Tuesday, April 11, 2006
POKEMON MANIA

Kata teman namanya ONET. Aku menyebutnya Unyet-Unyet, lantaran salah satu tokoh dalam game ini gambarnya lucu dan mringkel-mringkel nggak karuan. Sejak pertama kali kenal game ini, langsung kecanduan untuk main. Penasaran sih sebenarnya. Dan kebiasaan jelekku, kalau sudah penasaran sama satu hal, pasti dicecar habis. Nggak peduli banyak hal lainnya yang jadi terbengkalai. Nggak sempat nulis di blog; nggak sempat ke dokter gigi; nggak sempat cari HP baru - padahal yang lama udah teriak-teriak minta ampun pengen buru-buru diganti; dan yang lebih parah, kerjaan pun terkena imbasnya.

Akibatnya, sampai detik ini kerjaan yang harusnya sudah kelar dari minggu kemarin, malah belum selesai sama sekali. Surat kontrak kerja yang harus disiapkan dari minggu yang lalu, draft pertamanya pun belum jadi. Aduhai...

Padahal gara-gara si unyet-unyet ini juga, sakit kepalaku kambuh. Gimana nggak langsung pusing tujuh keliling melototin gambar-gambar yang ukurannya kecil-kecil dan hampir sama itu? Salah satu teman langsung menjuluki-ku MOP alias Master of Pokemon. Hahahaha...Tapi gara-gara pujian sekaligus sindiran itu jadi sadar kalau banyak hal lain yang lebih penting dari sekedar "memenangkan si Unyet-Unyet!"

Nb. Buat seseorang, maaf ya, jadi tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Tapi jangan salahkan Unyet-Unyet. Salahkan aku yang tak bisa mengatur waktu  dan sering menunda pekerjaan. Big Smile

Posted at 08:13 am by kisahmerahitam
Make a comment  

Sunday, April 09, 2006
MARI KE BANDUNG

Mengunjungi Calon Primadona Wisata Baru di Kota Kembang

Satu minggu yang lalu, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Bandung. Menyelesaikan sedikit urusan sekaligus refreshing. Mencari suasana baru saat diri sedang berada di titik kejenuhan tertinggi. Dan kebetulan sejak Desember tahun lalu, nggak pernah bisa libur. Kerjaan numpuk nggak ada habis-habisnya.

Keberangkatan waktu itu pun sempat terancam batal. Jam 4 sore, waktu lagi packing, ditelepon, harus edit naskah secepatnya. Malam itu juga harus dikirim. Terpaksa balik lagi ke kantor. Ngedit naskah dengan terburu-buru sambil sesekali melihat jam dinding. Akhirnya kelar juga jam setengah tujuh malam. Begitu naskah selesai dikirim, langsung pulang ke rumah, ambil tas dan bareng adik ngebut ke stasiun. Celakanya sampai di stasiun, kereta terakhir ke Bandung baru saja berangkat. Sempat bingung mau tetap ke Bandung atau nggak? Naik bus atau travel? Akhirnya, seorang kawan men-sms-ku.

"Naik travel (titik-titik, nggak etis toh nyebut namanya!) aja, kantornya di daerah Kwitang, dekat pom bensin. Itu travel resmi".

Maka Minggu (2/4) dinihari, sampailah di kota kembang tersebut. Setelah cari penginapan dan tidur sebentar, siang harinya berkeliling kota. Termasuk mencari lokasi Kopi Aroma yang katanya legendaris itu. Mas Dhenny yang jadi guide ternyata belum begitu hapal Kota Bandung. Hehehe...Jadi sempat tanya-tanya dulu sama petugas resepsionis di hotel dan orang-orang yang ditemui di jalan. Akhirnya ketemu juga. Tapi sayangnya tutup. Rupanya setiap hari Minggu, pemilik Aroma Coffee itu menutup tokonya. Rencana untuk beli kopi pun batal. Kebetulan sudah waktunya makan siang. Mas Dhenny pun mengusulkan untuk pergi makan di daerah Punclut.

Terletak di ujung Ciambeuleuit (aduh, tolong dikoreksi ejaannya ya!), Punclut adalah salah satu bukit yang memagari Kota Bandung. Yang tidak membawa kendaraan pribadi lebih baik naik ojek. Cukup lima ribu rupiah. Tapi kalau mau dan kuat jalan kaki juga tidak masalah. Hanya saja jalan yang mesti dilalui cukup terjal. Sepanjang lebih dari 1 km dan terus mendaki. Dijamin ngos-ngosan, lutut lemas dan keringat bercucuran, begitu sampai di puncaknya.

Jangan bayangkan kita akan menemui restoran mewah dengan fasilitas yang wah. Hanya ada warung-warung yang dinding dan lantainya terbuat dari batang bambu yang sudah dibersihkan dan dibelah-belah, kemudian dilapisi tikar pandan atau karpet tipis. Atapnya terus terang lupa terbuat dari apa.

Lebih dari 15 warung berderet di sepanjang tempat itu, menawarkan menu yang seragam. Aneka masakan pepes, gorengan, lalapan dan sambal terasi. Tapi yang spesial, ada tiga macam nasi di tempat ini. Nasi putih, yang biasa kita makan sehari-hari; nasi merah dan nasi hitam (terbuat dari beras ketan hitam).

Kami pun memesan nasi hitam, pepes belut, pepes tahu, pepes oncom, pepes ikan mas, pepes jamur, ayam bakar, ayam goreng, belut goreng, tahu goreng, lalapan, sambal terasi dan teh tawar. Sambil menunggu pesanan, kami memandang ke kejauhan. Ke arah Kota Bandung yang terletak jauh di bawah. Membentang memenuhi sepanjang lembah dengan berbagai bangunan beraneka ragam. Angin sepoi-sepoi bertiup, melenakan dan bikin ngantuk. Tapi nggak lama, makanan pesanan pun datang yang langsung kami habiskan. Pepesnya menurutku biasa saja, tapi sambal terasinya rruuuaarrr biasa! Segar dan pedas. Cocok dengan nasi hitamnya yang sedikit berminyak. Wuaaahhh...Super kenyang setelahnya. Dan rasanya cukup sebanding dengan pengorbanan untuk mencapai tempat tersebut.

Di warung yang kami datangi tersebut, banyak pengunjung yang berasal dari kota lain atau daerah sekitar Punclut. Ada rombongan pengendara sepeda balap, ada keluarga, ada pasangan kekasih, ada pula anak-anak muda yang hanya ingin sekedar bersantai setelah kebut-kebutan di sepanjang jalan yang membentang di daerah Punclut.

Selesai makan, kami berjalan pulang. Aku ngotot untuk jalan kaki. Meski waktu itu saltum, pakai high heels...Aduuuhh, nggak tahu kalau bakal ke tempat seperti ini. Kalau tahu kan sandal di hotel bisa ku ambil :p Mampir sebentar di sebuah warung dan beli kripik Punclut. Di labelnya tercantum tulisan "NO KOLESTEROL". Tapi bukan karena itu aku membelinya. Lebih karena kripiknya luar biasa renyah, tidak terlalu gurih dan tidak terlalu manis. Ada kripik ubi, pisang, singkong dan talas. Yang alergi dengan talas, sebaiknya jangan memakannya. Kalau tetap nekat, paling-paling bibirnya sedikit gatal-gatal.

Meski tidak sampai 24 jam di Bandung, tapi rasanya kunjungan ke-5 ku di kota ini cukup menyenangkan. Dan itu karena Punclut. Entah kenapa merasa yakin kalau Punclut bisa menjadi primadona wisata baru di Bandung, selain kampung daun dan tempat makan lainnya. Bagi orang Jakarta sepertiku, Punclut dengan segala kesederhanaannya, justru menawarkan hal baru dan membuat pikiran jadi segar kembali.

Thanks ya Mas Den...Atas rujukan tempat makannya. Lain kali aku pasti kesana lagi!

Posted at 10:50 pm by kisahmerahitam
Comment (1)  

Wednesday, March 29, 2006
SALAH SIAPA?

Cari Kerja Itu Susah!

Ari, gadis manis, berkulit sawo matang dan berperawakan mungil adalah lulusan D3, di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, mengeluh dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang cari kerja susah mbak...Udah coba ngelamar kemana-mana tapi nggak ada hasilnya. Saking susahnya kadang aku cuma pake ijazah SMU-ku, buat ngelamar kerjaan, biar mereka mau terima karena nganggap aku mau digaji murah. Tapi yang ada malah nyasar ke yayasan-yayasan yang ngakunya nyariin kerjaan tapi ujung-ujungnya minta duit".

Ipul, cowok betawi, lulusan STM, terima bekerja sebagai "tenaga bantu" di sebuah kantor-kantoran karena tempat kerjanya yang lama bangkrut. "Nggak apa-apa deh mbak, yang penting tiap bulan masih terima duit, biarpun cuma kecil. Yang penting kerja. Habis ngelamar kemana-mana nggak keterima".

Lain lagi dengan Aan, gadis berusia 28 tahun yang makin hari makin galau karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Padahal dia termasuk rajin mengirim surat lamaran ke setiap iklan lowongan kerja yang terpampang di media cetak. Selalu datang setiap kali ada Job Fair dan menyempatkan diri mendatangi Walk Interview yang biasanya diadakan di hotel-hotel. Tapi hasilnya nihil. "Gue pernah dateng ke satu tempat, bilangnya mereka butuh tenaga finance, ujung-ujungnya gue malah diajak jualan panci di daerah Bogor".

Kisah Tono jauh lebih menyeramkan. Sambil bersandar di tembok dan berselonjor kaki, meluncurlah suara berat dari bibir pemuda berusia 20 tahun dan berwajah keras ini. Logat Jawa-nya begitu kental. "Yah piye meneh mbak...Aku terpaksa dadi preman nang terminal, njaluki duit, wong nyari kerjaan susah he..."

Setelah mendapatkan pekerjaan apakah kondisinya jauh lebih baik?

 

Sudah Dapat Kerja, Ternyata Masih Susah Juga!

Putra, pemuda berusia 24 tahun, lulusan sebuah universitas swasta di Jakarta. Kurus dengan mata sayu dan rambut sedikit ikal. Merasa tidak sreg dengan pekerjaannya saat ini sebagai salah satu tenaga marketing di sebuah bank swasta di Jakarta juga. "Saya nggak dapat gaji mbak...Uang transport sama makan juga nggak. Saya dan temen-temen cuma dikasih fasilitas telepon untuk nelepon calon klien. Kalo tembus, ya kami dapat komisi. Kalau nggak sesuai target, kami dipecat. Makanya kalau ditempat mbak masih nerima pegawai, saya mau deh".

Desma, gadis mungil berjilbab, terpaksa tetap bertahan ditempatnya bekerja. Setelah hampir sepuluh tahun "mengabdi" ditempat tersebut, bukannya mendapat kenaikan gaji berkala tapi justru penurunan gaji, ditambah adanya potongan-potongan lainnya. Alasannya  tempatnya bekerja tidak seramai dulu. Pasaran sedang lesu. Ia tak memilih pindah karena takut tak bisa mendapatkan pekerjaan.

Oneng, gadis ceria dan bersemangat itu harus terbaring di tempat tidur. Pekerjaannya sebagai sales mengharuskan ia berkeliling Jakarta tiap hari. Naik-turun bus, metromini, angkot, ojek, bajaj, dan segala jenis angkutan umum di Jakarta. Seringkali sambil membawa contoh barang atau bahkan barang pesanan pelanggannya yang kadang beratnya sampai berkilo-kilo itu. Setelah beberapa tahun menjalani rutinitas tersebut, dokter memvonisnya menderita penyakit tipes dan maag akut serta mengharuskannya beristirahat total. Tanpa tunjangan kesehatan sedikitpun, ia justru diberhentikan dari tempatnya bekerja.

Mukadi, lelaki berusia hampir 40 tahun itu telah bekerja hampir 20 tahun lamanya di salah satu rumah produksi sebagai kurir. Gaji yang diterimanya tak lebih dari lima ratus ribu per bulan. Dengan penghasilannya tersebut, ia harus menghidupi keluarganya, membayar rumah kontrakan di pinggiran Jakarta dan membiayai sekolah kedua anaknya. Untungnya sang istri membantunya dengan berjualan kecil-kecilan di rumah.

* * * * *

Ini adalah rangkuman hasil percakapan singkat saya dengan beberapa orang. Beberapa saya kenal baik namun beberapa lainnya hanya kenal sambil lalu, ngobrol singkat untuk ngisi waktu saat nunggu bus di halte, terminal atau sekedar ngantri di sarana-sarana publik. Nama-nama terpaksa saya samarkan untuk merahasiakan identitas mereka. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi saya tidak mungkin menuliskan semuanya disini. 

Kenapa saya mem-posting cerita buram tentang para para pencari kerja?

Beberapa hari lalu saya terhenyak saat membaca ribuan CPNS berunjukrasa setelah merasa "dibohongi" oleh panitia penerimaan CPNS yang kemudian mengkambinghitamkan hal itu sebagai kesalahan sistem di komputer. (hahaha...Saya tertawa geli saat membaca alasan tersebut. Bodoh bener sih?).

Tadi, saya kembali terhenyak saat menonton berita ratusan buruh berunjukrasa menentang revisi UU Tenaga Kerja. Terus terang, saya tidak tahu seluruh isi UU Tenaga Kerja. Tapi yang saya tangkap, revisi ini  membawa dampak buruk bagi para buruh (tenaga kerja). Pengurangan standar UMR, penghapusan cuti dan fasilitas serta kemudahan bagi para tenaga kerja. Kalau tujuannya untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan perusahaan, apa pembuat kebijakan lupa kalau sistem yang berlaku selama ini toh hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan. Bukan kepada buruh. Mereka - ralat termasuk saya di dalamnya - selalu menjadi objek penderita. Di-eksploitasi habis-habisan.

Ketika perusahaan mengalami krisis, keuntungan menurun, buruh yang terkena dampaknya. Namun sebaliknya jika perusahaan mengalami kemajuan. laba berlimpah, apa buruh juga mendapatkannya? Ehm...Saya jadi ingat beberapa tahun silam. Almarhum ayah saya - dipaksa mengundurkan diri dari tempatnya bekerja hanya karena, sebagai salah satu pengurus serikat pekerja, ayah dinilai terlalu vokal memperjuangkan hak-hak pekerja ditempatnya. Saya masih merasa beruntung, karena nasib ayah saya tidak setragis Marsinah atau buruh lainnya yang "menghilang" atau meninggal secara mendadak tanpa diketahui penyebabnya.

Sampai sekarang saya tetap tidak habis pikir, apa yang salah sebenarnya? Kenapa pemerintah dan kroni-kroninya dari jaman "Soe" sampai jaman "Soe" lagi tetap saja lebih mementingkan kepentingan segelintir orang. Oh, sebentar, saya lupa...Mereka (maksud saya, Soe dan kroni-kroninya itu) punya barter khusus dengan segelintir orang ini. Saya tak perlu jelaskan toh? Sudah banyak yang tahu. Sudah jadi rahasia umum.

Tapi tetap saja saya masih tidak habis pikir. Kenapa selalu rakyat banyak yang jadi korbannya? Kenapa nggak sekali-sekali dibalik, si Soe-Soe, kroni-kroninya serta segelintir orang itu? Kenapa para pemikir dan pengambil keputusan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah ketenagakerjaan ini dan malah makin membuatnya jadi ruwet? Katanya negeri ini kaya dan masih banyak bidang yang belum digarap? Tapi kenapa tiap tahun masih saja ada potret buram tentang para pekerja?

Kenapa? Siapa yang salah?

Aah, saya nggak tahu. Yang jelas jangan salahkan jika kriminalitas makin meningkat. Dan jangan salahkan para waria yang jumlahnya makin bertambah*. Jika perut sudah menjerit, siapa yang bisa disalahkan?

 

Nb.1. Masih terhenyak dan sesekali mengutuk diri sendiri yang cuma bisa posting di blog tanpa mampu berbuat apapun.

Nb.2. * Kutipan percakapan seorang kawan dengan salah satu waria di taman bawah Jembatan Jatinegara, samping ruas rel Jatinegara-Klender.

"Saya sebenarnya laki-laki beneran mas. Kalau siang saya nguli. Tapi duitnya nggak seberapa. Kadang buat makan aja nggak cukup. Makanya kalau malam saya begini, lumayan buat tambahan..."

"Kenapa nggak nyari kerjaan lain?"

"Bosen. Udah ngelamar kemana-mana tapi nggak ada satu pun yang diterima."

"Lah, mas-nya kalau dandan begini terus ngapain aja?"

"Yah, cuma mijet aja mas sambil nemenin ngobrol. Kalau diajak macam-macam saya biasanya nolak. Saya masih normal, kok mas".

"Istri situ tahu?"

Dan mas-nya pun mengangguk.

Saat mendengar cerita kawan saya tersebut, saya lantas membayangkan bagaimana mas itu tampil begitu macho di siang hari dan terpaksa jadi kemayu di malam hari. Tapi saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mas itu maupun istrinya yang tiap malam menyaksikan suaminya berdandan perempuan.

Tapi saya jadi berpikir, apa yang akan dilakukan para penentu nasib negeri ini kalau ia tahu tentang hal ini?

Nb.3. Maaf kalau postingnya nggak runut. Tapi saya memang sedang muak!

Posted at 11:26 pm by kisahmerahitam
Comments (6)  

Saturday, March 25, 2006
RAMALAN HARI INI

Intinya Taurus Itu Workaholic, Lupa Keluarga, Teman, Pacar dan Tidak Kenal Saturday Night Fever!

 

Nggak percaya? Baca ramalan bintang hari ini yang iseng aku copy+paste dari  situs jaringan pertemanan dunia maya. Buatku sendiri, ramalannya kok bener banget ya?

 

$ $ $ $ $ $ $ $ $

The Bottom Line:

Your conservative ideas are fighting your more radical ideas. Today, one will win.

In Detail:

You're a hard-working individual, as diligent -- okay, stubborn, even -- as anyone can possibly be. But there's more to life than just making sure you take care of your responsibilities. How about another type of responsibility? Like maybe the duty you owe to your family and loved ones? You remember them -- the people who keep complaining because they haven't seen you in so long? Give them, and yourself, a break. Take just a little bit of time off. Just a tad. 

$ $ $ $ $ $ $ $ $

 

Nb.1. Nggak tahu mau nulis apa setelah kecapekan ngerjain revisian dan agak-agak nggondok karena nggak jadi hunting lokasi buat perpustakaan.

Nb.2. Lagi beneran kangen sama orang-orang tercinta.

Nb.3. Pengen buru-buru hengkang dari depan monitor tapi 'pacar' tersayang - komputer bergambar tempel Onyit imut berwarna pink - menahanku. Hey, it's saturday night, hun...and you still want me to be here, in front of you? Angry 

Nb.4. Pembatas tulisan sengaja pake gambar $, dengan  jumlah sama seperti jumlah huruf nama sebuah tempat yang penuh dengan taburan "bintang" dan "$". Ini pembangkit semangat ala  Paman Gober, yang kaya raya, punya gudang uang dan bukan sekedar  celengan. Apalagi dia kini juga sudah kenal kredit bank segala.

Nb.5. Kalau pake gambar Rp, takut nggak semangat ngerebutnya. Hahahaha... (Aih...Kok matre ya?)  

Posted at 07:30 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

Thursday, March 23, 2006
SURAT TERBUKA KEPADA MENDIKNAS

Pagi-pagi waktu buka email dapat kiriman menarik dari seorang kawan. Sebenarnya masalah lama. Sudah mengemuka sejak jaman aku kuliah, bahkan mungkin sejak aku masih berseragam putih-merah. Tapi nggak tahu kenapa, yang mulia diatas sana yang asyik duduk santai di ruang ber-AC lengkap dengan sofa empuk dan karpet setebal kasur, tak mengindahkannya.

Dan ini isi email tersebut.

----------------------------------

Tolong! Anak Saya Bukan Anak Jenius!
 Oleh Trisno S Sutanto*

 BAPAK Menteri yang terhormat. Saya telah melayangkan surat ini ke lembaga Bapak. Akan tetapi, mengingat surat ini ditulis bukan oleh orang yang penting, melainkan dari rakyat jelata, dari seorang ayah yang merasa prihatin melihat nasib pengajaran anaknya, besar kemungkinan bapak tidak akan menerima surat ini. Atau, kalau toh Bapak menerimanya, besar pula kemungkinan Bapak tidak bersedia membacanya.

Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk menjadikan surat ini "surat terbuka" yang dapat dibaca oleh semua orang, khususnya para ayah-ibu yang prihatin melihat hancurnya sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah tempat anak mereka menimba ilmu. Sebab, menurut saya, apa yang terjadi pada anak saya lebih kurang juga dirasakan pada anak-anak seusianya.

Bulan ini, jika tidak ada aral melintang, anak saya akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Kini ia kelas II di sebuah SLTP Katolik yang cukup terpandang di daerah Jakarta Timur. Akan tetapi semenjak dua-tiga bulan terakhir, kata "sekolah" dan "belajar" bagianya telah menjadi hantu yang sangat membebani pikiran dan perasaannya. Awal Mei lalu, tepat pada "Hari Pendidikan Nasional", misalnya, anak saya menyatakan mogok pergi ke sekolah.

Alasannya sederhana: "Aku benci sekolah!" Sebagai orangtua, saya memang dapat memaksa agar dia tetap pergi ke sekolah. Namun, menurut saya, model pemaksaan seperti itu tidak akan memecahkan persoalan. Jadi saya membiarkan ia tidak pergi ke sekolah, dan menjadikan hari itu sebagai kesempatan untuk mendiskusikan alasan-alasan ia mogok bersekolah.

Hasilnya sudah dapat diduga, akan tetapi tetap mengejutkan bagi saya sebagai orangtua. Pertama-tama ia berkeluh kesah tentang begitu banyak mata pelajaran yang harus dia telan mentah-mentah, tanpa dia tahu untuk apa dan mengapa dia harus menelannya. Kata "telan mentah-mentah" sengaja saya pilih, karena hanya itulah padanan yang paling tepat bagi system pengajaran
yang (masih terus) mengandalkan pada "hafalan mati" - walaupun sudah begitu banyak kritik pedas yang ditujukan pada sistem seperti itu.

Standar Kurikulum
Memang benar, dewasa ini orang berbicara tentang KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan "otonomi khusus" masing-masing sekolah. Akan tetapi, pada praktiknya, tetap saja setiap sekolah akan berusaha memenuhi standar kurikulum yang dibuat Depdiknas, agat tidak dinilai "ketinggalan" dari sekolah-sekolah "favorit". Apalagi, dalam sistem KBK, faktor pendidikan guru sebagai "fasilitator" (perhatikan: bukan sebagai guru tradisional, sumber-segala-sumber ilmu pengetahuan) akan sangat menentukan!). KBK mengasumsikan tersedianya sumber-sumber ilmu pengetahuan yang terbuka seperti internet, fasilitas perpustakaan, lingkungan yang memadai, dan seterusnya, serta kemampuan guru mengolah mata pelajaran tanpa harus membebek pada standar kurikulum. Kedua asumsi itu, pada praktiknya, merupakan kemewahan yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah pada umumnya.

Alhasil, sistem "telan mentah-mentah" kembali merajalela. Mari saya beri contoh konkret. Seorang siswa SLTP di Jakarta, seperti anak saya, paling tidak harus "menelan" 16 mata pelajaran (mata pelajaran umum, ilmiah, dan khas daerah), mulai dari Agama, PPKN, Fisika, Ekonomi sampai Komputer dan PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta - untuk siswa di Jakarta). Itu berarti, setiap siswa harus "menelan mentah-mentah" setidaknya 15 buku - saya mengasumsikan Matematika tidak menghafal! - untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Masalah lain yang disinggung anak saya, bukan saja jumlah mata pelajarannya sangat banyak, tetapi juga kandungan masing-masing mata pelajaran sangat rinci, dan karena itu terlalu berat bagi seorang siswa SLTP kelas II. Ini mudah dicermati jika Bapak Menteri sempat meme-riksa buku-ajar standar yang dipakai di sekolah-sekolah kita. Mungkin Bapak Menteri tidak memiliki waktu cukup untuk memeriksa dengan cermat isi buku-ajar itu.

Jadi, izinkan saya memberi contoh yang saya petik secara acak dari buku-ajar anak saya. Untuk mata pelajaran ekonomi, seorang siswa SLTP kelas II diharapkan mampu memahami mulai dari koperasi sampai pembangunan nasional. Dan, masing-masing subjek bahasan diurai dalam rincian yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang kuliah ekonomi di perguruan tinggi. Misalnya, subjek bahasan koperasi, dirinci mulai dari pengertian, asas, landaasan (idiil, struktural, mental, operasional), fungsi dan peran, macam-macam kegiatan dan jenis, sampai segala peraturan yang terkait! Dan, subjek pembangunan nasional dirinci sejak kegiatan negara dalam kehidupan ekonomi (seluruh aspek budgeter, APBN-APBD, jenis-jenis pajak, bagaimana menghitung pajak, dan peraturan yang terkait) sampai tahap-tahap pembangunan jangka panjang (Pelita I sampai Reformasi). Hal yang sama juga terjadi dalam mata pelajaran lain. Ambil contoh buku-ajar biologi untuk SLTP kelas II. Siswa diharapkan memahami mulai dari sistem pencernaan (manusia dan hewan), sistem pernafasan (manusia dan hewan), sistem transportasi (manusia dan hewan), sistem saraf, sistem indera, dan seterusnya.

Lagi-lagi, masing-masing subjek bahasan diberi rincian yang luar biasa mendalam: siswa SLTP kelas II harus memahami perbedaan antara Diapedesis dengan Fibrinogen, gambar penampang kulit lengkap (Anda tahu Globmerulus dan dimana letak Kapsul Bowman?), gambar hubungan antarsel saraf (mana bagian Akson, Dendrit, Vesikel Sinapsis?), dan seterusnya. Karena itu, tidak heran jika seorang dosen biologi di sebuah universitas berkomentar, "Kalau SLTP sudah sejauh ini, apa lagi yang perlu diajarkan di Universitas?"

Perlukah saya menunjukkan materi PLKJ, mata pelajaran khusus untuk siswa yang (kebetulan) tinggal di Jakarta, kepada Bapak Menteri? Seorang siswa SLTP kelas II di Jakarta harus menghafal mati pasal-pasal mana dalam KUHP yang dipakai untuk menghukum "perkelahian pelajar secara per orangan yang mengakibatkan satu pihak luka atau mati", pasal-pasal mana untuk "perkelahian pelajar secara berkelompok", dan pasal-pasal mana yang dipakai jika "pelajar menyerang guru"! Juga, jangan lupa,  pasal-pasal KUHP mana yang dipakai jika "pelajar mabuk-mabukan, minum-minuman keras", atau jika terjadi "pemerasan oleh pelajar", atau "pencurian di kalangan pelajar", atau "pelajar membawa senjata api atau senjata tajam"...


Bapak Menteri yang terhormat. Sengaja saya menguraikan secara rinci beban mata pelajaran yang harus ditanggung anak saya setiap hari saat ia pergi ke sekolah, dan khususnya saat ia menghadapi ujian kenaikan kelas. Menurut saya, hanya anak jenius saja yang mampu menanggung semua beban itu tanpa masalah berarti. Dan, saya harus akui dengan jujur, anak saya bukan anak yang jenius, seperti juga anak-anak pada umumnya.

Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dan kandungan informasi yang sangat padat tanpa memperhitungkan kesiapan mental maupun kognitif anak sesuai tahap-tahap perkembangannya, membuat guru tidak memiliki cara lain kecuali kembali pada sistem kuno: Telan Mentah-mentah! Jangan Tanya, Hafal Saja! Itu pula yang dituntut oleh soal-soal ulangan umum. Mungkin di permukaan, cara itu kelihatannya berhasil. Tetapi, jika dipandang dari sudut pendidikan, sesungguhnya kita telah gagal total! Kita telah ikut berpartisipasi menjadikan kata "sekolah" dan "belajar" momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak didik - mereka yang akan menggantikan kita di masa depan. Seorang teman anak saya bahkan hampir bunuh diri, karena frustrasi menghafal mata pelajaran Biologi. Saya tidak mau peristiwa itu terjadi pada anak saya. Karena itu, Bapak Menteri, tolonglah! Anak saya bukan anak jenius! Dan jutaan anak Indonesia juga bukan anak jenius!


*Penulis adalah Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Jakarta

----------------------------------

Ria, adikku yang kini duduk di bangku kelas I sebuah SMU di Jakarta, dan Taufan, sepupuku yang kini kelas III SMU di Jakarta juga, setiap pulang sekolah mengeluhkan hal yang sama. Dan aku hanya bisa bilang pada mereka, sekolah itu memang melelahkan, tapi kalian harus kuat, kalau perlu belajar kelompok sama temen atau ikut bimbingan belajar. Karena di negeri ini, tidak ada lagi yang peduli dengan dunia pendidikan, kecuali bahwa pendidikan bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan; bahwa pembenahan atas pendidikan hanya sebatas di ruang-ruang auditorium hotel-hotel mewah; bahwa pendidikan formal - seburuk apapun - tetap menjadi acuan; bahwa ijazah masih tetap nomor satu dan kemampuan nomor ke-sekian.

Posted at 12:30 pm by kisahmerahitam
Make a comment  

Sunday, March 19, 2006
(TAK ADA) PILIHAN

Waktu masih di IEK beberapa tahun silam, Pak Resa, salah satu rekan kerja yang sudah cukup senior, tempat berkeluh kesah pernah memberi wejangan yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Bahwa hidup adalah soal pilihan. Dan bagaimana kita mengambil keputusan untuk memilih yang terbaik dari sekian banyak pilihan yang ada di depan mata.

Waktu itu pilihan dan keputusan yang harus kuambil tak seberat saat ini. Terlebih lagi pilihan itu hanya membawa akibat pada diriku. Tidak berpengaruh apalagi merugikan pihak lain. Dan yang lebih menyenangkan aku bebas memilihnya, menurut kata hati dan pikiranku.

Namun kini kondisinya berbeda. Sebuah pilihan disodorkan didepanku. Aku tak bisa lari kecuali mengambil keputusan untuk memilihnya.

Ah, TUHAN, aku benci keadaan ini. Aku benci dengan segala macam ego yang terus bermain di sekelilingku. Aku atau dia kah yang masih harus belajar?

Dan aku benci. Benci tak punya hak untuk memilih. 

Posted at 11:40 pm by kisahmerahitam
Comments (7)  

Wednesday, March 15, 2006
IMPIAN

"Hey...Hollywood, I'll be the next Martin Kauffman. 'N you Mr.Deep! Just wait for me! I'll create a story for you!"

Aaahhh...Senang rasanya punya mimpi. Pembangkit semangat di pagi hari. Meski tak tahu seberapa besar impian itu akan tercapai. But I'll try n I won't give up till the end of days!

Ayo semangat!!

*Selamat Hari Rabu! Hari penuh sejarah kesialan di masa lampau! Rating minggu ini berapa ya? Masih bertahan di TOP TEN kah?*

 

Posted at 07:38 am by kisahmerahitam
Make a comment  

BELAJAR

Lelah. Lungkrah. Tak berdaya. Dalam hati sedikit miris, cemas sekaligus puas. Masing-masing mengisi 1/4 bagian dalam hati. Seperempatnya lagi sedang diisi dengan serum pembangkit semangat.

Ya, itu yang kurasakan setelah hampir seminggu dihajar tanpa habis hingga babak belur, lebam-lebam dan lecet disana-sini. Memar berwarna kebiruan masih terlihat jelas di beberapa tempat. Ah, mas yang gantengnya kalah dibandingin Hugh Grant dan Pierce Brosnan, tapi yang luarbiasa hebat, tega nian dikau berdua. Andai "kuliah" kalian tidak penting, pasti sudah kuhajar kalian. Kalau perlu kusihir dengan tongkat Harry Potter yang kudapat dari salah satu majalah film. Tidak perlu jadi Gollum...Cukup jadi peri rumah macam Dobby.

Tapi karena omelan dan makian kalian lebih berharga dibanding cacian orang-orang yang "sok bersih" diluar sana, aku turuti mau kalian. Aku iyain permintaan kalian. Hanya satu permintaanku pada kalian, jangan pernah kapok mengajariku. Jadilah penyeimbang agar tak hanya doktrin India-India itu yang merasuk dalam tubuhku.  Agar satu saat nanti aku tak hanya piawai bermain dalam industri yang serba gila-gilaan ini dan terjebak dalam neraka bernama rating. Agar satu saat nanti aku pun mampu berperan dalam kancah yang lebih besar. Mewujudkan salah satu impianku. Dan tetap berpegang teguh pada hati nuraniku.

*Sedang tertatih-tatih belajar dari siapapun dan apapun. Hanya berharap bisa bertahan di tengah dunia yang semakin menggila*

Posted at 03:10 am by kisahmerahitam
Make a comment  

Sunday, March 12, 2006
WELCOME TO THE CLUB!

"Selamat datang ke klub orang-orang bermata empat, sayang..."

Itu reaksi si musuh besarku saat tahu aku resmi mengenakan benda persegi antik dengan dua lensa bening yang dirangkai oleh frame cantik berwarna burgundy. Aku hanya bisa mendengus kesal. Selama ini selalu berdoa semoga nggak pernah pakai benda satu ini. Cause I love my eyes very much! (Narsis ihh!).

Dan dia, musuh besarku, tertawa lebar. Sebagian doanya terkabulkan. Sejak matanya minus dan kemudian terpaksa pakai kacamata, wuiihhh...Dia rajin menyuruhku ikutan berkacamata.

"Nggak usah ya. Makasih deh! Kalau kacamata gaul sih ok! Tapi beliin yang pink ya...Itu loh, model yang pernah kutunjukin dulu. Pink punyaku nggak sengaja ketindihan dan pecah", jawabku sambil tersenyum semanis mungkin.

"Nggak ah. Aku mau lihat kamu pakai kacamata bening dan simple kayak yang kupake. Biar kamu kelihatan lebih dewasa. Masa umur sudah segitu, masih kelihatan kayak anak-anak. Kalah sama aku yang usianya lebih muda darimu", ujarnya dengan wajah serius. (Hey...Jelas saja aku kelihatan lebih muda darimu karena kamu selalu pasang tampang serius gitu. Smile dong...Smile!)

"Nggak mau!"

"Aku doain matanya minus loh!"

"Hih! Jahat!"

"Biarin!"

Huuhhh...Dasar. Masa orang dilihat dewasa atau nggak dari apa yang dia kenakan termasuk kacamata. Huh! Dan malangnya, untuk kesekian kalinya aku harus kalah darinya. Kemarin, waktu bareng Dyah nganterin  Mbak Elvi ke optik, iseng periksa mata. Hasilnya mata kiri minus 0.25 dan mata kanan 0.50.

"Jangan GR! Ini nggak berarti doamu dikabulkan! Ini cuma akibat radiasi dari monitor komputer yang kutongkrongi hampir 24 jam setiap harinya!"

"Nggak perduli! La...la...la...Yang penting kamu pakai kacamata sekarang", dan dia makin tersenyum lebar.

Eh, tapi maaf ya...Aku nggak mau kalah sepenuhnya. Kacamata yang kupilih bukan seperti yang kamu harapkan! Tongue 

*Sedang menyesuaikan diri dengan si Burgundy*

Posted at 06:18 pm by kisahmerahitam
Comments (2)  

Saturday, March 11, 2006
BALADA DINIHARI

Sabtu dinihari. Masih di depan kompie. Ngedit naskah yang nggak selesai-selesai. Sendirian. Eh, nggak ding, ditemeni Damien Rice and his gank! Thanks ya. Jadi nggak ngantuk. Dan maaf kalian pasti capek ta' puter terus. Hihihi.

Thanks juga buat Ibel, yang udah ikutan nemenin meski cuma beberapa jam dan lewat sms pula. Lupa bilang, "Buku wajibmu mau dibaca kapan toh mas? Apa perlu ku bantuin baca?". Hiks...Sampai bosen ngingetinnya :p

*Aiihh...Judulnya nggak kuku :p* 

Posted at 03:11 am by kisahmerahitam
Make a comment  


Previous Page Next Page




<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed