Tuesday, September 26, 2006
RINDU YANG TAK KUNJUNG PADAM

Time always kills the pain

Rasanya ungkapan itu tak berlaku untuk yang satu ini. Setelah hampir 4 tahun, rasa itu masih sama. Menusuk. Membuat dada sesak. Hujan airmata pada malam-malam yang sepi. Pada pagi yang hening. Bahkan di tengah siang yang ramai dan sore yang hangat.

Mengingatnya. Mengenangnya. Merinduinya. Menimbulkan rasa nyeri yang sama seperti saat pertama kali menyadari kepergiannya. Lagi-lagi hujan airmata di kamar yang kosong. Kamar mandi yang dingin. Bahkan di dapur yang beraroma dan ruang keluarga yang penuh gelak tawa.

Ikhlas lah. Lepas kepergiannya dengan senyum.

“Aku nggak bisa. Bibirku mungkin bisa tersenyum. Tapi mataku tidak.”

DIA YANG MAHA AGUNG, pasti punya rencana yang lebih baik untuknya. Juga untukmu dan yang lain.

“Aku tahu. Dan aku berusaha meyakini sepenuhnya bahwa ini yang terbaik untuknya. Tapi ada bagian dalam diriku yang menginginkannya tetap disini. Salahkah itu?”

Juga salahkah jika pada matahari ketiga Ramadhan kali ini pun aku masih mengangankannya? Membayangkannya membangunkan aku dan adik-adik untuk sahur. Melihatnya membantu dan menggoda ibu.

Salahkah jika aku masih terus mengingat binar mata dan senyumnya yang khas? Merindui harum masakannya setiap hari libur tiba. Melihatnya bertepuk tangan saat menonton tarianku. Ingin mendengar suaranya saat menyemangatiku, mengajakku berdiskusi, memarahiku, menenangkanku, memujiku. Sama besarnya dengan keinginanku mendengarkan ia mendendangkan lagu kesukaannya untuk menghibur ibu, aku dan adik-adik. Lagu yang selalu salah di ujungnya.

...
Semut ireng...
Anak-anak piti...
Nyabrang kali...Bengawan Solo...
Riwayatmu kini...
...

Sejak kapan lagu semut ireng dan Bengawan Solo-nya Gesang bersatu?

Dan lagi-lagi hujan airmata. Bahkan hanya dengan mendengar lagu campursari kesukaannya. Melihat poster Bung Karno, tokoh favoritnya. Mencium bau sate kambing kegemarannya. Melewati kantornya. Memandang nisannya. Kelebat bayang laksana kaset yang diputar ulang.

Ah, betapa kerinduan ini makin tak tertahankan. Pada dia. Laki-laki tua sederhana, yang memiliki mimpi, nafas hidup dan semangat yang luarbiasa. Pada bapak. Laki-laki terhebat yang pernah ku kenal.

...
If I could steal one final glance, one final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love
To dance with my father again
...

 

Nb. Kenapa kita baru menyadari betapa berartinya seseorang saat kita sudah kehilangan dirinya?

Posted at 02:40 pm by kisahmerahitam

medon
October 2, 2006   10:14 AM PDT
 
jangan sampai keluar air mata, katanya bisa bikin batal ibadah puasanya ;)
yati
October 1, 2006   11:50 PM PDT
 
*hug*
Nananging Jagad
September 28, 2006   12:20 PM PDT
 
Wuaduh, dadi trenyug mbacane Mbak. Memang Bapak itu ngadek dadi cagak, nyonggo piringe anak......Jadi wajar kalo jasane dalam ngukir jiwa raga kita takkan pernah terlupakan.
johan
September 28, 2006   09:06 AM PDT
 
keberjarakan (ada gak tuh kosa kata) membuat kita bisa memandang secara utuh .....

selamat beribadah puasa ya ....
wah-wah
September 27, 2006   06:03 AM PDT
 
dalem ... walau ada sair lagu unix-nya :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments





Previous Entry Home Next Entry




<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed