Kawan, maaf aku tak sengaja mendengar percakapanmu melalui telepon dengan kawanmu di seberang sana. Bukan...Bukan menguping. Kebetulan kau duduk tepat disampingku dan suaramu pun lumayan keras. Tapi bukan soalan ini yang penting.
“Nggak...Aku nggak bilang sama temen-temen lain soal kerjaanku sekarang. Malu...”
Kalimatmu itu yang membuatku sedikit terhenyak. Tapi aku paham. Bahwa kau aktivis kampus pada masanya. Kawan-kawanmu – yang sebagian besar juga ku kenal – bekerja di media, LSM, lembaga penelitian, dan sejumlah kantor yang lumayan bonafid (bernama besar meski tak tahu di dalamnya seperti apa). Mungkin kau malu lantaran kau hanya berprofesi sebagai kuli naskah untuk tayangan TV yang kerap dicaci-maki banyak pihak. Sementara kawan-kawan lainnya memiliki profesi yang “wah”.
Ehm...Ya, aku juga pernah merasakan hal yang sama. Merasa minder tatkala bertemu kawan-kawan lain dan mulai berbincang tentang profesi masing-masing. Tapi itu dulu. Hingga sejumlah peristiwa nyata yang terjadi di sekitarku, menyadarkanku bahwa tak ada profesi yang lebih berharga dan berada di atas profesi yang lain. Hakim yang tak jujur, anggota dewan dan aparat pemerintah yang korup, bukankah lebih rendah dibanding pemulung yang jujur bukan?
Tapi lagi-lagi aku bisa mengerti sikapmu, kawan. Ada orang yang menganggap bahwa profesi yang digelutinya saat ini, “amat sangat bersih”. Saking “bersihnya” ia merasa pantas dan berhak untuk menghakimi orang lain atas profesi yang orang lain itu pilih. Saking hebatnya profesinya, ia menganggap profesi yang lain lebih rendah. Tak perlu kuceritakan. Aku rasa kau sudah tahu. Namun terus terang aku merasa kasihan pada orang-orang seperti ini. Belepotan lumpur tapi tidak menyadarinya.
Ucapanmu pada kawan di seberang telepon, mengingatkanku pada seorang kawan lainnya. Aku ingin memperkenalkannya padamu dan membuatmu meralat ucapanmu diatas.
----------------------------------------------------------------
Kawan lainnya adalah aktivis yang dikagumi oleh banyak pihak. Ia menolak saat ditawari bekerja di beberapa tempat, lantaran merasa tak se-ide. Merasa bahwa ia akan “ternoda” dan menjadi “rendah” jika berkompromi dengan tempat-tempat itu. Tapi selang beberapa waktu, sebuah berita mengejutkan mampir di telingaku. Sang aktivis dan jaringannya mengancam dan memeras Ketua dan Wakil Ketua KPU, atas suruhan seorang calon legislatif yang gagal mendapatkan kursi.
-----------------------------------------------------------------
Apa pendapatmu sekarang, kawan?