Time always kills the pain
Rasanya ungkapan itu tak berlaku untuk yang
satu ini. Setelah hampir 4 tahun, rasa itu masih sama. Menusuk. Membuat dada
sesak. Hujan airmata pada malam-malam yang sepi. Pada pagi yang hening. Bahkan
di tengah siang yang ramai dan sore yang hangat.
Mengingatnya. Mengenangnya. Merinduinya.
Menimbulkan rasa nyeri yang sama seperti saat pertama kali menyadari
kepergiannya. Lagi-lagi hujan airmata di kamar yang kosong. Kamar mandi yang
dingin. Bahkan di dapur yang beraroma dan ruang keluarga yang penuh gelak tawa.
Ikhlas lah. Lepas kepergiannya dengan
senyum.
“Aku nggak bisa. Bibirku mungkin bisa
tersenyum. Tapi mataku tidak.”
DIA YANG MAHA AGUNG, pasti punya rencana
yang lebih baik untuknya. Juga untukmu dan yang lain.
“Aku tahu. Dan aku berusaha meyakini
sepenuhnya bahwa ini yang terbaik untuknya. Tapi ada bagian dalam diriku yang
menginginkannya tetap disini. Salahkah itu?”
Juga salahkah jika pada matahari ketiga
Ramadhan kali ini pun aku masih mengangankannya? Membayangkannya membangunkan
aku dan adik-adik untuk sahur. Melihatnya membantu dan menggoda ibu.
Salahkah jika aku masih terus mengingat
binar mata dan senyumnya yang khas? Merindui harum masakannya setiap hari libur
tiba. Melihatnya bertepuk tangan saat menonton tarianku. Ingin mendengar
suaranya saat menyemangatiku, mengajakku berdiskusi, memarahiku, menenangkanku,
memujiku. Sama besarnya dengan keinginanku mendengarkan ia mendendangkan lagu
kesukaannya untuk menghibur ibu, aku dan adik-adik. Lagu yang selalu salah di
ujungnya.
...
Semut
ireng...
Anak-anak
piti...
Nyabrang
kali...Bengawan Solo...
Riwayatmu
kini...
...
Sejak kapan lagu semut ireng dan Bengawan
Solo-nya Gesang bersatu?
Dan lagi-lagi hujan airmata. Bahkan hanya
dengan mendengar lagu campursari kesukaannya. Melihat poster Bung Karno, tokoh
favoritnya. Mencium bau sate kambing kegemarannya. Melewati kantornya.
Memandang nisannya. Kelebat bayang laksana kaset yang diputar ulang.
Ah, betapa kerinduan ini makin tak
tertahankan. Pada dia. Laki-laki tua sederhana, yang memiliki mimpi, nafas
hidup dan semangat yang luarbiasa. Pada bapak. Laki-laki terhebat yang pernah
ku kenal.
...
If
I could steal one final glance, one final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love
To dance with my father again
...
Nb. Kenapa kita baru menyadari betapa berartinya
seseorang saat kita sudah kehilangan dirinya?