Monday, April 17, 2006
SEBUAH CATATAN KECIL

Algojo Itu Bernama Rating; Kekerasan Dan Airmata Masih Menjadi Primadona

"Sinetron yang itu nggak jadi diputus sama RCTI. Ratingnya naik lagi. Masuk Top Ten".

Wah. Padahal beberapa hari sebelumnya, RCTI dan PH yang bersangkutan memberikan signal bahwa sinetron yang itu bakalan diberhentikan masa tayangnya, gara-gara selama 3 minggu ratingnya melorot terus sampai angka 24. 

Sebenarnya nggak aneh kalau sinetron itu kembali masuk Top Ten. Masa tayangnya yang cukup lama – sekarang sudah memasuki episode ke-102, membuat sinetron ini memiliki penggemar setia. Dan selama masa penayangannya, sinetron ini hampir tak pernah terlontar dari Top Ten. Bahkan setahun lebih ia selalu menduduki rating no.1. Cacian dan makian yang kerapkali dilontarkan padanya, tak menggoyahkan kedudukannya.

Ketika tiga minggu yang lalu ia terlempar dari Top Ten, aku dan headwriterku langsung menganalisanya. Apa penonton mulai bosan? Apa konflik cerita sudah tidak memikat lagi? Apa sinetron saingan yang ditayangkan pada hari dan jam yang sama lebih bagus? Apa bintangnya sudah tidak menarik lagi? Dan bla..bla..bla..Hasil analisa menyimpulkan bahwa jalan cerita yang bertele-tele dan konflik yang datar adalah penyebab utama kejatuhan sinetron ini. Gimana ceritanya nggak bakalan bertele-tele kalau jumlah episodenya saja sudah sebanyak itu? Salut buat penulis sebelumnya yang menulis ceritanya dari episode 1-84. Aku yang baru nulis 18 episode lanjutannya saja sudah keteteran.

Konflik yang datar. Ehm…Ini haram hukumnya. "Sinetron itu harus menarik, bombastis dan nggak datar. Harus banyak action-nya. Kalau nggak, siapa yang mau nonton?". Itu kata headwriterku. Juga kata beberapa produser – yang langsung marah-marah nggak karuan tiap kali sinetron mereka turun ratingnya. Dan produser, orang bagian desain produksi, editor, serta sutradara, langsung kasih masukan. Rupanya mereka pun ikut menganalisanya. Gimana nggak, ini salah satu produksi unggulan mereka, je! "Balik ke format lama! Si anu dibuat lebih jahat dan si anu harus lebih menderita lagi. Pokoknya harus banyak airmata! Kalau bisa setiap scene itu harus bikin penonton merasa kasihan sama si anu!"

Oke! Maka cerita yang kemudian dibuat sesuai permintaan mereka. Kekerasan dan airmata mendominasi cerita. Dan melejitlah ratingnya. Masuk kembali ke Top Ten. Produser pun bernafas lega, sembari berucap, "See…Penonton itu lebih suka cerita yang begitu!"

Ini bukan hal yang baru buatku. Sejak awal memutuskan terjun ke dunia ini, sudah diwanti-wanti. "Jangan terlalu idealis. Turuti maunya mereka. Mereka itu lebih ngerti tayangan seperti apa yang bakal ditonton. Dan rating itu nomor satu. Jangan disepelein!"

Aku cuma bisa manggut-manggut. Awalnya nggak terlalu percaya. Masa sih penonton maunya yang gitu-gitu aja. Mungkin kalau dibiasain ngeliat tontonan yang lebih soft, selera mereka pasti bisa berubah. Maka 1,5 tahun yang lalu, ketika diminta menulis salah satu produksi sebuah PH yang berkantor di Cikini,  ceritanya sengaja kuubah. Lebih soft. Intensitas kekerasan dan airmata dikurangi hingga 70%. Tapi seminggu kemudian, ketika AC-Nielsen mengeluarkan hasil rating, sang produser mencak-mencak nggak karuan! Pasalnya ratingnya langsung drop. "Bikin yang lebih keras lagi!". Dan ketika cerita kembali penuh dengan siksaan, tangisan, kelicikan, penderitaan, rating melonjak naik. Tidak tanggung-tanggung, langsung no.1. Aku masih ingat, salah satu adegan dalam episode itu, si tokoh yang baru kelas 1 SMP, digantung oleh tantenya yang jahat.

Ini bukan apologi. Apalagi pembelaan. Ini dunia sinetron seutuhnya. Bahwa rating masih didewakan. Bahwa kekerasan dan airmata masih menjadi favorit penonton. Bahwa aku masih terjajah!

Nb. Buat kawan-kawan senasib! Salam Setengah Merdeka!!!

Posted at 11:42 am by kisahmerahitam

merahitam
April 23, 2006   10:40 AM PDT
 
Ikhsan: Secara ekstrim kita bisa saja memboikot TV dan melarang anak untuk tidak menontonnya. Tapi ini pun berakibat buruk, bisa saja anak nonton ditempat lain dan kita tidak bisa mengontrol apa yang mereka tonton. Mungkin bisa dengan memberikan batasan jam tontonan dan mendampingi saat mereka nonton.

Pakde Kere Kemplu: Wah, pakde saya juga pingin begitu. satu saat nanti udah nggak perlu dikejar-kejar rating. Sekarang lagi belajar nulis beneran supaya bisa bikin buku dan seperti Budi Darma atau Umar Kayam (eh, emang yang selama ini nggak nulis beneran ya? Hehehehe dan kok ketinggian banget ya berharap seperti mereka!)

Mbilung: Wah sudah kok mas...Saya sudah pernah nulis kayak begitu untuk salah satu tayangan di salah satu stasiun TV, tapi sekarang sudah tidak lagi. (hihihi...malu jadinya, tapi laku loh, ratingnya waktu itu selalu bagus. sampai sekarang tayangannya masih ada kok. Kalau pulang ke Indonesia, sempetin nonton mas :p)

Johan: Saya jg suka tontonan macam Keluarga Cemara. Tapi scr rating tontonan macam itu malah nggak masuk 100 besar. kalau stasiun TV yang nayangin nggak punya visi-misi jelas, sudah pasti tayangan itu dipangkas di eps. awal.

Bang Pi'i: Saya doakan beneran jadi ekspat, bang...Eh, tapi jangan ding. kalau semua orang mudanya bekerja diluar, siapa yang mau bangun negeri tercinta ini?

Yoyok: Semoga tidak terombang-ambing lagi :)
Muhamad Ikhsan
April 22, 2006   08:21 PM PDT
 
Ternyata mantra rating nggak bisa lepas juga dari TV :((

trus bagaimana nanti anak2ku bisa dapat tayangan yang bener & mendidik kalo isinya rebutan harta & kekerasan semua? huaaaaa :((
kere kemplu
April 21, 2006   06:32 PM PDT
 
mengerikan! itulah sebabnya saya nggak pengin kerja di tv. nasib hasil kerja saya dalam semenit, bahkan kurang, ada di remote controller pemirsa.

pilihan slot6 udah apik, eh mendadak ada bom atau apa, ya sudah, stasiun penayang ditinggal orang, hasil kerja saya percuma. :)

misalkan ditawari kerja di media, saya memilih di media lama, semisal koran, majalah, buku. barang nggak dibaca sekarang masih bisa dibaca besok. bahkan ketika jadi bungkus masih bisa dibaca.

paling enak ya ngeblog. karya kita tersimpan dan bisa di-googling :D
Mbilung
April 17, 2006   10:57 PM PDT
 
Mbak...itu ada yang ketinggalan...hantu, demit! Lha biar komplit, ceritanya ada anak kecil yang kerjanya ditempilingi, nangis-nangis, digantung, trus anaknya jadi hantu, lantas balas dendam sama yang nggantung. hiiiiiiiiiii.............
phetot
April 17, 2006   07:45 PM PDT
 
hi perempuan :P he he he he he
kapan meriednya kalo ngurusin sinentron n teks teksnya terus :P
ga pernah punya waktu kencan, silaturahmi, or yang lainnya :)
inget loh uang, popularitas, bahkan karir bukan segalanya. apalagi kalo dah jadi pendamping pasangan laki-laki :)
NB: dipikirin ya?
merahitam
April 17, 2006   06:14 PM PDT
 
Waduh...Banyak yang salah sangka toh...Hihihihi..Saya murni perempuan kok, belum kepingin jadi laki-laki. tapi kalau cinta laki-laki sih iya :p
johan
April 17, 2006   03:50 PM PDT
 
eh maap ... ini mbak ato mas yg punya blog? kekeke ... eh .. tanpa permisi saya sudah nambahin link blognya di blog saya ... diijinin khan?
johan
April 17, 2006   03:28 PM PDT
 
kalau kaya sinetron keluarga cemara yg awal-awal itu gimana pak? khan banyak yg suka tuh ...

kalau kompromis itu bukannya berarti kita secara nggak langsung mengakui idealisme orang lain ya?
Bang Pi'i
April 17, 2006   03:09 PM PDT
 
IDEAL:ISME iku panganan opo?

apalagi saya, demi idealisme saya rela dibuang kesana kemari di instansi saya kerja.

(masih ternate tho? ntar pindah papua, trus papua nugini...tercapai deh cita2 jadi ekspat di negeri orang!! wakakakak!!)
yoyok
April 17, 2006   02:05 PM PDT
 
saya pernah dinasehati kawan secara tak langsung...katanya begini

jadi idealis murni adalah salah karena nantinya kita hanya melihat dunia secara dua warna, padahal dunia punya banyak warna namun jadi realis bukan berarti kita mengorbankan idealisme kita karena itupun sama saja dengan mati....


dan kinipun saya terombang-ambing diantara keduanya,
atau...mungkinkah idealisme saya yang salah ?



membela buruh sementara buruh kita sendiri terkadang kinerjanya kacau dan malah jadi maling di pabriknya sendiri...ah, dilema realita seperti itulah.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments





Previous Entry Home Next Entry




<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30




Merahitam's Blog












KISAH LALU
Luvi's Blog





DUKUNG LAMPUNG!

Wisata Lampung


CINTA YOGYA!

Tour de Djokdja


Bloggers For Bangsari

http://bangsari.blogspot.com/2007/08/minta-bantuan-donasi-untuk-anak-anak.html



 


BINGKAI

Foto Kopdar di Pizza Hut - Thamrin



Foto 2




SENANDUNG


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed