Sunday, November 05, 2006
HOOIII...AKU MINUM BIR!

Yup. Nggak tanggung-tanggung, satu gelas besar euy! Uaaahhhh...Akhirnya, setelah bertahun-tahun penasaran dengan minuman yang satu ini, kesampaian juga. Rasanya? Bukan anget lagi, tapi puanas pol di tenggorokan.

Tapi jangan salah paham dulu. Ini bukan sembarangan bir. Namanya BIR PLETOK. Minuman khas dari Betawi. Terbuat dari campuran banyak jahe dan sedikit gula merah. T-O-P-B-G-T deh!

Jum’at malam kemarin, sesuai woro-woro-nya Mas Mbilung dan pengumuman di blog-nya Ndoro Kakung Pecas Ndahe, kumpul bareng seleb blogger dan blogger kondang di Omah Sendok. Sebagai penggemar dan fans, yang pasti seneng banget bisa ketemu sama mereka. Apalagi yang datang banyak. Rame. Listnya ada di tempat Mas Bahtiar.

Begitu datang, langsung nyerobot bir pletok-nya Ndoro Kakung. Hehehe...Maaf yo mas, sudah diganti toh?

Sempet pangling sama Mbak Eny yang malam itu tampil kasual dan fresh banget. Makin cantik jadinya.

Ketemu Bebex yang riang gembira. Pipi kita sama ya Bex... :D

Dan buat Mbak Jeni, ajak-ajak wisata sejarahnya dong. Barengan Mbak Rara juga tuh.

Buat yang lainnya, seneng...seneng...seneng!!!

Tapi sayang, di antara kegembiraan malam itu, Paman Tyo-nya nggak datang. Mungkin lain kali kopdarannya di tempat paman aja yach...

Btw, sayang nggak sempat memotret. Mudah-mudahan Mas Mbilung, Mbak Eny sama Didats segera memajang hasil jepretan mereka.

See you next time guys! Di tempat Paman Tyo atau di Kebun Raya Bogor seperti usulannya Mbak Jeni waktu itu?

Posted at 07:19 pm by kisahmerahitam
Comments (7)  

Friday, November 03, 2006
IDE, PLOT DAN LARANGAN

Membuat scene plot, bagiku dan sebagian kawan-kawan sekerja adalah proses tersulit dalam menulis skenario. Bagaimana membuat plot cerita dan menyusunnya dalam rangkaian yang menarik dari awal hingga akhir cerita.

Jika digambarkan dalam bentuk grafik, maka ia harus membentuk garis konflik yang terus menaik...menaik...menaik…hingga sampai pada titik klimaks, dan lantas menurun dengan sangat manis. Ingat, kata manis disini bukan berarti happy ending. Ada kalanya, akhir cerita yang menyedihkan justru terasa indah dan menyentuh, bukan? (bukan...Hehehe...)

Proses mencari, menemukan (bisa dibaca: membuat) plot/susunan/aliran cerita, bagi setiap orang berbeda. Ada yang harus berada di tempat sepi, hening, yang membuatnya nyaman untuk merenung dan kemudian mendapat ide bagaimana cerita itu harus berjalan. Tapi ada juga yang sambil mendengarkan musik; tilawah; merokok; ngopi; minum bir; ngecengin tetangga yang seksi sambil sesekali bersuit-suit; baca majalah; nonton film; nongkrong di pertigaan taman bareng Pak Hansip, sembari menikmati permainan bola anak-anak; menghitung cicak di dinding; memandangi foto pacar; mengejar tukang gorengan; atau bahkan keluar-masuk kamar mandi.

Nah, yang terakhir itu “gue banget”. Yap! Saat otak lagi mampet, nggak ada ide yang muncul, biasanya kegiatan rutin keluar-masuk kamar mandi itu bisa berlangsung belasan kali. Seringkali tak melakukan apapun di dalam kamar mandi. Hanya bermain air. Menciduknya dari bak, menuangkannya ke lantai atau membasahi tangan dan kaki, sambil sibuk berpikir. Dan triiiiiiiiing...yang dipertuan agung ide pun muncullah.

Ide mengalir. Plot tersusun rapi. Tulisan pun mengalir lancar. Masalah selesai kah? Pekerjaan cepat kelar? Ooohh...Jawabnya tentu tidak. Godaan datang beruntun, seperti barisan pengamen, pengemis dan bakal calon pengangguran yang makin banyak di Jakarta. Kecuali, hati tetap teguh, mata fokus tertuju ke monitor dan tangan menempel ketat di keyboard. (Aih...).

Intinya adalah bagaimana menahan diri untuk tetap fokus bekerja.

Fokus! Terus terang, susah banget untuk mempraktekkan kata yang satu ini. Bayangkan saat lagi asyik-asyiknya mengetik, tiba-tiba timbul keinginan untuk rebahan di tempat tidur, atau menelepon pacar, atau cari cemilan, dan atau-atau yang lain.

Setelah berulangkali tak mampu lolos dari jeratan godaan, yang lantas menimbulkan sejumlah kekacauan tak terkendali dalam pekerjaan, membuat deadline molor, antrian pekerjaan yang tertunda makin panjang, dan telepon terus-menerus berdering, disertai teriakan bos dari ujung kabel: WOIIII...UDAH SELESAI BELUM? LAMA AMAT SEEEEEHHH??!

Maka, dengan berbesar hati, tersusunlah sejumlah larangan yang tidak boleh dilakukan saat bekerja.

  1. Menelepon pacar
    Terbukti, hal yang satu ini, teramat sangat sekali, membuat lupa diri. 1,2,3, bahkan 4 jam terlewat begitu saja. Bayangkan kalau mengetik naskah, sudah dapat berapa halaman itu?
  1. Rebahan di tempat tidur
    Se-capek dan se-ngantuk apapun, jangan rebahan di tempat tidur. Cukup di sofa. Dijamin nggak bakalan kebablasan tidurnya. Tapi kalau sudah di tempat tidur, apalagi hidung sudah mencium bantal...ehm...Yakin deh, 3-5 jam berikutnya akan mengawang-awang di alam mimpi.
  1. Minum kopi
    Bagi orang lain, minum kopi bisa membantu berjaga dan berkonsentrasi pada pekerjaan. Tapi buatku, efeknya bisa fatal. Tak perlu minum satu cangkir, cukup 3-4 tegukan, bisa membuatku terkapar sehari semalam. Mata tak bisa terpejam, badan rasanya lemes, dan nggak bisa konsentrasi. 
  1. Menggosok gigi
    Sebenarnya, harusnya larangan yang keempat ini berbunyi, Dilarang memikirkan pekerjaan saat tengah menggosok gigi! Tapi karena situasinya terbalik maka larangannya pun harus dibalik. Dilarang menggosok gigi saat tengah bekerja! (maksa!). Poin ini muncul gara-gara kejadian beberapa hari lalu. Waktu lagi gosok gigi, aku sibuk mikirin scene plot. Karena nggak konsen, saat menggerakkan sikatnya terlalu kuat. Akibatnya sikat giginya nyasar sampai ke mata. Sejumlah pasta gigi masuk ke mata. Setelah itu, bisa dibayangkan, matanya rasanya “semriwing”, pedih. Setelah berulangkali ditetesi obat sakit mata dan dibawa tidur, barulah rasa semriwing dan pedih itu hilang. Sekarang tahu kan, kenapa larangan ini ada?
  1. Main game
    Zuma, pokemon, dan collapse adalah tiga jenis game di komputer yang bisa membuatku keasyikan bermain. Nggak tanggung-tanggung, bisa seharian kalau sudah memainkannya.
  1. Membaca buku kesukaan
    Ah, kegiatan yang satu ini juga bisa membuat lupa diri. Seringkali harus pintar-pintar memaksa diri untuk tak melanjutkan membacanya sampai pekerjaan selesai.
  1. Nonton VCD/DVD Film Korea
    Satu film berseri Korea terdiri dari 16-30 keping VCD atau sekitar 4-7 keping DVD. Satu keping VCD berdurasi sekitar 1 jam. Nah, bisa dibayangkan berapa waktu yang dihabiskan untuk menontonnya kan?
  1. Blogwalking
    Keasyikan membuka dan lantas membaca tulisan yang ada di dunia per-blog-an, juga bisa membuat pekerjaan terlantar. Makanya saat tengah serius bekerja, diusahakan seminimal mungkin melakukan kegiatan yang satu ini.
  1. Mandi
    Jakarta memang panas. Nggak siang, nggak malam, bawaannya gerah (sumuk) terus. Apalagi kantor nggak pake AC. Ketika malam, luar biasa sumuknya, please...jangan mandi. Karena begitu selesai mandi dan badan sudah terasa segar, bawaannya jadi ngantuk berat. Solusinya, kalau lagi ngerasa gerah, cukup ganti baju dengan yang lebih dingin dan menyerap keringat, pakai bedak dingin, atau pasang kipas angin.
  1. Menerima telepon dari musuh
    Saat tengah bekerja, jangan pernah sekalipun menerima telepon dari musuh. Jika terganggu dengan deringnya, cukup di-silent. Sebab, saat mendengar suara musuh dengan ucapan-ucapan pedas dan komentar sinisnya, dijamin mood langsung memburuk, uring-uringan nggak karuan dan lagi-lagi pekerjaan terlantar. Tapi untungnya saat ini belum punya musuh. Buat anda yang berminat jadi musuh, tolong jangan meneleponku ya. Kalau tetap kangen menelepon, kirim sms dulu, tanya apa aku sedang sibuk bekerja atau tidak. Hahaha...

Nah, sekarang, apa anda juga punya hal yang harus dijauhi saat tengah bekerja?

Posted at 01:15 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

Monday, October 23, 2006
AKHIR RAMADHAN

Mas yang satu ini, kerap mengingatkanku untuk memikirkan kematian setidaknya 4 kali dalam sehari. Agar kematian tak lagi menakutkan. Toh, kematian akan datang kapanpun, bahkan tanpa diminta. Siapa yang tahu satu tahun lagi, satu bulan, satu hari, satu jam, bahkan satu detik kemudian, ajal menjemput? Di jalanan; saat sedang di pasar; di depan komputer; atau bahkan diatas tempat tidur sekalipun.

Aku sendiri belum sampai pada tahap berdamai atau yang lebih hebat lagi, merindukan kematian. Setiap kali memikirkan kematian, yang timbul justru perasaan sedih, takut dan khawatir. Ya, bagaimana ketiga perasaan itu tak akan muncul jika sejarah hidupku penuh dengan ketidaksabaran, kecemasan tak berguna, irihati, sombong, dan tak peduli pada lingkungan sekitar.

Poin yang terakhir, membuatku berpikir makna lain selain kematian secara harfiah. Ketidakpedulian pada lingkungan sekitar – termasuk manusia, hewan, tumbuhan dan alam yang termasuk di dalamnya – membuat diri mati dalam pengertian yang lain. Karena ketidakpedulian lebih merupakan bentuk pemusatan diri atas segalanya. Padahal SANG PENCIPTA lah yang harusnya menjadi pusat atas segalanya.

Betapa sombongnya menyamakan diri dengan SANG PENCIPTA yang agung. Betapa hinanya tak menyadari diri hanya serupa butiran debu. Dan meski SANG PENCIPTA tak butuh sembah sujud untuk membangun keagungan-NYA, semoga berakhirnya Ramadhan, tak membuat hati berhenti tunduk pada-NYA. Amin.

Selamat Idul Fitri 1427 H. Mohon maaf lahir dan bathin.


Nb. Horeee...15 menit lagi sampai rumah. Semoga nggak macet.Big Smile

Posted at 07:59 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

Saturday, October 14, 2006
IBU DAN ANAK PEREMPUAN PALING BESAR

Ibu mengeluh. Anak perempuannya yang paling besar tak menguasai "keterampilan wajib" sebagai seorang perempuan. Memasak cuma bisa sedikit, merangkai bunga asal jadi, menjahit apalagi.

Beberapa waktu lalu ibu membeli mesin jahit. Khusus untuk anak perempuannya yang paling besar. Sejak saat itu, anak perempuannya yang paling besar mulai berlatih. Menggerakkan kaki seirama gerakan tangan meniti tepi kain perca dan kertas latihan. Hasilnya, gumpalan kertas dan tumpukan kain perca bertumpuk di tempat sampah.

"Susah", keluh anak perempuan paling besar.

Ibu tak putus asa. Hampir pada setiap perjumpaan mereka berikutnya, yang tak pasti rentang waktunya, kadang satu minggu sekali, dua minggu sekali, bahkan pernah satu bulan sekali.

"Dicoba lagi ya..."

Anak perempuan paling besar menggeleng.

"Ya sudah, belajar masak aja. Masakanmu sebenarnya enak lho..."

Senyum anak perempuan paling besar terkembang. Maka pada suatu hari – momen yang paling jarang terjadi – di masa-masa belakangan ini, anak perempuan paling besar libur bekerja. Ia buka buku menu. Ia susuri lorong pasar dan supermarket, memborong bahan masakan. Ia turunkan semua peralatan masak di dapur. Bunyi kelontang, ketukan, gesekan, meriuhkan dapur. Dan berakhir manis di atas piring.

"Enak", serempak ketiga adik lelakinya berseru. Mulut mereka penuh. Puluhan gigi di dalamnya sibuk mengunyah.

Senyum kembali terkembang. Kali ini tak hanya di bibir anak perempuan paling besar, tapi juga di bibir ibu.

"Masak lagi dong mbak", teriak si bungsu, anak perempuan paling kecil.

Belum sempat menjawab, terdengar dering paling akrab sekaligus dibenci telinga anak perempuan paling besar. Dering yang sudah menyatu dengannya, membuatnya sering terbangun dalam tidur pendeknya. Meski tak jarang pula, anak perempuan paling besar mengangankan dering itu jauh dari hidupnya.

Satu menit...Dua menit...Sepuluh menit...Dua puluh menit kemudian. Berlalu. Anak perempuan paling besar sibuk berkemas.

"Aku pulang minggu depan ya".

Ibu hanya bisa mengangguk memandangi kepergian anak perempuan paling besar. Lantas masa mengabur. Waktu bergerak cepat dan gerak laksana bayang berkelebat.

Hari itu, anak perempuan paling besar pulang ke rumah. Dipeluknya ibu yang makin kurus dan menua, digerogoti rasa rindu pada anak perempuan paling besar. Disongsongnya sorot mata yang selalu memandangnya dengan tatap penuh kasih dan harap.

"Ibu, jangan khawatir. Aku sudah pandai merangkai, menjahit dan memasak. Bukan bunga, kain atau makanan. Tapi cerita dan mimpi. Yang akan kututurkan padamu, di setiap sore perjumpaan kita. Di teras rumah kita yang kecil. Di tengah pohon-pohon yang kau tanam".

Ibu tersenyum. Tahu anak perempuannya yang paling besar tak bisa dipaksa. Meski terikat sekalipun.

Seperti anak perempuan paling besar tahu, betapa kasihnya ibu. Betapa sulitnya menjadi seperti yang diinginkan ibu. Sesulit harapannya mempersembahkan sebuah sore yang hangat penuh cerita untuk ibu. Perempuan terkasih dalam hidupnya.

Posted at 11:48 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

Friday, October 13, 2006
TUKANG MIMPI

Salah satu julukan yang diberikan Luvie buatku. Sama sekali nggak salah. Malah 100 persen bener.

Yup!

Aku emang gampang banget mimpi. Tidur baru sepuluh menit, mimpinya kalau dijabarin bisa buat cerita sinetron selama 30 menit, bahkan satu jam. Dalam satu kali sesi tidur (antara 2 – 5 jam), bisa 2-4 kali mimpi dengan cerita berbeda. Masing-masing cerita itu, komplit, lengkap dengan segala detil adegannya. Mungkin itu sebabnya masih bertahan sampai sekarang jadi tukang cerita. Hehehe...

Seringkali mimpinya disesuaikan dengan kondisi saat itu. Misalnya, kalau lagi deadline, atau suntuk karena kerjaan nggak selesai-selesai, mimpinya pasti dikejar-kejar si bos, di tengah hujan deras, plus acara dimarah-marahi. Pokoknya menderita banget deh. Kalau lagi sakit, mimpinya kejatuhan ribuan percikan api dan debu, yang kalau kena di kulit, rasanya suaaakkiiitt pol.

Tapi tadi pagi mimpinya super aneh. Nggak sesuai sama situasi. Situasinya lagi deadline, tapi pekerjaan belum juga selesai. Harusnya, si bos ganteng yang muncul dalam mimpi. Tapi ternyata, justru Bondan Winarno dan Agnes Monica. Kok tumben-tumbenan mereka yang muncul. Ada apa gerangan?

Dulu, sewaktu masih rajin baca buku dan majalah (sebulan ini, udah jarang banget Sad), di salah satu artikel, disebutkan bahwa mimpi adalah gambaran apa yang ada dalam pikiran bawah sadar kita, atau sesuatu yang sangat kita inginkan.

Nah, setelah dirunut, ternyata, belakangan ini sedang dilanda KANGENKUMPULBARENGKAWANIMUS KRONIS stadium 4.

Hayah!

*Beneran kok kangen kalian. Sudah berapa tahun kita nggak ketemu? 1, 2, 4, 8 tahun?*

Selain penyakit pertama, penyakit kedua yang sedang menghinggapi diri adalah MENUNDAPEKERJAANPLUSILANGFOKUSTUS dan sudah sampai tahapan parah pula.

Lantas apa hubungannya dengan Bondan dan Agnes? Keduanya mewakili impian atas dua penyakit hebat yang tengah menyerang. Bondan yang identik dengan acara wisata kulinernya, mengingatkanku pada tempat-tempat yang asik untuk dikunjungi bareng kawan-kawan. Mengingatkanku pada kebiasaan ber-tehpoci-ria sore-sore, bareng kawan-kawan, di bawah pohon mangga, depan kedai Bu Bambang, sambil ngobrolin banyak hal.

*Injek-injek Suket yang sudah mengingatkanku pada tehpoci Angry*.

Sementara Agnes? Ah ya, dari dulu, aku suka dengan figur yang satu ini. Di usianya yang belia, Agnes tahu apa yang ia mau dan konsisten untuk meraihnya. Ia selalu total. Tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. (Kok berkebalikan denganku ya? Huhuhu...).

Ya. Aku bermimpi untuk bisa seperti Agnes. Tentu bukan dalam artian, bisa bernyanyi dan main sinetron seperti dirinya. Tapi semangatnya. Ambisi dan kemauannya yang kuat untuk mewujudkan keinginannya. Merealisasikan mimpinya. Dan mari berhitung, berapa banyak keinginan dan mimpiku yang belum kesampaian lantaran sering setengah-setengah dan kerap ilang fokus. Satu, dua, tiga, lima, sepuluh, seratus, seribu...?

Ah, semangat! Semangat! Semangat!

Sampai kapan taman baca cuma jadi mimpi? Sampai kapan rencana mengunjungi sekolah rakyat di Garut cuma jadi penghias bibir? Sampai kapan meneruskan sekolah cuma ada di angan-angan? Sampai kapan punya usaha sendiri cuma berupa catatan di kertas? Sampai kapan rencana ke Tibet tak pernah terlaksana? Sampai kapan mendirikan sekolah gratis cuma jadi cita-cita? Sampai kapan menjadi penulis skenario No.1 cuma jadi keinginan di dalam hati?

Sampai kapan...? Sampai kapan...? Sampai kapan...?

 

Nb. Punya mimpi itu harus! Tapi jadi tukang mimpi selamanya itu bodoh! Sedang berusaha agar tak melulu jadi tukang mimpi!

Posted at 07:11 pm by kisahmerahitam
Comment (1)  

Thursday, October 12, 2006
DAN AKU MENCINTAI MALAM


D
ulu, aku menyukai malam, dengan segala kemeriahan warna yang menenggelamkan kelam. Tapi saat bulan berdarah menyapa, yang tinggal hanya kelam.

Dan aku membenci malam.

Malam-malam yang menakutkan. Menyisakan kalut. Bahkan angkasa pun meredup. Dimana gemintang yang kerap menemani kala hati gulana? Dimana mereka yang sedia berbaris untuk ku hitung kala rindu menyerbu? Mungkinkah mereka juga membenci malam?

Hingga satu saat...Pijar itu datang.

Ia tak seterang bintang. Ia pun tak mampu mengembalikan kemeriahan warna malam. Ia hanya mampu mengajarku untuk mencintai malam. Malam-malam yang tak semeriah lampau, tapi jauh lebih hangat dan menenangkan.

Dan aku mencintai malam.

Posted at 09:45 pm by kisahmerahitam
Comment (1)  

Tuesday, September 26, 2006
RINDU YANG TAK KUNJUNG PADAM

Time always kills the pain

Rasanya ungkapan itu tak berlaku untuk yang satu ini. Setelah hampir 4 tahun, rasa itu masih sama. Menusuk. Membuat dada sesak. Hujan airmata pada malam-malam yang sepi. Pada pagi yang hening. Bahkan di tengah siang yang ramai dan sore yang hangat.

Mengingatnya. Mengenangnya. Merinduinya. Menimbulkan rasa nyeri yang sama seperti saat pertama kali menyadari kepergiannya. Lagi-lagi hujan airmata di kamar yang kosong. Kamar mandi yang dingin. Bahkan di dapur yang beraroma dan ruang keluarga yang penuh gelak tawa.

Ikhlas lah. Lepas kepergiannya dengan senyum.

“Aku nggak bisa. Bibirku mungkin bisa tersenyum. Tapi mataku tidak.”

DIA YANG MAHA AGUNG, pasti punya rencana yang lebih baik untuknya. Juga untukmu dan yang lain.

“Aku tahu. Dan aku berusaha meyakini sepenuhnya bahwa ini yang terbaik untuknya. Tapi ada bagian dalam diriku yang menginginkannya tetap disini. Salahkah itu?”

Juga salahkah jika pada matahari ketiga Ramadhan kali ini pun aku masih mengangankannya? Membayangkannya membangunkan aku dan adik-adik untuk sahur. Melihatnya membantu dan menggoda ibu.

Salahkah jika aku masih terus mengingat binar mata dan senyumnya yang khas? Merindui harum masakannya setiap hari libur tiba. Melihatnya bertepuk tangan saat menonton tarianku. Ingin mendengar suaranya saat menyemangatiku, mengajakku berdiskusi, memarahiku, menenangkanku, memujiku. Sama besarnya dengan keinginanku mendengarkan ia mendendangkan lagu kesukaannya untuk menghibur ibu, aku dan adik-adik. Lagu yang selalu salah di ujungnya.

...
Semut ireng...
Anak-anak piti...
Nyabrang kali...Bengawan Solo...
Riwayatmu kini...
...

Sejak kapan lagu semut ireng dan Bengawan Solo-nya Gesang bersatu?

Dan lagi-lagi hujan airmata. Bahkan hanya dengan mendengar lagu campursari kesukaannya. Melihat poster Bung Karno, tokoh favoritnya. Mencium bau sate kambing kegemarannya. Melewati kantornya. Memandang nisannya. Kelebat bayang laksana kaset yang diputar ulang.

Ah, betapa kerinduan ini makin tak tertahankan. Pada dia. Laki-laki tua sederhana, yang memiliki mimpi, nafas hidup dan semangat yang luarbiasa. Pada bapak. Laki-laki terhebat yang pernah ku kenal.

...
If I could steal one final glance, one final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love
To dance with my father again
...

 

Nb. Kenapa kita baru menyadari betapa berartinya seseorang saat kita sudah kehilangan dirinya?

Posted at 02:40 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

CAH AYAM NANAS

Setelah sekian lama hanya bisa menerka-nerka, membayangkan bagaimana rasanya jika nanas ditumis, akhirnya, beberapa malam yang lalu, memberanikan diri mempraktekkannya. Ternyata rasanya persis seperti yang kubayangkan. Segar. Bikin mata jadi melek, pastinya.




Pada dasarnya resepnya sama dengan OSENG AYAM BUMBU CAPCAY, yang pernah ku tulis disini. Hanya tinggal ditambah dengan nanas. Resep lengkapnya sendiri seperti di bawah ini.

BAHAN:

-     Ayam. Dipotong sesuai selera, tapi lebih baik dipotong kecil, sekitar 3cm       x 3cm.
      Untuk 1-2 orang, cukup gunakan ¼ ekor.
      Untuk 3-4 orang, gunakan ½ ekor.
      Untuk 5-8 orang, gunakan 1 ekor.

-     Nanas. Setelah dikupas dan dicuci, dipotong-potong dengan ukuran           2cm x 2,5cm
      Banyaknya disesuaikan dengan ayamnya.

BUMBU:  

      -     Bawang putih
-         
Lada/merica
-         
Garam

            (ketiganya dihaluskan)

      -     Jahe diiris tipis
-         
Cabe merah diiris menyamping atau serong.
-         
Sereh dipotong-potong, sepanjang + 2cm
-         
Daun salam
-         
Gula pasir
-         
Minyak goreng

ALAT:

      -     Wajan/penggorengan
-         
Sutil (sendok untuk menggoreng)
-         
Ulekan untuk menghaluskan bumbu
-         
Talenan (papan yang digunakan untuk alas mengiris atau memotong)
-         
Pisau untuk mengiris atau memotong
-         
Mangkuk atau piring

CARA PEMBUATAN:

1.      Ayam yang sudah dipotong-potong dan dicuci bersih, digoreng hingga setengah matang. Jangan sampai matang apalagi kering. Kalau sudah berwarna sedikiiiittt kecoklatan, langsung angkat. (Jika tidak suka digoreng, tidak apa-apa. Proses yang pertama ini bisa dilewati. Tapi kalau ingin lebih gurih ya digoreng).

2.      Panaskan penggorengan. Tuang minyak goreng sebanyak 1-2 sendok makan. Jika minyak sudah panas, tumis bumbu (lada, bawang putih, garam) yang sudah dihaluskan. Aduk-aduk jangan sampai gosong.

3.      Langsung masukkan potongan ayam (yang sudah digoreng). Aduk-aduk. Tambahkan air secukupnya hingga seluruh potongan ayam terendam air. Cukup sampai terendam saja loh ya...Jangan sampai banjir.

4.      Masukkan irisan cabe merah, jahe, sereh dan daun salam. Tambahkan ½ sendok teh gula pasir.

5.      Tutup penggorengan. (Disekap, sampai daging ayam lunak dan bumbu meresap).

6.      Setelah daging ayam lunak dan airnya cemek-cemek (duh, bhs.Indonesianya apa ya), masukkan potongan nanas, aduk-aduk dan cicipi. Jika rasanya kurang pas, misalnya pedasnya kurang, tambahkan bubuk lada. Jika kurang asin, tambahkan garam, dan jika terasa asin, tambahkan gula pasir.

7.      Setelah matang, angkat dan sajikan dalam piring atau mangkuk. Cah Ayam Nanas siap dihidangkan.

Lebih enak dimakan selagi masih hangat.  Bagi penderita maag, sebaiknya nanas-nya sedikit saja.  

Selamat mencoba.

Posted at 02:33 pm by kisahmerahitam
Comment (1)  

Saturday, September 23, 2006
MARHABAN YA RAMADHAN

Ramadhan menjelang. Hanya tinggal hitungan jam. Alhamdulillah, masih diberi nikmat menjalani Ramadhan yang mulia. Bulan seribu bulan. Bulan penuh berkah dan ampunan. Taburan kenikmatan dan kemuliaan. Kala ibadah diganjar pahala berkali-kali lipat. Kala semua orang menjadi senasib. Tua-muda, kaya-miskin. Alhamdulillah.

Ramadhan membawa berkah. Bagi para tukang air dan bersih-bersih makam yang jumlahnya langsung membludak hingga berpuluh-puluh kali lipat. Para penjual bunga yang berjajar di sepanjang jalanan makam. Karena semua orang kini mengingat (yang) mati dan berduyun-duyun datang ke makam.

Bagi warung es kelapa yang tiba-tiba bermunculan dimana-mana bak jamur di musim hujan. Tukang kue, kolak, timun suri. Penjual baju koko, gamis, mukena, sarung dan peci. Warung kecil. Pasar tradisional. Supermarket. Hypermarket. Harga-harga boleh meningkat, tapi daya beli tak kunjung menurun.

Bagi para pengusaha angkutan. Sopir. Kernet. Jasa pengiriman barang. Kantor pos. Tiba-tiba semua orang merasa rindu untuk berkumpul dan bercengkrama dengan sanak-saudara.  Bagi anak-anak yatim. Kaum fakir miskin. Saat semua orang menjadi merasa bersemangat untuk saling berbagi.

Ramadhan membawa kedamaian. Saat untaian kata-kata maaf berhamburan. Memenuhi langit, jalanan, rumah, pasar, kantor. Jatuh di titik-titik kepala, hati. Merasuk, menyebar. Kala benci dan dendam disingkirkan dan tak ada lagi yang merasa rendah untuk memintal kata maaf.

Saat kalimat-NYA berkumandang. Bergema. Pagi. Siang. Sore. Malam. Lewat pengeras suara. Radio. Televisi. Saat malam-malam penuh dengan munajat pada-NYA. Saat IA terasa begitu dekat. Dan tak ada lagi yang merasa malu dan ketinggalan jaman, lantaran menyebut Asma ALLAH dan sujud dihadapan-NYA.

Ramadhan membawa kemeriahan. Malam-malam berwarna. Anak-anak bergembira. Senyum mengembang. Sorot mata penuh kerinduan. Dan jiwa-jiwa yang bernyanyi.

Ah, Ramadhan. Rasanya tak cukup ribuan atau bahkan jutaan kata untuk melukiskanmu. Meski hanya satu yang ku mohon dari-MU. Biarkan semangat Ramadhan tetap tinggal di bumi. Selamanya.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan suci. Bulan penuh kemuliaan.




 Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga diri makin lebih baik. Amin.

Posted at 08:49 pm by kisahmerahitam
Comments (3)  

Wednesday, September 06, 2006
CATATAN SANG PENGIRING PENGANTIN


Akhirnya...

Kelar juga segala kemeriahan, kerepotan, ketidaksabaran, perasaan was-was dan harap-harap cemas. Tinggal rasa lelah yang mendera, dan kok tiga hari-an ini mulai berasa nggreges-nggreges. Panas dingin. Bersin-bersin terus, leher sakit, suara serak. Iih...Tanda-tanda mau sakit neh. Tapi mudah-mudahan nggak makin menjadi.

Sejak empat bulan yang lalu, ketika om-bulik di Pondok Gede, mengabarkan rencana pernikahan adik sepupu, ibu dan keluarga besar sibuk menteror. Mulai dari pertanyaan standar, macam:

“Kapan nyusul?”
“Hayo mau nikah kapan? Ini loh, sudah keduluan sama adiknya sendiri. Mbok cepetan!”

Hingga...

“Pokoknya harus tahun ini juga!” (dengan nada suara keras dan penuh penekanan, plus pasang wajah garang).

Inggih ibu, mbah putri, pakde, bude, om, bulik, mas, mbak, teteh, kakak, adik, ponakan! Huuww!

Masih ditambah pernyataan lainnya yang penuh ancaman...

“Nanti pake kebaya loh ya. Dandan! Pake lipstick! Pipinya dimerah-merahin! Biar nggak pucet! Trus, pake sanggul! Awas kalo nggak mau!”
“Dikurusin dikit biar cantik! Awas kalo nggak diet!” (ini sudah cantik loh...:p)
“Pokoknya mbak harus jadi pagar ayu ya, cuti kerjanya. Awas kalau sampai nggak!”
“Jangan lupa, pacarnya nanti dibawa. Kenalin ke seluruh keluarga! Awas kalau sampai nggak dibawa!” (haduh...)

Cuma bisa senyum-senyum, angguk-angguk, dan setelah kepepet, pasang jurus terakhir ke-ndablek-an-ku. Aaahh...Untungnya, ditolong kerjaan yang bejibun, jadi punya alasan untuk nggak dateng ke rapat-rapat keluarga dan mendengarkan omelan penuh paksaan itu. (Hehehe...Nyuwun ngapunten nggih mbah putri, ibu, pakde, bude, om, bulik...)

But it’s ok. Bisa ditanganilah. Wong buktinya, sampai sekarang ya nggak diapa-apain sama para pengancam tersayang. Hehehe...Masalahnya, baru kali ini nemuin acara nikahan kok ya repot bener, buanyak banget acaranya. Padahal dulu, waktu ngikutin prosesi pernikahan temen-temen dan sepupu lainnya ya biasa saja. Loh ini, tiga hari nonstop. Mulai dari lamaran secara formal, syukuran, siraman, midodareni, akad nikah, temu nganten, dodot, resepsi. Haduh...

Eh, ketinggalan, ada satu acara lagi. Namanya ular-ularan. Awalnya kupikir ada atraksi pake binatang ular sungguhan. Ularnya disuruh joget, atau perang tanding ala ular. Lah kalau bener, aku masuk daftar kabur no.1. Untungnya nggak beneran. Acara ular-ularan sendiri sebenarnya momen dimana para tetua memberikan petuahnya pada si pengantin.

Nah, yang lebih merepotkan lagi, adalah hunting kebaya dan belajar dandannya. Secara jauh-jauh hari sudah diwanti-wanti sama bude dan bulik, disuruh jadi pengiring pengantin.

“Inget, kowe ki mengko dadi pengiring pengantin. Mesti gelem didandani karo Bu Kotjo. Pake sanggul.”
“Yah bulik, nggak usah pake sanggul dan kebaya ya. Nggak usah didandani. Kan eneng sing liyane. Yo bude, bulik...”
“Ora! Kowe ki angel temen dikandani sih? Pokoknya mesti pake kebaya. Itu sudah bulik beliin bahannya. Mengko kowe tinggal jahitin aja.”
“Tapi kan bahannya jarang-jarang gitu. Nanti kalau kelihatan gimana?”
“YO BEN! Malahane tambah seksi!”
*OMG!*

Dan sejak saat itu, ibu sibuk mewanti-wanti.

“Itu kebayanya mau dijahit kapan? Ntar nggak keburu loh. Atau mau beli kebaya jadi aja?”
“Mbok sabar toh bu, acaranya masih lama ini. Lagian kerjaannya nggak bisa ditinggal.”
“Ibu udah ngingetin loh ya. Awas nanti kalau grusa-grusu. Dadakan. Ta’ kethak kowe.”
*Nyengir*

Ndilalahnya, kok ya baru inget jahitin kebaya itu tanggal 20 Agustus. Tanggal 28 Agustus, kebaya sudah jadi. Tapi nggak sreg. Mesti direvisi. Tanggal 30 Agustus, lihat hasil final kebayanya. Tetep nggak sreg. Padahal acaranya sudah dimulai besoknya. Hah, kalangkabut jadinya. Terpaksa kejar-kejaran sama jadwal kerjaan yang numpuk, lari kesana-kemari, hunting kebaya. Menjelang detik-detik terakhir, Alhamdulillah dapet kebaya juga. Ya masih rada-rada nggak sreg juga, tapi mendinglah daripada kebaya pertama.

Urusan kebaya selesai. Urusan dandan?

“Vie, ajarin dandan dong!” (setengah memaksa)
“Bukannya besok didandani sama tukang riasnya?”
“Males ah, habis pasti menor ngedandaninnya dan aku suka nggak cocok sama alat make-up nya. Please, ajarin ya...”

Maka, dengan sedikit terpaksa, Luvie begadang semalaman, merhatiin dan ngajarin aku dandan.

Mulai dari pake bedak.

“Kurang tebel tuh mbak!”
“Waduh, ini udah kayak pake topeng loh.”
“Ya itu kan karena biasanya mbak pake bedak tabur. Ditebelin lagi gih!”

Belajar pake blush on.

“Tuh, gue bilang juga apa Vie, nyapuinnya dari atas ke bawah.” (setelah hampir setengah jam eyel-eyelan cara pakai kuas yang benar).
“Tapi tetep kurang tebel tuh mbak!”
*Aihhhh...Lagi?*

Belajar pake eye shadow.

“Mbak, itu ngusapinnya sekali aja. Trus yang atas dikasih warna yang lebih terang!”

Belajar pake maskara.

“Vie, gimana ini, mataku jadi kecolok terus nih! Mana belepotan gini. Jadi pada item-item semua deh!”
“Ya pelan-pelan aja. Tuh yang kiri kurang tebel!”
*Kurang tebel lagi? Huuhhh! Begini aja matanya udah kerasa berat!*

Pake lipstick.

“Jadi aku mesti pake warna yang mana? Gimana kalau pake yang biasanya?”
“Jangan. Yang biasanya mbak pake itu sewarna sama bibir, jadi nggak kelihatan. Pake warna yang lebih merah.”

Setelah 5 jam lebih...

“Gimana?”
“Wow, berhasil mbak. Pipinya jadi nggak kelihatan chubby lagi!”
“Hayah!”
“Tapi cantik kok. Jadi beda.”

Auh...Jadi tersipu-sipu. Akhirnya setelah 5 jam lebih.

Pas hari H-nya, karena semalaman cuma tidur 1,5 jam, jadilah aku nguantuk berat. Rasanya pengen cepet-cepet pulang dan tidur. Tapi mengingat pengorbanan dan perjuangan panjang serta berat yang sudah dilakukan (aiiihh...), ku paksa mataku untuk terus terbuka. Masa sudah cantik, pake kebaya plus high heels setinggi 7cm, malah tidur. Nggak lucu kan? Hehehe...Ujung-ujungnya, narsis mode on!

Nah, baru jadi pengiring pengantin saja sudah segitu repotnya. Apalagi kalau jadi pengantin benerannya ya? Nggak kebayang deh. Apa itu sebabnya, banyak orang yang mau nikah jadi kurus? Apa anda sekalian juga pernah punya pengalaman yang merepotkan begini?

 

Nb: Mas yang disana, besok-besok kalau kita nikah yang simpel aja ya. Pake celana jeans aja, gimana? :D

Posted at 12:14 am by kisahmerahitam
Comments (18)  


Next Page




<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed