Saturday, September 23, 2006
MARHABAN YA RAMADHAN

Ramadhan menjelang. Hanya tinggal hitungan jam. Alhamdulillah, masih diberi nikmat menjalani Ramadhan yang mulia. Bulan seribu bulan. Bulan penuh berkah dan ampunan. Taburan kenikmatan dan kemuliaan. Kala ibadah diganjar pahala berkali-kali lipat. Kala semua orang menjadi senasib. Tua-muda, kaya-miskin. Alhamdulillah.

Ramadhan membawa berkah. Bagi para tukang air dan bersih-bersih makam yang jumlahnya langsung membludak hingga berpuluh-puluh kali lipat. Para penjual bunga yang berjajar di sepanjang jalanan makam. Karena semua orang kini mengingat (yang) mati dan berduyun-duyun datang ke makam.

Bagi warung es kelapa yang tiba-tiba bermunculan dimana-mana bak jamur di musim hujan. Tukang kue, kolak, timun suri. Penjual baju koko, gamis, mukena, sarung dan peci. Warung kecil. Pasar tradisional. Supermarket. Hypermarket. Harga-harga boleh meningkat, tapi daya beli tak kunjung menurun.

Bagi para pengusaha angkutan. Sopir. Kernet. Jasa pengiriman barang. Kantor pos. Tiba-tiba semua orang merasa rindu untuk berkumpul dan bercengkrama dengan sanak-saudara.  Bagi anak-anak yatim. Kaum fakir miskin. Saat semua orang menjadi merasa bersemangat untuk saling berbagi.

Ramadhan membawa kedamaian. Saat untaian kata-kata maaf berhamburan. Memenuhi langit, jalanan, rumah, pasar, kantor. Jatuh di titik-titik kepala, hati. Merasuk, menyebar. Kala benci dan dendam disingkirkan dan tak ada lagi yang merasa rendah untuk memintal kata maaf.

Saat kalimat-NYA berkumandang. Bergema. Pagi. Siang. Sore. Malam. Lewat pengeras suara. Radio. Televisi. Saat malam-malam penuh dengan munajat pada-NYA. Saat IA terasa begitu dekat. Dan tak ada lagi yang merasa malu dan ketinggalan jaman, lantaran menyebut Asma ALLAH dan sujud dihadapan-NYA.

Ramadhan membawa kemeriahan. Malam-malam berwarna. Anak-anak bergembira. Senyum mengembang. Sorot mata penuh kerinduan. Dan jiwa-jiwa yang bernyanyi.

Ah, Ramadhan. Rasanya tak cukup ribuan atau bahkan jutaan kata untuk melukiskanmu. Meski hanya satu yang ku mohon dari-MU. Biarkan semangat Ramadhan tetap tinggal di bumi. Selamanya.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan suci. Bulan penuh kemuliaan.




 Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga diri makin lebih baik. Amin.

Posted at 08:49 pm by kisahmerahitam
Comments (3)  

Wednesday, September 06, 2006
CATATAN SANG PENGIRING PENGANTIN


Akhirnya...

Kelar juga segala kemeriahan, kerepotan, ketidaksabaran, perasaan was-was dan harap-harap cemas. Tinggal rasa lelah yang mendera, dan kok tiga hari-an ini mulai berasa nggreges-nggreges. Panas dingin. Bersin-bersin terus, leher sakit, suara serak. Iih...Tanda-tanda mau sakit neh. Tapi mudah-mudahan nggak makin menjadi.

Sejak empat bulan yang lalu, ketika om-bulik di Pondok Gede, mengabarkan rencana pernikahan adik sepupu, ibu dan keluarga besar sibuk menteror. Mulai dari pertanyaan standar, macam:

“Kapan nyusul?”
“Hayo mau nikah kapan? Ini loh, sudah keduluan sama adiknya sendiri. Mbok cepetan!”

Hingga...

“Pokoknya harus tahun ini juga!” (dengan nada suara keras dan penuh penekanan, plus pasang wajah garang).

Inggih ibu, mbah putri, pakde, bude, om, bulik, mas, mbak, teteh, kakak, adik, ponakan! Huuww!

Masih ditambah pernyataan lainnya yang penuh ancaman...

“Nanti pake kebaya loh ya. Dandan! Pake lipstick! Pipinya dimerah-merahin! Biar nggak pucet! Trus, pake sanggul! Awas kalo nggak mau!”
“Dikurusin dikit biar cantik! Awas kalo nggak diet!” (ini sudah cantik loh...:p)
“Pokoknya mbak harus jadi pagar ayu ya, cuti kerjanya. Awas kalau sampai nggak!”
“Jangan lupa, pacarnya nanti dibawa. Kenalin ke seluruh keluarga! Awas kalau sampai nggak dibawa!” (haduh...)

Cuma bisa senyum-senyum, angguk-angguk, dan setelah kepepet, pasang jurus terakhir ke-ndablek-an-ku. Aaahh...Untungnya, ditolong kerjaan yang bejibun, jadi punya alasan untuk nggak dateng ke rapat-rapat keluarga dan mendengarkan omelan penuh paksaan itu. (Hehehe...Nyuwun ngapunten nggih mbah putri, ibu, pakde, bude, om, bulik...)

But it’s ok. Bisa ditanganilah. Wong buktinya, sampai sekarang ya nggak diapa-apain sama para pengancam tersayang. Hehehe...Masalahnya, baru kali ini nemuin acara nikahan kok ya repot bener, buanyak banget acaranya. Padahal dulu, waktu ngikutin prosesi pernikahan temen-temen dan sepupu lainnya ya biasa saja. Loh ini, tiga hari nonstop. Mulai dari lamaran secara formal, syukuran, siraman, midodareni, akad nikah, temu nganten, dodot, resepsi. Haduh...

Eh, ketinggalan, ada satu acara lagi. Namanya ular-ularan. Awalnya kupikir ada atraksi pake binatang ular sungguhan. Ularnya disuruh joget, atau perang tanding ala ular. Lah kalau bener, aku masuk daftar kabur no.1. Untungnya nggak beneran. Acara ular-ularan sendiri sebenarnya momen dimana para tetua memberikan petuahnya pada si pengantin.

Nah, yang lebih merepotkan lagi, adalah hunting kebaya dan belajar dandannya. Secara jauh-jauh hari sudah diwanti-wanti sama bude dan bulik, disuruh jadi pengiring pengantin.

“Inget, kowe ki mengko dadi pengiring pengantin. Mesti gelem didandani karo Bu Kotjo. Pake sanggul.”
“Yah bulik, nggak usah pake sanggul dan kebaya ya. Nggak usah didandani. Kan eneng sing liyane. Yo bude, bulik...”
“Ora! Kowe ki angel temen dikandani sih? Pokoknya mesti pake kebaya. Itu sudah bulik beliin bahannya. Mengko kowe tinggal jahitin aja.”
“Tapi kan bahannya jarang-jarang gitu. Nanti kalau kelihatan gimana?”
“YO BEN! Malahane tambah seksi!”
*OMG!*

Dan sejak saat itu, ibu sibuk mewanti-wanti.

“Itu kebayanya mau dijahit kapan? Ntar nggak keburu loh. Atau mau beli kebaya jadi aja?”
“Mbok sabar toh bu, acaranya masih lama ini. Lagian kerjaannya nggak bisa ditinggal.”
“Ibu udah ngingetin loh ya. Awas nanti kalau grusa-grusu. Dadakan. Ta’ kethak kowe.”
*Nyengir*

Ndilalahnya, kok ya baru inget jahitin kebaya itu tanggal 20 Agustus. Tanggal 28 Agustus, kebaya sudah jadi. Tapi nggak sreg. Mesti direvisi. Tanggal 30 Agustus, lihat hasil final kebayanya. Tetep nggak sreg. Padahal acaranya sudah dimulai besoknya. Hah, kalangkabut jadinya. Terpaksa kejar-kejaran sama jadwal kerjaan yang numpuk, lari kesana-kemari, hunting kebaya. Menjelang detik-detik terakhir, Alhamdulillah dapet kebaya juga. Ya masih rada-rada nggak sreg juga, tapi mendinglah daripada kebaya pertama.

Urusan kebaya selesai. Urusan dandan?

“Vie, ajarin dandan dong!” (setengah memaksa)
“Bukannya besok didandani sama tukang riasnya?”
“Males ah, habis pasti menor ngedandaninnya dan aku suka nggak cocok sama alat make-up nya. Please, ajarin ya...”

Maka, dengan sedikit terpaksa, Luvie begadang semalaman, merhatiin dan ngajarin aku dandan.

Mulai dari pake bedak.

“Kurang tebel tuh mbak!”
“Waduh, ini udah kayak pake topeng loh.”
“Ya itu kan karena biasanya mbak pake bedak tabur. Ditebelin lagi gih!”

Belajar pake blush on.

“Tuh, gue bilang juga apa Vie, nyapuinnya dari atas ke bawah.” (setelah hampir setengah jam eyel-eyelan cara pakai kuas yang benar).
“Tapi tetep kurang tebel tuh mbak!”
*Aihhhh...Lagi?*

Belajar pake eye shadow.

“Mbak, itu ngusapinnya sekali aja. Trus yang atas dikasih warna yang lebih terang!”

Belajar pake maskara.

“Vie, gimana ini, mataku jadi kecolok terus nih! Mana belepotan gini. Jadi pada item-item semua deh!”
“Ya pelan-pelan aja. Tuh yang kiri kurang tebel!”
*Kurang tebel lagi? Huuhhh! Begini aja matanya udah kerasa berat!*

Pake lipstick.

“Jadi aku mesti pake warna yang mana? Gimana kalau pake yang biasanya?”
“Jangan. Yang biasanya mbak pake itu sewarna sama bibir, jadi nggak kelihatan. Pake warna yang lebih merah.”

Setelah 5 jam lebih...

“Gimana?”
“Wow, berhasil mbak. Pipinya jadi nggak kelihatan chubby lagi!”
“Hayah!”
“Tapi cantik kok. Jadi beda.”

Auh...Jadi tersipu-sipu. Akhirnya setelah 5 jam lebih.

Pas hari H-nya, karena semalaman cuma tidur 1,5 jam, jadilah aku nguantuk berat. Rasanya pengen cepet-cepet pulang dan tidur. Tapi mengingat pengorbanan dan perjuangan panjang serta berat yang sudah dilakukan (aiiihh...), ku paksa mataku untuk terus terbuka. Masa sudah cantik, pake kebaya plus high heels setinggi 7cm, malah tidur. Nggak lucu kan? Hehehe...Ujung-ujungnya, narsis mode on!

Nah, baru jadi pengiring pengantin saja sudah segitu repotnya. Apalagi kalau jadi pengantin benerannya ya? Nggak kebayang deh. Apa itu sebabnya, banyak orang yang mau nikah jadi kurus? Apa anda sekalian juga pernah punya pengalaman yang merepotkan begini?

 

Nb: Mas yang disana, besok-besok kalau kita nikah yang simpel aja ya. Pake celana jeans aja, gimana? :D

Posted at 12:14 am by kisahmerahitam
Comments (18)  

Friday, August 25, 2006
KAU...

Kau bukan mentari pagi yang menghangatkan,
juga bukan awan yang menyejukkan.

Kau tak segagah gunung yang tinggi menjulang,
juga tak sekaya samudera yang luas membentang.

Tapi kau tak perlu menjadi itu semua,
karena aku mencintaimu, apa adanya.


Posted at 07:48 am by kisahmerahitam
Comments (12)  

Thursday, August 17, 2006
SALAM SETENGAH MERDEKA

 

 

Pantaskah menyebut diri merdeka,

jika ketakutan dan prasangka buruk masih meraja?

 

 

 

Posted at 09:33 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

JANGAN TERTIPU TAMPANG MELASNYA!

Tulisan kedua dari seri kejahatan jalanan di Jakarta. Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar. Tak ada maksud apapun. Hanya sekedar pengingat untuk berhati-hati.

 

 

Kasus Pertama

 

Pertengahan 2002

 

Pagi menjelang. Ruas jalanan Bypass mulai padat. Kendaraan merayap. Pamer susu. Padat merayap susul-menyusul. Di halte, aku dan para calon penumpang menatap pasrah ke arah bus kota yang melintas dan penuh sesak.

 

Seorang laki-laki, berusia hampir 50-an tahun. Rambut ikal, mata sayu, pakaiannya berantakan dan lusuh. Postur tubuhnya sedikit bungkuk. Berjalan menghampiri para calon penumpang bus yang berdiri di halte.

 

"Maaf ya neng, bapak mau pulang ke kampung bapak. Tapi bapak nggak punya uang. Minta bantuannya neng. Seadanya aja..."

 

Dengan suara lemah dan wajah memelas, laki-laki itu meminta uang untuk ongkos pulang ke kampungnya yang entah ada dimana. Beberapa orang yang merasa iba lantas memberinya uang. Laki-laki itu kemudian beranjak, menghampiri setiap orang yang ada di tempat itu. Kembali mengiba.

 

Hari Berikutnya...

 

Lagi-lagi berdiri di halte yang sama. Bus jurusan Pulogadung-Blok M melintas. Penuh sesak. Kuurungkan niatku untuk memberhentikannya. Kualihkan pandanganku ke tempat lain.

 

Laki-laki yang kemarin, tampak tergesa-gesa menyeberang jalan menuju halte tempatku berdiri. Ehm, kasihan. Mungkin bapak itu belum dapet uang buat pulang ke kampungnya. Kuperhatikan, ia mulai mendekati seorang ibu yang berdiri di ujung halte. Menunduk, mengiba-iba. Kembali meminta uang untuk pulang ke kampungnya. Si ibu memberinya uang. Laki-laki itu beralih ke seorang pemuda yang berdiri tak jauh dariku.

 

"Blok M...Blok M...Blok M!"

 

Tersentak. Buru-buru kulambaikan tanganku dan bergegas menghentikan bus jurusan Pulogadung – Blok M.

 

Dari dalam bus, kulihat laki-laki itu masih mengiba-iba pada setiap orang yang berdiri di halte.

 

Seminggu kemudian...

 

Laki-laki itu masih terus mengiba. Rupanya ia belum berhasil mengumpulkan uang untuk pulang ke kampungnya.

 

Awal 2003

 

Ehm...Langkahku riang. Hari ini aku mulai bekerja di kantor baru. Bidang baru. Semoga tidak bosan. Aku cuma bertahan 7 bulan di kantor yang lama. Membosankan.

 

Hari ini aku kembali menuju halte di salah satu sisi ruas Bypass. Selama beberapa bulan terakhir, aku hampir tak pernah lewat jalan ini. Selalu lewat Kp.Melayu. Kebetulan kantor baruku di daerah Utan Kayu dan lebih dekat jika lewat Bypass. Beberapa meter menjelang halte, pandanganku tertumbuk pada seorang laki-laki berusia hampir 50-an tahun. Laki-laki itu tengah mengiba meminta belas kasihan, agar dapat uang untuk ongkos pulang ke kampungnya. Laki-laki yang sama, yang ku temui beberapa bulan lalu.

 

Di halte, ketemu tukang koran langgananku.

 

"Berangkat mbak?"

"Iya. Sekarang buka kios disini juga ya"

 

Tukang koran itu mengangguk. Aku kembali memandang ke arah laki-laki tua tadi. Tukang koran mengikuti pandanganku.

 

"Nggak tahu malu ya. Udah ngemis pake bohong lagi."

"Siapa?"

"Tuh bapak itu. Ngaku-ngaku nggak punya uang buat pulang kampung. Orang rumahnya di belakang situ kok."

 

Jari telunjuk tukang koran menunjuk deretan rumah di belakang halte.

 

"Masa sih? Kok aku nggak tahu."

"Ah, mbak mana tahu. Mbak kan jarang main sampai sini."

 

Melihatku tak percaya, beberapa hari kemudian, tukang koran langgananku itu menunjukkan rumah laki-laki itu. Benar, ternyata rumahnya tak jauh dari halte. Istrinya berdagang kue keliling. Anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa, bekerja menjadi pelayan di toko, tukang parkir dan ada yang jadi pak ogah di jalanan.

 

Sejak saat itu, aku tak pernah memberikan uang lagi pada laki-laki tua yang selalu mengiba tiap pagi. Meski selama 9 bulan bekerja di daerah Utan Kayu, hampir tiap pagi aku bertemu dengannya.

 

Dan beberapa minggu yang lalu, saat kembali melintas di halte itu, laki-laki tua itu masih beroperasi disana.

 

 

Kasus Kedua

 

Suatu hari di tahun 2005

 

Dapat undangan dari seorang kawan untuk melihat rumah baru sekaligus bayi-nya yang baru lahir. Maka meluncurlah siang itu ke daerah Rawamangun. Turun di halte depan kampus kesayangan. Menunggu beberapa kawan lainnya. Saat menunggu, seorang anak, berusia sekitar 10 tahun mendekat. Memasang wajah memelas. Meminta uang untuk pulang ke rumahnya di ujung Bekasi. Katanya ia tak punya uang dan tersesat.

 

Merasa kasihan, ku beri ia ongkos untuk pulang sampai ke rumahnya. Anak itu dengan riang segera menghilang dari pandanganku.

 

Tak lama, kawan-kawan lainnya muncul. Maka kami pun menyeberangi jalan, memasuki salah satu gang di Jl.Pemuda. Setelah berjalan kaki hampir 200m, sampailah di rumah kawan yang mengundang. Betapa terkejutnya saat melihat anak kecil yang tadi mengiba tengah bermain di depan rumah kawanku. Saat melihatku, anak itu langsung berlari pergi.

 

"Namanya Kiki. Tuh rumahnya di sebelah. Bukan di Bekasi."

 

Ah, rupanya aku tak belajar dari pengalaman.

 

 

Kasus Ketiga

 

Satu bulan lalu, dua milis yang dengan setia kuikuti, membahas modus operandi pemerkosaan gaya baru. Lebih tepatnya, cara yang digunakan untuk menjaring korbannya.

 

Si pemerkosa menggunakan anak kecil berusia 5-7 tahun, untuk mendapatkan korbannya. Anak kecil itu akan mendekati korban yang tentunya para perempuan muda. Berpura-pura tersesat dan minta diantar hingga ke rumahnya. Begitu sampai di tempat yang dituju, laki-laki si pemerkosa pun beraksi.

 

.....

 

 

Menyeramkan. Memanfaatkan kebaikan orang lain untuk berbuat jahat. Jika begini, jadi berpikir seribu kali untuk berbuat baik. Itukah sebabnya, kita sering memilih tidak perduli pada orang lain, terutama orang yang tidak kita kenal dengan baik?

Posted at 09:27 pm by kisahmerahitam
Comments (2)  

Saturday, August 12, 2006
TAK AMAN

Tulisan pertama dari seri kejahatan jalanan di Jakarta. Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar. Tak ada maksud apapun. Hanya sekedar pengingat untuk berhati-hati.

 

 

Terik matahari membakar Jakarta. Siang yang garang menyergap jalanan depan Stasiun Kota. Sebuah angkot melaju. Lantas berhenti. Berdecit. Saat lambaian tanganku terayun.

 

"Mangga dua, bang?"

"Iya neng. Ayo cepet naik!"

 

Aku dan dua kawanku naik. Seorang ibu – dengan perhiasan penuh di tangan dan lehernya – ikut naik. Tak lama, empat orang lelaki A,B,C dan D, bertampang biasa dengan postur tubuh jauh dari kekar, ikut masuk ke dalam angkot. Mereka duduk menyebar. Dua di dekat pintu, satu diantara aku dan ibu toko emas itu, dan satu lagi agak di tengah. Berlagak tak saling kenal. Selain kami, sudah ada tiga penumpang lainnya.

 

Angkot yang penuh sesak itu pun kembali melaju menuju kawasan niaga Mangga Dua. Baru beberapa meter, lelaki A, yang duduk di sampingku, mulai terbatuk-batuk. Makin lama makin menjadi-jadi. Kedua lelaki lain, B,C, yang semula pura-pura tak saling kenal, langsung terlihat begitu perhatian. Menyarankan ini-itu, sembari memijat tangan dan bahu lelaki A yang makin menjadi-jadi tingkat ke-batuk-annya. Suasana ribut. Angkot makin pengap. Semua perhatian tertumpu pada lelaki A. Sementara ibu toko emas yang duduk terjepit diantara lelaki A dan D, mengkerut ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Tapi tak ada yang memperhatikan apalagi peduli.

 

"Kita turun disini aja," bisik salah satu kawanku.

"Hah? Kan masih jauh," balasku berbisik.

 

Tok! Tok! Tok!

 

"Kiri bang!"

 

Angkot berhenti. Putaran roda yang dipaksa berhenti, beradu dengan aspal jalanan, menimbulkan decit tak nyaman. Membuat ngilu gendang telinga. Ketiga lelaki, B,C,D, serentak menoleh. Memandang tak suka. Bahkan lelaki A sesaat sempat lupa untuk terbatuk.

 

Kawanku langsung menarik tanganku. Memaksa untuk segera turun dari angkot.

 

"Duh, kok turun disini sih?"

"Kita jalan kaki aja!"

"Hah? Jauuhhh...Panas lagi!"

"Iya tapi kan lebih aman."

 

Dahi mengernyit. Dua alis bertaut. Lebih aman? Maksudnya?

 

"Lo tau, empat orang yang naik bareng kita itu komplotan copet."

 

Mata membelalak.

 

"Masa sih? Lo tau darimana?"

"Lo tuh bego banget sih. Di Jakarta mana ada orang yang segitu care-nya sama orang lain."

"Ya mungkin aja mereka kasihan sama bapak-bapak yang batuk itu."

"Heh, batuknya itu ketahuan banget cuma pura-pura. Itu buat ngalihin perhatian. Lo nggak lihat ibu yang duduknya kecepit tadi? Lo nggak lihat muka si ibu pucet dan ketakutan?"

"Lihat sih...Trus kenapa."

"Aduh! Masih nggak ngeh juga? laki-laki yang satu itu pura-pura batuk. Dua temannya yang deket pintu pura-pura ribut dan kasihan biar penumpang lainnya ikut merhatiin si orang yang batuk tadi. Nah, orang yang satunya lagi, yang duduk di dekat si ibu itu, diam-diam ngancam si ibu ngelepasin perhiasan sama nyerahin dompetnya. Kalo kita tetep disitu, mungkin lo yang bakal jadi sasaran berikutnya."

"Iya. Apa lo mau duit buat beli komputer ilang?", kawanku yang satu menimpali.

 

Pucat pasi. Langsung kudekap erat tasku. Tak sanggup membayangkan tujuh juta yang ada dalam tasku melayang. Tak sanggup melihat wajah kecewa  kawan-kawan ketika tahu komputer baru yang sudah lama diidamkan, tak jadi didapat. Tak tega rasanya membayangkan perjuangan berat yang harus dilalui, untuk mendapatkan kembali uang sebanyak itu.

 

Siang berpeluh. Terik menyengat. Benakku sesak saat kawanku berucap, "Hati-hati. Buka mata sama telinga lo lebar-lebar. Jalanan Jakarta tak aman!"

 

 

Antara Stasiun Kota – Mangga Dua, awal 2000.

Posted at 02:37 am by kisahmerahitam
Comments (10)  

Friday, August 11, 2006
KUASA KOPI*

Secangkir kopi dengan krim dan taburan cinnamon

Sekejap tawa di tengah gemerlapnya malam

Sehari semalam terkapar tak berdaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

* Semula mau diberi judul 'Akibat Kenikmatan Sesaat'. Tapi kok jadinya kayak film-film tahun 90-an ya? Hehehehe...

Posted at 08:37 am by kisahmerahitam
Comments (4)  

Thursday, August 10, 2006
DUNIA INI MILIK KITA, KAWAN!

 

Sahabat satu : Loe masih inget kan sama omongan kita dulu. Waktu kita masih sengsara di jalan?

Aku : Yang mana?

Sahabat satu : Waktu kita luntang lantung ngerjain proyeknya XXX. Gak sadar kita pernah bilang, suatu saat kita akan bahagia. Gak susah kayak gini, dicuekin orang, dikasihanin orang...

Aku : Iya. Gue masih inget. *mulai berkaca-kaca*

Sahabat satu : Waktu itu loe bilang sama gw kalo satu saat nanti kita bakalan berhasil. Iya kan?

Aku : Iya. *makin berlinang airmata*

Sahabat satu : Loe bilang, satu saat nanti kita pasti nggak akan diremehin sama orang...

Aku : Iya... *tercekat*

Sahabat satu : Alhamdulillah kita bisa ngelewatin itu semua ya...Sekarang kita bisa ngasih, meski sedikit, tapi tulus.

Aku : ...

Sahabat satu : Loe tahu, sejak loe ngomong itu, gw yakin aja, apapun yang gw rasakan sekarang adalah benih buat gw memetiknya suatu hari nanti...

Aku : ...

Sahabat satu : Akan ada kepuasan tersendiri ketika gw panen raya kan?

Aku : Yup

Sahabat satu : karena ada usaha, ikhtiar dan doa serta keikhlasan tuk ngejalanin semuanya

 

 

 .......

 

 

Iya kawan.

 

Aku masih mengingat semuanya dengan jelas. Ketika mentari tepat berada di atas kepala. Ketika peluh mengucur deras. Ketika raut wajah kita pucat lesi. Ketika kulit memerah-hitam terpapar panas, debu dan asap knalpot. Ketika pandang dunia tak bersahabat.

 

Aku juga masih mengingat semuanya dengan jelas. Langkah yang tak surut. Senyum yang tak aus. Semangat yang tak luruh. Keyakinan yang terus menderu. Ada di sorot mataku dan matamu.

 

Kita memang bukan siapa-siapa. Tapi kita juga bisa menjadi SIAPA. Dunia ini milik kita, kawan. Tersenyumlah!

Posted at 01:27 am by kisahmerahitam
Comments (4)  

Thursday, August 03, 2006
MEMBELI UBI SAMPAI PAPUA

Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang baik hati, yang kini tengah berupaya meninggalkan status “calon eksmud pra mapan”-nya menjadi “eksmud mapan” bercerita tentang rencana perjalanannya ke ujung barat Pulau Jawa. Wis, pokoknya ceritanya itu bikin ngiri. Udah gitu, pakai acara nggak ngajak-ngajak lagi. Untung ceritanya lewat telepon. Coba kalau berhadapan langsung, sudah tak tampar penuh kelembutan dan kasih sayang pakai Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tuebel itu. (kok kontradiktif yo?).

 

Tapi ya sudahlah. Toh nggak lama setelah itu, dengan hati mongkok saking bangganya, aku justru melancong ke pulau yang terletak di ujung timur Indonesia. Papua...Papua...Papua...Pulau eksotis yang selama ini cuma bisa kulihat gambarnya di kartu pos, majalah, peta, dan TV.

 

Perjalanan ditempuh dengan menggunakan perahu. Nggak ada acara naik pesawat terbang apalagi bus. Dari Jakarta sampai pedalaman Papua, naik perahu terus. Sengsara? Justru sebaliknya. Perjalanannya sangat menyenangkan. Sepanjang hari menikmati semilirnya angin sembari mendengarkan ceritanya Mas Mbilung tentang Papua.

 

Loh, kok bisa-bisanya Mas Mbilung ikutan?

 

Jelas bisa. Wong ini acara wisata bareng para blogger sak Indonesia. Semua blogger ikutan. Dari yang kecil sampai gede, anak-anak sampai kakek-nenek. Maka berbarislah perahu-perahu itu menyusuri sungai dan laut sampai ke Papua. Bayangkanlah adegannya seperti adegan Jack Sparrow sama temen-temennya naik perahu ke tempat peramal di tengah hutan. Atau, waktu Frodo dan rombongan pembawa cincin lainnya menyusuri sungai di tepi hutan Lothlorien. Bedanya jika anggota kedua rombongan diatas merasa tertekan dan penuh kebingungan, maka rombongan para blogger ini berwajah sumringah, riang gembira.

 

Sesampainya di Papua, hati makin senang. Mendapat sambutan ramah dari penduduk asli yang berdiam di pulau ini, diajak keliling menyusuri hutan-hutan di pedalaman Papua, sampai akhirnya puncak acara berwisata, yang tak lain adalah BERBELANJA DAN MEMBELI OLEH-OLEH!

 

Semua orang langsung rebutan ubi. Ubi? Ya. Ubi, ketela pohon, ubi rambat, atau apalah namanya, adalah oleh-oleh paling dicari di Papua. Bentuknya lebih kecil dibanding ubi cilembu yang manis itu. Sayang, saat semua orang berhasil mendapatkan ubi, aku justru nggak kebagian. Pengen nangis rasanya. Sudah jauh-jauh ke Papua kok nggak kebagian ubi. Diledekin sama Mas Yoyok lagi.

 

Untungnya, Mas Mbilung, sebagai pemimpin rombongan lantas mengajak ke kampung lainnya. Disana ubi-nya melimpah. Aku, Mbak Jeni, Luvie, Mbak Atta, Mbak Dinda dan yang lainnya kembali menyerbu ubi itu. Wah senangnya, akhirnya kebagian juga. Langsung ku ambil dompetku, ngambil beberapa lembar uang. Niatnya mau bayar ubi yang sudah ku pilih. Loh kok tiba-tiba ada yang manggil-manggil.

 

“Mbak...Mbak...Bangun mbak! Ada telepon!”

 

“Hah? Apa? Telepon?”

 

Kubuka mataku. Loh kok di kamar? Mana ubinya? Mana yang lainnya? Beberapa detik kemudian tersadar kalau acara seneng-seneng tadi cuma mimpi doang. Huh...Ini pasti gara-gara ngiri berat sama cerita si kawan diatas.

 

Ah, seandainya beneran, pasti sangat menyenangkan. Jadi kapan kita bisa berwisata bareng? Ada yang berminat?

 

 

Nb. Mimpinya mendadak, jadi nggak pakai penelitian lebih dulu. Apa di Papua ada ubi, juga nggak tahu. Mungkin Mas Mbilung dan Mas Jumadi bisa lebih banyak cerita soal Papua. Ayo cerita mas!

Posted at 02:06 pm by kisahmerahitam
Comments (9)  

Saturday, July 29, 2006
HUJAN AIRMATA

Menangislah dengan keras. Lepaskan bebanmu. Bebaskan perasaanmu. Biarkan airmata membawa pergi dukamu. Karena hujan airmata tanpa suara, hanya meninggalkan sakit di dada.

Posted at 11:53 pm by kisahmerahitam
Comments (11)  


Next Page




<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed