Saturday, March 14, 2009
HAPPY ANNIVERSARY, DEAR!



Pintaku tak banyak. Cukuplah mencintaiku seperti sebulan ini.

 



Posted at 02:30 pm by kisahmerahitam
Make a comment  

Wednesday, March 04, 2009
THE FORGOTTEN

Senja mendadak kelabu kala perbincangan tentang film The Forgotten berubah menjadi tanya: siapa dan mengapa melupakan.


Kau sudah tahu jawabannya: pada airmata yang tiba-tiba mengalir deras tanpa bisa ditahan.

 

Tapi hidup tak pernah berhenti di satu titik kan?

Posted at 01:17 am by kisahmerahitam
Comments (4)  

Friday, November 21, 2008
REUNI


Berjumpa dengan kawan-kawan lama, selalu menyenangkan buat saya. Berbagi cerita, kabar, bahkan kenangan. Siapa yang sangka jika sang kawan justru mengingat kejadian atau bahkan kalimat sepele yang pernah kita ucapkan di masa lalu.

 

"Gila lo. Elo mau gue bunuh-bunuhan?"

 

Dan lelaki berkacamata itu tergelak. Syal abu-abu yang dikenakannya bergerak seirama tawanya. Sorot matanya tak percaya saat menatap kami, saya dan seorang kawan perempuan.

 

"Masa sih gue ngomong begitu?", tanyanya tak yakin.

 

"Iya. Waktu itu kan elo marah banget", ujar saya mengingatkannya.

 

Ia kembali tergelak. Tawanya lepas.

 

"Gue udah lupa. Elo berdua masih inget aja."

 

"Ingat nggak, waktu kita bertiga belajar renang di kolam yang buat anak-anak kecil itu?"

 

Kami bertiga kembali tertawa mengingat kekonyolan yang pernah dilakukan. Tiga orang dewasa berenang gaya batu di kolam untuk anak-anak. Meski airnya cuma setinggi lutut, kami bergantian memakai pelampung warna shocking pink. OMG! *tepok jidat*

 

Seperti biasanya setiap kali bertemu, reuni sepanjang sore hingga malam tadi tak melulu soal mengenang masa lalu. Ada cerita tentang rencana dan harapan di masa mendatang. Pekerjaan, keluarga, kekasih, sampai soal liburan dan rumah impian.

 

Saya, entah kenapa, selalu merasa gembira setiap kali berbagi harapan dengan mereka. Melihat mereka tersenyum dengan sorot mata berbinar-binar, membuat hari saya sempurna.

 

Makasih kawan, untuk semuanya.

 

 


Nb. Jadi penasaran, siapa yang bakal dibawa olehmu ke Taman Mini minggu depan ya Mas? :p



 

Posted at 11:51 pm by kisahmerahitam
Comments (14)  

Thursday, November 20, 2008
RUGI PERAS(AAN)



Mas : Toh hidup baik juga ndak rugi apa-apa.

Mas : Menuruti alquran, shalat, shadaqah, dst dst.

Mas : Ga ada ruginya. Banyak temen, disukai orang, happy.

Merahitam : paling-paling rugi AAN kalau ketemu drama queen

Mas : drama queen sapa?

Merahitam : lah ya itu

Mas : oohhh

Mas : ya ya

Mas : hiehiehiehiheiheihiehe

Mas : ho oh



* seperti yang pernah kita bicarakan, mungkin ini saatnya belajar mementingkan AAN daripada IKA *wink*



Posted at 06:17 am by kisahmerahitam
Comments (6)  

Thursday, October 30, 2008
JEJAK JINGGA


Hari ini saya ingin sekali menjadi putri tidur. Hidup dalam buaian mimpi indah hingga sang pangeran membangunkannya dengan satu kecupan mesra. Dan dunia di sekitar menjadi penuh warna. Tak ada yang perlu dicemaskan.

 

Sayangnya, saya tak bisa tidur. Dua jam lebih bergolek, miring kanan-miring kiri, sembari menikmati Home milik Michael Buble, tak membuat mata segera terpejam. Semestinya dalam putaran kedua atau ketiga, suara lembut Buble akan mengantarkan saya dalam lena yang panjang. Seperti yang biasa dilakukannya. Tapi kali ini tidak.

 

Jadi saya memutuskan untuk bangun. Pekerjaan baru datang nanti malam. Masih tersisa banyak waktu dan ada banyak hal yang ingin saya lakukan. Membongkar beberapa barang, membaui setiap lembarnya yang akan membawa saya terbang menjelajah hingga puncak Monas yang berkilauan di satu pagi.

 

Pagi terindah. Saya rebah. Menyerahkan diri sepenuhnya pada hamparan rumput hijau dan matahari keemasan yang mengintip dari sela-sela pucuk dedaunan. Angin bertiup dari utara, menyebarkan aroma asin di udara. Aroma laut.

 

Angan saya pun melompat pada ikan lumba-lumba. Matanya bulat hitam berbinar tatkala dua tangan kanan saling bersentuhan saat mengusap kulitnya yang licin dan berwarna kelabu. Senyum malu-malu tergambar di sudut kerlingan. Tak usai hingga angin terus membawa angan saya di sepanjang ruas jalan menuju Senayan.

 

Sayup-sayup lirik lagu Lenny Kravitz menyeruak, memaku angan. I belong to you. You belong to me.

 

Ada yang basah.

 

Jarum jam di dinding menunjukkan pukul empat lebih duapuluhlima menit. Masih ada waktu. Saya ingin jogging. Sesuatu yang saya ingin lakukan sejak dulu. Memutari Senayan, Monas, maupun boulevard UGM dan menikmati sentuhan lembut angin di wajah, saat kita berlari.

 

Sepatu hitam bergaris merah akan menemani saya. Ini pertama kalinya kami akan bersama-sama mengejar jejak jingga di ujung cakrawala. Tapi sayangnya, jejak jingga tak mau menghias langit sore ini. Ia bersembunyi dalam nestapa yang berkelindan rapi membungkus. Berharap bisa menjadi putri tidur.



 

Posted at 04:25 pm by kisahmerahitam
Comments (4)  

PERIH


Ketika kau harus kehilangan bagian dari dirimu
Tak tahu hingga kapan rasa nyeri menggenapi hari






Posted at 10:20 am by kisahmerahitam
Comments (4)  

Thursday, October 02, 2008
MENDADAK NARSIS



Jeng Luvie yang baru saja pindah rumah itu, memberi  PR untuk berbagi 10 kebiasaan dan menuliskannya disini. Sebagai kawan yang manis dan narsis, tentu saja, saya berusaha mengerjakan PR sebaik mungkin.

Ini 10 kebiasaan yang paling sering saya lakukan.

1. Tidur setelah subuh

2. Makan tak teratur

3. Menangis saat melihat film yang mengharukan

4. Membaca dua-tiga buku sekaligus

5. Membaca majalah dan koran, mulai dari halaman belakang

6. Mengoleksi bermacam-macam benda remeh-temeh mulai dari gantungan kunci, perangko, gambar di majalah, tiket nonton, bon, kartu undangan, tiket timezone, botol-botol kecil, uang logam, poster film, pembatas buku, souvenir pernikahan, kartu pos, pin, dan beberapa barang lainnya.

7. Mengganggu beberapa kawan dengan cara meneleponnya tengah malam hanya untuk menemani mengobrol.

8. Bernyanyi keras-keras di kamar mandi

9. Malas minum obat dari dokter

10. Mengupil


Jika ada yang ingin berbagi kebiasaannya juga, silahkan, monggo tulis disini, atau di blog masing-masing. Siapa tahu, kita punya kebiasaan yang sama Big Smile



Posted at 03:43 am by kisahmerahitam
Comments (12)  

Wednesday, October 01, 2008
SELAMAT IDUL FITRI 1429 H



Selamat Idul Fitri 1429 H
Mohon maaf lahir dan batin


Posted at 04:58 am by kisahmerahitam
Comment (1)  

Sunday, September 28, 2008
OST LASKAR PELANGI



Mimpi adalah kunci

untuk kita menaklukan dunia

berlarilah tanpa lelah

sampai engkau meraihnya

 

Laskar Pelangi

takkan terikat waktu

bebaskan mimpimu di angkasa

warnai bintang di jiwa

 

Menarilah dan terus tertawa

walau dunia tak seindah surga

bersyukurlah pada yang kuasa

cinta kita di dunia, selamanya

 

Cinta kepada hidup

memberikan senyuman abadi

walau hidup kadang tak adil

tapi cinta lengkapi kita, ooohhh...

 

Laskar pelangi

takkan terikat waktu

jangan berhenti mewarnai

jutaan mimpi di bumi

 


Posted at 11:24 pm by kisahmerahitam
Make a comment  

Friday, September 26, 2008
BULAN UNTUK SI BUNGSU

 

Sejak pertengahan Agustus 2008, si bungsu mulai bekerja di Mall Ambassador. Saya masih ingat, sehari sebelumnya, rupa si bungsu berseri-seri. Dengan penuh semangat ia memilih pakaian yang akan dikenakannya di hari pertama bekerja.

 

"Kalo gue pakai ini, bagus nggak mbak?"

"Bagus. Lucu kok."

"Apa mendingan pakai ini aja?"

"Yang itu juga bagus."

"Jadi pakai yang mana dong?"

"Terserah adek deh."

 

Bibirnya manyun, lantaran saya tak memberikan solusi buatnya.

 

Saya tertawa geli melihatnya sibuk membongkar lemari, memadu-padankan pakaian, bolak-balik mematut diri di depan cermin, meminta pendapat ibu dan kakak-kakaknya. Persis seperti yang saya lakukan bertahun-tahun silam, saat pertama kali mulai bekerja di kantoran. Saya masih ingat dengan jelas. Perasaan senang, cemas, bingung, bercampur-aduk.

 

Sebulan kemudian, tepatnya seminggu yang lalu, si bungsu terisak di hadapan saya dan ibu.

 

"Aku nggak tahan. Aku mau keluar aja."

 

Saya tidak menerima begitu saja keputusannya. Apalagi ia tak memberikan alasan jelas kenapa ingin berhenti.

 

Bekerja adalah idenya. Sejak awal kelulusannya, ia bersikukuh untuk bekerja jika tidak bisa masuk ke universitas negeri. Sembari menunggu SPMB tahun depan, demikian kilahnya.

 

Saya mengamini keinginannya yang menggebu-gebu, meski sebenarnya lebih suka jika si bungsu mengambil kursus bahasa atau pelatihan lainnya. Tapi tidak ada salahnya membiarkan ia bekerja. Siapa tahu ia bisa lebih matang dan tidak manja lagi.

 

Itu sebabnya, ketika si bungsu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, saya menolaknya. Saya ingin si bungsu menghormati kontrak kerja yang telah ditandatanganinya. Saya ingin ia belajar bertanggungjawab, berani menghadapi resiko dan konsekuensi dari keputusannya. Perkara capek, dimarahi bos atau dimusuhi rekan sekerja, adalah hal yang jamak. Dimana sih, kita bisa bekerja dengan enak dan bebas dari tekanan?

 

Satu hingga dua hari, si bungsu masih mau bekerja kembali. Tapi setelahnya, ia benar-benar menyerah. Airmatanya kembali berlelehan saat bercerita tentang kejadian di tempat kerjanya.

 

Sebagai anak baru, ia tak keberatan bekerja lebih banyak dari senior-seniornya. Rela tiap hari mesti mencuci kain lap dan mengepel toko, meski dokter sudah mewanti-wanti agar tangannya tak bersentuhan dengan sabun, bubuk deterjen maupun cairan pembersih lainnya. Maklum, kulitnya belakangan ini sedikit sensitif.

 

Tapi ia tak tahan jika tiap hari dituduh maling.

 

"Setiap ada barang yang hilang, selalu anak baru yang dituduh. Padahal aku nggak tahu apa-apa. Mana harganya mahal lagi. Ada yang harganya limaratus ribu lebih."

"Ya adek bilang dong, bukan adek yang ambil."

"Udah. Malahan aku sumpah demi Allah segala, tapi bosku tetep nggak percaya."

 

Saya tatap wajahnya. Airmata itu masih menggenang di pelupuk matanya.

 

"Aku udah nggak tahan, mbak...aku udah nggak tahan", ratapnya berulang-ulang.

 

Saya terdiam. Saya tahu rasanya difitnah untuk sesuatu yang tidak pernah kita lakukan. Beberapa tahun silam, manajer keuangan di tempat saya waktu itu bekerja, menuduh saya menggelapkan puluhan juta uang perusahaan. Saya hanya bisa beristighfar dan memohon agar Allah menunjukkan kebenarannya. Untunglah, beberapa minggu kemudian, terbukti kalau manajer keuangan yang menggelapkan uang tersebut. Perasaan saya sangat lega. Selama saya bekerja disana, tak sekalipun saya memegang uang kas lebih dari satu juta. Sebagai junior accountant, tugas saya hanya mengurus petty cash dan menangani pembukuan operasional harian.

 

Meski akhirnya saya terbukti tidak bersalah, tapi perasaan tak enak serta pandangan mencemooh dari rekan-rekan kerja, tetap membayang hingga beberapa waktu sesudahnya.

 

Suara isak si bungsu membuyarkan lamunan.

 

"Aku boleh berhenti kerja ya mbak..."


Saya mengangguk. Saya tak akan memaksanya untuk tetap bekerja di tempat dimana prasangka buruk masih dinomorsatukan. Saya ingin ia berkembang dalam lingkungan yang sehat, dimana kejujuran, empati, dan kepercayaan tumbuh subur dalam setiap ruangnya.

 

Kini si bungsu sudah bekerja di tempat lain. Setiap sore, saya menunggunya bercerita sembari mengamati wajahnya lekat-lekat. Saya tak perlu lagi khawatir. Si bungsu tetap bisa belajar dewasa tanpa perlu kehilangan seri di wajahnya.



Posted at 03:08 am by kisahmerahitam
Comments (10)  


Next Page




<< March 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed