 |

Wednesday, May 24, 2006
Aduuhhh...Hari ini rasanya lelah luar biasa. Nggak ada tenaga yang tersisa bahkan untuk berkonsentrasi pun sulit. Tiga malam berturut-turut hampir tidak tidur, ditambah udara dingin dan harus menempuh perjalanan jauh, rasanya wajar saja kalau tubuh langsung drop. Ini kali pertamanya pergi ke Sukabumi, mengantri hingga semalaman lebih, kedinginan gara-gara lupa bawa jaket dan kaus kaki, serta berdesak-desakan. Ironisnya semua siksaan ini masih berujung pada vonis mengerikan yang keluar dari mulut laki-laki itu.
“Kamu kena kista...”
Posted at 04:56 pm by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, May 20, 2006
PEPAYA DAN SUNTIK SILIKON
Tiba-tiba saja keingetan sama Mbak Nah, asisten rumah tangga headwriterku. Sudah lama nggak ketemu gadis manis asal Cianjur yang baru berusia 16 tahun dan gemar menonton film India serta serial Korea itu. Padahal dulu waktu masih di Bintaro, Mbak Nah sering menggangguku dengan berbagai pertanyaannya yang sederhana namun menggelitik. Dan kalau dia sudah bertanya, maka aku harus memberi jawaban padanya. Kalau nggak, maka sepanjang hari itu, sampai hari-hari berikutnya dia akan terus-menerus menggangguku. Tak perduli aku sedang pontang-panting dikejar deadline atau nggak.
Ia juga punya kebiasaan yang unik. Beberapa kali aku bangunin, dia langsung bersungut-sungut kesal dan nggak mau ngomong sampai berhari-hari. Setelah dibujuk dan ditanya baik-baik, baru dia cerita alasan sebenarnya.
“Habis lagi asyik-asyiknya mimpi mau ketemu Delon, dibangunin. Kan jadi batal ketemu sama Delonnya!”
“Lagian, orang lagi mimpi makan bakso, dibangunin.”
“Duh mbak...Na’ kan lagi mimpi ketemu Jang Dong Gun!”
Oalah, cuma gara-gara mimpinya terpotong toh. Waktu kusuruh dia untuk nulis pesan di pintu kamarnya dengan tulisan, “Lagi mimpi nih mbak, tolong jangan dibangunin!”, dia malah ketawa cekikikan.
Lain hari, waktu kutawari buah pepaya, ia menggeleng. Padahal pepaya yang kutawarkan itu matang, ranum, dan manis. Awalnya kupikir Mbak Nah seperti kebanyakan orang lain yang nggak suka makan pepaya karena baunya yang khas, atau takut dibilang mirip dengan burung yang hobi makan pepaya. Tapi tiap kali melihat buah pepaya yang baru selesai kukupas, sorot matanya berbinar-binar, bibirnya berkecap beberapa kali. Maka lagi-lagi kusodorkan irisan pepaya itu padanya.
“Nih...Ambil aja...”
Dan lagi-lagi jawabnya:
“Nggak mau ah mbak...”
“Aku minta yang lainnya aja boleh?”
“Nggak mbak, aku takut”
Jadi penasaran. Kepengen tapi kok nggak mau makan. Setelah kudesak beberapa kali, akhirnya terungkap juga alasan sesungguhnya. Rupanya Mbak Nah takut kalau makan pepaya nanti, maaf...payudaranya makin bertambah besar, sebesar buah pepaya.
Langsung terpingkal-pingkal mendengar jawabannya yang polos. Dengan nada bercanda, kubilang padanya, wah, kalau pepaya bisa bikin payudara pemakannya jadi besar, suntik silikon nggak laku lagi dong mbak...
Eh, anehnya, dia tetap keukeuh sama pendiriannya dan nggak mau makan pepaya biarpun ngiler setengah hidup!
Btw, ada yang tertarik untuk membuktikan ucapan Mbak Nah?
Posted at 04:14 pm by kisahmerahitam
Permalink
Catatan Kecil atas Kunjungan Singkat ke Kampus Tercinta
Sudah lama nggak blogwalking. Saat berkunjung ke beberapa blog, ada yang udah berubah penampilannya. Banyak yang sudah berganti tema tulisan. Ehm...Sama dengan pengalamanku beberapa hari lalu, saat berkunjung ke kampus. Hampir 4 tahun nggak pernah mampir, begitu mampir banyak hal yang membuatku terheran-heran dan terkagum-kagum.
Gedung-gedung kampus yang dulu usang, suram dan mirip kuburan tua kala malam menjelang, udah nggak ada lagi. Berganti dengan gedung-gedung bercat baru, sebagian dengan warna cerah, nge-jreng! Sebagian jurusan, ruang kuliahnya ber-AC. Bahkan gedung Pascasarjana dan gedung UT direnovasi. Gerbang depan dan jalan masuk, pun berubah. Sebagian area parkir berubah jadi lapangan olahraga sekaligus lapangan pertunjukan.
Di area parkir yang tersisa, berjajar mobil dan sepeda motor berbagai jenis dan merek. Eh, mobil-mobil itu sebenarnya sebagian milik siswa-siswi Labschool yang menitip parkir lantaran halaman sekolahnya tidak cukup untuk menampung mobil mereka. Disana-sini, sejauh mata memandang bertebaran wajah-wajah cantik, keren, ganteng dengan gaya berpakaian yang modis, nggak kalah sama model-model yang sering berseliweran di TV. Aih…kok beda banget sama jamanku dulu ya.
Dan ini dia, perubahan yang membuatku berbunga-bunga. Sebuah gedung bertuliskan: “FAKULTAS EKONOMI”. Jurusanku dulu, rupanya sudah jadi fakultas tersendiri. Menempati gedung R, yang dulu milik Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS). Rasanya kok bangga gitu melihatnya. Makin berbunga-bunga waktu masuk ke perpustakaan pusat. Sekarang perpustakaan menambah jam bukanya hingga pukul 6 sore. Wah, coba dari dulu begitu ya...Jadi inget dulu waktu masih kuliah, sering banget bilang ke Purek 1 dan 3, minta jam buka perpustakaan diperpanjang. Tapi jawaban mereka: “Dibuka sampai jam 3 aja perpustakaan sepi, apalagi kalau dibuka sampai jam 6”. Uhh...Jawaban yang sangat-sangat-sangat tidak menyenangkan. Terlebih buatku yang hobi tidur di perpustakaan. Tapi terlepas dari itu, kok jadi iri, rasanya pengen kuliah lagi...:p
Yang namanya perubahan, dimanapun, selalu membawa konsekuensi tersendiri. Ada yang menyenangkan dan ada juga yang tidak menyenangkan. Bagi mahasiswa malas macam diriku, yang dulu sering banget menyepelekan jadwal pengisian, penyerahan dan perbaikan KRS, sistem baru jadi merepotkan. Nggak bisa sering-sering bolos kuliah pula. Bagi dosen-dosen tua yang juga sudah malas belajar, jadi merasa terpaksa belajar lagi. Maklum, sejak akhir tahun 2001, berlaku ketentuan baru, minimal harus S2.
Tapi aku nggak ngerti, apa peristiwa yang terjadi seputar pemilihan rektor baru merupakan dampak dari perubahan ini. Dulu seingatku, aku sempat mengalami 2,5 kali pergantian rektor baru yang ‘adem-ayem’ aja. Eh, kok ada setengahnya? Jadi, waktu awal-awal masuk kuliah, pemilihan rektor sudah memasuki putaran terakhir. Nah, kisruh soal pemilihan rektor kala itu ya biasa-biasa saja. Ada perang dingin. Ada perdebatan sengit di senat. Ada protes dari mahasiswa. Tapi semuanya ya biasa-biasa saja. Nah, pemilihan rektor kali ini berbuntut panjang. Pasalnya, selain rektor terpilih, ada pula rektor dipilih. Yang satu berasal dari pilihan senat, yang satunya dipilih oleh Depdiknas. Perseteruan kedua kubu membuat tampuk pimpinan di kampus jadi kosong selama beberapa bulan.
Itu baru kisruh pertama.
Kisruh kedua? SPP bakal naik lagi. Sekarang saja nilai nominalnya sudah 5-6 kali lipat dari nilai nominal SPP tahun 1999. Dampak dari perubahan rupanya memang makan biaya banyak. Ah, kalau sudah begini, aku jadi nggak iri lagi.
Posted at 04:12 pm by kisahmerahitam
Permalink
Sunday, May 14, 2006
Kawan, maaf aku tak sengaja mendengar percakapanmu melalui telepon dengan kawanmu di seberang sana. Bukan...Bukan menguping. Kebetulan kau duduk tepat disampingku dan suaramu pun lumayan keras. Tapi bukan soalan ini yang penting.
“Nggak...Aku nggak bilang sama temen-temen lain soal kerjaanku sekarang. Malu...”
Kalimatmu itu yang membuatku sedikit terhenyak. Tapi aku paham. Bahwa kau aktivis kampus pada masanya. Kawan-kawanmu – yang sebagian besar juga ku kenal – bekerja di media, LSM, lembaga penelitian, dan sejumlah kantor yang lumayan bonafid (bernama besar meski tak tahu di dalamnya seperti apa). Mungkin kau malu lantaran kau hanya berprofesi sebagai kuli naskah untuk tayangan TV yang kerap dicaci-maki banyak pihak. Sementara kawan-kawan lainnya memiliki profesi yang “wah”.
Ehm...Ya, aku juga pernah merasakan hal yang sama. Merasa minder tatkala bertemu kawan-kawan lain dan mulai berbincang tentang profesi masing-masing. Tapi itu dulu. Hingga sejumlah peristiwa nyata yang terjadi di sekitarku, menyadarkanku bahwa tak ada profesi yang lebih berharga dan berada di atas profesi yang lain. Hakim yang tak jujur, anggota dewan dan aparat pemerintah yang korup, bukankah lebih rendah dibanding pemulung yang jujur bukan?
Tapi lagi-lagi aku bisa mengerti sikapmu, kawan. Ada orang yang menganggap bahwa profesi yang digelutinya saat ini, “amat sangat bersih”. Saking “bersihnya” ia merasa pantas dan berhak untuk menghakimi orang lain atas profesi yang orang lain itu pilih. Saking hebatnya profesinya, ia menganggap profesi yang lain lebih rendah. Tak perlu kuceritakan. Aku rasa kau sudah tahu. Namun terus terang aku merasa kasihan pada orang-orang seperti ini. Belepotan lumpur tapi tidak menyadarinya.
Ucapanmu pada kawan di seberang telepon, mengingatkanku pada seorang kawan lainnya. Aku ingin memperkenalkannya padamu dan membuatmu meralat ucapanmu diatas.
----------------------------------------------------------------
Kawan lainnya adalah aktivis yang dikagumi oleh banyak pihak. Ia menolak saat ditawari bekerja di beberapa tempat, lantaran merasa tak se-ide. Merasa bahwa ia akan “ternoda” dan menjadi “rendah” jika berkompromi dengan tempat-tempat itu. Tapi selang beberapa waktu, sebuah berita mengejutkan mampir di telingaku. Sang aktivis dan jaringannya mengancam dan memeras Ketua dan Wakil Ketua KPU, atas suruhan seorang calon legislatif yang gagal mendapatkan kursi.
-----------------------------------------------------------------
Apa pendapatmu sekarang, kawan?
Posted at 02:48 am by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, May 13, 2006
Edisi masak-memasak kali ini adalah sayur bening tempe. Idenya muncul saat pengen menggabungkan dua hal yang paling saya gemari. Sayur bening dan tempe goreng.
Bahan:
- Satu potong tempe (panjang 10 cm, lebar 5 cm, tinggi tergantung ketebalan tempe), Dipotong berbentuk dadu dengan 1,5cm x 1,5 cm. bisa juga lebih besar sedikit 2cm x 2cm
- Satu buah labu siam dipotong seukuran tempe
- Sedikit cambah kedelai, dicuci bersih, buang ujung-ujung ekornya
- Daun melinjo muda (atau biasa disebut daun so), dipotong-potong
- Kol (kubis), dipotong-potong
- Sawi putih, dipotong-potong
- Sayurannya bisa diganti atau ditambah dengan sayuran lain yang anda suka. Misalnya, jagung muda, wortel, bayam, katuk, kangkung atau lainnya. Tapi saran saya jangan dicampur dengan daun katuk dan kangkung. Karena rasanya akan sedikit pahit.
Catatan: Jika anda tinggal sendiri, bahan-bahannya sedikit saja. Misalnya tempe dan labu siamnya dikurangi hingga setengahnya.
Bumbu:
- 3 siung bawang merah diiris halus
- 2 siung bawang putih diiris halus
- 1 buah tomat ukuran sedang (boleh tomat merah atau hijau, terserah selera anda), di potong-potong
- 1 ruas jari lengkuas digeprek (taruh lengkuas di papan talenan, pukul dengan ulekan atau pisau hingga penyet).
- Garam dan gula pasir secukupnya
- Boleh ditambah asam secukupnya juga
- Kalau ada, tambahkan sedikit temu kunci, supaya rasanya lebih segar, digeprek juga
Alat:
- 1 buah panci
- 1 sendok sayur untuk mengaduk
- 1 buah mangkuk untuk tempat sayur yang sudah matang
- 1 buah pisau
- 1 buah talenan (papan yang biasa digunakan sebagai alas untuk mengiris atau memotong)
Cara pembuatan:
1. Didihkan air dalam panci. Kira-kira sebanyak satu liter atau secukupnya.
2. Ketika air sudah mendidih, masukkan semua bumbu, kecuali tomat. Aduk hingga merata. Tunggu beberapa saat.
3. Masukkan bahan (sayuran dan tempe) mulai dari yang yang paling keras dulu hingga yang matangnya paling cepat.
4. Jika sayuran sudah hampir matang, masukkan tomat. Aduk kembali.
5. Setelah beberapa saat dan sayuran sudah matang (ingat, jangan sampai sayuran terlalu lembek, nanti gizinya hilang), cicipi. Jika masih kurang asin atau manisnya, tambahkan garam dan gula seperlunya.
6. Matikan kompor. Tuangkan sayur bening yang sudah matang ke dalam mangkuk.
7. Sayur bening tempe siap dihidangkan.
Catatan: Menu ini cocok bagi yang sedang menjalani diet. Kaya akan kalsium dan vitamin. Asal masak sayurannya jangan terlalu kematangan.
Selamat mencoba. Sekian edisi masak-memasak kali ini. Kita jumpa lagi di menu berikutnya.
Nb. Rasanya sedikit aneh. Tapi masih dalam batas normal. Akan terasa lebih nikmat jika disantap bersama sambal tomat atau terasi.
Posted at 11:52 pm by kisahmerahitam
Permalink
Friday, May 12, 2006
Salah satu hobiku itu mencoba sesuatu yang baru. Apa saja. Tak ketinggalan resep-resep baru yang tiba-tiba melintas dalam pikiran. Mulai hari ini, resep-resep itu akan ditulis di blog, supaya selalu ingat dan siapa tahu anda yang membacanya pun tertarik.
Resep pertama adalah Susu Jeruk Nipis. Ini resep baru. Benar-benar baru. Karena baru ditemukan pagi ini. Tapi sudah diuji-coba di dapurnya merahitam.
Bahan:
- Tiga sendok makan susu low atau non fat rasa vanila. Anda boleh menggantinya dengan susu yang anda suka.
- Satu buah jeruk nipis berukuran sedang.
- Satu gelas atau cangkir air.
Alat:
- 1 buah panci untuk mendidihkan air
- 1 buah gelas untuk tempat minumnya nanti
- 1 buah sendok makan untuk menakar susu sekaligus mengaduk
- 1 buah pisau untuk mengiris jeruk nipis
Cara Pembuatan:
1. Nyalakan kompor gas atau minyak tanah yang anda miliki. Tuangkan air ke dalam panci dan jerang di atas api. Tunggu sampai mendidih. Jika sudah, matikan kompor. (sayang bahan bakarnya kalau tidak dimatikan. Mahal kan?)
2. Tuang air yang sudah mendidih ke dalam gelas. Tunggu sampai hangat.
3. Masukkan tiga sendok makan susu ke dalam gelas yang sudah berisi air hangat tersebut. Tambahkan perasan jeruk nipis.
4. Aduk hingga merata. Jangan bayangkan susu akan larut dalam air jeruk nipis ini, karena sifat susu dan jeruk nipis yang berlainan.
5. Minuman siap untuk dihidangkan.
Catatan:
Berdasarkan pengalaman, minuman ini rasanya sangat aneh dan tidak karu-karuan. Jadi berhati-hatilah kalau anda ingin mencobanya. Atau sebaiknya tidak usah. Eh, tapi kalau tetap penasaran, tidak ditanggung akibatnya.
Sekian edisi masak-memasak kali ini.
Posted at 09:19 am by kisahmerahitam
Permalink
Thursday, May 11, 2006
Belakangan ini sering banget suntuk dan jenuh. Otak kadang rasanya penuh sampai nggak ngerti mau ngapain lagi. Penuh dengan cerita. Temen bilang:
“Elo stres tuh bu, makanya refreshing dong! Jalan-jalan kemana gitu.”
Huah! Refreshing? Jalan-jalan? Pengennya. Tapi mana sempat? Menghabiskan uang pula. Padahal kan sedang berhemat. Tapi karena nggak tahan lagi, langsung kabur ke toko buku. Niatnya cuma mau cari koran anak yang sumpah mati, susah banget ngedapetinnya. Sampai tempatnya kehabisan pula. Dasar boros! Bukannya langsung pulang malah belanja beberapa buku dan majalah dulu. Aduhai, belanja tanpa direncanakan itu memang bikin dompet dan kantung jadi kempes.
SISI DIRI 1
Ingat-ingat...Lain kali kalau mau belanja dicatat dulu. Lihat tuh, berapa nol yang kamu habisin dalam waktu satu jam?
SISI DIRI 2
Nggak papa deh...Sekali-kali ini. Lagian kan yang dibeli buku.
SISI DIRI 1
Huh...Itu sebabnya kamu nggak pernah bisa konsisten melaksanakan niatmu. Selalu ada per-maklum-an. Bilangnya mau hemat, belanja sampai gila-gilaan.
SISI DIRI 2
(ngotot) Tapi kan belinya buku...Bukan barang lainnya. Cerewet banget sih?
SISI DIRI 1
(galak) Kamu memang harus dicerewetin! Wong dicerewetin aja kamu masih begitu apalagi kalau nggak! Sekarang gini, biarpun itu buku, biarpun itu barang yang kamu suka, pakai skala prioritas!!! Kamu kan masih bisa pinjam di perpustakaan. Deket rumah gitu loh. Manfaatin fasilitas. (menegaskan) Manfaatin!!!
SISI DIRI 2
(mulai manyun) Kan nggak sempet kesana...
SISI DIRI 1
(kesal) Alasan! Main game sampai dua jam lebih sempet, masa ke perpus yang jaraknya cuma se-iprit itu nggak sempet.
SISI DIRI 2
(ngedumel) 3ere9ur3rewr-3q2342r!
SISI DIRI 1
(kesal) Huh, ngambek! Ngambek! Dasar!!!
Dan makin suntuklah diriku mendengar si 1 dan 2 berantem. Mendingan aku baca majalah dan buku yang baru ku beli. Eh, ternyata di Nirmala Edisi Mei 2006, ada artikel tentang mengurangi stres. Langsung kucoba dan hasilnya pun lumayan. Suntuk berkurang dan pikiran jadi rileks.
Anda mau mencobanya? Cara ini nggak butuh waktu lama dan nggak perlu mengeluarkan banyak uang loh. Terutama jika anda sedang berhemat dan berencana membeli pesawat terbang atau pulau pribadi, atau bahkan berlibur ke Pegunungan Himalaya, misalnya. Senangnya lagi anda pun tidak perlu mendengar si 1 dan 2 bertengkar.
Jadi begini:
1. Hangatkan tangan. Stres itu bisa bikin kita merasa dingin, apalagi di ruangan ber-AC (lah iya toh ya...nggak stres aja sudah dingin). Celupkan tangan dalam air panas (suam-suam gitu loh) selama beberapa menit. Setelah tangan dikeringkan, pakai kedua tangan untuk memegang mug (cangkir) berisi teh atau kopi panas.
2. Tahan pensil dalam mulut dengan gigi tanpa digigit. Kegiatan ini membuat otot-otot wajah menjadi relaks sehingga mengurangi stres.
3. Tekan kening dengan jari-jari selama 3-5 menit. Memijat saraf di daerah ini merupakan teknik akupresur untuk membuat otot di bagian tubuh lain menjadi relaks.
Selamat mencoba!
Posted at 11:59 pm by kisahmerahitam
Permalink
Monday, May 08, 2006
...Aku nggak percaya sama siapapun...Karena orang-orang itu hanya memandang penampilan luar...Aku lebih nyaman menjalin hubungan pertemanan lewat dunia maya...Dunia tanpa pertemuan fisik...Dunia dimana orang lain tak melihat penampilan luar kita...
Diambil dari salah satu dialog tokoh. Nantikan tayangannya di stasiun televisi kesayangan anda.
Nb. Judul masih rahasia! (halah!)
Posted at 07:28 pm by kisahmerahitam
Permalink
Sunday, May 07, 2006
Belakangan ini sudah diperingatkan untuk mulai diet lagi. Baju-baju lama sudah nggak muat. Jalan sedikit sudah ngos-ngosan, dan kayaknya mulai sakit-sakitan. Ditambah lagi malas berolahraga. Jadilah orang-orang di sekelilingku mengomel sayang.
“Nduk, dikurusin ah...Sayang tuh bajunya jadi banyak yang nggak kepake”
“Dik, ayo diet dan olahraga, biar nggak gampang sakit-sakitan.”
“Apa perlu aku jadi personal trainermu say?”
“Kalau kamu kurusan dikiiiiittt...Tambah cantik dan seksi loh!” (Haiyaaahhh!!!)
“Lihat tuh matanya makin sipit, kalah sama pipinya.” (Padahal waktu kurus, pipinya tetep chubby tuh!)
“Padahal kamu itu dulu kurus, cilik menthik-menthik, sekarang kok jadi ndut gitu! Hayo dikurusin.”
Percaya nggak, beratku waktu kelas 3 SMP dulu itu cuma 25 kg. Mulai naik ketika duduk di bangku SMK, trus naik lagi waktu kuliah, dan makin naik lagi ketika sudah mulai bekerja. Pola makan, kurang gerak dan makin hobi mencoba makanan baru jadi penyebabnya. Selain faktor keturunan juga sepertinya.
“Kalau kegendutan, ntar banyak penyakit yang mampir loh...Diabetes, jantung, bla...bla...bla...”
Iya...Iya...Mulai diet lagi deh. Dirajinin olahraganya deh. Tapi bukan demi baju-baju lama yang sudah sempit itu. Juga bukan demi cantik dan seksinya. Tapi demi kesehatan. Soalnya ngerasa sendiri kalau belakangan ini gampang sakit, gampang capek, gampang ngantuk, gampang stres (loh??). Maka beberapa waktu lalu, mulai buka-buka lagi buku dan majalah tentang diet yang pernah ku beli di masa lampau. Hasilnya ada beberapa macam pilihan. Diantaranya:
1. Diet karbohidrat
Pada prinsipnya diet ini berpantang terhadap segala jenis makanan yang mengandung karbohidrat tinggi. Misalnya nasi, roti, tepung, gula, dan sejenisnya.
2. Diet lemak
Diet jenis ini anti terhadap segala macam jenis makanan berlemak, misalnya daging merah, coklat, susu, semua produk olahan susu, kacang, buah alpukat, kuning telur, mentega, minyak goreng, dll.
3. Diet food combining
Diet jenis ini pada prinsipnya mengkombinasikan beberapa jenis makanan dengan memperhatikan kebutuhan akan kalori dan gizi yang diperlukan oleh tubuh.
4. Diet berdasarkan golongan darah
Yaitu diet yang didasarkan pada golongan darah. Misalnya untuk golongan darah O, karena gampang bermasalah dengan sistem pencernaan dan lambung, tidak boleh berpantang makanan apapun. Cukup dikurangi porsinya saja.
5. Diet detoks
Yaitu tidak mengonsumsi jenis makanan tertentu yang dianggap mengandung racun selama jangka waktu tertentu. Diet ini bisa dilakukan ketika tubuh sudah terlalu banyak mengonsumsi makanan tak sehat, makanan cepat saji dan alkohol. Atau jika tubuh mulai merasa letih, lesu dan kembung. Dengan sistem ini, sirkulasi pembuangan akan menjadi lebih teratur, fungsi hati dan ginjal akan lebih baik, kulit lebih bersih dan mulus, ketidakseimbangan hormon dan stres bisa dikurangi. (Bisa dibaca di Chic edisi No.26-I).
Berdasarkan berbagai pertimbangan, maka tersusunlah Program diet dan olahraga yang rencananya akan dilaksanakan mulai Senin (8/5) besok.
Rancangan Menu Diet:
1. Pagi
Segelas susu low atau non fat. Ditambah dua lembar roti tawar plus selada, irisan tomat. Khusus untuk hari Rabu dan Jum’at, menu ditambah dengan sebutir telur ayam kampung. Bagi yang tidak menyukai susu, bisa diganti dengan secangkir yoghurt.
2. Siang
Makan lengkap dengan porsi karbohidrat dikurangi. 6-7 sendok makan nasi, sayuran, lauk dan buah. Sayuran dan lauk matang dimasak dengan sistem rebus atau kukus. Hik...Hik...Hik...Alamat tidak bisa makan tempe goreng.
3. Malam
Segelas susu low atau non fat, sayuran dan buah. Bisa ditambah dengan satu buah kentang rebus yang ukurannya sedang.
4. Cemilan
Jika di antara waktu makan terjadi keadaan yang menyebabkan lapar, maka hanya buah dan jus buah yang jadi pilihan. Atau segelas teh tanpa gula tentunya. Singkirkan itu roti, es krim, keripik, pisang goreng dan gorengan lainnya.
5. Hari Minggu
Khusus Hari Minggu, boleh mencicipi es krim atau sepotong kecil tiramisu atau roti atau tempe goreng!!! Yummy! Ini hadiah karena sudah seminggu tubuh berpuasa dari makanan-makanan lezat tersebut. Sekaligus sebagai motivasi.
Catatan kecil: Menu diet ini sudah sempat aku praktekin, selama beberapa waktu. Hasilnya berat badan turun 5-6 kg dalam waktu 3-4 bulan. Ini tanpa dibarengi olahraga loh ya.
Jadwal Olahraga:
1. Jalan kaki keliling komplek setiap pagi dan sore hari. Minimal 45 menit. Supaya yang terbakar bukan hanya kalori tapi juga lemaknya. Menurut majalah kesehatan, di menit 30 pertama baru kalori yang terbakar. 30 menit berikutnya lemak.
2. Hari Minggu, senam kesegaran jasmani, osteoporosis, jantung, atau aerobik ringan bareng ibu-ibu di lingkungan rumah.
3. Lari pagi, cukup dua kali seminggu. Minimal 45 menit juga.
4. Gerak badan ringan waktu bangun tidur dan menjelang tidur.
5. Gosok gigi ditingkatkan. Dari 3 kali sehari menjadi berkali-kali. Terutama setelah makan, supaya nggak ada keinginan untuk makan lagi. (Menurut penelitian di majalah, gosok gigi sesering mungkin bisa mendukung program diet. Soalnya kalau udah gosok gigi, jadi males makan kan? Hehehe).
6. Menggiatkan diri dalam kegiatan cuci piring, menyapu dan mengepel kamar sendiri, serta naik turun tangga minimal 3 kali sehari (termasuk dalam kategori gerak badan ringan)
7. Berenang. Menurut penelitian ini kegiatan yang paling banyak membakar kalori. Berhubung belum bisa renang, maka terpaksa belajar renang dulu. Eh, menurut teman, belajar renang itu lebih menghabiskan kalori ketimbang berenangnya. Yuhuiiii...Btw, berenang dimana ya? Jangan di Youth Center Otista, aku pernah lihat ada laki-laki iseng ngintip dari celah di pintu kayu. Hiiiii...menyeramkan!
Catatan tambahan: Jika memungkinkan, dalam artian bisa libur satu hari penuh, mau coba diet detoks.
Selesai menyusun program ini, langsung memberitahu orang-orang di sekelilingku. Mulai dari ibu, adik, ponakan (aih, sayang...Kamu salah satu penyebab bunda sering mengonsumsi es krim), dan teman-teman, supaya mereka mendukung, mengingatkan jika aku mulai lupa dan bandel, serta berhati-hati untuk makan enak di depanku. Btw, sebenarnya tahan-tahan aja sih, lihat mereka makan coklat, snack, kacang, permen, bakso, mi ayam, ketoprak, otak-otak di depanku. Sudah nggak bisa tahan lagi kalau lihat mereka pegang es krim, roti dan cenil.
Jadi begitulah. Program sudah berhasil disusun, strategi sudah dicanangkan. Masalahnya sekarang, sanggupkah menjalaninya?
Nb: 1. Kemarin waktu ke Atrium nggak sengaja lihat Baltic’s Ice Cream. Tempat es krim tradisional yang terletak di Jalan Kramat dan sudah lama banget ku incer. Jadi pengen mampir!!!
Nb: 2. Eh, kelupaan, harus menyusun jadwal tidur juga. Menurut majalah kesehatan, tidur paling baik itu antara pukul 22.00 - 04.00 WIB. Karena dari pukul 23.00 - 01.00, sel-sel kulit tengah bekerja, memperbaiki kondisinya.
Posted at 07:50 am by kisahmerahitam
Permalink
Saturday, May 06, 2006
MIMPI ULAR = TIDAK MENYENANGKAN
Seorang kawan datang menjumpaiku. Roman mukanya berseri-seri. Cerah bersinar. (hihihi...kok malah mirip iklan pemutih wajah ya?). Setelah ngobrol kesana-kemari sampailah ia pada inti berita yang akan disampaikannya padaku.
"Semalem gue mimpi digigit ular. Itu artinya gue bakalan dilamar kan?"
"Katanya sih gitu."
Kawanku itu makin berseri-seri. Senyuman lebar menghias bibirnya.
"Emang lo percaya? Gue nggak tuh."
Senyum langsung menghilang dari wajahnya.
"Kenapa?"
"Gue tuh sering banget mimpi digigit, dikejar-kejar, dipatok sama ular. Bayangin aja, dari gue masih kecil! Sampai-sampai gue kesel. Tiap kali mimpi dikejar-kejar ular lagi, gue tangkep ularnya, gue banting-banting sampai penyet, trus gue lempar ke tong sampah dan gue bakar! Huh...Tahu rasa tuh ular!"
Kawanku pun terbengong. Kedua matanya membelalak lebar, menatapku.
"Sadis banget sih lo! Siapa tahu itu pangeran lo!"
"Huah! Pangeran kok nyeremin gitu. Muncul dalam ujudnya Orlando Bloom kek, kan nggak bakalan gue banting-banting sampai mati. Lagian emang ada yang lagi deket sama lo? Ada orang yang kira-kira bakalan ngelamar lo dalam waktu deket ini?"
Kawanku menggeleng.
"Trus, kalo gitu, sapa yang mau ngelamar lo jadinya?"
Kawanku kembali menggeleng.
"Nggak tahu."
"Ha, ya udah, nggak usah dipikirin."
"Elo tuh, bukannya nyemangatin malah bikin down! Nyeneng-nyenengin gue dikit kek!"
Aku pun cuma bisa nyengir dihadapan kawanku yang cemberut nggak karuan itu. Hilang sudah roman mukanya yang semula berseri-seri itu.
Nb.1. Maaf ya kawan...Harusnya aku nggak sesadis itu hingga memusnahkan senyum manismu dan bikin wajahmu jadi keruh. Harusnya aku bilang ke kamu, mungkin kasusnya buatku beda. Ular itu hewan yang paling kutakuti. Jadi wajar kalau hewan yang satu ini kerap muncul dalam mimpiku dan bikin aku takut setengah mati, sampai akhirnya kuuueeesseeellll setengah hidup. Itu juga sebabnya aku nggak percaya mimpi digigit ular sama dengan dilamar 
Nb.2. Tapi doaku selalu buatmu. Semoga mimpimu untuk menikah tahun ini terwujud. Amin!
Posted at 02:02 am by kisahmerahitam
Permalink
|
 |
|