 |

Tuesday, August 19, 2008
Perempuan itu tertunduk dalam diam. Pipinya merona. Senyum senantiasa menghias bibirnya. Tak didengarkannya Pak Sri, pemuka masyarakat yang menjadi pembawa acara sekaligus saksi, berbicara. Suara laki-laki berwajah tenang itu hanya terdengar lamat-lamat lewat di telinganya. Perempuan itu sibuk mendengarkan irama jantungnya yang berdeburan. Angannya terbang menjelajah ke masa lalu, kini dan nanti. Merambat pada jari-jemarinya yang pucat dan gemetar. Pada janji dan pengharapan yang menghias manis di salah satu jemarinya. Hatinya riang tak terkira. Tak ada kata yang mampu melukiskan kegembiraannya. Jikalau kau datang dan menyapanya, percayalah, ia tak akan mampu menjawab sapamu. Tapi ia akan memelukmu erat-erat. Menularkan kegembiraannya padamu. Jika saat itu kau berkeluh kesah padanya, ia akan tetap diam dan tak mengatakan apapun. Jangankan satu kalimat, satu kata ketenangan pun tak akan ia ucapkan. Tapi matanya yang berpendar bercahaya akan menatapmu mesra, dan bibirnya yang hangat, membagi kegembiraannya padamu. Membuang jauh-jauh keluh-kesahmu. Jika kau memberinya kabar gembira, ia akan menambahkan kegembiraannya padamu. Hingga kau merasa tak ada lagi ruang sedih dan hampa yang tersisa di dunia. Percayalah, perempuan itu rela membagi seluruh kebahagiaannya denganmu. Tapi ia tak akan pernah rela kehilangan hari itu. :. 9 Agustus 2008
Posted at 02:48 am by kisahmerahitam
Permalink
Sunday, August 17, 2008
Semoga Merdeka, berarti bisa berkata TIDAK.
Amin.
* Salam setengah merdeka!
Posted at 10:35 pm by kisahmerahitam
Permalink
Monday, August 11, 2008
DI SATU BINTANG AKU MENUNGGU
(Naff)
Jangan terlalu lama kau pergi dariku Jangan terlalu jauh kau dari sisiku Tak mampu ku menahan rasa rindu ini Cepatlah kau pulang
Jangan terlalu lama kau meninggalkanku Jangan terlalu jauh kau dari pelukku Tak sanggup ku terpisah lagi dari dirimu Segeralah kau pulang
Di satu bintang aku menunggu Menjagamu menuntaskan rindu Di satu bintang aku menanti Menanti engkau datang kembali
Ooohhh...Oohhh...
Jangan terlalu lama kau pergi dariku Jangan terlalu jauh kau dari pelukku Tak sanggup ku menahan rasa rindu ini Cepatlah kau pulang
Oooh...Ooohh...
Di satu bintang aku menunggu Menjagamu menuntaskan rindu Di satu bintang aku menanti Menanti engkau datang kembali
Di satu bintang aku menunggu Menjagamu melepaskan rindu Di satu bintang aku menanti Menanti engkau datang kembali
* Sayang tak berhasil mendapatkan MP3 atau video-nya untuk dipasang disini.
Posted at 01:44 pm by kisahmerahitam
Permalink
Monday, August 04, 2008
Andai hari ini aku menemukan 7 dragon ball,
kan kupinta malam tak lekas datang.
*miss you*
Posted at 02:00 am by kisahmerahitam
Permalink
Friday, July 25, 2008
Ada yang akan tiba Menjelajah rindu hingga ke jazirah marunku Ditiupnya namaku sebagai tarian rumi Menggangsing merah, putih, kelabu Tak ada celah sangsi Sebagai bumi merindu matahari
* Makasih Mas Aang, untuk puisi cantiknya. Semoga bumi-mu sampai Jakarta ya :)
Posted at 07:34 am by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, July 24, 2008
Senja tak pernah memilih warna Perasaan yang menetapkannya Kelabu, jingga atau keemasan Aku memilih kelabu, karena aku lupa warna lainnya
* Senangnya punya kawan jago bikin puisi. Tiap kali pasti ada puisi-puisi baru yang boleh kuabadikan di blog. Makasih ya Mas :)
Posted at 11:24 pm by kisahmerahitam
Permalink
Wednesday, July 23, 2008
Sebuah pesan singkat dari Ito, mampir
di ponsel. Saya terharu membacanya.
Sahabat adalah dia yang
menghampiri
ketika seluruh dunia menjauh.
Karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata.
Saat tangan terluka, mata menangis.
Saat mata menangis, tangan yang menghapus airmatanya.
"Selamat Hari Persahabatan Sedunia"
Untuk Ito dan
semua sahabat; yang dekat maupun yang jauh; yang sudah maupun belum pernah
bertemu; yang sudah maupun belum pernah saya repotin; yang sudah maupun belum
pernah saya pinjam bajunya, bukunya, bahunya, telinganya, dan kamarnya; yang
sudah maupun belum pernah saya omelin, cubit, peluk, cium, goda, ledek, puji,
protes, dan semua ekspresi sayang dan gemas yang bisa saya ungkapkan, saya mau
bilang:
TERIMA KASIH BANYAK,
SUDAH DAN TETAP MAU MENJADI SAHABATKU.
PELUK HANGAT DAN PENUH CINTA BUAT KALIAN.
Posted at 11:04 pm by kisahmerahitam
Permalink
Satu hari, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Sebut saja X. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, terjadilah percakapan berikut ini, antara saya (S) dengan si kawan lama (X). X : Kantor lo dimana?
S : Gue nggak punya kantor.
X : Ooooh...Nganggur. S : Nggak kok, gue kerjanya di rumah.
X : Di rumah itu namanya bukan kerja. Udah berapa lama lo nganggur? S : *bengong*
X : Udah cari-cari kerjaan? Mau gue cariin? S : Nggak usah, makasih. X : Gimana sih lo. Mau dicariin kerjaan nggak mau. Sekarang ini udah waktunya perempuan nggak cuma di rumah... Selanjutnya si X menguraikan penjelasannya tentang emansipasi wanita secara panjang dan lebar. Saya cuma bengong. ****** Lain waktu, Adik Sepupu (AS) bertandang ke rumah dan melihat saya tengah bekerja.
AS : Lagi ngapain mbak?
S : Ngetik.
AS : Yaelah mbak...kerja cuma ngetik aja, sok sibuk banget sih? Tiap kali diajak pergi nggak pernah bisa. S : *baru buka mulut, mau ngomong* AS : Kalau cuma ngetik doang sih anak SMP juga bisa. Sini gue gantiin. Dan saya pun cuma bisa mendongkol dalam hati. ***** Dalam satu kesempatan makan siang dengan beberapa orang kawan (A, B, C). A : Lo kalau kerja sampai jam berapa?
S : Tergantung, tapi biasanya sampai jam 1 atau 2 malam. Kalau lagi banyak ya bisa sampai pagi. B : Dari pagi sampai pagi lagi? S : *mengangguk* C : Gila lo, ngetik doang lama banget. Pasti lo ngetiknya pakai 11 jari ya? Alias 2 jari...Hahahaha...*sambil mengacungkan kedua jari telunjuknya* S : Pakai 10 jari kok. C : Pakai 10 jari kok lambat? S : *diam saja* C : Beneran 10 jari? Jangan-jangan cuma ngaku-ngaku lagi. Harusnya kalau udah pakai 10 jari, ngetiknya lebih cepet dong. Paling berapa jam juga udah selesai, nggak sampai sehari-semalam. Saya menyumpah dalam hati. "Sial, lo pikir bikin naskah itu kayak nyablon? Tinggal sreeet dan jadi?" ***** Lain kali kalau saya dapat pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, lebih baik saya jawab apa ya?
Posted at 05:38 pm by kisahmerahitam
Permalink
Monday, July 21, 2008
Saya merasa beruntung. Ya, saya merasa beruntung menemukan buku kumpulan puisi MANTRA ORANG JAWA, yang ditulis Sapardi Djoko Damono, dengan harga hanya lima ribu rupiah. Serta sebuah buku kumpulan puisi Mudji Sutrisno dan Willy Hangguman berjudul ZIARAH ANGGUR seharga sepuluh ribu rupiah. Saya benar-benar kalap saat mengunjungi Pesta Buku Gramedia di Grand Indonesia, kemarin malam. Selain kedua buku yang saya sebut di atas, masih banyak buku-buku lain yang dijual dengan harga miring. Kumpulan cerpen BIBIR DALAM PISPOT-nya Hamsad Rangkuti serta IBLIS NGAMBEK milik Indra Tranggono pun dijual seharga sepuluh ribu rupiah. Bahkan, ada buku anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mendidik, hanya dijual tiga ribu rupiah per buah. Saya langsung membeli beberapa seri sekaligus. Saya berniat mengirimkannya pada keponakan yang saat ini baru masuk TK. Itu sebabnya saya merasa beruntung, bisa mendapatkan buku-buku bagus dengan harga murah. Tapi sayangnya, saya belum sempat membaca semuanya. Saya baru membuka Ziarah Anggur dan membaca kumpulan puisi di dalamnya. Ada salah satu puisi Romo Mudji yang saya suka dan ingin saya kutip disini. PROSES
Aku butuh waktu berkesabaran Aku minta ruang berkeluasan Buat lahir Tumbuh Nangis Tawa Bercinta Berbuah Kehidupan
Ps. Ah ya, saya kesulitan menemukan link yang merujuk pada siapa Romo Mudji. Bahkan di wikipedia pun tidak ada. Saya mengingatnya sebagai laki-laki baik hati, sederhana, ramah dan gampang akrab dengan siapapun. Saya masih ingat, satu hari, saat saya dan beberapa orang kawan terburu-buru mencari kamar perawatan seorang kawan di rumah sakit Carolus, Romo Mudji yang tengah berada di rumah sakit tersebut, tiba-tiba datang menyapa dan membantu kami mencari kamar sang kawan. Padahal sebelumnya kami hanya berjumpa dan berbincang beberapa kali di acara diskusi yang diadakan DIDAKTIKA. Rupanya Romo Mudji masih mengingat kami dengan baik.
Posted at 03:20 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, July 18, 2008
Suatu siang, dua orang kawan tengah berbincang.
+ bagaimana
kalau kita merampok saja?
- merampok
siapa enaknya ?
+ ehm...anggota
dpr sama jaksa aja. kita sadap telepon
mereka
- hihihi
+ biar tahu
dimana mereka janjian nerima uang suap.
hihihihihihi
- terus
kita ambil duluan
+ ho oh, lumayan
kan
- atau kita
peras pake foto2 syur
+ kalau dari satu jaksa/anggota dpr bisa dapat
1 milyar, berarti nanti bisa dapet uang banyak banget tuh.
- iya kita
bagi berdua dapt 500 juta
+ Di depositoin, atau ditaruh di pasar saham,
suruh orang kelola, kita tinggal ongkang2 kaki
- betul
sekali
+ kerjanya
tiap hari liburan terus
- sahamnya
kita taro di bakrie, biar nambah terus
+ woh iya
itu, pasti berkali2 lipat jadinya.
- 
+ Apalagi bisnisnya maju terus. Kita bisa
nguasain media. Telekomunikasi. Wah, makin mudah menyadap telepon lagi. Kalau
butuh duit, kita tinggal nyadap
- betul. Kalo
perlu metro, tempo, indosat kita beli !
+ sip.. kita
bikin berita sendiri 
- naah...suka
aku cara itu..hehehe
+ indonesia
kita beli
- terus
pulaunya dijual2in. Wah...hidup makmur
+ ho oh. Orang2 yang mengganggu kita usir. Presidennya
kita pilih orang yang bisa diatur
- wah..gampang
itu, teserah siapa presidennya, asal
didanai
aja pemilunya
+ kalau dia
macam2, kita tendang
- kalau
perlu semua kandidat kita yang danai
+ sip. jadi semua
pasti gak berani macem2 sama kita
- logistik
kpu, kita jadi vendornya
+ ho oh...ho
oh
- heheeh
+ biar kita
gampang manipulasinya
- sip sip
+ sembako kita distributornya. minyak, segala
macam, kita juga yang kuasai. Wah...asik kali ya?
- asik
banget. duit kita yang cetak
+ kalau duit
kita yang cetak, aku mau fotoku ditaruh di
duitnya
- iya dong.
Aku mau fotoku tampak belakang
+ boleh2. Pokoknya posenya sesuka hati. Kira2 percakapan
ini disadap sama pemerintah tidak ya? *tengok kanan-kiri*
- woo...nda
berani mereka, kan kita yang megang
(masih
ngayal)
+ bisa kita
perkarakan mereka ya. kita penjarain
- iya
Ada yang ingin ikut berkhayal?
Posted at 08:37 pm by kisahmerahitam
Permalink
|
 |
|