 |

Thursday, July 24, 2008
Senja tak pernah memilih warna Perasaan yang menetapkannya Kelabu, jingga atau keemasan Aku memilih kelabu, karena aku lupa warna lainnya
* Senangnya punya kawan jago bikin puisi. Tiap kali pasti ada puisi-puisi baru yang boleh kuabadikan di blog. Makasih ya Mas :)
Posted at 11:24 pm by kisahmerahitam
Permalink
Wednesday, July 23, 2008
Sebuah pesan singkat dari Ito, mampir
di ponsel. Saya terharu membacanya.
Sahabat adalah dia yang
menghampiri
ketika seluruh dunia menjauh.
Karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata.
Saat tangan terluka, mata menangis.
Saat mata menangis, tangan yang menghapus airmatanya.
"Selamat Hari Persahabatan Sedunia"
Untuk Ito dan
semua sahabat; yang dekat maupun yang jauh; yang sudah maupun belum pernah
bertemu; yang sudah maupun belum pernah saya repotin; yang sudah maupun belum
pernah saya pinjam bajunya, bukunya, bahunya, telinganya, dan kamarnya; yang
sudah maupun belum pernah saya omelin, cubit, peluk, cium, goda, ledek, puji,
protes, dan semua ekspresi sayang dan gemas yang bisa saya ungkapkan, saya mau
bilang:
TERIMA KASIH BANYAK,
SUDAH DAN TETAP MAU MENJADI SAHABATKU.
PELUK HANGAT DAN PENUH CINTA BUAT KALIAN.
Posted at 11:04 pm by kisahmerahitam
Permalink
Satu hari, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Sebut saja X. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, terjadilah percakapan berikut ini, antara saya (S) dengan si kawan lama (X). X : Kantor lo dimana?
S : Gue nggak punya kantor.
X : Ooooh...Nganggur. S : Nggak kok, gue kerjanya di rumah.
X : Di rumah itu namanya bukan kerja. Udah berapa lama lo nganggur? S : *bengong*
X : Udah cari-cari kerjaan? Mau gue cariin? S : Nggak usah, makasih. X : Gimana sih lo. Mau dicariin kerjaan nggak mau. Sekarang ini udah waktunya perempuan nggak cuma di rumah... Selanjutnya si X menguraikan penjelasannya tentang emansipasi wanita secara panjang dan lebar. Saya cuma bengong. ****** Lain waktu, Adik Sepupu (AS) bertandang ke rumah dan melihat saya tengah bekerja.
AS : Lagi ngapain mbak?
S : Ngetik.
AS : Yaelah mbak...kerja cuma ngetik aja, sok sibuk banget sih? Tiap kali diajak pergi nggak pernah bisa. S : *baru buka mulut, mau ngomong* AS : Kalau cuma ngetik doang sih anak SMP juga bisa. Sini gue gantiin. Dan saya pun cuma bisa mendongkol dalam hati. ***** Dalam satu kesempatan makan siang dengan beberapa orang kawan (A, B, C). A : Lo kalau kerja sampai jam berapa?
S : Tergantung, tapi biasanya sampai jam 1 atau 2 malam. Kalau lagi banyak ya bisa sampai pagi. B : Dari pagi sampai pagi lagi? S : *mengangguk* C : Gila lo, ngetik doang lama banget. Pasti lo ngetiknya pakai 11 jari ya? Alias 2 jari...Hahahaha...*sambil mengacungkan kedua jari telunjuknya* S : Pakai 10 jari kok. C : Pakai 10 jari kok lambat? S : *diam saja* C : Beneran 10 jari? Jangan-jangan cuma ngaku-ngaku lagi. Harusnya kalau udah pakai 10 jari, ngetiknya lebih cepet dong. Paling berapa jam juga udah selesai, nggak sampai sehari-semalam. Saya menyumpah dalam hati. "Sial, lo pikir bikin naskah itu kayak nyablon? Tinggal sreeet dan jadi?" ***** Lain kali kalau saya dapat pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, lebih baik saya jawab apa ya?
Posted at 05:38 pm by kisahmerahitam
Permalink
Monday, July 21, 2008
Saya merasa beruntung. Ya, saya merasa beruntung menemukan buku kumpulan puisi MANTRA ORANG JAWA, yang ditulis Sapardi Djoko Damono, dengan harga hanya lima ribu rupiah. Serta sebuah buku kumpulan puisi Mudji Sutrisno dan Willy Hangguman berjudul ZIARAH ANGGUR seharga sepuluh ribu rupiah. Saya benar-benar kalap saat mengunjungi Pesta Buku Gramedia di Grand Indonesia, kemarin malam. Selain kedua buku yang saya sebut di atas, masih banyak buku-buku lain yang dijual dengan harga miring. Kumpulan cerpen BIBIR DALAM PISPOT-nya Hamsad Rangkuti serta IBLIS NGAMBEK milik Indra Tranggono pun dijual seharga sepuluh ribu rupiah. Bahkan, ada buku anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mendidik, hanya dijual tiga ribu rupiah per buah. Saya langsung membeli beberapa seri sekaligus. Saya berniat mengirimkannya pada keponakan yang saat ini baru masuk TK. Itu sebabnya saya merasa beruntung, bisa mendapatkan buku-buku bagus dengan harga murah. Tapi sayangnya, saya belum sempat membaca semuanya. Saya baru membuka Ziarah Anggur dan membaca kumpulan puisi di dalamnya. Ada salah satu puisi Romo Mudji yang saya suka dan ingin saya kutip disini. PROSES
Aku butuh waktu berkesabaran Aku minta ruang berkeluasan Buat lahir Tumbuh Nangis Tawa Bercinta Berbuah Kehidupan
Ps. Ah ya, saya kesulitan menemukan link yang merujuk pada siapa Romo Mudji. Bahkan di wikipedia pun tidak ada. Saya mengingatnya sebagai laki-laki baik hati, sederhana, ramah dan gampang akrab dengan siapapun. Saya masih ingat, satu hari, saat saya dan beberapa orang kawan terburu-buru mencari kamar perawatan seorang kawan di rumah sakit Carolus, Romo Mudji yang tengah berada di rumah sakit tersebut, tiba-tiba datang menyapa dan membantu kami mencari kamar sang kawan. Padahal sebelumnya kami hanya berjumpa dan berbincang beberapa kali di acara diskusi yang diadakan DIDAKTIKA. Rupanya Romo Mudji masih mengingat kami dengan baik.
Posted at 03:20 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, July 18, 2008
Suatu siang, dua orang kawan tengah berbincang.
+ bagaimana
kalau kita merampok saja?
- merampok
siapa enaknya ?
+ ehm...anggota
dpr sama jaksa aja. kita sadap telepon
mereka
- hihihi
+ biar tahu
dimana mereka janjian nerima uang suap.
hihihihihihi
- terus
kita ambil duluan
+ ho oh, lumayan
kan
- atau kita
peras pake foto2 syur
+ kalau dari satu jaksa/anggota dpr bisa dapat
1 milyar, berarti nanti bisa dapet uang banyak banget tuh.
- iya kita
bagi berdua dapt 500 juta
+ Di depositoin, atau ditaruh di pasar saham,
suruh orang kelola, kita tinggal ongkang2 kaki
- betul
sekali
+ kerjanya
tiap hari liburan terus
- sahamnya
kita taro di bakrie, biar nambah terus
+ woh iya
itu, pasti berkali2 lipat jadinya.
- 
+ Apalagi bisnisnya maju terus. Kita bisa
nguasain media. Telekomunikasi. Wah, makin mudah menyadap telepon lagi. Kalau
butuh duit, kita tinggal nyadap
- betul. Kalo
perlu metro, tempo, indosat kita beli !
+ sip.. kita
bikin berita sendiri 
- naah...suka
aku cara itu..hehehe
+ indonesia
kita beli
- terus
pulaunya dijual2in. Wah...hidup makmur
+ ho oh. Orang2 yang mengganggu kita usir. Presidennya
kita pilih orang yang bisa diatur
- wah..gampang
itu, teserah siapa presidennya, asal
didanai
aja pemilunya
+ kalau dia
macam2, kita tendang
- kalau
perlu semua kandidat kita yang danai
+ sip. jadi semua
pasti gak berani macem2 sama kita
- logistik
kpu, kita jadi vendornya
+ ho oh...ho
oh
- heheeh
+ biar kita
gampang manipulasinya
- sip sip
+ sembako kita distributornya. minyak, segala
macam, kita juga yang kuasai. Wah...asik kali ya?
- asik
banget. duit kita yang cetak
+ kalau duit
kita yang cetak, aku mau fotoku ditaruh di
duitnya
- iya dong.
Aku mau fotoku tampak belakang
+ boleh2. Pokoknya posenya sesuka hati. Kira2 percakapan
ini disadap sama pemerintah tidak ya? *tengok kanan-kiri*
- woo...nda
berani mereka, kan kita yang megang
(masih
ngayal)
+ bisa kita
perkarakan mereka ya. kita penjarain
- iya
Ada yang ingin ikut berkhayal?
Posted at 08:37 pm by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, July 17, 2008
IJINKAN AKU BERTEMU DENGANNYA MALAM INI
19.33 WIB
Airmata tak tertahankan. Tiba-tiba saja tumpah bersama rindu yang membuncah. Rasa ini tak mampu kuhentikan. Tolong, ijinkan aku bertemu dengannya malam ini. Aku hanya ingin menatap lekat setiap inci wajahnya dalam jeda yang tak pernah panjang.
Posted at 07:33 pm by kisahmerahitam
Permalink
RUMAH SAKIT UNTUK YANG KAYA
Puluhan pasien miskin diusir dari RSCM hanya karena mereka tidak mampu membayar - Liputan 6 Siang, SCTV -
Apa di negeri ini cuma orang kaya yang boleh berobat ke rumah sakit?
Posted at 12:20 pm by kisahmerahitam
Permalink
Wednesday, July 16, 2008
Kenapa orang kaya lebih dihormati dan dihargai daripada orang miskin? Kenapa orang kaya suka semena-mena terhadap orang yang tidak punya? Kenapa? *masih tidak habis pikir
Posted at 11:39 am by kisahmerahitam
Permalink
Tuesday, July 15, 2008
Untuk yang tengah gamang, saya hanya ingin menuliskan sebuah kutipan dari film lawas, STOP! OR MY MOM WILL SHOOT!Jika kau menemukan seseorang yang istimewa, peluk dia erat-erat dengan kedua tanganmu. Karena nanti ketika umurmu 60 tahun dan sendirian, kau akan berharap memiliki pasangan se-istimewa dia.-Tutty-
Posted at 06:25 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, July 11, 2008
(bagian terakhir dari dua tulisan) Dulu, pas masih jaman-jamannya kuliah, sahabat saya yang alim dan sekarang menjadi ustadz itu pernah mengingatkan, bahwa ujian ada dua macam; kesedihan dan kesenangan. Berbahagialah orang yang diuji dengan kesenangan dan menyadarinya. Tapi, lanjutnya lagi, sedikit sekali orang yang menyadari ujian itu saat kesenangan tengah menghampiri. Saya pikir-pikir benar juga ucapannya. Saya sendiri kalau sedang asik karaoke, jalan-jalan, blogwalking, atau berduaan dengan pacar (halah), dan hal-hal lain yang asik dan menyenangkan lah, kok jadi lupa segalanya termasuk sama Yang Di Atas. Dengar Adzan, bukannya buru-buru shalat, tapi ditunda-tunda.
"Sebentar lagi deh..." "Lima menit lagi ya..." "Lagi nangggung nih..." "Waktunya masih panjang ini." Dohhh... Tapi coba diberi ujian sakit begini. Langsung ingat terus sama yang memberi hidup. Sadar kalau diri ini bukan siapa-siapa, nggak bisa apa-apa. Masih ada kekuatan yang Maha di atas segalanya. Yang jelas, saya merasa diri ini kecil sekali. Persis seperti manusia-manusia mini penghuni Who-ville dalam film Dr.Seuss Horton Hears A Who, yang tinggal di setitik debu di Bunga Semanggi. Bukan berarti saya senang sakit atau diberi musibah lain. Sama sekali bukan. Saya justru berpikir bahwa mungkin kapasitas saya baru sampai pada tahapan ini. Seandainya saya diberi ujian dalam bentuk kesenangan, terlahir sebagai pewaris trah kerajaan Hilton atau Bakrie, punya harta berlimpah, kesehatan prima, pacar minimal seganteng Indra Bruggmann yang cinta mati sama saya, tiap hari bisa gonta-ganti mobil mewah, bisa liburan kapanpun saya mau, punya koleksi pulau-pulau yang lucu-lucu di Indonesia, bisa kencan dengan siapapun yang saya suka, mungkin saya akan lupa daratan. Lupa di atas langit masih ada langit. Lupa bahwa hidup di dunia hanya sekedar mampir minum. Lupa kalau saya ini bisa mati dan digerogoti cacing. Saya hanya merasa bersyukur masih diberi rasa sakit. Karena sakit mengajari saya banyak hal. Mungkin lantaran saat sakit, panca indera jauh lebih peka dan saya punya banyak waktu untuk diam, mengamati sekeliling, merenung, mengingat semua kesalahan dan laku yang pernah diperbuat, lantas menyesap semuanya dalam-dalam dan belajar menjadi manusia yang lebih baik. Saya hanya berharap, semoga kapasitas diri bertambah. Hingga tak perlu menunggu diberi ujian agar menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan-NYA. Amin.
Posted at 05:03 pm by kisahmerahitam
Permalink
|
 |
|