Friday, April 21, 2006
RAJA JALANAN

Tak Seperti Raja Lain, Raja Satu Ini Masih Harus Mengejar Setoran

 

Sore-sore saat orang-orang kantoran bubaran, jalanan macet. Sampai-sampai jalan depan komplek, yang biasanya sepi, mendadak sontak penuh dengan antrian kendaraan yang melaju super lambat. Wih…Lah kok kayak di Sudirman saja. Padahal jalanan depan komplek itu cuma jalanan kecil, yang pas-pasan dilewati dua mobil.  Sambil membonceng di jok belakang sepeda motornya Dik Kenthos -  dalam hati merasa bersyukur, sudah nggak perlu lagi mengalami masa-masa penuh siksaan, berhimpitan dalam bus kota yang penuh sesak, sumpek, panas, gerah, bau keringat plus ketiak. Dulu waktu kerja di kantor yang normal dengan jam kerja normal - nine to five – sehari minimal dua kali mengalaminya.

 

Melihat antrian kendaraan dan wajah-wajah didalamnya, hilang sudah keluh kesah selama ini. Hitung-hitung masih ada untungnya juga, tinggal di kantor dan cuma bisa pulang satu atau dua minggu sekali. Nggak perlu mandi pagi-pagi banget, nggak kecapekan di jalan, dan nggak perlu keluar uang ekstra untuk beli bedak, tabir surya, apalagi parfum – buat yang naik buskota ini penting, biar sampai kantor kembali fresh dan nggak bau keringat orang satu bus.

 

Loh, kok malah ngelantur. Ini mau cerita apa toh?

 

Ya…Ya…Ya…Jadi kemarin sore, ceritanya mau ke rumah si headwriter, ngambil honornya anak-anak. Jaman sudah maju, Bang Miun dan Bang Badil yang pernah disinggung Mas Yoyok sudah buka cabang dimana-mana, tapi honor masih harus ambil langsung. Ada untungnya juga sih. Kalau di jalan lihat gorengan atau tukang es campur bisa mampir.

 

Loh…Jan, ngelantur lagi. Jadi kapan cerita soal raja jalanannya?

 

Tolong dimaklumi. Hobi bercerita sih. Untung cita-cita jadi penyiar radio belum kesampaian. Kasihan pendengarnya nanti harus dengerin ndobosan nggak penting yang meluncur tanpa henti dari mulutku. Masih lebih bagus baca ndobosan yang satu ini.

 

Balik lagi ke soal awal – sekarang serius, tenan! Sesampainya di pertigaan Jalan Otista – Cawang Baru Tengah, samping SOTO SEMARANG "TENAN" yang pernah dipotret Pakde Kere Kemplu, lampu menyala merah. Terpaksa Dik Kenthos menghentikan sepeda motornya. Lah, di seberang kanan, mikrolet no.26 Jurusan Kp.Melayu–Bekasi, ngetem seenaknya. Bikin lalu lintas jadi macet dan semrawut. Bunyi klakson dari mobil-mobil yang mau lewat, terdengar bising. Kuping rasanya jadi budeg. Belum lagi asap knalpot yang makblas-makblas menerpa wajah, bikin jerawat makin punya kesempatan untuk merajalela. Tapi si sopir angkutan, tak merasa bersalah. Asyik duduk sambil menunggu angkutannya penuh. Ehm…Pasti ngejar setoran.

 

Tiba-tiba dari sebelah kiriku, terdengar suara seorang pemuda. Ngedumel. Nada suaranya kesel.

 

"Belagu. Sok jagoan. Emangnya yang punya jalanan ini dia?"

 

Maktratap…Langsung deg-degan…Ngomelin siapa ya? Dengan penasaran kutolehkan kepala ke arahnya. Loh, pemuda yang kutaksir baru berusia awal 20-an itu, menatap marah ke arah sopir angkutan. Wajah si pemuda tampak asem. Sama sekali nggak sedap dipandang mata.

 

"Udah tahu lampu merah, ngetem seenaknya. Minggir atau majuan dikit kek. Ntar giliran ditilang polisi aja, ngiba-iba…(berubah memelas) Ampun pak, saya cuma cari makan, tolong jangan ditilang…(kembali geram) Huh dasar! Kalau gue yang jadi polisi, nggak bakalan gue kasih ampun. Kalau perlu gue hajar!"

 

Dan pemuda itu terus mengomel panjang-pendek nggak karuan. Aku nggak ndengerin lagi. Lampu sudah keburu menyala hijau. Dik Kenthos pun ngebut dan langsung masuk gang rumah si headwriter. Tapi dalam hati, aku membenarkan omelan si pemuda. Di Jakarta ini, jalan-jalan menjadi milik para sopir angkutan umum. Mereka bertingkah seenak udelnya sendiri. Berhenti suka-suka; menaikkan dan menurunkan penumpang pun suka-suka; sampai-sampai buang air kecil pun sesukanya, bayangkan, di balik pintu mobilnya! Kalau ditegur, pasang tampang garang ngajak perang.

 

Sopir bus ber-AC tetap klepas-klepus asyik merokok meski di depannya terpampang tulisan "DILARANG MEROKOK". Kalau ditegur, jawabnya: "Kalau nggak mau kena asap rokok, naik taksi aja sana!". Yah, mau gimana lagi. Terpaksa diam lagi. Mau naik taksi, budget kok nggak cukup untuk jarak sejauh Kalideres-Blok M. Apalagi kalau harus tiap hari. Bisa jebol kantong. Untung aku nggak perlu lagi menempuh rute itu. Kalideres atau Blok M sudah lama kutinggalkan.

 

Tapi nggak semua sopir angkutan bertingkah menyebalkan. Ada juga yang santun dan menyenangkan. Biasanya mereka ini para pemenang Ajang Sopir Teladan (namanya apa ya? aku kok lupa) yang diselenggarakan Pemda DKI setiap tahun. Dulu, waktu masih berkantor di Kalideres, sering banget numpang bus-nya si Bapak Sopir Teladan, patas AC 50 Jurusan Kp.Melayu-Kalideres. Jadi kenal dan sering ngobrol. Mendengar cerita-ceritanya, serasa sedang tidak berhadapan dengan si Raja Jalanan yang membuat sebal banyak orang. Tapi orang seperti Si Bapak Sopir Teladan itu tak banyak jumlahnya.

 

"Hidup jadi sopir itu keras mbak. Tiap hari muterin jalanan. Rebutan penumpang. Beruntung yang dapet trayek gemuk. Kalau trayeknya sepi dan saingannya banyak, mumet ini kepala. Mana anak-bini di rumah taunya kita ini pulang bawa uang. Kadang-kadang saking pusingnya mikirin setoran buat bos dan buat yang di rumah, serasa mau pecah kepala. Kalau begitu, biasanya saya nongkrong aja sama temen-temen di terminal. Minum atau main judi kecil-kecilan."

 

"Loh, kan duitnya malah habis Pak."

 

"Tapi hati puas mbak."

 

Aku hanya bisa mengangguk. Sementara sopir mikrolet no.01 Jurusan Kp.Melayu-Senen itu terus bercerita. Tentang uang setoran yang kadang tidak berhasil mereka penuhi. Tentang tuntutan hidup yang semakin mencekik leher. Tentang preman-preman yang memalak mereka.

 

Dalam salah satu perbincanganku dengan Mas Godril, beliau dengan arifnya bilang bahwa kekerasan serta kegarangan sikap para sopir angkutan itu lebih karena mereka terdesak oleh keadaan. Setiap hari mereka harus bergelut dengan kerasnya kehidupan di jalan. Sementara mereka tak punya tempat atau sarana untuk melampiaskan kekesalan sekaligus kekecewaan yang mereka alami.

 

Aku setuju itu. Sama seperti aku memaklumi sifat arogan mereka saat harus mengejar setoran. Tapi aku tak bisa mentolerir kesembronoan mereka, yang demi mengejar setoran, hingga mengorbankan nyawa orang lain. Seperti yang terjadi beberapa hari kemarin, di pintu lintasan kereta api Duren Kalibata.

 

 

Foto diambil dari   kompas, tentunya tanpa seijin mereka.

 

Kaitan berita:

 

* KRL Pakuan Tabrak Metromini, 5 Tewas

* Tujuh Tewas Ditabrak KRL Kereta Jakarta-Bogor

* KRL Hajar Metromini

* Sopir Metromini Maut Dijadikan Tersangka

 

 

Nb. Beberapa penggalan kisah yang kemudian menyatu lantaran sebuah peristiwa sederhana yang terjadi kemarin sore.

Posted at 11:57 pm by kisahmerahitam

merahitam
April 23, 2006   10:26 AM PDT
 
Bang Pi'i: Coba abang tanya sama pengendara motor, pasti mereka ngeluh kalau angkutan umum yang suka seenaknya. (hihihihi..bingung kan siapa yang salah sebenarnya)

Mbilung: Iya mas. Ngejar setoran biar Maseratinya nggak cuma satu, biar villanya jadi tiga, biar istrinya bisa empat :p

Tapi waktu lihat berita di TV, persatuan yang membawahi para sopir angkutan umum sendiri sebenarnya tidak bisa menindak para sopir angkutan umum yang ugal-ugalan dan melakukan pelanggaran lalu-lintas loh mas...

Johan: Pasti penumpangnya lagi buru-buru ya mas? Kalau nggak telat ke kantor, ke kampus atau malah mungkin lagi ngejar berita. (eh, masih ada gak ya wartawan yang naik buskota?)
bang pi'i
April 22, 2006   10:20 PM PDT
 
saya malah sering ketemu dengan supir angkot yang ngeluh karena pengendara motor suka main serobot mentang2 bodi kendaraannya lansing... kan mobil ada area yang gak bakal keliatan lewat kaca spion... kalo ketabrak aja sang pengendara motor lebih galak... piye mbak itu?
Mbilung
April 22, 2006   09:36 PM PDT
 
Raja yang begini masih merajalela, mungkin karena yang seharusnya mengawasi raja yang ini juga masih harus ngejar setoran ya Mbak?
sopir teladan
April 22, 2006   04:29 PM PDT
 
saya sering dimarahin penumpang karena terlalu sopan dan pelan jalannya ... gimana nih mbak ? heheh
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments





Previous Entry Home Next Entry




<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed