 |

Tuesday, September 26, 2006
RINDU YANG TAK KUNJUNG PADAM
Time always kills the pain
Rasanya ungkapan itu tak berlaku untuk yang
satu ini. Setelah hampir 4 tahun, rasa itu masih sama. Menusuk. Membuat dada
sesak. Hujan airmata pada malam-malam yang sepi. Pada pagi yang hening. Bahkan
di tengah siang yang ramai dan sore yang hangat.
Mengingatnya. Mengenangnya. Merinduinya.
Menimbulkan rasa nyeri yang sama seperti saat pertama kali menyadari
kepergiannya. Lagi-lagi hujan airmata di kamar yang kosong. Kamar mandi yang
dingin. Bahkan di dapur yang beraroma dan ruang keluarga yang penuh gelak tawa.
Ikhlas lah. Lepas kepergiannya dengan
senyum.
“Aku nggak bisa. Bibirku mungkin bisa
tersenyum. Tapi mataku tidak.”
DIA YANG MAHA AGUNG, pasti punya rencana
yang lebih baik untuknya. Juga untukmu dan yang lain.
“Aku tahu. Dan aku berusaha meyakini
sepenuhnya bahwa ini yang terbaik untuknya. Tapi ada bagian dalam diriku yang
menginginkannya tetap disini. Salahkah itu?”
Juga salahkah jika pada matahari ketiga
Ramadhan kali ini pun aku masih mengangankannya? Membayangkannya membangunkan
aku dan adik-adik untuk sahur. Melihatnya membantu dan menggoda ibu.
Salahkah jika aku masih terus mengingat
binar mata dan senyumnya yang khas? Merindui harum masakannya setiap hari libur
tiba. Melihatnya bertepuk tangan saat menonton tarianku. Ingin mendengar
suaranya saat menyemangatiku, mengajakku berdiskusi, memarahiku, menenangkanku,
memujiku. Sama besarnya dengan keinginanku mendengarkan ia mendendangkan lagu
kesukaannya untuk menghibur ibu, aku dan adik-adik. Lagu yang selalu salah di
ujungnya.
...
Semut
ireng...
Anak-anak
piti...
Nyabrang
kali...Bengawan Solo...
Riwayatmu
kini...
...
Sejak kapan lagu semut ireng dan Bengawan
Solo-nya Gesang bersatu?
Dan lagi-lagi hujan airmata. Bahkan hanya
dengan mendengar lagu campursari kesukaannya. Melihat poster Bung Karno, tokoh
favoritnya. Mencium bau sate kambing kegemarannya. Melewati kantornya.
Memandang nisannya. Kelebat bayang laksana kaset yang diputar ulang.
Ah, betapa kerinduan ini makin tak
tertahankan. Pada dia. Laki-laki tua sederhana, yang memiliki mimpi, nafas
hidup dan semangat yang luarbiasa. Pada bapak. Laki-laki terhebat yang pernah
ku kenal.
...
If
I could steal one final glance, one final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love
To dance with my father again
...
Nb. Kenapa kita baru menyadari betapa berartinya
seseorang saat kita sudah kehilangan dirinya?
Posted at 02:40 pm by kisahmerahitam
Permalink
Setelah
sekian lama hanya bisa menerka-nerka, membayangkan bagaimana rasanya
jika nanas ditumis, akhirnya, beberapa malam yang lalu, memberanikan
diri mempraktekkannya. Ternyata rasanya persis seperti yang
kubayangkan. Segar. Bikin mata jadi melek, pastinya.
Pada dasarnya resepnya sama dengan OSENG AYAM BUMBU CAPCAY, yang pernah
ku tulis disini. Hanya tinggal ditambah dengan nanas. Resep lengkapnya
sendiri seperti di bawah ini. BAHAN: -
Ayam. Dipotong sesuai selera, tapi lebih baik
dipotong kecil, sekitar 3cm x 3cm. Untuk 1-2 orang, cukup gunakan ¼ ekor. Untuk 3-4 orang, gunakan ½ ekor. Untuk 5-8 orang, gunakan 1 ekor. - Nanas. Setelah dikupas dan dicuci, dipotong-potong dengan ukuran 2cm x 2,5cm Banyaknya disesuaikan dengan ayamnya. BUMBU: - Bawang putih - Lada/merica - Garam (ketiganya dihaluskan) - Jahe diiris tipis - Cabe merah diiris menyamping atau serong. - Sereh dipotong-potong, sepanjang + 2cm - Daun salam - Gula pasir - Minyak goreng ALAT: - Wajan/penggorengan - Sutil (sendok untuk menggoreng) - Ulekan untuk menghaluskan bumbu - Talenan (papan yang digunakan untuk alas mengiris atau memotong) - Pisau untuk mengiris atau memotong - Mangkuk atau piring CARA PEMBUATAN: 1. Ayam
yang sudah dipotong-potong dan dicuci bersih, digoreng hingga setengah
matang. Jangan sampai matang apalagi kering. Kalau sudah berwarna
sedikiiiittt kecoklatan, langsung angkat. (Jika tidak suka digoreng,
tidak apa-apa. Proses yang pertama ini bisa dilewati. Tapi kalau ingin
lebih gurih ya digoreng). 2. Panaskan
penggorengan. Tuang minyak goreng sebanyak 1-2 sendok makan. Jika
minyak sudah panas, tumis bumbu (lada, bawang putih, garam) yang sudah
dihaluskan. Aduk-aduk jangan sampai gosong. 3. Langsung
masukkan potongan ayam (yang sudah digoreng). Aduk-aduk. Tambahkan air
secukupnya hingga seluruh potongan ayam terendam air. Cukup sampai
terendam saja loh ya...Jangan sampai banjir. 4. Masukkan irisan cabe merah, jahe, sereh dan daun salam. Tambahkan ½ sendok teh gula pasir. 5. Tutup penggorengan. (Disekap, sampai daging ayam lunak dan bumbu meresap). 6. Setelah
daging ayam lunak dan airnya cemek-cemek (duh, bhs.Indonesianya apa
ya), masukkan potongan nanas, aduk-aduk dan cicipi. Jika rasanya kurang
pas, misalnya pedasnya kurang, tambahkan bubuk lada. Jika kurang asin,
tambahkan garam, dan jika terasa asin, tambahkan gula pasir. 7. Setelah matang, angkat dan sajikan dalam piring atau mangkuk. Cah Ayam Nanas siap dihidangkan. Lebih enak dimakan selagi masih hangat. Bagi penderita maag, sebaiknya nanas-nya sedikit saja. Selamat mencoba.
Posted at 02:33 pm by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, September 23, 2006
Ramadhan menjelang. Hanya tinggal hitungan
jam. Alhamdulillah, masih diberi nikmat menjalani Ramadhan yang mulia. Bulan
seribu bulan. Bulan penuh berkah dan ampunan. Taburan kenikmatan dan kemuliaan.
Kala ibadah diganjar pahala berkali-kali lipat. Kala semua orang menjadi
senasib. Tua-muda, kaya-miskin. Alhamdulillah.
Ramadhan membawa berkah. Bagi para tukang
air dan bersih-bersih makam yang jumlahnya langsung membludak hingga
berpuluh-puluh kali lipat. Para penjual bunga yang berjajar di sepanjang
jalanan makam. Karena semua orang kini mengingat (yang) mati dan berduyun-duyun
datang ke makam.
Bagi warung es kelapa yang tiba-tiba
bermunculan dimana-mana bak jamur di musim hujan. Tukang kue, kolak, timun
suri. Penjual baju koko, gamis, mukena, sarung dan peci. Warung kecil. Pasar
tradisional. Supermarket. Hypermarket. Harga-harga boleh meningkat, tapi daya
beli tak kunjung menurun.
Bagi para pengusaha angkutan. Sopir.
Kernet. Jasa pengiriman barang. Kantor pos. Tiba-tiba semua orang merasa rindu
untuk berkumpul dan bercengkrama dengan sanak-saudara. Bagi anak-anak yatim. Kaum fakir miskin. Saat
semua orang menjadi merasa bersemangat untuk saling berbagi.
Ramadhan membawa kedamaian. Saat untaian
kata-kata maaf berhamburan. Memenuhi langit, jalanan, rumah, pasar, kantor.
Jatuh di titik-titik kepala, hati. Merasuk, menyebar. Kala benci dan dendam
disingkirkan dan tak ada lagi yang merasa rendah untuk memintal kata maaf.
Saat kalimat-NYA berkumandang. Bergema.
Pagi. Siang. Sore. Malam. Lewat pengeras suara. Radio. Televisi. Saat
malam-malam penuh dengan munajat pada-NYA. Saat IA terasa begitu dekat. Dan tak ada lagi yang merasa malu
dan ketinggalan jaman, lantaran menyebut Asma ALLAH dan sujud dihadapan-NYA.
Ramadhan membawa kemeriahan. Malam-malam
berwarna. Anak-anak bergembira. Senyum mengembang. Sorot mata penuh kerinduan.
Dan jiwa-jiwa yang bernyanyi.
Ah, Ramadhan. Rasanya tak cukup ribuan atau
bahkan jutaan kata untuk melukiskanmu. Meski hanya satu yang ku mohon dari-MU.
Biarkan semangat Ramadhan tetap tinggal di bumi. Selamanya.
Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan
suci. Bulan penuh kemuliaan.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga diri makin lebih baik. Amin.
|
Posted at 08:49 pm by kisahmerahitam
Permalink
Wednesday, September 06, 2006
CATATAN SANG PENGIRING PENGANTIN
Akhirnya...
Kelar juga segala kemeriahan, kerepotan,
ketidaksabaran, perasaan was-was dan harap-harap cemas. Tinggal rasa lelah yang
mendera, dan kok tiga hari-an ini mulai berasa nggreges-nggreges. Panas dingin.
Bersin-bersin terus, leher sakit, suara serak. Iih...Tanda-tanda mau sakit neh.
Tapi mudah-mudahan nggak makin menjadi.
Sejak empat bulan yang lalu, ketika
om-bulik di Pondok Gede, mengabarkan rencana pernikahan adik sepupu, ibu dan
keluarga besar sibuk menteror. Mulai dari pertanyaan standar, macam:
“Kapan nyusul?”
“Hayo mau nikah kapan? Ini loh, sudah
keduluan sama adiknya sendiri. Mbok cepetan!”
Hingga...
“Pokoknya harus tahun ini juga!” (dengan
nada suara keras dan penuh penekanan, plus pasang wajah garang).
Inggih ibu, mbah putri, pakde, bude, om,
bulik, mas, mbak, teteh, kakak, adik, ponakan! Huuww!
Masih ditambah pernyataan lainnya yang
penuh ancaman...
“Nanti pake kebaya loh ya. Dandan! Pake
lipstick! Pipinya dimerah-merahin! Biar nggak pucet! Trus, pake sanggul! Awas
kalo nggak mau!”
“Dikurusin dikit biar cantik! Awas kalo
nggak diet!” (ini sudah cantik loh...:p)
“Pokoknya mbak harus jadi pagar ayu ya,
cuti kerjanya. Awas kalau sampai nggak!”
“Jangan lupa, pacarnya nanti dibawa.
Kenalin ke seluruh keluarga! Awas kalau sampai nggak dibawa!” (haduh...)
Cuma bisa senyum-senyum, angguk-angguk, dan
setelah kepepet, pasang jurus terakhir ke-ndablek-an-ku. Aaahh...Untungnya,
ditolong kerjaan yang bejibun, jadi punya alasan untuk nggak dateng ke
rapat-rapat keluarga dan mendengarkan omelan penuh paksaan itu.
(Hehehe...Nyuwun ngapunten nggih mbah putri, ibu, pakde, bude, om, bulik...)
But it’s ok. Bisa ditanganilah. Wong
buktinya, sampai sekarang ya nggak diapa-apain sama para pengancam tersayang.
Hehehe...Masalahnya, baru kali ini nemuin acara nikahan kok ya repot bener,
buanyak banget acaranya. Padahal dulu, waktu ngikutin prosesi pernikahan
temen-temen dan sepupu lainnya ya biasa saja. Loh ini, tiga hari nonstop. Mulai
dari lamaran secara formal, syukuran, siraman, midodareni, akad nikah, temu
nganten, dodot, resepsi. Haduh...
Eh, ketinggalan, ada satu acara lagi.
Namanya ular-ularan. Awalnya kupikir ada atraksi pake binatang ular sungguhan.
Ularnya disuruh joget, atau perang tanding ala ular. Lah kalau bener, aku masuk
daftar kabur no.1. Untungnya nggak beneran. Acara ular-ularan sendiri
sebenarnya momen dimana para tetua memberikan petuahnya pada si pengantin.
Nah, yang lebih merepotkan lagi, adalah
hunting kebaya dan belajar dandannya. Secara jauh-jauh hari sudah diwanti-wanti
sama bude dan bulik, disuruh jadi pengiring pengantin.
“Inget, kowe ki mengko dadi pengiring
pengantin. Mesti gelem didandani karo Bu Kotjo. Pake sanggul.”
“Yah bulik, nggak usah pake sanggul dan
kebaya ya. Nggak usah didandani. Kan eneng
sing liyane. Yo bude, bulik...”
“Ora! Kowe ki angel temen dikandani sih?
Pokoknya mesti pake kebaya. Itu sudah bulik beliin bahannya. Mengko kowe
tinggal jahitin aja.”
“Tapi kan
bahannya jarang-jarang gitu. Nanti kalau kelihatan gimana?”
“YO BEN! Malahane tambah seksi!”
*OMG!*
Dan sejak saat itu, ibu sibuk
mewanti-wanti.
“Itu kebayanya mau dijahit kapan? Ntar
nggak keburu loh. Atau mau beli kebaya jadi aja?”
“Mbok sabar toh bu, acaranya masih lama
ini. Lagian kerjaannya nggak bisa ditinggal.”
“Ibu udah ngingetin loh ya. Awas nanti
kalau grusa-grusu. Dadakan. Ta’ kethak kowe.”
*Nyengir*
Ndilalahnya, kok ya baru inget jahitin
kebaya itu tanggal 20 Agustus. Tanggal 28 Agustus, kebaya sudah jadi. Tapi
nggak sreg. Mesti direvisi. Tanggal 30 Agustus, lihat hasil final kebayanya.
Tetep nggak sreg. Padahal acaranya sudah dimulai besoknya. Hah, kalangkabut
jadinya. Terpaksa kejar-kejaran sama jadwal kerjaan yang numpuk, lari
kesana-kemari, hunting kebaya. Menjelang detik-detik terakhir, Alhamdulillah
dapet kebaya juga. Ya masih rada-rada nggak sreg juga, tapi mendinglah daripada
kebaya pertama.
Urusan kebaya selesai. Urusan dandan?
“Vie, ajarin dandan dong!” (setengah
memaksa)
“Bukannya besok didandani sama tukang
riasnya?”
“Males ah, habis pasti menor ngedandaninnya
dan aku suka nggak cocok sama alat make-up nya. Please, ajarin ya...”
Maka, dengan sedikit terpaksa, Luvie begadang semalaman, merhatiin dan ngajarin aku dandan.
Mulai dari pake bedak.
“Kurang tebel tuh mbak!”
“Waduh, ini udah kayak pake topeng loh.”
“Ya itu kan
karena biasanya mbak pake bedak tabur. Ditebelin lagi gih!”
Belajar pake blush on.
“Tuh, gue bilang juga apa Vie, nyapuinnya
dari atas ke bawah.” (setelah hampir setengah jam eyel-eyelan cara pakai kuas
yang benar).
“Tapi tetep kurang tebel tuh mbak!”
*Aihhhh...Lagi?*
Belajar pake eye shadow.
“Mbak, itu ngusapinnya sekali aja. Trus
yang atas dikasih warna yang lebih terang!”
Belajar pake maskara.
“Vie, gimana ini, mataku jadi kecolok terus
nih! Mana belepotan gini. Jadi pada item-item semua deh!”
“Ya pelan-pelan aja. Tuh yang kiri kurang
tebel!”
*Kurang tebel lagi? Huuhhh! Begini aja
matanya udah kerasa berat!*
Pake lipstick.
“Jadi aku mesti pake warna yang mana?
Gimana kalau pake yang biasanya?”
“Jangan. Yang biasanya mbak pake itu
sewarna sama bibir, jadi nggak kelihatan. Pake warna yang lebih merah.”
Setelah 5 jam lebih...
“Gimana?”
“Wow, berhasil mbak. Pipinya jadi nggak
kelihatan chubby lagi!”
“Hayah!”
“Tapi cantik kok. Jadi beda.”
Auh...Jadi tersipu-sipu. Akhirnya setelah 5
jam lebih.
Pas hari H-nya, karena semalaman cuma tidur
1,5 jam, jadilah aku nguantuk berat. Rasanya pengen cepet-cepet pulang dan
tidur. Tapi mengingat pengorbanan dan perjuangan panjang serta berat yang sudah
dilakukan (aiiihh...), ku paksa mataku untuk terus terbuka. Masa sudah cantik,
pake kebaya plus high heels setinggi 7cm, malah tidur. Nggak lucu kan? Hehehe...Ujung-ujungnya, narsis mode on!
Nah, baru jadi pengiring pengantin saja sudah
segitu repotnya. Apalagi kalau jadi pengantin benerannya ya? Nggak kebayang
deh. Apa itu sebabnya, banyak orang yang mau nikah jadi kurus? Apa anda
sekalian juga pernah punya pengalaman yang merepotkan begini?
Nb: Mas yang disana, besok-besok kalau kita
nikah yang simpel aja ya. Pake celana jeans aja, gimana? :D
Posted at 12:14 am by kisahmerahitam
Permalink
Friday, August 25, 2006
Kau bukan mentari pagi yang menghangatkan, juga bukan awan yang menyejukkan. Kau tak segagah gunung yang tinggi menjulang, juga tak sekaya samudera yang luas membentang. Tapi kau tak perlu menjadi itu semua, karena aku mencintaimu, apa adanya.
Posted at 07:48 am by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, August 17, 2006
Pantaskah menyebut diri merdeka,
jika ketakutan dan prasangka buruk masih meraja?
Posted at 09:33 pm by kisahmerahitam
Permalink
JANGAN TERTIPU TAMPANG MELASNYA!
|
Tulisan kedua dari seri kejahatan jalanan di Jakarta. Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar. Tak ada maksud apapun. Hanya sekedar pengingat untuk berhati-hati. |
Kasus Pertama
Pertengahan 2002
Pagi menjelang. Ruas jalanan Bypass mulai padat. Kendaraan merayap. Pamer susu. Padat merayap susul-menyusul. Di halte, aku dan para calon penumpang menatap pasrah ke arah bus kota yang melintas dan penuh sesak.
Seorang laki-laki, berusia hampir 50-an tahun. Rambut ikal, mata sayu, pakaiannya berantakan dan lusuh. Postur tubuhnya sedikit bungkuk. Berjalan menghampiri para calon penumpang bus yang berdiri di halte.
"Maaf ya neng, bapak mau pulang ke kampung bapak. Tapi bapak nggak punya uang. Minta bantuannya neng. Seadanya aja..."
Dengan suara lemah dan wajah memelas, laki-laki itu meminta uang untuk ongkos pulang ke kampungnya yang entah ada dimana. Beberapa orang yang merasa iba lantas memberinya uang. Laki-laki itu kemudian beranjak, menghampiri setiap orang yang ada di tempat itu. Kembali mengiba.
Hari Berikutnya...
Lagi-lagi berdiri di halte yang sama. Bus jurusan Pulogadung-Blok M melintas. Penuh sesak. Kuurungkan niatku untuk memberhentikannya. Kualihkan pandanganku ke tempat lain.
Laki-laki yang kemarin, tampak tergesa-gesa menyeberang jalan menuju halte tempatku berdiri. Ehm, kasihan. Mungkin bapak itu belum dapet uang buat pulang ke kampungnya. Kuperhatikan, ia mulai mendekati seorang ibu yang berdiri di ujung halte. Menunduk, mengiba-iba. Kembali meminta uang untuk pulang ke kampungnya. Si ibu memberinya uang. Laki-laki itu beralih ke seorang pemuda yang berdiri tak jauh dariku.
"Blok M...Blok M...Blok M!"
Tersentak. Buru-buru kulambaikan tanganku dan bergegas menghentikan bus jurusan Pulogadung – Blok M.
Dari dalam bus, kulihat laki-laki itu masih mengiba-iba pada setiap orang yang berdiri di halte.
Seminggu kemudian...
Laki-laki itu masih terus mengiba. Rupanya ia belum berhasil mengumpulkan uang untuk pulang ke kampungnya.
Awal 2003
Ehm...Langkahku riang. Hari ini aku mulai bekerja di kantor baru. Bidang baru. Semoga tidak bosan. Aku cuma bertahan 7 bulan di kantor yang lama. Membosankan.
Hari ini aku kembali menuju halte di salah satu sisi ruas Bypass. Selama beberapa bulan terakhir, aku hampir tak pernah lewat jalan ini. Selalu lewat Kp.Melayu. Kebetulan kantor baruku di daerah Utan Kayu dan lebih dekat jika lewat Bypass. Beberapa meter menjelang halte, pandanganku tertumbuk pada seorang laki-laki berusia hampir 50-an tahun. Laki-laki itu tengah mengiba meminta belas kasihan, agar dapat uang untuk ongkos pulang ke kampungnya. Laki-laki yang sama, yang ku temui beberapa bulan lalu.
Di halte, ketemu tukang koran langgananku.
"Berangkat mbak?"
"Iya. Sekarang buka kios disini juga ya"
Tukang koran itu mengangguk. Aku kembali memandang ke arah laki-laki tua tadi. Tukang koran mengikuti pandanganku.
"Nggak tahu malu ya. Udah ngemis pake bohong lagi."
"Siapa?"
"Tuh bapak itu. Ngaku-ngaku nggak punya uang buat pulang kampung. Orang rumahnya di belakang situ kok."
Jari telunjuk tukang koran menunjuk deretan rumah di belakang halte.
"Masa sih? Kok aku nggak tahu."
"Ah, mbak mana tahu. Mbak kan jarang main sampai sini."
Melihatku tak percaya, beberapa hari kemudian, tukang koran langgananku itu menunjukkan rumah laki-laki itu. Benar, ternyata rumahnya tak jauh dari halte. Istrinya berdagang kue keliling. Anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa, bekerja menjadi pelayan di toko, tukang parkir dan ada yang jadi pak ogah di jalanan.
Sejak saat itu, aku tak pernah memberikan uang lagi pada laki-laki tua yang selalu mengiba tiap pagi. Meski selama 9 bulan bekerja di daerah Utan Kayu, hampir tiap pagi aku bertemu dengannya.
Dan beberapa minggu yang lalu, saat kembali melintas di halte itu, laki-laki tua itu masih beroperasi disana.
Kasus Kedua
Suatu hari di tahun 2005
Dapat undangan dari seorang kawan untuk melihat rumah baru sekaligus bayi-nya yang baru lahir. Maka meluncurlah siang itu ke daerah Rawamangun. Turun di halte depan kampus kesayangan. Menunggu beberapa kawan lainnya. Saat menunggu, seorang anak, berusia sekitar 10 tahun mendekat. Memasang wajah memelas. Meminta uang untuk pulang ke rumahnya di ujung Bekasi. Katanya ia tak punya uang dan tersesat.
Merasa kasihan, ku beri ia ongkos untuk pulang sampai ke rumahnya. Anak itu dengan riang segera menghilang dari pandanganku.
Tak lama, kawan-kawan lainnya muncul. Maka kami pun menyeberangi jalan, memasuki salah satu gang di Jl.Pemuda. Setelah berjalan kaki hampir 200m, sampailah di rumah kawan yang mengundang. Betapa terkejutnya saat melihat anak kecil yang tadi mengiba tengah bermain di depan rumah kawanku. Saat melihatku, anak itu langsung berlari pergi.
"Namanya Kiki. Tuh rumahnya di sebelah. Bukan di Bekasi."
Ah, rupanya aku tak belajar dari pengalaman.
Kasus Ketiga
Satu bulan lalu, dua milis yang dengan setia kuikuti, membahas modus operandi pemerkosaan gaya baru. Lebih tepatnya, cara yang digunakan untuk menjaring korbannya.
Si pemerkosa menggunakan anak kecil berusia 5-7 tahun, untuk mendapatkan korbannya. Anak kecil itu akan mendekati korban yang tentunya para perempuan muda. Berpura-pura tersesat dan minta diantar hingga ke rumahnya. Begitu sampai di tempat yang dituju, laki-laki si pemerkosa pun beraksi.
.....
Menyeramkan. Memanfaatkan kebaikan orang lain untuk berbuat jahat. Jika begini, jadi berpikir seribu kali untuk berbuat baik. Itukah sebabnya, kita sering memilih tidak perduli pada orang lain, terutama orang yang tidak kita kenal dengan baik?
Posted at 09:27 pm by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, August 12, 2006
|
Tulisan pertama dari seri kejahatan jalanan di Jakarta. Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar. Tak ada maksud apapun. Hanya sekedar pengingat untuk berhati-hati. |
Terik matahari membakar Jakarta. Siang yang garang menyergap jalanan depan Stasiun Kota. Sebuah angkot melaju. Lantas berhenti. Berdecit. Saat lambaian tanganku terayun.
"Mangga dua, bang?"
"Iya neng. Ayo cepet naik!"
Aku dan dua kawanku naik. Seorang ibu – dengan perhiasan penuh di tangan dan lehernya – ikut naik. Tak lama, empat orang lelaki A,B,C dan D, bertampang biasa dengan postur tubuh jauh dari kekar, ikut masuk ke dalam angkot. Mereka duduk menyebar. Dua di dekat pintu, satu diantara aku dan ibu toko emas itu, dan satu lagi agak di tengah. Berlagak tak saling kenal. Selain kami, sudah ada tiga penumpang lainnya.
Angkot yang penuh sesak itu pun kembali melaju menuju kawasan niaga Mangga Dua. Baru beberapa meter, lelaki A, yang duduk di sampingku, mulai terbatuk-batuk. Makin lama makin menjadi-jadi. Kedua lelaki lain, B,C, yang semula pura-pura tak saling kenal, langsung terlihat begitu perhatian. Menyarankan ini-itu, sembari memijat tangan dan bahu lelaki A yang makin menjadi-jadi tingkat ke-batuk-annya. Suasana ribut. Angkot makin pengap. Semua perhatian tertumpu pada lelaki A. Sementara ibu toko emas yang duduk terjepit diantara lelaki A dan D, mengkerut ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Tapi tak ada yang memperhatikan apalagi peduli.
"Kita turun disini aja," bisik salah satu kawanku.
"Hah? Kan masih jauh," balasku berbisik.
Tok! Tok! Tok!
"Kiri bang!"
Angkot berhenti. Putaran roda yang dipaksa berhenti, beradu dengan aspal jalanan, menimbulkan decit tak nyaman. Membuat ngilu gendang telinga. Ketiga lelaki, B,C,D, serentak menoleh. Memandang tak suka. Bahkan lelaki A sesaat sempat lupa untuk terbatuk.
Kawanku langsung menarik tanganku. Memaksa untuk segera turun dari angkot.
"Duh, kok turun disini sih?"
"Kita jalan kaki aja!"
"Hah? Jauuhhh...Panas lagi!"
"Iya tapi kan lebih aman."
Dahi mengernyit. Dua alis bertaut. Lebih aman? Maksudnya?
"Lo tau, empat orang yang naik bareng kita itu komplotan copet."
Mata membelalak.
"Masa sih? Lo tau darimana?"
"Lo tuh bego banget sih. Di Jakarta mana ada orang yang segitu care-nya sama orang lain."
"Ya mungkin aja mereka kasihan sama bapak-bapak yang batuk itu."
"Heh, batuknya itu ketahuan banget cuma pura-pura. Itu buat ngalihin perhatian. Lo nggak lihat ibu yang duduknya kecepit tadi? Lo nggak lihat muka si ibu pucet dan ketakutan?"
"Lihat sih...Trus kenapa."
"Aduh! Masih nggak ngeh juga? laki-laki yang satu itu pura-pura batuk. Dua temannya yang deket pintu pura-pura ribut dan kasihan biar penumpang lainnya ikut merhatiin si orang yang batuk tadi. Nah, orang yang satunya lagi, yang duduk di dekat si ibu itu, diam-diam ngancam si ibu ngelepasin perhiasan sama nyerahin dompetnya. Kalo kita tetep disitu, mungkin lo yang bakal jadi sasaran berikutnya."
"Iya. Apa lo mau duit buat beli komputer ilang?", kawanku yang satu menimpali.
Pucat pasi. Langsung kudekap erat tasku. Tak sanggup membayangkan tujuh juta yang ada dalam tasku melayang. Tak sanggup melihat wajah kecewa kawan-kawan ketika tahu komputer baru yang sudah lama diidamkan, tak jadi didapat. Tak tega rasanya membayangkan perjuangan berat yang harus dilalui, untuk mendapatkan kembali uang sebanyak itu.
Siang berpeluh. Terik menyengat. Benakku sesak saat kawanku berucap, "Hati-hati. Buka mata sama telinga lo lebar-lebar. Jalanan Jakarta tak aman!"
Antara Stasiun Kota – Mangga Dua, awal 2000.
Posted at 02:37 am by kisahmerahitam
Permalink
Friday, August 11, 2006
Secangkir kopi dengan krim dan taburan cinnamon
Sekejap tawa di tengah gemerlapnya malam
Sehari semalam terkapar tak berdaya.
* Semula mau diberi judul 'Akibat Kenikmatan Sesaat'. Tapi kok jadinya kayak film-film tahun 90-an ya? Hehehehe...
Posted at 08:37 am by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, August 10, 2006
DUNIA INI MILIK KITA, KAWAN!
|
Sahabat satu : Loe masih inget kan sama omongan kita dulu. Waktu kita masih sengsara di jalan?
Aku : Yang mana?
Sahabat satu : Waktu kita luntang lantung ngerjain proyeknya XXX. Gak sadar kita pernah bilang, suatu saat kita akan bahagia. Gak susah kayak gini, dicuekin orang, dikasihanin orang...
Aku : Iya. Gue masih inget. *mulai berkaca-kaca*
Sahabat satu : Waktu itu loe bilang sama gw kalo satu saat nanti kita bakalan berhasil. Iya kan?
Aku : Iya. *makin berlinang airmata*
Sahabat satu : Loe bilang, satu saat nanti kita pasti nggak akan diremehin sama orang...
Aku : Iya... *tercekat*
Sahabat satu : Alhamdulillah kita bisa ngelewatin itu semua ya...Sekarang kita bisa ngasih, meski sedikit, tapi tulus.
Aku : ...
Sahabat satu : Loe tahu, sejak loe ngomong itu, gw yakin aja, apapun yang gw rasakan sekarang adalah benih buat gw memetiknya suatu hari nanti...
Aku : ...
Sahabat satu : Akan ada kepuasan tersendiri ketika gw panen raya kan?
Aku : Yup
Sahabat satu : karena ada usaha, ikhtiar dan doa serta keikhlasan tuk ngejalanin semuanya
|
.......
Iya kawan.
Aku masih mengingat semuanya dengan jelas. Ketika mentari tepat berada di atas kepala. Ketika peluh mengucur deras. Ketika raut wajah kita pucat lesi. Ketika kulit memerah-hitam terpapar panas, debu dan asap knalpot. Ketika pandang dunia tak bersahabat.
Aku juga masih mengingat semuanya dengan jelas. Langkah yang tak surut. Senyum yang tak aus. Semangat yang tak luruh. Keyakinan yang terus menderu. Ada di sorot mataku dan matamu.
Kita memang bukan siapa-siapa. Tapi kita juga bisa menjadi SIAPA. Dunia ini milik kita, kawan. Tersenyumlah!
Posted at 01:27 am by kisahmerahitam
Permalink
|
 |
|