 |

Thursday, June 22, 2006
Kau memang bukan remaja lagi
Tapi kau pandai bersolek untuk menutup tubuh keriputmu
Tak heran jika banyak yang terpikat padamu
Kau memang bukan jutawan
Meski kau tak pernah peduli betapa mahal ongkos operasimu
Tak tahu siapa yang harus menanggungnya
Kau memang bukan penjahat
Meski karenamu ribuan bahkan jutaan otak teracuni olehmu
Tak heran jika lebih banyak lagi korban berjatuhan tiap masa menjelang
SELAMAT ULANG TAHUN KOTAKU
SEMOGA TAK ADA LAGI TANGISAN ATAS NAMA PEMBANGUNAN
SEMOGA TAK ADA LAGI YANG TERLUNTA DEMI KATA METROPOLITAN
Nb. Ayo pilih Kepala Daerah yang mementingkan rakyat. Bukan orang yang semata terobsesi menjadikan Jakarta seperti salah satu kota di Eropa!
Posted at 02:09 pm by kisahmerahitam
Permalink
Wednesday, June 21, 2006
SUDAH KUBILANG JANGAN DEKATI DIRINYA!
Sudah kubilang jangan dekati dirinya. Tapi kau malah nekat mendatanginya. Sekarang akibatnya kau jadi berubah 180 derajat. Kemarin kau datang padaku, merengek-rengek, memintaku mengampuninya. Tak menuntutnya. Kasihan katamu.
Tapi tahukah kau, luka yang ditorehkannya terlalu dalam untuk disembuhkan. Bahkan waktu pun tak akan bisa mengobatinya. Tidak. Tidak. Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu.
Kau merajuk. Tahukah kau, kalau biasanya aku luluh melihat wajah memelasmu. Tapi tidak sekarang. Kau jadi terlihat menjijikkan, sama seperti dirinya. Kupikir, aku tak akan pernah terpikat lagi olehmu. Kalimat-kalimat penuh rayuan dan ancaman halus keluar dari mulutmu.
Katamu, dia sudah merasakan akibatnya. Katamu, dia pun terluka selama ini, karena orang-orang yang disayanginya telah menghancurkan hidupnya. Katamu, dia sudah mendapatkan hukuman saat melihat Cendana kebanggaannya saling bertikai dan membuat aib dimana-mana.
Tapi apa kau lupa. Ia sudah menyakitiku selama berpuluh-puluh tahun. Berapa banyak luka dan memar yang ia buat ditubuhku? Berapa banyak keringat dan darah yang ia peras dari tubuhku? Tahukah kau, selama dirinya ada, aku tersiksa sepanjang siang dan malam. Lupakah kau pada rintihan dan kesakitanku. Lupakah kau?
Katamu, kau cinta padaku. Katamu, kau tak akan membiarkan seorangpun menyakitiku. Tapi kenapa kau kini membelanya? Jelas-jelas kau tahu ia lah sumber kesakitanku selama ini. Dimana janjimu ketika itu? Yang kau ucapkan penuh sesumbar dan amarah saat melihatku terkoyak dan tercabik-cabik.
Katamu, kau tak tega melihatnya meregang nyawa di bilik Pertamina. Tapi kau tega, melihatku terkapar tak berdaya. Katamu, ia berhak diberi maaf, karena ia pernah membuatku tersenyum di mata dunia? Tapi kau lupa, ada tangisanku dibalik senyum itu. Senyum yang dipaksakan olehnya dengan todongan pisau di rahimku.
Katamu...Katamu...Katamu...
Aku tak mau mendengar katamu. Sekarang giliranmu untuk mendengar kataku. Aku tak akan pernah mengampuninya untuk berjuta nyawa yang lahir dari rahimku dan kemudian mati meranggas sia-sia karenanya. Aku tak akan pernah memaafkannya karena ia menghianati cintaku dengan caranya yang paling keji. Aku tak akan menerimanya, meski ia bersimpuh memohon padaku.
Tak akan. Aku sudah bertekad melupakannya. Tak akan kubiarkan airmataku kembali menetes untuknya. Tak akan.
Kalau kau ingin melihatku bahagia, biarkan ia diadili dan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya padaku. Dan kalau kau masih ingin kucintai, kumohon, jangan pernah dekati dia lagi.
Nb. Untuk seorang kawan. Untuk perbincangannya pada satu malam di Kampung Melayu. Untuk penjelasanmu atas sms yang kau kirimkan padaku dan kawan-kawan lainnya. Atas alasanmu, bahwa kau tak tega saat melihat Soeharto tua terbaring koma di Pertamina. Satu hal yang bisa kukatakan padamu, jangan pernah dekati dirinya. Karena aku yakin, ia akan mengubah siapapun yang berani berdekatan dengannya.
Posted at 06:49 am by kisahmerahitam
Permalink
Sunday, June 18, 2006
REPOTNYA JADI "IBU KANTOR TANGGA"
Di kantor ada asisten kantor tangga (baca: asisten rumah tangga) baru. Namanya Mbak Neti. Asalnya dari Cianjur. Usianya tiga tahun lebih muda dariku. Kalau menurut tulisannya Mbak Mariskova, beda usia ini sudah benar kan ya mbak? Asisten itu harus lebih muda biar ketahuan siapa komandannya. J
Mbak Neti ini kakak tertuanya Mbak Nah. Tapi bedanya, ia jauh lebih pendiam. Masakannya pun tak seenak masakan Mbak Nah. Tapi kalau soal bersih-bersih jangan ditanya. Dia serajin Mbak Nah. Di hari pertamanya bertugas, Mbak Neti sukses membuatku bingung dan panik.
Waktu itu, seperti biasanya, begitu bangun, sambil kucek-kucek mata langsung menuju meja kerja. Loh kok meja kerjaku itu bersih. Padang gilar-gilar. Nggak ada itu yang namanya tumpukan kertas, charger HP, kaset baru, biskuit, tebaran kuaci, tumpukan obat, novel, majalah, gunting, pulpen, tumpukan voucher isi ulang pulsa, baterai bekas, botol air minum. Semuanya lenyap tak bersisa. Harusnya sih aku senang, karena barang-barang itu nggak nyepetin mata lagi. Tapi masalahnya, banyak catatan penting di tumpukan kertas itu. Dan kalau letaknya sudah berubah sedikiiiiiittt aja, atau ada orang lain yang membereskannya, memindahkannya, bisa pusing tujuh keliling nyarinya. Belum lagi penyakit lupa yang seringkali mengganggu. Maka hari itu, aku berhasil mengobrak-abrik berkas-berkas dan tumpukan kertas yang sudah dirapikan Mbak Neti. Untungnya Mbak Neti segera pulang dari pasar. Dan dia pun langsung menunjukkan kertas yang dipindahkannya dari mejaku.
Kelar? Belum. Malamnya, lagi-lagi aku mbingungi keliling kantor. Kamar, dapur, meja depan, meja kerja teman-teman sukses ku geledah, gara-gara nyari charger HP. Awalnya sih bertekad untuk nggak mengganggu Mbak Neti yang lagi istirahat. Tapi karena sampai mumet nyarinya dan charger nggak ketemu-ketemu juga, dengan terpaksa aku meminta bantuannya. Mbak Neti yang sudah terkantuk-kantuk itu dengan sigap langsung mengambil charger HP-ku yang ternyata diletakkannya di dalam kotak kalender meja.
“Ohhh...Disitu toh nyimpennya. Makasih ya mbak. Tapi lain kali, seberantakan apapun mejaku, nggak usah dibersihin ya. Biarin aja kayak gitu.”
Mbak Neti pun mengangguk.
Selain insiden itu, semuanya baik-baik saja. Rumah eh kantor, jadi lebih bersih. Kaca jendela lumayan mengkilap. Begitu juga kamar mandi dan dapur. Beda banget sama jamannya Kang Kenthos dan Bang Dodoy yang bertugas. Enaknya lagi bisa request masakan.
“Mbak hari ini masak ini aja ya. Inget loh ya, jangan pakai bumbu penyedap, bahan pengawet, pewarna. Lupain itu sasa, ajinomoto, royco, maggie, masako dan sejenisnya...Cuma bikin penyakit.”
Tapi gara-gara bisa request masakan itu juga, tugasku jadi nambah. Tiap hari harus mikirin menu untuk orang sekantor. Kerepotan ini masih harus ditambah dengan mengatur uang belanja yang diberikan si bos.
“Segini harus cukup untuk sebulan ya...Pinter-pinternya elo aja gimana ngaturnya!”
Kutimang-timang tumpukan rupiah di tanganku.
“Ah gampang. Ini sih soal kecil. Masa kuliah bertahun-tahun di akuntansi dan sempet jadi akuntan dua tahun lebih nggak bisa ngatur soal ginian.”
Tapi hasilnya...Aduh-aduh, puyeng euy. Ngatur beli beras, sayur-mayur, lauk, galon air, gas, sabun cuci piring, belum lagi yang buat ngepel, lah kok ternyata merepotkan dan bikin bingung. Mana nggak tahu harga-harganya pula. Mana si mbak tiap hari selalu nanya mau masak apa hari ini? Sudah aku sempetin bikin menu, ternyata budgetnya salah. Hauk...Hauk...Hauk...
Kerasa kena batunya sekarang. Ternyata hal yang kuanggap remeh itu nggak seremeh perkiraanku. Jadi begini ini toh rasanya jadi Ibu Rumah Kantor Tangga. Jadi inget ibu. Beliau pasti hebat banget selama puluhan tahun menjadi ibu rumah tangga dan tetap baik-baik saja. Nggak ngerasa pusing apalagi repot.
Apa ada yang berbaik hati memberiku tips dan masukan?
Posted at 04:47 pm by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, June 17, 2006
Nggak tahu apa ini film terakhirnya X-MEN, meski subjudulnya, The Last Standing. Masih penuh dengan adegan action menegangkan, full "keajaiban" dari para mutan yang punya beragam keistimewaan.
Sebenarnya, hampir-hampir gagal menonton film ini. Waktu datang ke dua bioskop favorit, MEGARIA dan TIM (dekat rumah dan murah), film ini sudah tak ditayangkan. Maklumlah kedua bioskop itu meski punya tarif paling murah diantara jaringan 21 lainnya, merupakan bioskop utama. Yang artinya, selalu dapat jadwal perdana pemutaran film-film baru.
Untungnya di hari Minggu yang sumuk itu, tepat jam 4 sore, si bos yang ganteng telepon.
"Udah nonton X-MEN? Nonton yuk. Gue jemput ya. Sekarang gue udah di Kampung Melayu!"
"Hah? Apa? Udah di Kampung Melayu? Eeehhh...Ketemuan di tempat aja deh...Gue belum mandi nih..."
"Ya udah, tapi cepet ya!"
Sejam berikutnya, sudah duduk manis di mobilnya yang diparkir di halaman TIM. Selesai berhaha-hihi, kami (aku, bos, Mas Aang dan Hendra) meluncur ke Plaza Senayan yang biasa di singkat Playan, Plase, atau PS. Jam setengah enam sore kami sudah sampai di tempat tongkrongan ABG tersebut. Ternyata filmnya baru diputar jam 7.30. Waktu lihat harga tiketnya, huaduuuhh...2,5 x harga Megaria.
Elus-elus dompet, seraya bergumam pelan, "Nggak papa...Cuma sesekali ini".
Sambil nunggu, kami sibuk berkeliling, lihat barang-barang bagus sambil nahan air liur agar tak menetes. Nggak lama, Eachy, Ida, dan Erni nyusul. Maka jadilah kami ber-7 menonton.
Musnahnya Mutan-Mutan Eksentrik
Adegan film dibuka dengan kisah masa kecil Jean The Grey yang memiliki kekuatan luar biasa dalam mengendalikan pikiran dan benda-benda disekitarnya. Membuatnya menjadi satu-satunya mutan dengan kemampuan diatas level 5. Serta tokoh baru bernama Warren yang memiliki sayap burung selebar sayap Albatros dengan bulu seputih salju. Membuatnya laksana malaikat dalam film-film.
Ayah Warren, pemilik perusahaan Farmasi, tak sengaja menemukan antibody mujarab untuk "menormalkan" para mutan agar menjadi manusia biasa. Antibody itu sendiri berasal dari seorang bocah berpenampilan pucat, berkepala botak, berwajah lugu dan berpakaian serba putih, yang anehnya, sampai sekarang bikin aku bingung. Itu serum-nya darimana ya? Apa dari tetesan keringat, darah atau cairan tubuh si bocah yang kemudian ditampung, dicampur dengan bahan tertentu dan diproduksi massal? Soalnya sama sekali nggak dibahas di filmnya.
Para mutan yang merasa tersisihkan dari pergaulan, menganggap antibody ini merupakan jawaban akhir atas "penderitaan" mereka. Maka berbondong-bondonglah mereka menggunakan serum tersebut. Namun, Magneto yang memiliki obsesi menguasai dunia, mengumpulkan sejumlah mutan ganas untuk menyabotase dan membunuh si bocah penghasil serum. Tentu saja Charles Xavier dan murid-muridnya, Wolverine, Storm, Ice Man, Kitty, dan "manusia kaleng", tak tinggal diam. Mereka berusaha mencegah aksi Magneto.
Selain adegan perkelahian seru yang melibatkan kedua kelompok mutan tersebut, film ini cukup membuat sedih. Pasalnya, Charles Xavier meninggal. Tubuhnya hancur berkeping-keping saat duel dengan Jean The Grey yang ternyata masih hidup. Akibat kekuatan yang dimilikinya, Jean The Grey memiliki kepribadian ganda yang menamakan dirinya sebagai Phoenix. Kekuatannya tak tertandingi. Bahkan tatapan mata Cyclops yang berbahaya itu tak berpengaruh apapun padanya.
Selain kehilangan Charles dan Cyclops, di episode ini kita juga harus kehilangan Mystique. Ia tak meninggal, tapi demi menyelamatkan Magneto, ia rela terkena serum antibody mutan. Hasilnya, tubuhnya yang cantik bersisik itu terkikis dan ia menjadi perempuan yang biasa-biasa saja. Di sisi lain, Rogue, si cantik yang memiliki sentuhan maut itu pun rela menjadi gadis biasa demi cintanya pada Iceman.
Sebagai sebuah tontonan, X-MEN 3, sangat menghibur. Efek visual yang ditampilkan memukau. Banyak tokoh-tokoh mutan baru dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Ada manusia paku bertampang mirip bintang film korea. Ada manusia super kuat berjuluk Juggernaut. Ada perempuan seksi bertato yang memiliki kemampuan berpindah-pindah secepat angin dan mendeteksi keberadaan mutan lainnya. Ada juga tokoh mirip Elvis Presley yang bisa membelah dirinya hingga seribu. Ada tokoh mirip Spiderman yang bisa merayap di tembok laksana cicak.
Sayangnya, konflik batin karakter-karakternya tak digarap dengan dalam. Akibatnya, emosi yang tampak hanya sepintas lalu.
Nb. Selesai nonton, jadi ngebayangin. Asyik kali ya seandainya punya kekuatan seperti para mutan itu. Dan seandainya punya kekuatan seperti yang dimiliki Jean, mungkin akan kusuruh Merapi agar muntah pelan-pelan. Cukup gumoh aja. Hingga tak bikin was-was orang-orang di sekitarnya.
Posted at 01:05 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, June 16, 2006
Butuh Lebih Dari Sekedar Nekat Untuk Jadi Perampok

Pernah nonton aksi Brad Pitt, George Cloney, Julia Roberts, Matt Damon dan yang lainnya dalam Ocean Eleven? Suka dengan aksi mereka yang nggak hanya sekedar nekat, tapi juga cerdas dan penuh perhitungan? Sebaiknya anda juga menyempatkan diri untuk menonton INSIDE MAN. Film yang dibintangi oleh Denzel Washington, Jodie Foster dan Clive Owen, ini lebih dari sekedar layak untuk ditonton.
Ceritanya sendiri tentang Frazier (Washington), detektif polisi, yang reputasinya sedang anjlok. Ia ditugasi oleh atasannya untuk menangani kasus perampokan di sebuah bank. Sang perampok yang diperankan oleh Owen, menyandera sejumlah pegawai dan nasabah bank tersebut. Yang membuat cerita ini berbeda, Owen dan komplotannya tak membunuh satu pun sanderanya; tak mengambil sesenpun uang yang ada di bank tersebut. Dengan hanya bermodalkan senjata plastik (mainan), ketenangan, rencana matang dan strategi yang jitu, mereka berhasil mengecoh polisi dan mengambil berlian yang mereka incar.
Sayangnya, tak diceritakan bagaimana Owen dan komplotannya tahu situasi dan kondisi bank tersebut, di lemari besi nomor berapa barang incaran mereka disimpan dan bagaimana Owen tahu sejarah hitam pemilik bank tersebut. Penjelasan yang berhasil kureka-reka adalah, jika bagian itu dimasukkan maka film ini bakal berdurasi sangat panjang, dan resikonya, penonton bisa bosan.
Hal kedua yang terasa mengganggu adalah, sejarah hitam sang pemilik bank. Dalam film itu dikisahkan pemilik bank pernah bekerjasama dan menjadi anggota NAZI. Ehm...Tipikal film-film Amrik...Selalu berusaha untuk kelihatan jadi pahlawan.
Tapi diluar kedua hal tersebut diatas, secara keseluruhan film ini menarik. Penuh kejutan dengan akhir tak terduga. Kualitas akting bintang-bintangnya juga tak diragukan lagi. Baik Washington, Owen maupun Foster, layak mendapat acungan jempol. Meski sebenarnya tokoh Foster sendiri tak berperan penting dalam cerita ini, hanya sekedar tempelan untuk mengetahui apa yang sebenarnya diincar sang perampok.
Bagaimana? Anda tertarik untuk menontonnya?
Nb. Kelupaan. Soundtracknya keren loh. Lagu India. Jadi pengen nyari DVD-nya. Huhuhu...
Posted at 12:19 pm by kisahmerahitam
Permalink
Dari Pijat Hingga Kopi; Dari Cikini Sampai Senayan
Susahnya kalau liburan tidak terjadwal. Meski kemarin-kemarin, bisa libur selama hampir satu minggu, tetap aja nggak bisa pergi kemana-mana. Bawaannya was-was terus. Tak semenit pun HP dalam keadaan mati. Siap siaga selama 24 jam penuh, 7 hari seminggu. Begitulah repotnya jadi buruh yang harus selalu siap sedia kapanpun ditelepon.
Tapi untung, meski nggak bisa liburan keluar kota, masih sempat "bersenang-senang", melaksanakan sekian banyak agenda yang tertunda. Agenda pertama adalah pijat. Maka pada pagi yang sudah ditentukan, seorang ibu tua yang sudah puluhan tahun berprofesi sebagai dukun pijat didatangkan ke rumah. Seluruh tubuh yang rasanya remuk redam, langsung terasa segar dan lebih enakan begitu selesai dipijat.
Agenda kedua, jalan-jalan dan makan bareng ibu, adik dan ponakan. Meski letak rumah dan kantor tak terlalu jauh, tapi sebuah kemewahan tersendiri bisa pulang ke rumah dan makan bareng keluarga. Hampir seminggu bareng Dava, baru tahu repotnya bergaul dengan anak kecil. Nggak bisa main larang seenaknya. Usianya memang baru 2,5 tahun, tapi ampun ceriwisnya. Apa aja ditanyain. Semua hal yang dia lihat dikomentari. Semua barang yang baru dia lihat dipegang, dicoba dan kalau bisa dibawa pulang. Kalau dilarang, ngambek dan tingkahnya makin menjadi-jadi.
"Yalin...Tidul combelan nih" (Biarin, tidur di comberan nih)
"Nda nakal...Ndak temenan agi deh" (Bunda nakal. Nggak temenan lagi deh)
"Endang nih..." (Tendang nih)
Tapi ini masih mending, ketimbang kebiasaannya yang lain. Bayangin umur segitu, aih genitnya minta ampun. Nggak tahu siapa yang ngajarin. Tapi kalau lihat cewek cantik, matanya langsung dikedip-kedipin seraya bilang:
"Tewek...tewek..." (Cewek...Cewek...)
Mungkin anak kecil sekarang memang seperti itu. Wong baca ceritanya Luvie dan Mas Yoyok pun nggak jauh beda. Anak-anak seupil, cilik menthik gitu dah tahu pacaran, dah tahu cowok or cewek cakep. Ya sudahlah, nggak apa-apa, yang penting nanti dikasih pengarahan yang bener.
Agenda ketiga, kongkow bareng kawan-kawan lama. Kebetulan salah satu kawan dekat berulangtahun. Jadilah kami ketemuan sembari makan dan bergosip di salah satu tempat makan yang menyediakan menu luar Indonesia dengan harga selangit. Untung ditraktir yang ber-ultah. Kawan lainnya sempat nyeletuk: "Lebih enak makan di warteg. Banyak, kenyang, enak, dan murah lagi!"
Agenda keempat, nonton. Udah luaaammaa buaanget, nggak pernah nonton film-film baru. Film terakhir yang ku tonton SHINOBI (sudah 5x nontonnya!). Malam Minggu, bela-belain pulang jam 3 pagi, gara-gara midnite nonton INSIDE MAN di TIM bareng adik-adik. Hari Minggunya, nonton X-MEN 3, bareng kawan-kawan di Plaza Senayan. Malamnya masih sempat minum kopi bareng. Aku sendiri sih nggak minum kopi. Cukup pesan Chai Latte. Teh dicampur susu segar dan aroma rempah-rempah. Kepala yang tadinya pusing, langsung terasa enteng berkat aroma kayu manisnya yang kental. Asyik bergosip, mulai dari Cendana hingga Marcela Zalianty yang kabarnya punya apartemen baru.
Dan gara-gara liburan "panjang" kemarin, weekend ini terpaksa kembali berkutat di kantor, menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang langsung datang menggunung.
Bagaimana weekend anda? Semoga menyenangkan dan selamat berlibur!
Posted at 10:59 am by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, June 10, 2006
Menuruti permintaan Mas Johan yang sedang kelaparan, edisi masak kali ini, bahan utamanya ayam. Lantaran ayam negeri dicurigai berbahaya, terutama bagi para penderita tumor, kanker dan sejenisnya, maka ayam yang digunakan disini adalah ayam kampung.
BAHAN:
- Ayam kampung. Dipotong sesuai selera, tapi lebih baik dipotong kecil, sekitar 2,5cm x 6 cm.
Untuk 1 orang, cukup gunakan ¼ ekor.
Untuk 3-4 orang, gunakan ½ ekor.
Untuk 5-8 orang, gunakan 1 ekor.
BUMBU:
- Bawang putih
- Lada/merica
- Garam
(ketiganya dihaluskan)
- Jahe diiris tipis. Boleh juga digeprek.
- Tomat dipotong-potong
- Cabe merah diiris menyamping atau serong.
- Sereh dipotong-potong, sepanjang + 2cm
- Daun salam
- Gula pasir
- Minyak goreng
ALAT:
- Wajan/penggorengan
- Sutil (sendok untuk menggoreng)
- Ulekan untuk menghaluskan bumbu
- Talenan (papan yang digunakan untuk alas mengiris atau memotong)
- Pisau untuk mengiris atau memotong
- Mangkuk atau piring
CARA PEMBUATAN:
1. Ayam yang sudah dipotong-potong dan dicuci bersih, digoreng hingga setengah matang. Jangan sampai matang apalagi kering. Kalau sudah berwarna sedikiiiittt kecoklatan, langsung angkat. (Jika tidak suka digoreng, tidak apa-apa. Proses yang pertama ini bisa dilewati. Tapi kalau ingin lebih gurih ya digoreng).
2. Panaskan penggorengan. Tuang minyak goreng sebanyak 1-2 sendok makan. Jika minyak sudah panas, tumis bumbu (lada, bawang putih, garam) yang sudah dihaluskan. Aduk-aduk jangan sampai gosong.
3. Langsung masukkan potongan ayam (yang sudah digoreng). Aduk-aduk. Tambahkan air secukupnya hingga seluruh potongan ayam terendam air. Cukup sampai terendam saja loh ya...Jangan sampai banjir.
4. Masukkan irisan cabe merah, jahe, sereh dan daun salam. Tambahkan ½ sendok teh gula pasir.
5. Tutup penggorengan. (Disekap, sampai daging ayam lunak dan bumbu meresap).
6. Setelah daging ayam lunak dan airnya cemek-cemek (duh, bhs.Indonesianya apa ya), masukkan potongan tomat, aduk-aduk dan cicipi. Jika rasanya kurang pas, misalnya pedasnya kurang, tambahkan bubuk lada. Jika kurang asin, tambahkan garam, dan jika terasa asin, tambahkan gula pasir.
7. Setelah matang, angkat dan sajikan dalam piring atau mangkuk. Oseng ayam bumbu capcay siap dihidangkan.
Diantara sekian banyak resep buatanku, resep ini yang terbukti paling oke dan memenuhi standar kenikmatan. Paling enak dimakan hangat-hangat. Cocok dimakan di cuaca dingin, atau untuk penderita flu, yang sedang sakit, atau baru sembuh dari sakit, karena rasanya cukup pedas, hangat dan menyegarkan.
Selamat mencoba. 
Posted at 12:32 pm by kisahmerahitam
Permalink
Monday, June 05, 2006
Biarpun punya bos galak, cerewet, perfeksionis dan nggak sabaran, tapi ternyata ada untungnya juga. Selain bisa mamerin ke temen-temen kalau punya bos guanteng – iyalah...Mantan Abang Jakarta gitu loh – koleksi DVD film dan bukunya buanyak pula. Nah yang lebih menguntungkan lagi, koleksinya yang bejibun itu dititipin di kamarku. Jadi bisa baca dan nonton gratis...Hehehehe...
Selesai ngedit naskah tapi mata belum mau diajak merem. Jam biologis tidurku memang sudah kacau-balau. Iseng-iseng kubongkar koleksinya – untung sudah ijin sebelumnya – nemuin bukunya Nicholas Sparks.
 
The Notebook (buku harian) yang sudah pernah di-film-in sebelumnya. Tapi lupa siapa bintangnya. Yang kuinget film itu bikin aku dan bos berurai airmata. Sumpah, filmnya emang bikin dada langsung nyesek. Sedih...dih...dih...
Ah, tapi airmataku memang gampang tumpah. Nonton film, nangis. Baca buku, nangis. Dengerin lagu, nangis. Sebel sama orang, nangis. Marah sama orang, nangis. Cemburu, nangis. Kangen, nangis. Dimarahin, disebelin, dibenci, nangis. Bahkan disayang pun juga bikin airmataku menitik. Cengeng bener ya?
Tapi terus terang lebih suka filmnya daripada bukunya. Padahal script-nya nggak beda dengan yang dibuku. Tentang kisah cinta Allie Nelson – Noah Calhoun yang mendayu-dayu, meledak-ledak dan mengharukan.
Buatku sendiri, bagian yang paling menyentuh dan bikin airmata tak terbendung adalah saat Allie – Noah sudah jadi nenek-kakek. Allie yang menderita alzheimer, lupa pada segalanya termasuk Noah. Namun Noah tak pernah berhenti mencintainya. Setiap hari ia membacakan buku harian tentang kisah cinta mereka. Noah pun tak pernah berhenti berharap, Allie akan kembali mengingatnya, meski hanya untuk satu detik.
"Kau adalah jawaban untuk semua doa yang pernah kupanjatkan. Kau adalah sebait lagu, sejumput mimpi, sepenggal bisikan, dan aku tak mengerti bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu selama ini..."
– Noah –
Nb. Tuh kan, netes lagi airmatanya. Btw, jadi kangen seseorang. "Take care ya...Jangan nakal!"
Posted at 03:18 am by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, June 03, 2006
Hari ini baru kena tipu. Nilai nominalnya sih nggak sampai ratusan juta apalagi milyaran. Duapuluh ribu rupiah...Nggak pake kata cuma loh ya. Wong duitku itu tinggal 21 ribu loh. Lah coba bayangin, dompet kosong, kantong apalagi. Untung makan dirangsum sama si pemilik kantor dan sering dapet kiriman masakan dari rumah. Kalau nggak, alamat kelaparan diriku.
Jadi ceritanya, waktu lagi asyik makan kolak pisang berdua ibu – kebetulan ibu sedang berkunjung ke kantorku – tiba-tiba diluar ada yang ketok-ketok pagar. Aku dan ibu buru-buru keluar. Seorang perempuan berusia sebaya ibu, dan seorang laki-laki berusia awal 40-an, menyandang sangkek (tas dari bahan semi plastik) berukuran besar, berdiri di luar pagar.
Begitu melihat kami, si perempuan langsung berbicara dengan nada tegas dan irama cepat hingga kami kerepotan mengikutinya. Tapi pokok kalimatnya begini:
"Siang Bu...Ini mau ada penyemprotan nyamuk-nyamuk DBD*. Yang disemprot cuma halaman depannya aja, tapi kalau mau bagian dalam rumah disemprot juga boleh. Ini kwitansinya, ntar kalau udah selesai tolong kasihin uangnya ke bapak yang nyemprot ini ya!"
Aku dan ibu cuma ternganga. Masih nggak mudeng. Makin ternganga waktu lihat dikwitansi tertera angka Rp.20.000,-. Ibu langsung bereaksi.
"Kok mahal? Biasanya cuma duaribu..."
"Nggak mahal bu. Ini kan buat setahun. Jadi nggak perlu disemprot-semprot lagi nantinya. Udah bu, saya mau ke rumah lainnya," lantas menoleh ke si laki-laki, "Udah semprot pak cepetan!"
Dengan gerak cepat perempuan itu lalu kembali menoleh ke arah kami.
"Jangan lupa bu, nanti kasihin uangnya ke bapak ini!"
Kami belum sempat mencerna kalimatnya yang berentet dengan kecepatan laksana peluru tentara kesetanan itu, perempuan itu sudah buru-buru beranjak pergi.
"Eeehhh...Tunggu dulu bu...Ini sudah seijin RT belum?"
"Sudah! Sudah!"
Dan menghilanglah si perempuan itu. Kecepatan geraknya tak kalah dari kecepatan bicaranya. Temannya yang laki-laki itu pun tak mau kalah dari si perempuan. Dengan sigapnya ia langsung mengeluarkan alat semprot dari sangkek yang dibawanya dan...Srrooott...Srrooott...Srooott... Seluruh halaman depan yang cuma seuprit itu sudah basah oleh cairan berbau keras dan tajam menyengat.
"Udah bu!"
Ha...Aku dan ibu yang masih berdiri terpaku dengan mulut ternganga itu kontan tersentak kaget.
"Oh...Udah ya? Kalau gitu tolong semprot kamar mandi, atas genteng, pojokan koridor yang menuju dapur, terus bawah tangga, trus gudang, kamar kosong, trus dekat tempat jemuran itu juga!"
Srroott...Sroott...Menguar bau menyengat dari seluruh area kantor. Si laki-laki itu pergi setelah mengantungi dua lembar sepuluhribuan yang kuulurkan. Aku dan ibu lantas keluar pagar untuk menghindari bau yang makin menyengat dan bikin kepala kliyengan (pusing).
"Ibu...Kok disuruh semprot semuanya sih? Kan bau dan bikin pusing."
Belum sempat ibu menjawab, tetangga samping rumah keluar. Seorang perempuan dengan usia yang tak jauh beda dari ibu.
"Duh bau apa ini"
"Bau semprotan. Loh memang rumahnya ibu nggak disemprot?"
"Nggak. Eh, ini yang nyemprot orang yang barusan itu ya? Yang rame-rame itu? Itu penipu bu, jangan percaya. Kita semua udah tahu makanya nggak mau disemprot. Lagian kalau emang ada semprotan demam berdarah, ada surat pengantar dari RT, trus petugasnya juga diantar sama hansip!"
Aku dan ibu terbengong.
"Mungkin mereka tahu kalau ibu dan adik orang baru disini, makanya dikerjain sama mereka."
"Wah asem tenan...Padahal saya ini Petugas Jumantik* loh...Kok ya masih kena tipu!"
Dan ibu pun mengomel panjang pendek, merasa tertipu mentah-mentah. Harga dirinya sebagai Petugas Jumantik yang resmi ditunjuk oleh kelurahan dan kecamatan terusik oleh ulah penipu kelas semprotan nyamuk itu. Tetangga-tetangga lain ikut keluar. Solidaritas sebagai sesama ibu-ibu langsung terjalin begitu mendengar cerita ibu. Maka meluncurlah kutukan serta sumpah sakti dari mulut mereka. Dan aku? Buru-buru menghampiri tukang buah langganan yang muncul di ujung jalan.
"Bang, minta rujaknya dong. Tapi uangnya tinggal seribu nih...Boleh ya." *tersenyum semanis mungkin*
--------------------------------------------------
Sampai sekarang masih terheran-heran. Ada-ada saja cara orang menipu. Beberapa hari yang lalu, seorang laki-laki bertandang ke kantor, menawarkan papan kecil yang sudah diubah menjadi papan pencatat meteran listrik dan PAM. Dengan dalih semua rumah sekarang diwajibkan oleh PLN dan PAM JAYA untuk memakai papan pencatat tersebut. Waktu ditanya surat resminya, langsung gelagapan.
Padahal, kalo dipikir-pikir, jadi penipu itu resikonya tinggi loh. Penipu sekelas semprotan nyamuk aja disumpahi oleh banyak orang. Apalagi penipu rakyat, yang cuma bisa janji-janji selangit, yang nyakitin hati orang se-nusantara dan nggondol milyaran rupiah. Pasti kutukan dan sumpah yang keluar nggak cuma sebatas:
"Biarin ta' sumpahin ketabrak mobil!"
Jadi...Masih berminatkah untuk menipu? Hati-hati loh ya, satu saat nanti kutukan dan sumpah menjelma dalam wujud yang sebenarnya!
Nb.
1. DBD = Demam berdarah dengue
2. Petugas Jumantik = Petugas yang memberi penyuluhan tentang bahaya nyamuk demam berdarah dan bertugas mengkoordinir masyarakat untuk memerangi jentik-jentik nyamuk penyebab demam berdarah.
Posted at 04:16 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, June 02, 2006
Mungkinkah Kawan Juga Punya Masa Kadaluwarsa?
Beberapa hari yang lalu, kawan dari masa lalu menelepon. Kemunculannya, eh salah, teleponnya yang tiba-tiba itu jelas mengagetkanku.
"Hei, masih inget gue nggak? Gue Brad Pitt* dari kelas 3D..."
"Brad Pitt? Dari 3D?"
Otakku langsung bekerja. 3D...3D...3D...Apa kawan kuliah ya? Waktu tingkat satu kan masih pake kelas A,B,C, dan D, sebelum kemudian penjurusan. Atau kawan SMP?
"SMP 36...Inget?"
"Ohh...Iya...iya…Tapi lo yang mana ya?" (sambil nyengir)
Kawanku itu pun sibuk menjelaskan siapa dirinya, bagaimana sosoknya, cerita soal gimana kami waktu SMP dulu. Dan aku? Aku pun sibuk membongkar ingatanku, menyamakan tokoh-tokoh dalam otakku dengan deskripsi yang diberikannya. Lho...Nggak ada yang cocok.
"Hehehe...Maaf, tetep nggak inget. Tapi ntar kalau ketemu, mungkin inget lagi."
Aku mendengar tarikan nafas penuh kekecewaan dari seberang telepon. Sesaat kemudian Brad Pitt memaafkanku dan sibuk bercerita soal rencana reuni kawan-kawan SMP yang mau diadakan pertengahan Juli tahun ini. Percakapan itu berakhir dengan kesanggupanku untuk datang di acara tersebut. Setelah Brad Pitt selesai menelepon, aku langsung buru-buru menelepon Angelina Jolie*, salah satu kawan baikku di SMP.
"Jol, si Brad Pitt tadi telepon, ngajakin reunian. Lo inget dia nggak? Katanya anak 3D?."
"Eh, Brad Pitt? Aduh, yang mana ya? Perasaan, gue nggak kenal."
Nah lho...Bahkan Jolie pun nggak kenal dia.
------------------------------------------------------
Ini bukan kasus yang pertama. Belakangan ini sering banget lupa kawan-kawan lama, terutama yang sudah bertahun-tahun nggak ketemu. Waktu coba mendata ulang kawan-kawan sekolah mulai dari SD hingga kuliah, kawan-kawan chat, kawan-kawan Karang Taruna, lah kok cuma inget separuhnya. Separuhnya lagi entah menguap dimana. Kadang-kadang juga ngerasa banyak sosok-sosok samar yang perlahan menghilang dari ruang ingatanku.
Jadi mikir, apa kawan pun memiliki masa kadaluwarsa? Artinya begini, kawan-kawan SD hanya berlaku saat kita masih berada di masa itu? Ketika kita masuk SMP, banyak kawan-kawan baru...Yang anehnya terpaksa kita tinggalkan ketika kita duduk di bangku SMA. Ya, tidak berlaku seluruhnya sih. Kawan-kawan dekat yang masih keep contact dengan kita, akan terbawa terus sampai sekarang. Tapi jumlahnya, aku yakin nggak ada 1/3-nya.
Meski masa kadaluwarsa yang kumaksudkan disini, tidak seperti yang berlaku pada produk makanan dan minuman. Pada kedua produk tersebut, jika sudah melewati tanggal yang ditetapkan, sudah pasti tidak layak untuk dikonsumsi lagi.
Bagaimana dengan anda? Apa kawan-kawan anda pun memiliki masa kadaluwarsa juga?
Nb.
1. Nama-nama terpaksa disamarkan demi privasi yang bersangkutan.
2. Sedang sibuk mengingat dan menghubungi kawan-kawan, supaya tak banyak sosok dalam ingatan yang berubah samar-samar dan lantas menghilang...
Posted at 09:46 am by kisahmerahitam
Permalink
|
 |
|