Tuesday, April 25, 2006
TERKONTAMINASI

Aduh! Katanya, aku sedang terkontaminasi.

 

“Kamu kok sekarang lain sih? Nggak kayak yang dulu.”

 

Sempat bingung. Apa maksudnya? Wong aku ya masih kayak dulu-dulu juga. Masih tetap ndut; masih doyan nasi; masih maniak sama rambutan, tempe goreng, susu, cenil dan es krim; masih suka ngeliatin bintang-bintang; masih suka nyanyi-nyanyi nggak jelas di kamar mandi; masih malas olahraga; masih suka baca majalah atau koran dari halaman belakang; dan masih suka HOME-nya Michael Buble. Apa yang aneh coba? Apanya yang berubah?

 

“Tulisanmu! Cara kamu ngomong! Logatmu!”

 

Langsung senyum-senyum simpul sendiri. Nyadar juga sih kalau belakangan ini kok ngomongnya jadi kejawa-jawaan ya? Pikir-pikir, ternyata ini karena interaksi dengan sesama pecinta blog yang sering banget pakai istilah-istilah Jawa. Tapi kalau seratus persen karena teman-teman pecinta blog ya nggak juga sih. Wong dari dulu sudah suka sama tulisannya Umar Kayam yang jelas-jelas Jawa banget itu.

 

Tapi dipikir-pikir, lucu juga ya. Bisa-bisanya sampai begitu. Dan yang lebih lucu lagi, sampai-sampai kebawa mimpi. Pas ketiduran siang-siang, mimpi ada acara pertemuan para blogger. Di dalam mimpi ketemu sama Pakde Kere Kemplu, Bang Pi'i, Mas Godril, Mas Yoyok, Mas Mbilung, Mas Johan, Mbak PitoMas Rony dan yang lainnya. Kalau disebutin semua, buaaannnyaaakkk buaanget. Hehehehehehehehe...

 

Kira-kira sampeyan-sampeyan yang belum pernah kutemui, sama nggak ya aslinya dengan yang ada di mimpi? Tongue

Posted at 10:12 pm by kisahmerahitam
Comments (6)  

Monday, April 24, 2006
KADO TERINDAH

Sebuah sms mampir di HP-ku. Berisi kado terindah. Mataku langsung berkaca-kaca saat membacanya. Bukan untaian kalimat puitis, bukan pula pemberitahuan bahwa si pengirim sms membelikanku rangkaian bunga mawar; atau bahkan sony vaio yang selalu ku impikan. Bahkan bukan kalimat sakti macam “Will you marry me!” seperti yang ada di film-film.

 

Dan aku hanya bisa terharu. Seandainya kau ada disini, aku pasti akan memelukmu seerat mungkin. Lantas menatap matamu dalam-dalam seraya berucap:

 

“Terimakasih untuk kado terindah yang pernah kudapatkan sepanjang 28 tahun usiaku.”

Posted at 11:44 pm by kisahmerahitam
Comments (2)  

Friday, April 21, 2006
RAJA JALANAN

Tak Seperti Raja Lain, Raja Satu Ini Masih Harus Mengejar Setoran

 

Sore-sore saat orang-orang kantoran bubaran, jalanan macet. Sampai-sampai jalan depan komplek, yang biasanya sepi, mendadak sontak penuh dengan antrian kendaraan yang melaju super lambat. Wih…Lah kok kayak di Sudirman saja. Padahal jalanan depan komplek itu cuma jalanan kecil, yang pas-pasan dilewati dua mobil.  Sambil membonceng di jok belakang sepeda motornya Dik Kenthos -  dalam hati merasa bersyukur, sudah nggak perlu lagi mengalami masa-masa penuh siksaan, berhimpitan dalam bus kota yang penuh sesak, sumpek, panas, gerah, bau keringat plus ketiak. Dulu waktu kerja di kantor yang normal dengan jam kerja normal - nine to five – sehari minimal dua kali mengalaminya.

 

Melihat antrian kendaraan dan wajah-wajah didalamnya, hilang sudah keluh kesah selama ini. Hitung-hitung masih ada untungnya juga, tinggal di kantor dan cuma bisa pulang satu atau dua minggu sekali. Nggak perlu mandi pagi-pagi banget, nggak kecapekan di jalan, dan nggak perlu keluar uang ekstra untuk beli bedak, tabir surya, apalagi parfum – buat yang naik buskota ini penting, biar sampai kantor kembali fresh dan nggak bau keringat orang satu bus.

 

Loh, kok malah ngelantur. Ini mau cerita apa toh?

 

Ya…Ya…Ya…Jadi kemarin sore, ceritanya mau ke rumah si headwriter, ngambil honornya anak-anak. Jaman sudah maju, Bang Miun dan Bang Badil yang pernah disinggung Mas Yoyok sudah buka cabang dimana-mana, tapi honor masih harus ambil langsung. Ada untungnya juga sih. Kalau di jalan lihat gorengan atau tukang es campur bisa mampir.

 

Loh…Jan, ngelantur lagi. Jadi kapan cerita soal raja jalanannya?

 

Tolong dimaklumi. Hobi bercerita sih. Untung cita-cita jadi penyiar radio belum kesampaian. Kasihan pendengarnya nanti harus dengerin ndobosan nggak penting yang meluncur tanpa henti dari mulutku. Masih lebih bagus baca ndobosan yang satu ini.

 

Balik lagi ke soal awal – sekarang serius, tenan! Sesampainya di pertigaan Jalan Otista – Cawang Baru Tengah, samping SOTO SEMARANG "TENAN" yang pernah dipotret Pakde Kere Kemplu, lampu menyala merah. Terpaksa Dik Kenthos menghentikan sepeda motornya. Lah, di seberang kanan, mikrolet no.26 Jurusan Kp.Melayu–Bekasi, ngetem seenaknya. Bikin lalu lintas jadi macet dan semrawut. Bunyi klakson dari mobil-mobil yang mau lewat, terdengar bising. Kuping rasanya jadi budeg. Belum lagi asap knalpot yang makblas-makblas menerpa wajah, bikin jerawat makin punya kesempatan untuk merajalela. Tapi si sopir angkutan, tak merasa bersalah. Asyik duduk sambil menunggu angkutannya penuh. Ehm…Pasti ngejar setoran.

 

Tiba-tiba dari sebelah kiriku, terdengar suara seorang pemuda. Ngedumel. Nada suaranya kesel.

 

"Belagu. Sok jagoan. Emangnya yang punya jalanan ini dia?"

 

Maktratap…Langsung deg-degan…Ngomelin siapa ya? Dengan penasaran kutolehkan kepala ke arahnya. Loh, pemuda yang kutaksir baru berusia awal 20-an itu, menatap marah ke arah sopir angkutan. Wajah si pemuda tampak asem. Sama sekali nggak sedap dipandang mata.

 

"Udah tahu lampu merah, ngetem seenaknya. Minggir atau majuan dikit kek. Ntar giliran ditilang polisi aja, ngiba-iba…(berubah memelas) Ampun pak, saya cuma cari makan, tolong jangan ditilang…(kembali geram) Huh dasar! Kalau gue yang jadi polisi, nggak bakalan gue kasih ampun. Kalau perlu gue hajar!"

 

Dan pemuda itu terus mengomel panjang-pendek nggak karuan. Aku nggak ndengerin lagi. Lampu sudah keburu menyala hijau. Dik Kenthos pun ngebut dan langsung masuk gang rumah si headwriter. Tapi dalam hati, aku membenarkan omelan si pemuda. Di Jakarta ini, jalan-jalan menjadi milik para sopir angkutan umum. Mereka bertingkah seenak udelnya sendiri. Berhenti suka-suka; menaikkan dan menurunkan penumpang pun suka-suka; sampai-sampai buang air kecil pun sesukanya, bayangkan, di balik pintu mobilnya! Kalau ditegur, pasang tampang garang ngajak perang.

 

Sopir bus ber-AC tetap klepas-klepus asyik merokok meski di depannya terpampang tulisan "DILARANG MEROKOK". Kalau ditegur, jawabnya: "Kalau nggak mau kena asap rokok, naik taksi aja sana!". Yah, mau gimana lagi. Terpaksa diam lagi. Mau naik taksi, budget kok nggak cukup untuk jarak sejauh Kalideres-Blok M. Apalagi kalau harus tiap hari. Bisa jebol kantong. Untung aku nggak perlu lagi menempuh rute itu. Kalideres atau Blok M sudah lama kutinggalkan.

 

Tapi nggak semua sopir angkutan bertingkah menyebalkan. Ada juga yang santun dan menyenangkan. Biasanya mereka ini para pemenang Ajang Sopir Teladan (namanya apa ya? aku kok lupa) yang diselenggarakan Pemda DKI setiap tahun. Dulu, waktu masih berkantor di Kalideres, sering banget numpang bus-nya si Bapak Sopir Teladan, patas AC 50 Jurusan Kp.Melayu-Kalideres. Jadi kenal dan sering ngobrol. Mendengar cerita-ceritanya, serasa sedang tidak berhadapan dengan si Raja Jalanan yang membuat sebal banyak orang. Tapi orang seperti Si Bapak Sopir Teladan itu tak banyak jumlahnya.

 

"Hidup jadi sopir itu keras mbak. Tiap hari muterin jalanan. Rebutan penumpang. Beruntung yang dapet trayek gemuk. Kalau trayeknya sepi dan saingannya banyak, mumet ini kepala. Mana anak-bini di rumah taunya kita ini pulang bawa uang. Kadang-kadang saking pusingnya mikirin setoran buat bos dan buat yang di rumah, serasa mau pecah kepala. Kalau begitu, biasanya saya nongkrong aja sama temen-temen di terminal. Minum atau main judi kecil-kecilan."

 

"Loh, kan duitnya malah habis Pak."

 

"Tapi hati puas mbak."

 

Aku hanya bisa mengangguk. Sementara sopir mikrolet no.01 Jurusan Kp.Melayu-Senen itu terus bercerita. Tentang uang setoran yang kadang tidak berhasil mereka penuhi. Tentang tuntutan hidup yang semakin mencekik leher. Tentang preman-preman yang memalak mereka.

 

Dalam salah satu perbincanganku dengan Mas Godril, beliau dengan arifnya bilang bahwa kekerasan serta kegarangan sikap para sopir angkutan itu lebih karena mereka terdesak oleh keadaan. Setiap hari mereka harus bergelut dengan kerasnya kehidupan di jalan. Sementara mereka tak punya tempat atau sarana untuk melampiaskan kekesalan sekaligus kekecewaan yang mereka alami.

 

Aku setuju itu. Sama seperti aku memaklumi sifat arogan mereka saat harus mengejar setoran. Tapi aku tak bisa mentolerir kesembronoan mereka, yang demi mengejar setoran, hingga mengorbankan nyawa orang lain. Seperti yang terjadi beberapa hari kemarin, di pintu lintasan kereta api Duren Kalibata.

 

 

Foto diambil dari   kompas, tentunya tanpa seijin mereka.

 

Kaitan berita:

 

* KRL Pakuan Tabrak Metromini, 5 Tewas

* Tujuh Tewas Ditabrak KRL Kereta Jakarta-Bogor

* KRL Hajar Metromini

* Sopir Metromini Maut Dijadikan Tersangka

 

 

Nb. Beberapa penggalan kisah yang kemudian menyatu lantaran sebuah peristiwa sederhana yang terjadi kemarin sore.

Posted at 11:57 pm by kisahmerahitam
Comments (4)  

Monday, April 17, 2006
SEBUAH CATATAN KECIL

Algojo Itu Bernama Rating; Kekerasan Dan Airmata Masih Menjadi Primadona

"Sinetron yang itu nggak jadi diputus sama RCTI. Ratingnya naik lagi. Masuk Top Ten".

Wah. Padahal beberapa hari sebelumnya, RCTI dan PH yang bersangkutan memberikan signal bahwa sinetron yang itu bakalan diberhentikan masa tayangnya, gara-gara selama 3 minggu ratingnya melorot terus sampai angka 24. 

Sebenarnya nggak aneh kalau sinetron itu kembali masuk Top Ten. Masa tayangnya yang cukup lama – sekarang sudah memasuki episode ke-102, membuat sinetron ini memiliki penggemar setia. Dan selama masa penayangannya, sinetron ini hampir tak pernah terlontar dari Top Ten. Bahkan setahun lebih ia selalu menduduki rating no.1. Cacian dan makian yang kerapkali dilontarkan padanya, tak menggoyahkan kedudukannya.

Ketika tiga minggu yang lalu ia terlempar dari Top Ten, aku dan headwriterku langsung menganalisanya. Apa penonton mulai bosan? Apa konflik cerita sudah tidak memikat lagi? Apa sinetron saingan yang ditayangkan pada hari dan jam yang sama lebih bagus? Apa bintangnya sudah tidak menarik lagi? Dan bla..bla..bla..Hasil analisa menyimpulkan bahwa jalan cerita yang bertele-tele dan konflik yang datar adalah penyebab utama kejatuhan sinetron ini. Gimana ceritanya nggak bakalan bertele-tele kalau jumlah episodenya saja sudah sebanyak itu? Salut buat penulis sebelumnya yang menulis ceritanya dari episode 1-84. Aku yang baru nulis 18 episode lanjutannya saja sudah keteteran.

Konflik yang datar. Ehm…Ini haram hukumnya. "Sinetron itu harus menarik, bombastis dan nggak datar. Harus banyak action-nya. Kalau nggak, siapa yang mau nonton?". Itu kata headwriterku. Juga kata beberapa produser – yang langsung marah-marah nggak karuan tiap kali sinetron mereka turun ratingnya. Dan produser, orang bagian desain produksi, editor, serta sutradara, langsung kasih masukan. Rupanya mereka pun ikut menganalisanya. Gimana nggak, ini salah satu produksi unggulan mereka, je! "Balik ke format lama! Si anu dibuat lebih jahat dan si anu harus lebih menderita lagi. Pokoknya harus banyak airmata! Kalau bisa setiap scene itu harus bikin penonton merasa kasihan sama si anu!"

Oke! Maka cerita yang kemudian dibuat sesuai permintaan mereka. Kekerasan dan airmata mendominasi cerita. Dan melejitlah ratingnya. Masuk kembali ke Top Ten. Produser pun bernafas lega, sembari berucap, "See…Penonton itu lebih suka cerita yang begitu!"

Ini bukan hal yang baru buatku. Sejak awal memutuskan terjun ke dunia ini, sudah diwanti-wanti. "Jangan terlalu idealis. Turuti maunya mereka. Mereka itu lebih ngerti tayangan seperti apa yang bakal ditonton. Dan rating itu nomor satu. Jangan disepelein!"

Aku cuma bisa manggut-manggut. Awalnya nggak terlalu percaya. Masa sih penonton maunya yang gitu-gitu aja. Mungkin kalau dibiasain ngeliat tontonan yang lebih soft, selera mereka pasti bisa berubah. Maka 1,5 tahun yang lalu, ketika diminta menulis salah satu produksi sebuah PH yang berkantor di Cikini,  ceritanya sengaja kuubah. Lebih soft. Intensitas kekerasan dan airmata dikurangi hingga 70%. Tapi seminggu kemudian, ketika AC-Nielsen mengeluarkan hasil rating, sang produser mencak-mencak nggak karuan! Pasalnya ratingnya langsung drop. "Bikin yang lebih keras lagi!". Dan ketika cerita kembali penuh dengan siksaan, tangisan, kelicikan, penderitaan, rating melonjak naik. Tidak tanggung-tanggung, langsung no.1. Aku masih ingat, salah satu adegan dalam episode itu, si tokoh yang baru kelas 1 SMP, digantung oleh tantenya yang jahat.

Ini bukan apologi. Apalagi pembelaan. Ini dunia sinetron seutuhnya. Bahwa rating masih didewakan. Bahwa kekerasan dan airmata masih menjadi favorit penonton. Bahwa aku masih terjajah!

Nb. Buat kawan-kawan senasib! Salam Setengah Merdeka!!!

Posted at 11:42 am by kisahmerahitam
Comments (10)  

Thursday, April 13, 2006
MARI BERHEMAT

Foto diambil dari austinchronicle

Wah jan elok tenan himbauan yang disampaikan Presiden SBY pagi ini. Beliau bilang kalau kita harus berhemat. Masa jarak cuma 30m, telepon-teleponannya sampai seperempat jam. Wong presiden sendiri kalau nelepon cuma 3 menit loh. Catat itu! Cuma 3 menit!

Beliau bilang kalau mau membicarakan masalah penting dan butuh waktu lama ya mending ketemuan saja, daripada membuang-buang uang dan pulsa. Sampai 7 trilyun rupiah per bulan. Mending kalau bayar sendiri atau dibayarin pacar. Lah ini, pakai uang rakyat je. Catat itu! Pakai uang rakyat!

Njuk, kalau tidak pakai telepon, berapa biaya dinas yang bakalan dihabiskan untuk ketemuan Pak Pres? Gimana kalau ketemuannya itu sambil kongkow-kongkow minum kopi di kafe? Atau sambil belanja di Singapura? Atau sambil nonton Piala Dunia yang bakalan digelar Juni nanti di Jerman? Njuk opo ora luwih elok iku?

 

Nb. Sedang menghitung anggaran telepon pribadi. Wuih...Harus berhemat! *mati-matian menahan jempol tangan untuk tidak menekan nomor teleponnya* Big Smile

Posted at 08:44 am by kisahmerahitam
Comments (4)  

Tuesday, April 11, 2006
POKEMON MANIA

Kata teman namanya ONET. Aku menyebutnya Unyet-Unyet, lantaran salah satu tokoh dalam game ini gambarnya lucu dan mringkel-mringkel nggak karuan. Sejak pertama kali kenal game ini, langsung kecanduan untuk main. Penasaran sih sebenarnya. Dan kebiasaan jelekku, kalau sudah penasaran sama satu hal, pasti dicecar habis. Nggak peduli banyak hal lainnya yang jadi terbengkalai. Nggak sempat nulis di blog; nggak sempat ke dokter gigi; nggak sempat cari HP baru - padahal yang lama udah teriak-teriak minta ampun pengen buru-buru diganti; dan yang lebih parah, kerjaan pun terkena imbasnya.

Akibatnya, sampai detik ini kerjaan yang harusnya sudah kelar dari minggu kemarin, malah belum selesai sama sekali. Surat kontrak kerja yang harus disiapkan dari minggu yang lalu, draft pertamanya pun belum jadi. Aduhai...

Padahal gara-gara si unyet-unyet ini juga, sakit kepalaku kambuh. Gimana nggak langsung pusing tujuh keliling melototin gambar-gambar yang ukurannya kecil-kecil dan hampir sama itu? Salah satu teman langsung menjuluki-ku MOP alias Master of Pokemon. Hahahaha...Tapi gara-gara pujian sekaligus sindiran itu jadi sadar kalau banyak hal lain yang lebih penting dari sekedar "memenangkan si Unyet-Unyet!"

Nb. Buat seseorang, maaf ya, jadi tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Tapi jangan salahkan Unyet-Unyet. Salahkan aku yang tak bisa mengatur waktu  dan sering menunda pekerjaan. Big Smile

Posted at 08:13 am by kisahmerahitam
Make a comment  

Sunday, April 09, 2006
MARI KE BANDUNG

Mengunjungi Calon Primadona Wisata Baru di Kota Kembang

Satu minggu yang lalu, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Bandung. Menyelesaikan sedikit urusan sekaligus refreshing. Mencari suasana baru saat diri sedang berada di titik kejenuhan tertinggi. Dan kebetulan sejak Desember tahun lalu, nggak pernah bisa libur. Kerjaan numpuk nggak ada habis-habisnya.

Keberangkatan waktu itu pun sempat terancam batal. Jam 4 sore, waktu lagi packing, ditelepon, harus edit naskah secepatnya. Malam itu juga harus dikirim. Terpaksa balik lagi ke kantor. Ngedit naskah dengan terburu-buru sambil sesekali melihat jam dinding. Akhirnya kelar juga jam setengah tujuh malam. Begitu naskah selesai dikirim, langsung pulang ke rumah, ambil tas dan bareng adik ngebut ke stasiun. Celakanya sampai di stasiun, kereta terakhir ke Bandung baru saja berangkat. Sempat bingung mau tetap ke Bandung atau nggak? Naik bus atau travel? Akhirnya, seorang kawan men-sms-ku.

"Naik travel (titik-titik, nggak etis toh nyebut namanya!) aja, kantornya di daerah Kwitang, dekat pom bensin. Itu travel resmi".

Maka Minggu (2/4) dinihari, sampailah di kota kembang tersebut. Setelah cari penginapan dan tidur sebentar, siang harinya berkeliling kota. Termasuk mencari lokasi Kopi Aroma yang katanya legendaris itu. Mas Dhenny yang jadi guide ternyata belum begitu hapal Kota Bandung. Hehehe...Jadi sempat tanya-tanya dulu sama petugas resepsionis di hotel dan orang-orang yang ditemui di jalan. Akhirnya ketemu juga. Tapi sayangnya tutup. Rupanya setiap hari Minggu, pemilik Aroma Coffee itu menutup tokonya. Rencana untuk beli kopi pun batal. Kebetulan sudah waktunya makan siang. Mas Dhenny pun mengusulkan untuk pergi makan di daerah Punclut.

Terletak di ujung Ciambeuleuit (aduh, tolong dikoreksi ejaannya ya!), Punclut adalah salah satu bukit yang memagari Kota Bandung. Yang tidak membawa kendaraan pribadi lebih baik naik ojek. Cukup lima ribu rupiah. Tapi kalau mau dan kuat jalan kaki juga tidak masalah. Hanya saja jalan yang mesti dilalui cukup terjal. Sepanjang lebih dari 1 km dan terus mendaki. Dijamin ngos-ngosan, lutut lemas dan keringat bercucuran, begitu sampai di puncaknya.

Jangan bayangkan kita akan menemui restoran mewah dengan fasilitas yang wah. Hanya ada warung-warung yang dinding dan lantainya terbuat dari batang bambu yang sudah dibersihkan dan dibelah-belah, kemudian dilapisi tikar pandan atau karpet tipis. Atapnya terus terang lupa terbuat dari apa.

Lebih dari 15 warung berderet di sepanjang tempat itu, menawarkan menu yang seragam. Aneka masakan pepes, gorengan, lalapan dan sambal terasi. Tapi yang spesial, ada tiga macam nasi di tempat ini. Nasi putih, yang biasa kita makan sehari-hari; nasi merah dan nasi hitam (terbuat dari beras ketan hitam).

Kami pun memesan nasi hitam, pepes belut, pepes tahu, pepes oncom, pepes ikan mas, pepes jamur, ayam bakar, ayam goreng, belut goreng, tahu goreng, lalapan, sambal terasi dan teh tawar. Sambil menunggu pesanan, kami memandang ke kejauhan. Ke arah Kota Bandung yang terletak jauh di bawah. Membentang memenuhi sepanjang lembah dengan berbagai bangunan beraneka ragam. Angin sepoi-sepoi bertiup, melenakan dan bikin ngantuk. Tapi nggak lama, makanan pesanan pun datang yang langsung kami habiskan. Pepesnya menurutku biasa saja, tapi sambal terasinya rruuuaarrr biasa! Segar dan pedas. Cocok dengan nasi hitamnya yang sedikit berminyak. Wuaaahhh...Super kenyang setelahnya. Dan rasanya cukup sebanding dengan pengorbanan untuk mencapai tempat tersebut.

Di warung yang kami datangi tersebut, banyak pengunjung yang berasal dari kota lain atau daerah sekitar Punclut. Ada rombongan pengendara sepeda balap, ada keluarga, ada pasangan kekasih, ada pula anak-anak muda yang hanya ingin sekedar bersantai setelah kebut-kebutan di sepanjang jalan yang membentang di daerah Punclut.

Selesai makan, kami berjalan pulang. Aku ngotot untuk jalan kaki. Meski waktu itu saltum, pakai high heels...Aduuuhh, nggak tahu kalau bakal ke tempat seperti ini. Kalau tahu kan sandal di hotel bisa ku ambil :p Mampir sebentar di sebuah warung dan beli kripik Punclut. Di labelnya tercantum tulisan "NO KOLESTEROL". Tapi bukan karena itu aku membelinya. Lebih karena kripiknya luar biasa renyah, tidak terlalu gurih dan tidak terlalu manis. Ada kripik ubi, pisang, singkong dan talas. Yang alergi dengan talas, sebaiknya jangan memakannya. Kalau tetap nekat, paling-paling bibirnya sedikit gatal-gatal.

Meski tidak sampai 24 jam di Bandung, tapi rasanya kunjungan ke-5 ku di kota ini cukup menyenangkan. Dan itu karena Punclut. Entah kenapa merasa yakin kalau Punclut bisa menjadi primadona wisata baru di Bandung, selain kampung daun dan tempat makan lainnya. Bagi orang Jakarta sepertiku, Punclut dengan segala kesederhanaannya, justru menawarkan hal baru dan membuat pikiran jadi segar kembali.

Thanks ya Mas Den...Atas rujukan tempat makannya. Lain kali aku pasti kesana lagi!

Posted at 10:50 pm by kisahmerahitam
Comment (1)  

Wednesday, March 29, 2006
SALAH SIAPA?

Cari Kerja Itu Susah!

Ari, gadis manis, berkulit sawo matang dan berperawakan mungil adalah lulusan D3, di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, mengeluh dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang cari kerja susah mbak...Udah coba ngelamar kemana-mana tapi nggak ada hasilnya. Saking susahnya kadang aku cuma pake ijazah SMU-ku, buat ngelamar kerjaan, biar mereka mau terima karena nganggap aku mau digaji murah. Tapi yang ada malah nyasar ke yayasan-yayasan yang ngakunya nyariin kerjaan tapi ujung-ujungnya minta duit".

Ipul, cowok betawi, lulusan STM, terima bekerja sebagai "tenaga bantu" di sebuah kantor-kantoran karena tempat kerjanya yang lama bangkrut. "Nggak apa-apa deh mbak, yang penting tiap bulan masih terima duit, biarpun cuma kecil. Yang penting kerja. Habis ngelamar kemana-mana nggak keterima".

Lain lagi dengan Aan, gadis berusia 28 tahun yang makin hari makin galau karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Padahal dia termasuk rajin mengirim surat lamaran ke setiap iklan lowongan kerja yang terpampang di media cetak. Selalu datang setiap kali ada Job Fair dan menyempatkan diri mendatangi Walk Interview yang biasanya diadakan di hotel-hotel. Tapi hasilnya nihil. "Gue pernah dateng ke satu tempat, bilangnya mereka butuh tenaga finance, ujung-ujungnya gue malah diajak jualan panci di daerah Bogor".

Kisah Tono jauh lebih menyeramkan. Sambil bersandar di tembok dan berselonjor kaki, meluncurlah suara berat dari bibir pemuda berusia 20 tahun dan berwajah keras ini. Logat Jawa-nya begitu kental. "Yah piye meneh mbak...Aku terpaksa dadi preman nang terminal, njaluki duit, wong nyari kerjaan susah he..."

Setelah mendapatkan pekerjaan apakah kondisinya jauh lebih baik?

 

Sudah Dapat Kerja, Ternyata Masih Susah Juga!

Putra, pemuda berusia 24 tahun, lulusan sebuah universitas swasta di Jakarta. Kurus dengan mata sayu dan rambut sedikit ikal. Merasa tidak sreg dengan pekerjaannya saat ini sebagai salah satu tenaga marketing di sebuah bank swasta di Jakarta juga. "Saya nggak dapat gaji mbak...Uang transport sama makan juga nggak. Saya dan temen-temen cuma dikasih fasilitas telepon untuk nelepon calon klien. Kalo tembus, ya kami dapat komisi. Kalau nggak sesuai target, kami dipecat. Makanya kalau ditempat mbak masih nerima pegawai, saya mau deh".

Desma, gadis mungil berjilbab, terpaksa tetap bertahan ditempatnya bekerja. Setelah hampir sepuluh tahun "mengabdi" ditempat tersebut, bukannya mendapat kenaikan gaji berkala tapi justru penurunan gaji, ditambah adanya potongan-potongan lainnya. Alasannya  tempatnya bekerja tidak seramai dulu. Pasaran sedang lesu. Ia tak memilih pindah karena takut tak bisa mendapatkan pekerjaan.

Oneng, gadis ceria dan bersemangat itu harus terbaring di tempat tidur. Pekerjaannya sebagai sales mengharuskan ia berkeliling Jakarta tiap hari. Naik-turun bus, metromini, angkot, ojek, bajaj, dan segala jenis angkutan umum di Jakarta. Seringkali sambil membawa contoh barang atau bahkan barang pesanan pelanggannya yang kadang beratnya sampai berkilo-kilo itu. Setelah beberapa tahun menjalani rutinitas tersebut, dokter memvonisnya menderita penyakit tipes dan maag akut serta mengharuskannya beristirahat total. Tanpa tunjangan kesehatan sedikitpun, ia justru diberhentikan dari tempatnya bekerja.

Mukadi, lelaki berusia hampir 40 tahun itu telah bekerja hampir 20 tahun lamanya di salah satu rumah produksi sebagai kurir. Gaji yang diterimanya tak lebih dari lima ratus ribu per bulan. Dengan penghasilannya tersebut, ia harus menghidupi keluarganya, membayar rumah kontrakan di pinggiran Jakarta dan membiayai sekolah kedua anaknya. Untungnya sang istri membantunya dengan berjualan kecil-kecilan di rumah.

* * * * *

Ini adalah rangkuman hasil percakapan singkat saya dengan beberapa orang. Beberapa saya kenal baik namun beberapa lainnya hanya kenal sambil lalu, ngobrol singkat untuk ngisi waktu saat nunggu bus di halte, terminal atau sekedar ngantri di sarana-sarana publik. Nama-nama terpaksa saya samarkan untuk merahasiakan identitas mereka. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi saya tidak mungkin menuliskan semuanya disini. 

Kenapa saya mem-posting cerita buram tentang para para pencari kerja?

Beberapa hari lalu saya terhenyak saat membaca ribuan CPNS berunjukrasa setelah merasa "dibohongi" oleh panitia penerimaan CPNS yang kemudian mengkambinghitamkan hal itu sebagai kesalahan sistem di komputer. (hahaha...Saya tertawa geli saat membaca alasan tersebut. Bodoh bener sih?).

Tadi, saya kembali terhenyak saat menonton berita ratusan buruh berunjukrasa menentang revisi UU Tenaga Kerja. Terus terang, saya tidak tahu seluruh isi UU Tenaga Kerja. Tapi yang saya tangkap, revisi ini  membawa dampak buruk bagi para buruh (tenaga kerja). Pengurangan standar UMR, penghapusan cuti dan fasilitas serta kemudahan bagi para tenaga kerja. Kalau tujuannya untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan perusahaan, apa pembuat kebijakan lupa kalau sistem yang berlaku selama ini toh hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan. Bukan kepada buruh. Mereka - ralat termasuk saya di dalamnya - selalu menjadi objek penderita. Di-eksploitasi habis-habisan.

Ketika perusahaan mengalami krisis, keuntungan menurun, buruh yang terkena dampaknya. Namun sebaliknya jika perusahaan mengalami kemajuan. laba berlimpah, apa buruh juga mendapatkannya? Ehm...Saya jadi ingat beberapa tahun silam. Almarhum ayah saya - dipaksa mengundurkan diri dari tempatnya bekerja hanya karena, sebagai salah satu pengurus serikat pekerja, ayah dinilai terlalu vokal memperjuangkan hak-hak pekerja ditempatnya. Saya masih merasa beruntung, karena nasib ayah saya tidak setragis Marsinah atau buruh lainnya yang "menghilang" atau meninggal secara mendadak tanpa diketahui penyebabnya.

Sampai sekarang saya tetap tidak habis pikir, apa yang salah sebenarnya? Kenapa pemerintah dan kroni-kroninya dari jaman "Soe" sampai jaman "Soe" lagi tetap saja lebih mementingkan kepentingan segelintir orang. Oh, sebentar, saya lupa...Mereka (maksud saya, Soe dan kroni-kroninya itu) punya barter khusus dengan segelintir orang ini. Saya tak perlu jelaskan toh? Sudah banyak yang tahu. Sudah jadi rahasia umum.

Tapi tetap saja saya masih tidak habis pikir. Kenapa selalu rakyat banyak yang jadi korbannya? Kenapa nggak sekali-sekali dibalik, si Soe-Soe, kroni-kroninya serta segelintir orang itu? Kenapa para pemikir dan pengambil keputusan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah ketenagakerjaan ini dan malah makin membuatnya jadi ruwet? Katanya negeri ini kaya dan masih banyak bidang yang belum digarap? Tapi kenapa tiap tahun masih saja ada potret buram tentang para pekerja?

Kenapa? Siapa yang salah?

Aah, saya nggak tahu. Yang jelas jangan salahkan jika kriminalitas makin meningkat. Dan jangan salahkan para waria yang jumlahnya makin bertambah*. Jika perut sudah menjerit, siapa yang bisa disalahkan?

 

Nb.1. Masih terhenyak dan sesekali mengutuk diri sendiri yang cuma bisa posting di blog tanpa mampu berbuat apapun.

Nb.2. * Kutipan percakapan seorang kawan dengan salah satu waria di taman bawah Jembatan Jatinegara, samping ruas rel Jatinegara-Klender.

"Saya sebenarnya laki-laki beneran mas. Kalau siang saya nguli. Tapi duitnya nggak seberapa. Kadang buat makan aja nggak cukup. Makanya kalau malam saya begini, lumayan buat tambahan..."

"Kenapa nggak nyari kerjaan lain?"

"Bosen. Udah ngelamar kemana-mana tapi nggak ada satu pun yang diterima."

"Lah, mas-nya kalau dandan begini terus ngapain aja?"

"Yah, cuma mijet aja mas sambil nemenin ngobrol. Kalau diajak macam-macam saya biasanya nolak. Saya masih normal, kok mas".

"Istri situ tahu?"

Dan mas-nya pun mengangguk.

Saat mendengar cerita kawan saya tersebut, saya lantas membayangkan bagaimana mas itu tampil begitu macho di siang hari dan terpaksa jadi kemayu di malam hari. Tapi saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mas itu maupun istrinya yang tiap malam menyaksikan suaminya berdandan perempuan.

Tapi saya jadi berpikir, apa yang akan dilakukan para penentu nasib negeri ini kalau ia tahu tentang hal ini?

Nb.3. Maaf kalau postingnya nggak runut. Tapi saya memang sedang muak!

Posted at 11:26 pm by kisahmerahitam
Comments (6)  

Saturday, March 25, 2006
RAMALAN HARI INI

Intinya Taurus Itu Workaholic, Lupa Keluarga, Teman, Pacar dan Tidak Kenal Saturday Night Fever!

 

Nggak percaya? Baca ramalan bintang hari ini yang iseng aku copy+paste dari  situs jaringan pertemanan dunia maya. Buatku sendiri, ramalannya kok bener banget ya?

 

$ $ $ $ $ $ $ $ $

The Bottom Line:

Your conservative ideas are fighting your more radical ideas. Today, one will win.

In Detail:

You're a hard-working individual, as diligent -- okay, stubborn, even -- as anyone can possibly be. But there's more to life than just making sure you take care of your responsibilities. How about another type of responsibility? Like maybe the duty you owe to your family and loved ones? You remember them -- the people who keep complaining because they haven't seen you in so long? Give them, and yourself, a break. Take just a little bit of time off. Just a tad. 

$ $ $ $ $ $ $ $ $

 

Nb.1. Nggak tahu mau nulis apa setelah kecapekan ngerjain revisian dan agak-agak nggondok karena nggak jadi hunting lokasi buat perpustakaan.

Nb.2. Lagi beneran kangen sama orang-orang tercinta.

Nb.3. Pengen buru-buru hengkang dari depan monitor tapi 'pacar' tersayang - komputer bergambar tempel Onyit imut berwarna pink - menahanku. Hey, it's saturday night, hun...and you still want me to be here, in front of you? Angry 

Nb.4. Pembatas tulisan sengaja pake gambar $, dengan  jumlah sama seperti jumlah huruf nama sebuah tempat yang penuh dengan taburan "bintang" dan "$". Ini pembangkit semangat ala  Paman Gober, yang kaya raya, punya gudang uang dan bukan sekedar  celengan. Apalagi dia kini juga sudah kenal kredit bank segala.

Nb.5. Kalau pake gambar Rp, takut nggak semangat ngerebutnya. Hahahaha... (Aih...Kok matre ya?)  

Posted at 07:30 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

Thursday, March 23, 2006
SURAT TERBUKA KEPADA MENDIKNAS

Pagi-pagi waktu buka email dapat kiriman menarik dari seorang kawan. Sebenarnya masalah lama. Sudah mengemuka sejak jaman aku kuliah, bahkan mungkin sejak aku masih berseragam putih-merah. Tapi nggak tahu kenapa, yang mulia diatas sana yang asyik duduk santai di ruang ber-AC lengkap dengan sofa empuk dan karpet setebal kasur, tak mengindahkannya.

Dan ini isi email tersebut.

----------------------------------

Tolong! Anak Saya Bukan Anak Jenius!
 Oleh Trisno S Sutanto*

 BAPAK Menteri yang terhormat. Saya telah melayangkan surat ini ke lembaga Bapak. Akan tetapi, mengingat surat ini ditulis bukan oleh orang yang penting, melainkan dari rakyat jelata, dari seorang ayah yang merasa prihatin melihat nasib pengajaran anaknya, besar kemungkinan bapak tidak akan menerima surat ini. Atau, kalau toh Bapak menerimanya, besar pula kemungkinan Bapak tidak bersedia membacanya.

Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk menjadikan surat ini "surat terbuka" yang dapat dibaca oleh semua orang, khususnya para ayah-ibu yang prihatin melihat hancurnya sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah tempat anak mereka menimba ilmu. Sebab, menurut saya, apa yang terjadi pada anak saya lebih kurang juga dirasakan pada anak-anak seusianya.

Bulan ini, jika tidak ada aral melintang, anak saya akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Kini ia kelas II di sebuah SLTP Katolik yang cukup terpandang di daerah Jakarta Timur. Akan tetapi semenjak dua-tiga bulan terakhir, kata "sekolah" dan "belajar" bagianya telah menjadi hantu yang sangat membebani pikiran dan perasaannya. Awal Mei lalu, tepat pada "Hari Pendidikan Nasional", misalnya, anak saya menyatakan mogok pergi ke sekolah.

Alasannya sederhana: "Aku benci sekolah!" Sebagai orangtua, saya memang dapat memaksa agar dia tetap pergi ke sekolah. Namun, menurut saya, model pemaksaan seperti itu tidak akan memecahkan persoalan. Jadi saya membiarkan ia tidak pergi ke sekolah, dan menjadikan hari itu sebagai kesempatan untuk mendiskusikan alasan-alasan ia mogok bersekolah.

Hasilnya sudah dapat diduga, akan tetapi tetap mengejutkan bagi saya sebagai orangtua. Pertama-tama ia berkeluh kesah tentang begitu banyak mata pelajaran yang harus dia telan mentah-mentah, tanpa dia tahu untuk apa dan mengapa dia harus menelannya. Kata "telan mentah-mentah" sengaja saya pilih, karena hanya itulah padanan yang paling tepat bagi system pengajaran
yang (masih terus) mengandalkan pada "hafalan mati" - walaupun sudah begitu banyak kritik pedas yang ditujukan pada sistem seperti itu.

Standar Kurikulum
Memang benar, dewasa ini orang berbicara tentang KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan "otonomi khusus" masing-masing sekolah. Akan tetapi, pada praktiknya, tetap saja setiap sekolah akan berusaha memenuhi standar kurikulum yang dibuat Depdiknas, agat tidak dinilai "ketinggalan" dari sekolah-sekolah "favorit". Apalagi, dalam sistem KBK, faktor pendidikan guru sebagai "fasilitator" (perhatikan: bukan sebagai guru tradisional, sumber-segala-sumber ilmu pengetahuan) akan sangat menentukan!). KBK mengasumsikan tersedianya sumber-sumber ilmu pengetahuan yang terbuka seperti internet, fasilitas perpustakaan, lingkungan yang memadai, dan seterusnya, serta kemampuan guru mengolah mata pelajaran tanpa harus membebek pada standar kurikulum. Kedua asumsi itu, pada praktiknya, merupakan kemewahan yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah pada umumnya.

Alhasil, sistem "telan mentah-mentah" kembali merajalela. Mari saya beri contoh konkret. Seorang siswa SLTP di Jakarta, seperti anak saya, paling tidak harus "menelan" 16 mata pelajaran (mata pelajaran umum, ilmiah, dan khas daerah), mulai dari Agama, PPKN, Fisika, Ekonomi sampai Komputer dan PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta - untuk siswa di Jakarta). Itu berarti, setiap siswa harus "menelan mentah-mentah" setidaknya 15 buku - saya mengasumsikan Matematika tidak menghafal! - untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Masalah lain yang disinggung anak saya, bukan saja jumlah mata pelajarannya sangat banyak, tetapi juga kandungan masing-masing mata pelajaran sangat rinci, dan karena itu terlalu berat bagi seorang siswa SLTP kelas II. Ini mudah dicermati jika Bapak Menteri sempat meme-riksa buku-ajar standar yang dipakai di sekolah-sekolah kita. Mungkin Bapak Menteri tidak memiliki waktu cukup untuk memeriksa dengan cermat isi buku-ajar itu.

Jadi, izinkan saya memberi contoh yang saya petik secara acak dari buku-ajar anak saya. Untuk mata pelajaran ekonomi, seorang siswa SLTP kelas II diharapkan mampu memahami mulai dari koperasi sampai pembangunan nasional. Dan, masing-masing subjek bahasan diurai dalam rincian yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang kuliah ekonomi di perguruan tinggi. Misalnya, subjek bahasan koperasi, dirinci mulai dari pengertian, asas, landaasan (idiil, struktural, mental, operasional), fungsi dan peran, macam-macam kegiatan dan jenis, sampai segala peraturan yang terkait! Dan, subjek pembangunan nasional dirinci sejak kegiatan negara dalam kehidupan ekonomi (seluruh aspek budgeter, APBN-APBD, jenis-jenis pajak, bagaimana menghitung pajak, dan peraturan yang terkait) sampai tahap-tahap pembangunan jangka panjang (Pelita I sampai Reformasi). Hal yang sama juga terjadi dalam mata pelajaran lain. Ambil contoh buku-ajar biologi untuk SLTP kelas II. Siswa diharapkan memahami mulai dari sistem pencernaan (manusia dan hewan), sistem pernafasan (manusia dan hewan), sistem transportasi (manusia dan hewan), sistem saraf, sistem indera, dan seterusnya.

Lagi-lagi, masing-masing subjek bahasan diberi rincian yang luar biasa mendalam: siswa SLTP kelas II harus memahami perbedaan antara Diapedesis dengan Fibrinogen, gambar penampang kulit lengkap (Anda tahu Globmerulus dan dimana letak Kapsul Bowman?), gambar hubungan antarsel saraf (mana bagian Akson, Dendrit, Vesikel Sinapsis?), dan seterusnya. Karena itu, tidak heran jika seorang dosen biologi di sebuah universitas berkomentar, "Kalau SLTP sudah sejauh ini, apa lagi yang perlu diajarkan di Universitas?"

Perlukah saya menunjukkan materi PLKJ, mata pelajaran khusus untuk siswa yang (kebetulan) tinggal di Jakarta, kepada Bapak Menteri? Seorang siswa SLTP kelas II di Jakarta harus menghafal mati pasal-pasal mana dalam KUHP yang dipakai untuk menghukum "perkelahian pelajar secara per orangan yang mengakibatkan satu pihak luka atau mati", pasal-pasal mana untuk "perkelahian pelajar secara berkelompok", dan pasal-pasal mana yang dipakai jika "pelajar menyerang guru"! Juga, jangan lupa,  pasal-pasal KUHP mana yang dipakai jika "pelajar mabuk-mabukan, minum-minuman keras", atau jika terjadi "pemerasan oleh pelajar", atau "pencurian di kalangan pelajar", atau "pelajar membawa senjata api atau senjata tajam"...


Bapak Menteri yang terhormat. Sengaja saya menguraikan secara rinci beban mata pelajaran yang harus ditanggung anak saya setiap hari saat ia pergi ke sekolah, dan khususnya saat ia menghadapi ujian kenaikan kelas. Menurut saya, hanya anak jenius saja yang mampu menanggung semua beban itu tanpa masalah berarti. Dan, saya harus akui dengan jujur, anak saya bukan anak yang jenius, seperti juga anak-anak pada umumnya.

Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dan kandungan informasi yang sangat padat tanpa memperhitungkan kesiapan mental maupun kognitif anak sesuai tahap-tahap perkembangannya, membuat guru tidak memiliki cara lain kecuali kembali pada sistem kuno: Telan Mentah-mentah! Jangan Tanya, Hafal Saja! Itu pula yang dituntut oleh soal-soal ulangan umum. Mungkin di permukaan, cara itu kelihatannya berhasil. Tetapi, jika dipandang dari sudut pendidikan, sesungguhnya kita telah gagal total! Kita telah ikut berpartisipasi menjadikan kata "sekolah" dan "belajar" momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak didik - mereka yang akan menggantikan kita di masa depan. Seorang teman anak saya bahkan hampir bunuh diri, karena frustrasi menghafal mata pelajaran Biologi. Saya tidak mau peristiwa itu terjadi pada anak saya. Karena itu, Bapak Menteri, tolonglah! Anak saya bukan anak jenius! Dan jutaan anak Indonesia juga bukan anak jenius!


*Penulis adalah Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Jakarta

----------------------------------

Ria, adikku yang kini duduk di bangku kelas I sebuah SMU di Jakarta, dan Taufan, sepupuku yang kini kelas III SMU di Jakarta juga, setiap pulang sekolah mengeluhkan hal yang sama. Dan aku hanya bisa bilang pada mereka, sekolah itu memang melelahkan, tapi kalian harus kuat, kalau perlu belajar kelompok sama temen atau ikut bimbingan belajar. Karena di negeri ini, tidak ada lagi yang peduli dengan dunia pendidikan, kecuali bahwa pendidikan bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan; bahwa pembenahan atas pendidikan hanya sebatas di ruang-ruang auditorium hotel-hotel mewah; bahwa pendidikan formal - seburuk apapun - tetap menjadi acuan; bahwa ijazah masih tetap nomor satu dan kemampuan nomor ke-sekian.

Posted at 12:30 pm by kisahmerahitam
Make a comment  


Previous Page Next Page




<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed