Saturday, March 25, 2006
RAMALAN HARI INI

Intinya Taurus Itu Workaholic, Lupa Keluarga, Teman, Pacar dan Tidak Kenal Saturday Night Fever!

 

Nggak percaya? Baca ramalan bintang hari ini yang iseng aku copy+paste dari  situs jaringan pertemanan dunia maya. Buatku sendiri, ramalannya kok bener banget ya?

 

$ $ $ $ $ $ $ $ $

The Bottom Line:

Your conservative ideas are fighting your more radical ideas. Today, one will win.

In Detail:

You're a hard-working individual, as diligent -- okay, stubborn, even -- as anyone can possibly be. But there's more to life than just making sure you take care of your responsibilities. How about another type of responsibility? Like maybe the duty you owe to your family and loved ones? You remember them -- the people who keep complaining because they haven't seen you in so long? Give them, and yourself, a break. Take just a little bit of time off. Just a tad. 

$ $ $ $ $ $ $ $ $

 

Nb.1. Nggak tahu mau nulis apa setelah kecapekan ngerjain revisian dan agak-agak nggondok karena nggak jadi hunting lokasi buat perpustakaan.

Nb.2. Lagi beneran kangen sama orang-orang tercinta.

Nb.3. Pengen buru-buru hengkang dari depan monitor tapi 'pacar' tersayang - komputer bergambar tempel Onyit imut berwarna pink - menahanku. Hey, it's saturday night, hun...and you still want me to be here, in front of you? Angry 

Nb.4. Pembatas tulisan sengaja pake gambar $, dengan  jumlah sama seperti jumlah huruf nama sebuah tempat yang penuh dengan taburan "bintang" dan "$". Ini pembangkit semangat ala  Paman Gober, yang kaya raya, punya gudang uang dan bukan sekedar  celengan. Apalagi dia kini juga sudah kenal kredit bank segala.

Nb.5. Kalau pake gambar Rp, takut nggak semangat ngerebutnya. Hahahaha... (Aih...Kok matre ya?)  

Posted at 07:30 pm by kisahmerahitam
Comments (5)  

Thursday, March 23, 2006
SURAT TERBUKA KEPADA MENDIKNAS

Pagi-pagi waktu buka email dapat kiriman menarik dari seorang kawan. Sebenarnya masalah lama. Sudah mengemuka sejak jaman aku kuliah, bahkan mungkin sejak aku masih berseragam putih-merah. Tapi nggak tahu kenapa, yang mulia diatas sana yang asyik duduk santai di ruang ber-AC lengkap dengan sofa empuk dan karpet setebal kasur, tak mengindahkannya.

Dan ini isi email tersebut.

----------------------------------

Tolong! Anak Saya Bukan Anak Jenius!
 Oleh Trisno S Sutanto*

 BAPAK Menteri yang terhormat. Saya telah melayangkan surat ini ke lembaga Bapak. Akan tetapi, mengingat surat ini ditulis bukan oleh orang yang penting, melainkan dari rakyat jelata, dari seorang ayah yang merasa prihatin melihat nasib pengajaran anaknya, besar kemungkinan bapak tidak akan menerima surat ini. Atau, kalau toh Bapak menerimanya, besar pula kemungkinan Bapak tidak bersedia membacanya.

Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk menjadikan surat ini "surat terbuka" yang dapat dibaca oleh semua orang, khususnya para ayah-ibu yang prihatin melihat hancurnya sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah tempat anak mereka menimba ilmu. Sebab, menurut saya, apa yang terjadi pada anak saya lebih kurang juga dirasakan pada anak-anak seusianya.

Bulan ini, jika tidak ada aral melintang, anak saya akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Kini ia kelas II di sebuah SLTP Katolik yang cukup terpandang di daerah Jakarta Timur. Akan tetapi semenjak dua-tiga bulan terakhir, kata "sekolah" dan "belajar" bagianya telah menjadi hantu yang sangat membebani pikiran dan perasaannya. Awal Mei lalu, tepat pada "Hari Pendidikan Nasional", misalnya, anak saya menyatakan mogok pergi ke sekolah.

Alasannya sederhana: "Aku benci sekolah!" Sebagai orangtua, saya memang dapat memaksa agar dia tetap pergi ke sekolah. Namun, menurut saya, model pemaksaan seperti itu tidak akan memecahkan persoalan. Jadi saya membiarkan ia tidak pergi ke sekolah, dan menjadikan hari itu sebagai kesempatan untuk mendiskusikan alasan-alasan ia mogok bersekolah.

Hasilnya sudah dapat diduga, akan tetapi tetap mengejutkan bagi saya sebagai orangtua. Pertama-tama ia berkeluh kesah tentang begitu banyak mata pelajaran yang harus dia telan mentah-mentah, tanpa dia tahu untuk apa dan mengapa dia harus menelannya. Kata "telan mentah-mentah" sengaja saya pilih, karena hanya itulah padanan yang paling tepat bagi system pengajaran
yang (masih terus) mengandalkan pada "hafalan mati" - walaupun sudah begitu banyak kritik pedas yang ditujukan pada sistem seperti itu.

Standar Kurikulum
Memang benar, dewasa ini orang berbicara tentang KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan "otonomi khusus" masing-masing sekolah. Akan tetapi, pada praktiknya, tetap saja setiap sekolah akan berusaha memenuhi standar kurikulum yang dibuat Depdiknas, agat tidak dinilai "ketinggalan" dari sekolah-sekolah "favorit". Apalagi, dalam sistem KBK, faktor pendidikan guru sebagai "fasilitator" (perhatikan: bukan sebagai guru tradisional, sumber-segala-sumber ilmu pengetahuan) akan sangat menentukan!). KBK mengasumsikan tersedianya sumber-sumber ilmu pengetahuan yang terbuka seperti internet, fasilitas perpustakaan, lingkungan yang memadai, dan seterusnya, serta kemampuan guru mengolah mata pelajaran tanpa harus membebek pada standar kurikulum. Kedua asumsi itu, pada praktiknya, merupakan kemewahan yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah pada umumnya.

Alhasil, sistem "telan mentah-mentah" kembali merajalela. Mari saya beri contoh konkret. Seorang siswa SLTP di Jakarta, seperti anak saya, paling tidak harus "menelan" 16 mata pelajaran (mata pelajaran umum, ilmiah, dan khas daerah), mulai dari Agama, PPKN, Fisika, Ekonomi sampai Komputer dan PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta - untuk siswa di Jakarta). Itu berarti, setiap siswa harus "menelan mentah-mentah" setidaknya 15 buku - saya mengasumsikan Matematika tidak menghafal! - untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Masalah lain yang disinggung anak saya, bukan saja jumlah mata pelajarannya sangat banyak, tetapi juga kandungan masing-masing mata pelajaran sangat rinci, dan karena itu terlalu berat bagi seorang siswa SLTP kelas II. Ini mudah dicermati jika Bapak Menteri sempat meme-riksa buku-ajar standar yang dipakai di sekolah-sekolah kita. Mungkin Bapak Menteri tidak memiliki waktu cukup untuk memeriksa dengan cermat isi buku-ajar itu.

Jadi, izinkan saya memberi contoh yang saya petik secara acak dari buku-ajar anak saya. Untuk mata pelajaran ekonomi, seorang siswa SLTP kelas II diharapkan mampu memahami mulai dari koperasi sampai pembangunan nasional. Dan, masing-masing subjek bahasan diurai dalam rincian yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang kuliah ekonomi di perguruan tinggi. Misalnya, subjek bahasan koperasi, dirinci mulai dari pengertian, asas, landaasan (idiil, struktural, mental, operasional), fungsi dan peran, macam-macam kegiatan dan jenis, sampai segala peraturan yang terkait! Dan, subjek pembangunan nasional dirinci sejak kegiatan negara dalam kehidupan ekonomi (seluruh aspek budgeter, APBN-APBD, jenis-jenis pajak, bagaimana menghitung pajak, dan peraturan yang terkait) sampai tahap-tahap pembangunan jangka panjang (Pelita I sampai Reformasi). Hal yang sama juga terjadi dalam mata pelajaran lain. Ambil contoh buku-ajar biologi untuk SLTP kelas II. Siswa diharapkan memahami mulai dari sistem pencernaan (manusia dan hewan), sistem pernafasan (manusia dan hewan), sistem transportasi (manusia dan hewan), sistem saraf, sistem indera, dan seterusnya.

Lagi-lagi, masing-masing subjek bahasan diberi rincian yang luar biasa mendalam: siswa SLTP kelas II harus memahami perbedaan antara Diapedesis dengan Fibrinogen, gambar penampang kulit lengkap (Anda tahu Globmerulus dan dimana letak Kapsul Bowman?), gambar hubungan antarsel saraf (mana bagian Akson, Dendrit, Vesikel Sinapsis?), dan seterusnya. Karena itu, tidak heran jika seorang dosen biologi di sebuah universitas berkomentar, "Kalau SLTP sudah sejauh ini, apa lagi yang perlu diajarkan di Universitas?"

Perlukah saya menunjukkan materi PLKJ, mata pelajaran khusus untuk siswa yang (kebetulan) tinggal di Jakarta, kepada Bapak Menteri? Seorang siswa SLTP kelas II di Jakarta harus menghafal mati pasal-pasal mana dalam KUHP yang dipakai untuk menghukum "perkelahian pelajar secara per orangan yang mengakibatkan satu pihak luka atau mati", pasal-pasal mana untuk "perkelahian pelajar secara berkelompok", dan pasal-pasal mana yang dipakai jika "pelajar menyerang guru"! Juga, jangan lupa,  pasal-pasal KUHP mana yang dipakai jika "pelajar mabuk-mabukan, minum-minuman keras", atau jika terjadi "pemerasan oleh pelajar", atau "pencurian di kalangan pelajar", atau "pelajar membawa senjata api atau senjata tajam"...


Bapak Menteri yang terhormat. Sengaja saya menguraikan secara rinci beban mata pelajaran yang harus ditanggung anak saya setiap hari saat ia pergi ke sekolah, dan khususnya saat ia menghadapi ujian kenaikan kelas. Menurut saya, hanya anak jenius saja yang mampu menanggung semua beban itu tanpa masalah berarti. Dan, saya harus akui dengan jujur, anak saya bukan anak yang jenius, seperti juga anak-anak pada umumnya.

Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dan kandungan informasi yang sangat padat tanpa memperhitungkan kesiapan mental maupun kognitif anak sesuai tahap-tahap perkembangannya, membuat guru tidak memiliki cara lain kecuali kembali pada sistem kuno: Telan Mentah-mentah! Jangan Tanya, Hafal Saja! Itu pula yang dituntut oleh soal-soal ulangan umum. Mungkin di permukaan, cara itu kelihatannya berhasil. Tetapi, jika dipandang dari sudut pendidikan, sesungguhnya kita telah gagal total! Kita telah ikut berpartisipasi menjadikan kata "sekolah" dan "belajar" momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak didik - mereka yang akan menggantikan kita di masa depan. Seorang teman anak saya bahkan hampir bunuh diri, karena frustrasi menghafal mata pelajaran Biologi. Saya tidak mau peristiwa itu terjadi pada anak saya. Karena itu, Bapak Menteri, tolonglah! Anak saya bukan anak jenius! Dan jutaan anak Indonesia juga bukan anak jenius!


*Penulis adalah Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Jakarta

----------------------------------

Ria, adikku yang kini duduk di bangku kelas I sebuah SMU di Jakarta, dan Taufan, sepupuku yang kini kelas III SMU di Jakarta juga, setiap pulang sekolah mengeluhkan hal yang sama. Dan aku hanya bisa bilang pada mereka, sekolah itu memang melelahkan, tapi kalian harus kuat, kalau perlu belajar kelompok sama temen atau ikut bimbingan belajar. Karena di negeri ini, tidak ada lagi yang peduli dengan dunia pendidikan, kecuali bahwa pendidikan bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan; bahwa pembenahan atas pendidikan hanya sebatas di ruang-ruang auditorium hotel-hotel mewah; bahwa pendidikan formal - seburuk apapun - tetap menjadi acuan; bahwa ijazah masih tetap nomor satu dan kemampuan nomor ke-sekian.

Posted at 12:30 pm by kisahmerahitam
Make a comment  

Sunday, March 19, 2006
(TAK ADA) PILIHAN

Waktu masih di IEK beberapa tahun silam, Pak Resa, salah satu rekan kerja yang sudah cukup senior, tempat berkeluh kesah pernah memberi wejangan yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Bahwa hidup adalah soal pilihan. Dan bagaimana kita mengambil keputusan untuk memilih yang terbaik dari sekian banyak pilihan yang ada di depan mata.

Waktu itu pilihan dan keputusan yang harus kuambil tak seberat saat ini. Terlebih lagi pilihan itu hanya membawa akibat pada diriku. Tidak berpengaruh apalagi merugikan pihak lain. Dan yang lebih menyenangkan aku bebas memilihnya, menurut kata hati dan pikiranku.

Namun kini kondisinya berbeda. Sebuah pilihan disodorkan didepanku. Aku tak bisa lari kecuali mengambil keputusan untuk memilihnya.

Ah, TUHAN, aku benci keadaan ini. Aku benci dengan segala macam ego yang terus bermain di sekelilingku. Aku atau dia kah yang masih harus belajar?

Dan aku benci. Benci tak punya hak untuk memilih. 

Posted at 11:40 pm by kisahmerahitam
Comments (7)  

Wednesday, March 15, 2006
IMPIAN

"Hey...Hollywood, I'll be the next Martin Kauffman. 'N you Mr.Deep! Just wait for me! I'll create a story for you!"

Aaahhh...Senang rasanya punya mimpi. Pembangkit semangat di pagi hari. Meski tak tahu seberapa besar impian itu akan tercapai. But I'll try n I won't give up till the end of days!

Ayo semangat!!

*Selamat Hari Rabu! Hari penuh sejarah kesialan di masa lampau! Rating minggu ini berapa ya? Masih bertahan di TOP TEN kah?*

 

Posted at 07:38 am by kisahmerahitam
Make a comment  

BELAJAR

Lelah. Lungkrah. Tak berdaya. Dalam hati sedikit miris, cemas sekaligus puas. Masing-masing mengisi 1/4 bagian dalam hati. Seperempatnya lagi sedang diisi dengan serum pembangkit semangat.

Ya, itu yang kurasakan setelah hampir seminggu dihajar tanpa habis hingga babak belur, lebam-lebam dan lecet disana-sini. Memar berwarna kebiruan masih terlihat jelas di beberapa tempat. Ah, mas yang gantengnya kalah dibandingin Hugh Grant dan Pierce Brosnan, tapi yang luarbiasa hebat, tega nian dikau berdua. Andai "kuliah" kalian tidak penting, pasti sudah kuhajar kalian. Kalau perlu kusihir dengan tongkat Harry Potter yang kudapat dari salah satu majalah film. Tidak perlu jadi Gollum...Cukup jadi peri rumah macam Dobby.

Tapi karena omelan dan makian kalian lebih berharga dibanding cacian orang-orang yang "sok bersih" diluar sana, aku turuti mau kalian. Aku iyain permintaan kalian. Hanya satu permintaanku pada kalian, jangan pernah kapok mengajariku. Jadilah penyeimbang agar tak hanya doktrin India-India itu yang merasuk dalam tubuhku.  Agar satu saat nanti aku tak hanya piawai bermain dalam industri yang serba gila-gilaan ini dan terjebak dalam neraka bernama rating. Agar satu saat nanti aku pun mampu berperan dalam kancah yang lebih besar. Mewujudkan salah satu impianku. Dan tetap berpegang teguh pada hati nuraniku.

*Sedang tertatih-tatih belajar dari siapapun dan apapun. Hanya berharap bisa bertahan di tengah dunia yang semakin menggila*

Posted at 03:10 am by kisahmerahitam
Make a comment  

Sunday, March 12, 2006
WELCOME TO THE CLUB!

"Selamat datang ke klub orang-orang bermata empat, sayang..."

Itu reaksi si musuh besarku saat tahu aku resmi mengenakan benda persegi antik dengan dua lensa bening yang dirangkai oleh frame cantik berwarna burgundy. Aku hanya bisa mendengus kesal. Selama ini selalu berdoa semoga nggak pernah pakai benda satu ini. Cause I love my eyes very much! (Narsis ihh!).

Dan dia, musuh besarku, tertawa lebar. Sebagian doanya terkabulkan. Sejak matanya minus dan kemudian terpaksa pakai kacamata, wuiihhh...Dia rajin menyuruhku ikutan berkacamata.

"Nggak usah ya. Makasih deh! Kalau kacamata gaul sih ok! Tapi beliin yang pink ya...Itu loh, model yang pernah kutunjukin dulu. Pink punyaku nggak sengaja ketindihan dan pecah", jawabku sambil tersenyum semanis mungkin.

"Nggak ah. Aku mau lihat kamu pakai kacamata bening dan simple kayak yang kupake. Biar kamu kelihatan lebih dewasa. Masa umur sudah segitu, masih kelihatan kayak anak-anak. Kalah sama aku yang usianya lebih muda darimu", ujarnya dengan wajah serius. (Hey...Jelas saja aku kelihatan lebih muda darimu karena kamu selalu pasang tampang serius gitu. Smile dong...Smile!)

"Nggak mau!"

"Aku doain matanya minus loh!"

"Hih! Jahat!"

"Biarin!"

Huuhhh...Dasar. Masa orang dilihat dewasa atau nggak dari apa yang dia kenakan termasuk kacamata. Huh! Dan malangnya, untuk kesekian kalinya aku harus kalah darinya. Kemarin, waktu bareng Dyah nganterin  Mbak Elvi ke optik, iseng periksa mata. Hasilnya mata kiri minus 0.25 dan mata kanan 0.50.

"Jangan GR! Ini nggak berarti doamu dikabulkan! Ini cuma akibat radiasi dari monitor komputer yang kutongkrongi hampir 24 jam setiap harinya!"

"Nggak perduli! La...la...la...Yang penting kamu pakai kacamata sekarang", dan dia makin tersenyum lebar.

Eh, tapi maaf ya...Aku nggak mau kalah sepenuhnya. Kacamata yang kupilih bukan seperti yang kamu harapkan! Tongue 

*Sedang menyesuaikan diri dengan si Burgundy*

Posted at 06:18 pm by kisahmerahitam
Comments (2)  

Saturday, March 11, 2006
BALADA DINIHARI

Sabtu dinihari. Masih di depan kompie. Ngedit naskah yang nggak selesai-selesai. Sendirian. Eh, nggak ding, ditemeni Damien Rice and his gank! Thanks ya. Jadi nggak ngantuk. Dan maaf kalian pasti capek ta' puter terus. Hihihi.

Thanks juga buat Ibel, yang udah ikutan nemenin meski cuma beberapa jam dan lewat sms pula. Lupa bilang, "Buku wajibmu mau dibaca kapan toh mas? Apa perlu ku bantuin baca?". Hiks...Sampai bosen ngingetinnya :p

*Aiihh...Judulnya nggak kuku :p* 

Posted at 03:11 am by kisahmerahitam
Make a comment  

Thursday, March 09, 2006
MENIKMATI WOMAN'S DAY

Wah, surprise! Kemarin sore dapat sms dari musuh besarku, "Met hari wanita ya". Rupanya kemarin (8/3) itu Woman's Day toh? Wah...Ada-ada saja ya cara untuk "memanjakan" perempuan. Kalau di Indonesia ada Hari Ibu, yang diperingati tiap tanggal 22 Desember.

 

Jadi inget, dulu, waktu bapak masih ada, tiap Tanggal 22 Desember, selalu berusaha untuk manjain ibu. Kita bagi-bagi tugas. Bapak masak (ssstt...Masakan bapak ueenak loh! Asli!). Aku dan adik-adik membersihkan rumah.

 

Siang hari, waktunya makan siang, kita sekeluarga gelar tikar di ruang tengah. TV dimatiin. Nggak ada yang boleh melakukan kegiatan apapun selain makan siang. Menunya spesial. Pilihannya, kalau nggak urap lengkap dengan segala uba-rampe-nya; gado-gado vs kerupuk udang; sayur asem plus sambal terasi, ikan asin gabus dan lalapan; sop feat tempe goreng dan sambal kecap; atau sambal belut yang wiiihhh...bikin selera makan jadi berkali-kali lipat.

 

Sambil makan, asyik guyon. Ujung-ujungnya bapak nanya kenapa ya nggak ada Hari Bapak, saat dimana bapak bisa dimanja sama seluruh keluarga. Ibu, aku dan adik-adik langsung protes dan bilang nggak perlu. Alasannya beragam. Nggak ada Hari Bapak aja bapak suka "seenaknya" loh. Kalau bilang ini-itu harus dituruti. Lagi asyik-asyik nonton TV, kalau beliau bilang harus belajar ya TV harus mati. Lagi asyik main, beliau bilang pulang ya harus pulang. Mau janjian sama teman kalau beliau bilang sepertinya nggak aman, ya harus nurut tinggal di rumah. Walhasil bapak pun sibuk membela diri. Hehehehe...

 

Kelar makan biasanya ngantuk atau jadi malas ngapa-ngapain. Padahal dapur berantakan, karena semua alat masak turun dari tempatnya. Kebiasaan bapak kalau masak semuanya dipakai. Cucian piring numpuk dan lantai dapur penuh dengan potongan sayuran dan bumbu. Ibu yang nggak tahan liat rumah berantakan langsung turun tangan. Bet...Bet...Bet...Dalam waktu beberapa menit, rumah langsung bersih kembali dan nyaman untuk dipandang serta ditinggali.

 

Sorenya, kita semua disidang sama ibu.

 

"Katanya mau manjain ibu, lha kok jadi ibu juga yang turun tangan beresin rumah?"

"Katanya nyuruh ibu istirahat, kok malah ibu yang repot sendiri?"

 

Sambil nyengir, kita semua minta maaf dan bapak pun menengahi.

 

"Ya sudah, malam ini kita makan diluar aja, biar rumah nggak berantakan lagi!"

 

Aku dan adik-adikku langsung bersorak gembira. Nggak sabar pengen cepet-cepet ke seafood langganan. Membayangkan udang asam manis, cah kangkung, atau ikan bakarnya yang yummy!

 

Dan kemarin, meski tidak ada yang memanjakanku di Hari Perempuan Se-dunia; harus menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk, sampai-sampai leher, bahu dan tangan pegal serta kurang tidur; namun rasanya hariku cukup menyenangkan. Ada Risya yang memberi sekotak es krim dan tukang es yang datang membawa martabak coklat kacang keju untuk dimakan rame-rame bareng seluruh penghuni Polonia. Sembari ngobrol dan nonton House of Flying Dagger.

 

Nb. Sampai sekarang masih bersyukur dilahirkan sebagai perempuan dan menikmati anugerah luar biasa yang diberikan-NYA pada mahluk sepertiku. Happy Woman's Day!!!

Posted at 11:11 pm by kisahmerahitam
Make a comment  

Tuesday, March 07, 2006
PENDATAAN IDENTITAS PEMILIK KARTU PRABAYAR

Sudah lama banget sebenarnya dapat kabar soal kewajiban bagi para pengguna kartu seluler prabayar untuk mendaftarkan identitas diri. Ini bermula dari kunjungan seorang kawan ke kantor lamaku di Bintaro, Desember tahun lalu.

 

"Sudah daftar ke 4444 belum?"

 

Aku bengong. Weleh...Apa itu 4444? Rasanya di acara gossip atau infotainment yang jarang-jarang ku tonton itu nggak ada soal 4444. Apalagi di sinetron. Nggak ada juga tuh. :p

 

"4444 itu apaan sih Kang?"

"Masa' nggak tahu sih? Mulai sekarang setiap orang yang pake kartu prabayar harus ndaftarin diri ke 4444. Itu ada peraturannya loh. Paling lambat tanggal 1 April nanti. Kalau nggak nomornya bisa angus."

 

Kawanku itu kemudian mulai  menjelaskan secara panjang lebar dengan berkali-kali mengulang kata GRATIS dan ANGUS. Pada setiap kata GRATIS, dia memberi penekanan khusus. Ehm, dia tahu banget aku suka sama sesuatu yang berbau gratis. *Hihihi*

 

Aku hanya manggut-manggut. Terus terang masih nggak ngerti buat apa ndaftarin identitas diri segala. Kurang kerjaan, pikirku. Tapi sejak saat itu fenomena "Sudah ndaftar ke 4444, belum?" sering banget menghampiriku. Hampir setiap orang yang ku kenal menanyakan hal serupa. Dan dengan riangnya mereka memberitahuku kalau mereka sudah melakukan hal itu, mendaftarkan identitas dirinya sebagai pemilik sah nomor prabayar yang mereka pakai. Dan lagi-lagi selalu bilang GRATIS dengan penekanan khusus.

 

Cukup sudah! Aku harus cari tahu ada apa ini sebenarnya?

 

MENDETEKSI KEBERADAAN TERORIS

 

Dengan gaya ala Sherlock Holmes saat sedang menyelidiki perkara kriminal, aku lalu mulai rajin mbaca koran dan nonton acara berita di TV. Rutinitas yang sudah lama kutinggalkan sejak sibuk menulis naskah (hehehe...beneran sibuk, suer!). Lah kok nggak ada beritanya toh? Kalaupun ada ya cuma sedikit, sepotong-sepotong, nggak lengkap dan tidak memuaskan. Apa karena aku telat ya nyari beritanya? Akhirnya dari data yang berhasil ku kumpulkan termasuk dari omongan teman-teman, ternyata ini adalah "kerjaan" Pemerintah yang sudah kehabisan cara untuk mencegah aksi terorisme yang belakangan sering terjadi di negeri tercinta.

 

Oalah...Jadi gitu toh. Supaya arus informasi bisa diawasi. Biar kalau teroris-teroris itu saling ber-sms atau ber-telepon ria merencanakan target mereka selanjutnya, bisa langsung ketahuan sama aparat yang berwenang. Hihihi...Terus terang aku jadi mbayangin gimana susahnya nanti si teroris itu ndiskusiin "kerjaan" mereka lewat sms atau telepon. Kayaknya mereka harus bikin bahasa kode yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok mereka. Hihihi...

 

PENGAWASAN NEGARA ATAS RAKYATNYA

 

Ingatanku kemudian melayang ke film lama yang pernah ku tonton. Apa ya judulnya? Pokoknya ada Enemy-enemy-nya gitu loh, apa ya Enemy of The State (???). Yang main itu si keren Will Smith. (Eh, mas, situ keren bener sih waktu main di Bad Boys I dan II...hik...hik...hik...*merona merah*).

 

Eh, cukup soal Will Smith-nya. Nah, seingetku, di film itu si penjahat yang notabene salah satu petinggi negara menggunakan kekuasaannya untuk memonitor seluruh sarana komunikasi guna memburu Mas Will Smith. Kebayang kan gimana susahnya Mas Will ini mau ngehubungin teman maupun keluarganya.

 

Dan kasus serupa nggak cuma terjadi di film ini. Di beberapa film lain – produksi Hollywood tentunya – lagi-lagi diliatin gimana negara (baca: penguasa) melakukan kontrol atas rakyatnya. Melakukan pengawasan diam-diam dengan "menyadap" seluruh sarana komunikasi. Dengan begitu mereka (lagi-lagi baca: penguasa) tahu apa yang direncanakan dan dilakukan oleh rakyatnya.

 

Dalam kehidupan nyata aku yakin, mereka (baca: penguasa lagi ya...) tidak menutup kemungkinan melakukan hal yang sama. Lah contoh nyata ya yang dilakukan Pemerintah RI sekarang ini. Sebagian besar rakyatnya yang sekarang sudah melek HP harus mendaftarkan identitas dirinya. Ini apa namanya kalau bukan "mengawasi" atau dengan kata lain "memata-matai"?

 

Menurut salah satu Pegawai Depkominfo yang pagi tadi diwawancarai Dagink dan Desta di Prambors, langkah serupa bukan hanya dilakukan oleh Indonesia, tapi juga dua negara tetangga lainnya. Yaitu, Singapura dan Malaysia. Tentunya dengan tujuan yang sama. Mencegah aksi terorisme.

 

PELANGGARAN HAK PRIBADI

 

Di satu sisi tujuannya bagus. Mencegah aksi terorisme. Tapi Mbak dari Depkominfo tahu nggak sih kalau ini sudah melanggar hak pribadi rakyat termasuk hak pribadiku? Lah kalau semua lini komunikasi diawasi, aku dan rakyat lainnya nggak punya kesempatan untuk bertukar rahasia dong. Masa harus bisik-bisik, lah gimana kalau lawan bicaranya jauh di ujung kota atau di seberang samudera? Pake email? Lah kalau di kampung yang warnetnya jarang-jarang, gimana? :p

 

TERPAKSA MENDAFTAR

 

Berdasarkan segala pertimbangan dan prasangka negatif atas "langkah positif" penguasa, aku membulatkan tekad untuk tidak mendaftar. Biar saja, aku mau tahu nanti nomor prabayarku mau diapakan. Tapi tiba-tiba beberapa waktu lalu, HP bututku berbunyi...Telolet...lolet...Pertanda sebuah pesan masuk. Buru-buru kubuka. Ternyata dari perusahaan penyedia layanan kartu selular yang kupakai.

 

"Utk ketertiban penggunaan kartu prabayar, daftarkan identitas Anda. Ketik: DAFTAR kirim SMS ke 4444, GRATIS. Info lbh lanjut hub 818. Mohon abaikan jika sdh mendaftar" tertanggal 18 Januari 2006, pukul 15.17 WIB.

 

Ku cuekin. Peduli amat. Sudah ku putuskan untuk tidak mendaftar sampai aku dapat beberapa penjelasan mengenai beberapa hal yang mengganggu pikiranku soal daftaf-mendaftar identitas ini. Niatnya aku memang mau menyambangi kantor si 818 itu. Tapi apa daya kerjaan nggak bisa ditinggal. Sampai akhirnya si 818 nggak sabar dan ngirim pesan keduanya.

 

"Pelanggan Yth, seperti disampaikan pd SMS terdahulu & sesuai peraturan pemerintah yg berlaku, mohon daftarkan kartu prabayar XL Anda. Ketik: DAFTAR kirim ke 4444" – tertanggal 14 Februari 2006, pukul 14.22 WIB.

 

Hehehe...Keren ya. Dikirim pas valentinan, pake kata Yth dan diberi penjelasan bahwa kartu yang kupakai itu kartu prabayar. Dipikirnya aku nggak tahu kalau kartuku itu kartu prabayar. Tapi tetep nggak ngaruh say...Aku nggak tergoda untuk ndaftar tuh. Maaf ya, rayuannya nggak mempan :p

 

Sampai akhirnya si 818 ini kelihatannya mangkel (kesel – red) beneran sama ke-ndablek-an-ku. Sore-sore, pas hujan gerimis turun mriwis-mriwis, si 818 menelepon.  Awalnya surprise, nggak punya prasangka negatif, wong waktu itu mikirnya, jangan-jangan aku dapet hadiah. Syukur-syukur dapet 30 juta. Bisa beli Sony Vaio! Uhuy...

 

"Halo, selamat sore. Kami dari ....... Kami ingin mengkonfirmasi apakah anda sudah mendaftarkan identitas diri anda?"

"Wah belum tuh mbak. Harus ya?" (si 818 yang meneleponku itu ternyata perempuan dengan suara lembut loh...)

"Kalau begitu, ibu bisa mendaftarkan identitas ibu sekarang..."

"Saya masih MBAK kok..." (protes, padahal apa bedanya ya...wong nanti juga pasti jadi ibu).

"Eh, maaf Mbak...Iya...Tolong sebutkan nama lengkap, alamat, tempat tanggal lahir dan nomor KTP mbak..."

"Sebentar mbak, saya mau tanya sesuatu dulu sebelum mendaftar. Boleh kan?"

"Boleh. Silahkan."

"Kalau saya sudah mendaftarkan nomor ini, terus satu saat saya jual HP saya sekaligus nomornya, apa orang yang membeli HP dan nomor saya itu harus mendaftar ulang?"

"Nggak perlu mbak. Kan sudah didaftarin sama mbak sebelumnya."

"Loh, tapi kan pemiliknya udah beda. Gimana kalau ternyata orang yang membeli HP dan nomor saya itu melakukan kejahatan, misalnya saja ternyata dia teroris, apa saya yang kena? Karena nomornya kan terdaftar atas nama saya..."

"Iya mbak."

 

Waduh...Terus terang aku jadi bengong sebengong-bengongnya. Buru-buru aku tanya lagi ke Mbak 818 itu.

 

"Lah kalau kasusnya HP saya hilang dan nomornya juga dipakai orang yang ternyata lagi-lagi penjahat atau teroris, apa saya juga yang kena?"

"Iya mbak."

"Loh...Mbak ini gimana sih?"

"Ya gitu pokoknya mbak. Jadi mbak mau daftarin identitas mbak atau nggak? Kalau nggak kartu mbak bisa hangus dan tidak bisa digunakan lagi." (Nada bicara si Mbak 818, mulai kesal dan defensif).

 

Sementara aku, masih terbengong-bengong. Loh kok gini ya? Harusnya sebagai customer service atau apalah jabatan si mbak itu, perusahaan sudah memberikan training padanya bagaimana menghadapi pertanyaan pelanggan bawel sepertiku ini.

 

SOLUSI ATAS PERTANYAAN TAK TERJAWAB

 

Merasa kurang puas dengan jawaban Mbak 818, maka aku mencoba mencari solusi sendiri. Karena pemerintah dan perusahaan-perusahaan penyedia layanan jasa telepon itu tidak bisa mengantisipasi "perpindahan tangan" kartu prabayar yang sudah didaftarkan, maka kita sendiri yang harus "mengantisipasinya". Misalnya dengan:

 

  1. Memasang "pengaman" pada kartu yang kita pakai. Entah itu dengan mengaktifkan PIN, PUK atau apalah. (Terus terang aku nggak pernah pakai dua-duanya. Terlalu merepotkan bagi orang sepertiku yang punya kebiasaan lupa).
  2. Menjaga dengan baik agar HP sekaligus nomor kita tidak hilang, kecopetan atau kemalingan. Jika ternyata tidak bisa menghindari ketiganya, cepat-cepat lapor ke perusahaan penyedia layanan yang anda pakai, agar mereka tahu bahwa nomor itu bukan milik anda lagi.
  3. Jika sudah merasa bosan dan ingin ganti nomer lain, kartu yang lama jangan dibuang sembarangan. Lebih baik dipatahkan jadi dua, tiga, atau kalau bisa diremukkan sekalian. Daripada kartu anda ditemukan orang lain yang ternyata teroris TOP dan dipakai olehnya. Bisa berabe kan? :p

KEISENGAN

 

Saat menceritakan percakapanku diatas pada salah satu kawan, reaksi kawanku itu cuma, "Iseng banget sih lo, kasihan mbaknya kan ditanyain kayak gitu." Loh, padahal ini penting banget. Berhubungan sama identitas dan kehidupan kita nantinya. Nggak boleh dianggap main-main. Inget nggak sama film ..... (duh bodohnya, lupa lagi judulnya). Pokoknya ceritanya itu gimana seseorang dengan seenaknya mempergunakan identitas orang lain dan membuat hidup orang lain itu hancur berantakan!!! (Eh, inget-inget ding akhirnya. Itu di salah satu episodenya Tru Calling!).

 

Kata "Iseng banget sih lo?" berikutnya dilontarkan kawan lainnya, waktu aku mengajaknya berbuat iseng. Saling mengirim sms ala teroris yang hendak beraksi. Berpura-pura hendak menge-bom salah satu gedung atau lokasi yang strategis. Pengen tahu gimana reaksinya si penguasa dan perusahaan penyedia layanan telepon itu. Hehehe...

 

 

Nb.1. Apa ada yang mau mencoba ber-sms-an seperti itu?

Nb.2. Someone in somewhere...Bikin bahasa kode yuk say, biar tetap bisa sms dan telepon-teleponan mesra tanpa  takut direkam sama mbak/mas operator atau aparat. Berabe kan kalau sampai mereka iseng nyebarin isi percakapan kita...*Twing!* 

 

*Sedang sibuk merancang bahasa kode :p*

Posted at 01:58 pm by kisahmerahitam
Make a comment  

Saturday, March 04, 2006
EMPAT MARET

Empat Maret. Selalu membuatku mengenang banyak hal. Kenangan yang dimulai bertahun-tahun silam, saat seseorang mengajakku berkeliling Jakarta. Menyusuri ruas Jalan Sudirman di tengah kota hingga ke ujung utara Jakarta. Menikmati semilir angin di tepi pantai, bermain dengan ikan, bercanda dan berdebat di dalam taksi. Sopir taksinya sampai geleng-geleng kepala melihatnya.

Hari itu, pertama kalinya nonton film di bioskop. Sampai sekarang aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana reaksiku saat pertama kali masuk ke bioskop, termasuk film yang ku tonton saat itu. Judulnya No Where But Here. Natalie Portman yang main. Gadis manis dan cerdas yang memiliki tahi lalat di pipi. Yang kemudian ku-gila-gilai dan selalu semangat untuk menonton film-filmnya.

*Norak ya, setelah bertahun-tahun di Jakarta, baru kali itu aku pergi ke bioskop..hehehehe...Dulu, waktu di Lampung sering sih nonton film, tapi cuma G30S/PKI. Paling keren itu ya nonton Ari Anggara. Nontonnya pun di balai desa. Hehehehe...*

Hari itu, bukan hanya pertama kali ke bioskop. Tapi juga pertama kalinya berani bilang "IYA" ke seseorang yang kemudian menyanyikan I Belong to You-nya Lenny Kravitz. Keren ya...Seumur-umur baru kali itu dinyanyiin lagunya Lenny Kravitz. Lumayan ada semacam peningkatan. Wong, sebelumnya, setiap yang datang padaku cuma bisa nyanyiin lagunya Dewa 19 dan berakhir dengan kata "TIDAK" dariku. Maaf ya, terus terang, ngerayu dengan lagunya Dewa 19 sudah pasaran. :)

Ah, entah kenapa, setiap 'melewati' tanggal itu, aku selalu terkenang semua kemanisan yang pernah terjadi di Empat Maret bertahun-tahun silam. Tapi hari ini, kenangan akan EMPAT MARET bertambah. Tidak berhubungan dengan seseorang diatas, dan tidak dengan siapapun. Kenangan yang anehnya justru bertolak belakang dengan kemanisan yang selama ini melekat di setiap tanggal 4 Maret.

Pagi ini, 4 Maret 2006, aku mimpi buruk. Benar-benar buruk hingga mampu membuatku tersedu-sedu. Aku merasa seluruh duniaku runtuh saat aku "terbangun" dan menyadari kedua mataku rusak dan orang-orang terdekatku menghilang. Perasaan aneh yang kuartikan sebagai sebuah kegilaan yang menyergap dengan tiba-tiba.  Mendadak aku seperti bisa memahami bagaimana rasanya menjadi gila. Tapi apa benar yang kurasakan itu adalah kegilaan? Bukan histeris semata?

Entahlah. Karena sesaat setelah aku lelah menangis, aku terbangun. Benar-benar bangun. Airmata masih tumpah di pipi bahkan saat kemudian aku mengirim sms ke seseorang. Memberitahunya bahwa aku ingin menjumpainya secepat mungkin. Memastikan bahwa duniaku masih utuh.

Ah...Empat Maret. Kenapa mesti kenangan manis-mu harus dirusak oleh mimpi tragis yang membuat miris?

 

*Semoga mimpi buruk ini hanya peringatan kecil bahwa aku harus mulai menjaga jarak dengan....Monitor komputer :p*

*Bahwa Empat Maret tetap menjadi salah satu hari dari sekian banyak hari termanis dalam hidupku*

*And I'm still missing you...Someone in somewhere! Wait for me...please...* Hugz!*

Posted at 02:59 pm by kisahmerahitam
Make a comment  


Previous Page Next Page




<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed