 |

Friday, July 18, 2008
Suatu siang, dua orang kawan tengah berbincang.
+ bagaimana
kalau kita merampok saja?
- merampok
siapa enaknya ?
+ ehm...anggota
dpr sama jaksa aja. kita sadap telepon
mereka
- hihihi
+ biar tahu
dimana mereka janjian nerima uang suap.
hihihihihihi
- terus
kita ambil duluan
+ ho oh, lumayan
kan
- atau kita
peras pake foto2 syur
+ kalau dari satu jaksa/anggota dpr bisa dapat
1 milyar, berarti nanti bisa dapet uang banyak banget tuh.
- iya kita
bagi berdua dapt 500 juta
+ Di depositoin, atau ditaruh di pasar saham,
suruh orang kelola, kita tinggal ongkang2 kaki
- betul
sekali
+ kerjanya
tiap hari liburan terus
- sahamnya
kita taro di bakrie, biar nambah terus
+ woh iya
itu, pasti berkali2 lipat jadinya.
- 
+ Apalagi bisnisnya maju terus. Kita bisa
nguasain media. Telekomunikasi. Wah, makin mudah menyadap telepon lagi. Kalau
butuh duit, kita tinggal nyadap
- betul. Kalo
perlu metro, tempo, indosat kita beli !
+ sip.. kita
bikin berita sendiri 
- naah...suka
aku cara itu..hehehe
+ indonesia
kita beli
- terus
pulaunya dijual2in. Wah...hidup makmur
+ ho oh. Orang2 yang mengganggu kita usir. Presidennya
kita pilih orang yang bisa diatur
- wah..gampang
itu, teserah siapa presidennya, asal
didanai
aja pemilunya
+ kalau dia
macam2, kita tendang
- kalau
perlu semua kandidat kita yang danai
+ sip. jadi semua
pasti gak berani macem2 sama kita
- logistik
kpu, kita jadi vendornya
+ ho oh...ho
oh
- heheeh
+ biar kita
gampang manipulasinya
- sip sip
+ sembako kita distributornya. minyak, segala
macam, kita juga yang kuasai. Wah...asik kali ya?
- asik
banget. duit kita yang cetak
+ kalau duit
kita yang cetak, aku mau fotoku ditaruh di
duitnya
- iya dong.
Aku mau fotoku tampak belakang
+ boleh2. Pokoknya posenya sesuka hati. Kira2 percakapan
ini disadap sama pemerintah tidak ya? *tengok kanan-kiri*
- woo...nda
berani mereka, kan kita yang megang
(masih
ngayal)
+ bisa kita
perkarakan mereka ya. kita penjarain
- iya
Ada yang ingin ikut berkhayal?
Posted at 08:37 pm by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, July 17, 2008
IJINKAN AKU BERTEMU DENGANNYA MALAM INI
19.33 WIB
Airmata tak tertahankan. Tiba-tiba saja tumpah bersama rindu yang membuncah. Rasa ini tak mampu kuhentikan. Tolong, ijinkan aku bertemu dengannya malam ini. Aku hanya ingin menatap lekat setiap inci wajahnya dalam jeda yang tak pernah panjang.
Posted at 07:33 pm by kisahmerahitam
Permalink
RUMAH SAKIT UNTUK YANG KAYA
Puluhan pasien miskin diusir dari RSCM hanya karena mereka tidak mampu membayar - Liputan 6 Siang, SCTV -
Apa di negeri ini cuma orang kaya yang boleh berobat ke rumah sakit?
Posted at 12:20 pm by kisahmerahitam
Permalink
Wednesday, July 16, 2008
Kenapa orang kaya lebih dihormati dan dihargai daripada orang miskin? Kenapa orang kaya suka semena-mena terhadap orang yang tidak punya? Kenapa? *masih tidak habis pikir
Posted at 11:39 am by kisahmerahitam
Permalink
Tuesday, July 15, 2008
Untuk yang tengah gamang, saya hanya ingin menuliskan sebuah kutipan dari film lawas, STOP! OR MY MOM WILL SHOOT!Jika kau menemukan seseorang yang istimewa, peluk dia erat-erat dengan kedua tanganmu. Karena nanti ketika umurmu 60 tahun dan sendirian, kau akan berharap memiliki pasangan se-istimewa dia.-Tutty-
Posted at 06:25 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, July 11, 2008
(bagian terakhir dari dua tulisan) Dulu, pas masih jaman-jamannya kuliah, sahabat saya yang alim dan sekarang menjadi ustadz itu pernah mengingatkan, bahwa ujian ada dua macam; kesedihan dan kesenangan. Berbahagialah orang yang diuji dengan kesenangan dan menyadarinya. Tapi, lanjutnya lagi, sedikit sekali orang yang menyadari ujian itu saat kesenangan tengah menghampiri. Saya pikir-pikir benar juga ucapannya. Saya sendiri kalau sedang asik karaoke, jalan-jalan, blogwalking, atau berduaan dengan pacar (halah), dan hal-hal lain yang asik dan menyenangkan lah, kok jadi lupa segalanya termasuk sama Yang Di Atas. Dengar Adzan, bukannya buru-buru shalat, tapi ditunda-tunda.
"Sebentar lagi deh..." "Lima menit lagi ya..." "Lagi nangggung nih..." "Waktunya masih panjang ini." Dohhh... Tapi coba diberi ujian sakit begini. Langsung ingat terus sama yang memberi hidup. Sadar kalau diri ini bukan siapa-siapa, nggak bisa apa-apa. Masih ada kekuatan yang Maha di atas segalanya. Yang jelas, saya merasa diri ini kecil sekali. Persis seperti manusia-manusia mini penghuni Who-ville dalam film Dr.Seuss Horton Hears A Who, yang tinggal di setitik debu di Bunga Semanggi. Bukan berarti saya senang sakit atau diberi musibah lain. Sama sekali bukan. Saya justru berpikir bahwa mungkin kapasitas saya baru sampai pada tahapan ini. Seandainya saya diberi ujian dalam bentuk kesenangan, terlahir sebagai pewaris trah kerajaan Hilton atau Bakrie, punya harta berlimpah, kesehatan prima, pacar minimal seganteng Indra Bruggmann yang cinta mati sama saya, tiap hari bisa gonta-ganti mobil mewah, bisa liburan kapanpun saya mau, punya koleksi pulau-pulau yang lucu-lucu di Indonesia, bisa kencan dengan siapapun yang saya suka, mungkin saya akan lupa daratan. Lupa di atas langit masih ada langit. Lupa bahwa hidup di dunia hanya sekedar mampir minum. Lupa kalau saya ini bisa mati dan digerogoti cacing. Saya hanya merasa bersyukur masih diberi rasa sakit. Karena sakit mengajari saya banyak hal. Mungkin lantaran saat sakit, panca indera jauh lebih peka dan saya punya banyak waktu untuk diam, mengamati sekeliling, merenung, mengingat semua kesalahan dan laku yang pernah diperbuat, lantas menyesap semuanya dalam-dalam dan belajar menjadi manusia yang lebih baik. Saya hanya berharap, semoga kapasitas diri bertambah. Hingga tak perlu menunggu diberi ujian agar menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan-NYA. Amin.
Posted at 05:03 pm by kisahmerahitam
Permalink
Tuesday, July 08, 2008
(bagian pertama dari dua tulisan)
Alhamdulillah. Adalah frasa paling tepat untuk mengawali minggu kedua di Bulan Juli ini. Kondisi kesehatan saya berangsur membaik. Dokter terakhir yang saya datangi, rupanya cukup manjur dibandingkan dengan dokter sebelumnya. Sejak berobat dengannya, saya bisa bangun, jalan-jalan cukup lama, dan makan nasi tanpa kepingin muntah. Cuma satu yang mengganjal, tidak boleh mandi selama empat hari. Ouch. Hari-hari pertama sakit, rasanya bete banget. Tidak bisa berlama-lama di depan laptop; tidak bisa jalan-jalan ke toko buku; tidak bisa menjaga mood dengan baik; dan yang lebih menjengkelkan lagi, saya tidak bisa terbang ke Jogja untuk menghadiri pernikahan Ayik dan Izma, dua orang sahabat baik yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri. Saya hanya bisa mengirimkan sms dan meneleponnya, mengucapkan selamat dan kegembiraan luar biasa, karena akhirnya mereka bisa mewujudkan cita-citanya. Tapi hari-hari berikutnya, saya mulai belajar untuk menikmati momen sakit kali ini. Saya baru sadar bahwa ini salah satu nikmat-NYA yang luar biasa yang diberikan Allah untuk saya. Selama empat tahun bekerja menjadi tukang ketik, saya tak punya waktu cukup untuk beristirahat dan memanjakan diri. Jangankan keliling Indonesia seperti impian saya; ke salon atau berkunjung ke rumah sahabat dan handai tolan saja tidak sempat. Padahal rumah mereka masih di sekitar Jakarta. Sakit kali ini memberi saya kesempatan untuk menikmati dan melakukan banyak hal. Saya sengaja mendaftarnya supaya bisa terus mensyukurinya. 1. Memperbaiki siklus tidur. Biasanya baru bisa tidur selepas subuh dan bangun jam 9-10 pagi. Tapi sekarang, jam 10-11 malam sudah tidur dan bangun pagi-pagi sekali. Masih bisa menikmati matahari dan udara pagi. 2. Makan lebih teratur dan bisa bareng-bareng sama ibu dan adik-adik. Biasanya, nggak pernah teratur dan selalu makan sendirian sambil ngetik. 3. Jalan-jalan di tiap pagi dan sore hari. Keliling kelurahan, mampir dan ngobrol sama tetangga-tetangga. Biasanya, mana pernah bisa? 4. Menonton film-film kesukaan. Lion King 1, Ice Age, dan Kungfu Panda. Tertawa-tawa sampai puas lihat polah binatang-binatang lucu di film-film itu. Biasanya, ketar-ketir mikirin ketikan. 5. Pergi ke salon. Potong rambut, creambath, dan luluran. Biasanya, mana pernah sempat? 6. Mengutak-atik blog. Akhirnya bisa ganti header. Ah, senangnya. 7. Menikmati hujan perhatian. Dari kawan-kawan nge-blog dan rekan-rekan sekerja yang bikin saya jadi terharu. Adik dan keponakan yang tiap malam menelepon dari Pekanbaru. Pakde dan bude yang beberapa kali menelepon dari Lampung. Dyah, Itho, Bang Iwan, Mas Tyo dan Mas Imbang yang menyempatkan diri berkunjung ke rumah dan membawakan aneka makanan. Tri yang berbaik hati mengurus asuransi. Yati yang menyediakan telinganya untuk saya pinjam kapanpun. Mas Wishnu yang saban hari menelepon untuk memantau kondisi saya, dan memberi semangat agar saya lekas sembuh. Om, tante dan sepupu-sepupu yang bergiliran "marah-marah" supaya lain kali saya nggak sakit lagi. Ibu-bapak Karangjati yang wanti-wanti agar saya menjaga pola makan dan banyak-banyak istirahat. Ah, saya teramat sangat menyayangi kalian semua. Mengingat semua itu, bagaimana saya tidak menganggap sakit kali ini sebagai nikmat luar biasa dari-NYA? -bersambung-
Posted at 05:21 pm by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, June 28, 2008
Sakit itu memang nggak enak rasanya. Sejak Jum'at (27/6) sore cuma bisa tidur-tiduran. Demam, panas-dingin, kepala rasanya berat dan sakit. Mulut pahit, jadi nggak doyan makan apapun. Kalau pun makan, pengen muntah. Badan lemas dan pegal-pegal. Nggak bisa lama-lama di depan komputer. Beberapa menit saja, mata rasanya panas dan berair. Padahal kerjaan numpuk dan frekuensi telepon dari bos ganteng nggak berkurang sedikit pun. Dokter, mami, bude, adik-adik sama yang lain nyuruh istirahat. Tidur. Tidur. Tidur. Tapi nggak bisa tidur juga. Matanya nggak mau dimeremin. Kepala rasanya penuh sama segala hal yang meloncat-loncat pengen keluar. Hati dan kepala rasanya pengen meledak-ledak nggak karuan. Ah, kalau sudah begini, rasanya makin susah menjaga hati untuk tetap tenang dan kepala sedingin es. * Saya pengen sekali bisa memaki dan menamparmu.
Posted at 11:29 pm by kisahmerahitam
Permalink
Tuesday, June 17, 2008
Pertanda. Dimana-mana. Saya menemukannya saat membaca buku, menonton film, bahkan ketika tengah mengobrol dengan seorang kawan. Pertanda. Ini pasti karena saya sedang keranjingan membaca buku-buku Paulo Coelho, sehingga merasa semua hal yang ada dan terjadi di sekeliling adalah pertanda. Tapi sekali lagi saya menemukan pertanda itu dimana-mana. Pertanda bahwa yang terpenting adalah keyakinan. Yakin bahwa saya mampu. Yakin mimpi saya satu hari nanti jadi kenyataan. Yakin bahwa kemauan saya akan terwujud. Bla...bla...bla...dan masih banyak keyakinan-keyakinan lain. Yang jelas, saya harus punya keyakinan itu. Ketika saya mengutarakan hal ini pada Yati, apa ini memang pertanda? Saya baru ingat, belakangan ini saya tidak merasa yakin pada beberapa hal. Salah satunya, saya merasa tidak yakin bisa menulis resensi buku maupun film. Padahal saya ingin sekali menulisnya. Berbagi yang tertuang dalam buku-buku yang sudah saya baca, maupun film-film yang sudah ditonton. Beberapa kali saya mencoba menulis resensi. Tapi berhenti di tengah jalan. Hanya sampai paragraf 1-2, parahnya lagi, ada yang cuma beberapa kalimat. Selebihnya lagi blank. Saya tiba-tiba jadi tak tahu apa yang mau ditulis. Saya tak menemukan jembatan untuk tulisan berikutnya. Lantas saya memutuskan untuk berhenti. Tulisan-tulisan itu tak pernah selesai. "Saat menulisnya, apa kamu selalu mbayangin hasil akhirnya?" Saya mengiyakan pertanyaan lelaki sabar. "Lupakan hasil akhirnya. Tulis aja apa yang kamu suka atau nggak suka dari buku dan film itu. Sesuatu yang bikin kamu ngerasa klik. Sesuatu yang simpel, sederhana. Nggak usah mikir nanti jadinya seperti apa. Pokoknya tulis aja apa yang pengen kamu tulis. Dan satu lagi, neng, yakin. Yakin bahwa kamu bisa nulis resensi." Ah ya...Itu. Keyakinan bahwa saya bisa menulis resensi buku dan film. Tak usah mikir macam-macam. Just do it.
Untuk lelaki sabar, makasih banyak. Untuk perempuan yang tengah resah, percaya dan yakinlah semua akan berjalan dengan baik.
Posted at 05:26 am by kisahmerahitam
Permalink
Sunday, June 15, 2008
Intro: G C G C G Am D7 Em Am Ketika waktu mendatangkan cinta D Em Aku putuskan memilih dirimu Am B Setitik rasa itu menetes dan semakin parah F#m Bm Bisa ku rasa getar jantungmu E A Mencintaiku apa lagi aku Bm Jadikanlah diriku C# Pilihan terakhir hatimu Reff: Bm E Butterfly terbanglah tinggi A D Setinggi anganku untuk meraihmu Bm Memeluk batinmu C# F#m - F#7 Yang sempat kacau karna merindu Bm E Butterfly fly away so high A As high as hopes I pray D To come and reach for you Bm Rescuing your soul C# D That previous messed up touching me and you Interlude: F#m Bm E A D Bm C# F#m Jalan ini jauh Bm Namun kita tempuh E Bagai bumi ini A Hanya milik berdua D Biar ku berlebihan Bm Mendekatimu C# Namun ku tunggu Kembali ke: Reff Coda: F#m C# F#m
*********************************************
Pukul dua dinihari. Menuangkan kisah cinta DINDA dan YOGA dalam deretan kata dan tarian jemari yang lincah bergerak di atas tuts-tuts berpola, ditemani secangkir coklat hangat dan alunan suara Melly-Andhika, membuat saya teringat pada: Tautan jari-jemari. Tawa renyah. Jejak kaki. Langit malam. Aroma kopi. Denting dawai gitar. Hujan. Pasir. Hamster. Mimpi-mimpi. Dan binar mata.
Btw, kenapa rindu selalu membuat dada terasa sesak?
Posted at 02:32 am by kisahmerahitam
Permalink
|
 |
|