berseri-seri. Dengan penuh semangat ia memilih pakaian yang akan dikenakannya di hari pertama bekerja.
"Kalo gue pakai ini, bagus nggak mbak?"
"Bagus. Lucu kok."
"Apa mendingan pakai ini aja?"
"Yang itu juga bagus."
"Jadi pakai yang mana dong?"
"Terserah adek deh."
Bibirnya manyun, lantaran saya tak memberikan solusi buatnya.
Saya tertawa geli melihatnya sibuk membongkar lemari, memadu-padankan pakaian, bolak-balik mematut diri di depan cermin, meminta pendapat ibu dan kakak-kakaknya. Persis seperti yang saya lakukan bertahun-tahun silam, saat pertama kali mulai bekerja di kantoran. Saya masih ingat dengan jelas. Perasaan senang, cemas, bingung, bercampur-aduk.
Sebulan kemudian, tepatnya seminggu yang lalu, si bungsu terisak di hadapan saya dan ibu.
"Aku nggak tahan. Aku mau keluar aja."
Saya tidak menerima begitu saja keputusannya. Apalagi ia tak memberikan alasan jelas kenapa ingin berhenti.
Bekerja adalah idenya. Sejak awal kelulusannya, ia bersikukuh untuk bekerja jika tidak bisa masuk ke universitas negeri. Sembari menunggu SPMB tahun depan, demikian kilahnya.
Saya mengamini keinginannya yang menggebu-gebu, meski sebenarnya lebih suka jika si bungsu mengambil kursus bahasa atau pelatihan lainnya. Tapi tidak ada salahnya membiarkan ia bekerja. Siapa tahu ia bisa lebih matang dan tidak manja lagi.
Itu sebabnya, ketika si bungsu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, saya menolaknya. Saya ingin si bungsu menghormati kontrak kerja yang telah ditandatanganinya. Saya ingin ia belajar bertanggungjawab, berani menghadapi resiko dan konsekuensi dari keputusannya. Perkara capek, dimarahi bos atau dimusuhi rekan sekerja, adalah hal yang jamak. Dimana sih, kita bisa bekerja dengan enak dan bebas dari tekanan?
Satu hingga dua hari, si bungsu masih mau bekerja kembali. Tapi setelahnya, ia benar-benar menyerah. Airmatanya kembali berlelehan saat bercerita tentang kejadian di tempat kerjanya.
Sebagai anak baru, ia tak keberatan bekerja lebih banyak dari senior-seniornya. Rela tiap hari mesti mencuci kain lap dan mengepel toko, meski dokter sudah mewanti-wanti agar tangannya tak bersentuhan dengan sabun, bubuk deterjen maupun cairan pembersih lainnya. Maklum, kulitnya belakangan ini sedikit sensitif.
Tapi ia tak tahan jika tiap hari dituduh maling.
"Setiap ada barang yang hilang, selalu anak baru yang dituduh. Padahal aku nggak tahu apa-apa. Mana harganya mahal lagi. Ada yang harganya limaratus ribu lebih."
"Ya adek bilang dong, bukan adek yang ambil."
"Udah. Malahan aku sumpah demi Allah segala, tapi bosku tetep nggak percaya."
Saya tatap wajahnya. Airmata itu masih menggenang di pelupuk matanya.
Saya terdiam. Saya tahu rasanya difitnah untuk sesuatu yang tidak pernah kita lakukan. Beberapa tahun silam, manajer keuangan di tempat saya waktu itu bekerja, menuduh saya menggelapkan puluhan juta uang perusahaan. Saya hanya bisa beristighfar dan memohon agar Allah menunjukkan kebenarannya. Untunglah, beberapa minggu kemudian, terbukti kalau manajer keuangan yang menggelapkan uang tersebut. Perasaan saya sangat lega. Selama saya bekerja disana, tak sekalipun saya memegang uang kas lebih dari satu juta. Sebagai junior accountant, tugas saya hanya mengurus petty cash dan menangani pembukuan operasional harian.
Meski akhirnya saya terbukti tidak bersalah, tapi perasaan tak enak serta pandangan mencemooh dari rekan-rekan kerja, tetap membayang hingga beberapa waktu sesudahnya.
Suara isak si bungsu membuyarkan lamunan.
"Aku boleh berhenti kerja ya mbak..."
Saya mengangguk. Saya tak akan memaksanya untuk tetap bekerja di tempat dimana prasangka buruk masih dinomorsatukan. Saya ingin ia berkembang dalam lingkungan yang sehat, dimana kejujuran, empati, dan kepercayaan tumbuh subur dalam setiap ruangnya.
Kini si bungsu sudah bekerja di tempat lain. Setiap sore, saya menunggunya bercerita sembari mengamati wajahnya lekat-lekat. Saya tak perlu lagi khawatir. Si bungsu tetap bisa belajar dewasa tanpa perlu kehilangan seri di wajahnya.
Satu malam, di sebuah ruang studio radio "Remaja Gagap", seorang penyiar tengah mengudara.
PENYIAR RADIO
Sobat muda di seantero negeri gagap, buat elo yang pengen pesan lagu, atau kirim-kirim salam, telepon aja ke nomor 08782007xxxx...
SFX: Terdengar dering telepon.
PENYIAR RADIO
Sepertinya sudah ada yang menelepon. (beat, di telepon) Halo...!
MERAHITAM
(OS) Halo...Radio Remaja Gagap?
PENYIAR RADIO
Yup, bener banget. Ini dengan siapa dan dimana?
MERAHITAM
(OS) Merahitam, yang lagi ada di atas hamparan rumput di bawah taburan bintang. Boleh kirim-kirim pesan nggak?
PENYIAR RADIO
Boleh dong. Buat siapa?
MERAHITAM
(OS) Buat penggemar gelapku, pemilik nomor 0878xxxx0288. Aku cuma mau bilang...(beat) Sayang, makasih ya udah jadi penggemarku. Udah rajin miscall-in aku tiap hari. Bukan cuma 1-2 kali tapi lebih dari 15 kali per hari. Sayangnya, penggemarku udah terlalu banyak, dan aku nggak bisa lagi menampung perhatian darimu. Dengan ini, kuputuskan untuk putus denganmu, sebelum kita memulai hubungan yang lebih jauh. Tolong jangan pernah miscall-miscall aku lagi. Karena rasa cintaku bisa berubah menjadi kebencian. Jangan sampai aku melaporkanmu pada polisi karena sudah mengganggu ketenangan hariku. Salam penuh cinta, Merahitam.
PENYIAR RADIO
Wow...semoga penggemar gelapmu, pemilik nomor xxxx20070288, mendengarkan pesan kamu malam ini ya...
MERAHITAM
(OS) Iya, moga-moga aja...
PENYIAR RADIO
Mau diputerin lagu apa, Merahitam?
MERAHITAM
(OS) Bete dari Dewiq...
PENYIAR RADIO
Oke, buat kamu Merahitam dan semua sobat muda di seantero negeri gagap, BETE dari Dewiq...
SFX: Suara musik mengalun. Terdengar DEWIQ dan IPANG tengah berduet menyanyikan lagu BETE.
DEWIQ dan IPANG
(OS)
Bete,bete,bete,bete,bete,bete ahhh Bete,bete ahhh...Bete,bete ahhh Basi,basi,basi,basi,basi,basi lohhh Lama-lama aku bisa jadi gila Baby aku inginkan putus Baby aku tak sanggup lagi denganmu