Cari Kerja Itu Susah!
Ari, gadis manis, berkulit sawo matang dan berperawakan mungil adalah lulusan D3, di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, mengeluh dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang cari kerja susah mbak...Udah coba ngelamar kemana-mana tapi nggak ada hasilnya. Saking susahnya kadang aku cuma pake ijazah SMU-ku, buat ngelamar kerjaan, biar mereka mau terima karena nganggap aku mau digaji murah. Tapi yang ada malah nyasar ke yayasan-yayasan yang ngakunya nyariin kerjaan tapi ujung-ujungnya minta duit".
Ipul, cowok betawi, lulusan STM, terima bekerja sebagai "tenaga bantu" di sebuah kantor-kantoran karena tempat kerjanya yang lama bangkrut. "Nggak apa-apa deh mbak, yang penting tiap bulan masih terima duit, biarpun cuma kecil. Yang penting kerja. Habis ngelamar kemana-mana nggak keterima".
Lain lagi dengan Aan, gadis berusia 28 tahun yang makin hari makin galau karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Padahal dia termasuk rajin mengirim surat lamaran ke setiap iklan lowongan kerja yang terpampang di media cetak. Selalu datang setiap kali ada Job Fair dan menyempatkan diri mendatangi Walk Interview yang biasanya diadakan di hotel-hotel. Tapi hasilnya nihil. "Gue pernah dateng ke satu tempat, bilangnya mereka butuh tenaga finance, ujung-ujungnya gue malah diajak jualan panci di daerah Bogor".
Kisah Tono jauh lebih menyeramkan. Sambil bersandar di tembok dan berselonjor kaki, meluncurlah suara berat dari bibir pemuda berusia 20 tahun dan berwajah keras ini. Logat Jawa-nya begitu kental. "Yah piye meneh mbak...Aku terpaksa dadi preman nang terminal, njaluki duit, wong nyari kerjaan susah he..."
Setelah mendapatkan pekerjaan apakah kondisinya jauh lebih baik?
Sudah Dapat Kerja, Ternyata Masih Susah Juga!
Putra, pemuda berusia 24 tahun, lulusan sebuah universitas swasta di Jakarta. Kurus dengan mata sayu dan rambut sedikit ikal. Merasa tidak sreg dengan pekerjaannya saat ini sebagai salah satu tenaga marketing di sebuah bank swasta di Jakarta juga. "Saya nggak dapat gaji mbak...Uang transport sama makan juga nggak. Saya dan temen-temen cuma dikasih fasilitas telepon untuk nelepon calon klien. Kalo tembus, ya kami dapat komisi. Kalau nggak sesuai target, kami dipecat. Makanya kalau ditempat mbak masih nerima pegawai, saya mau deh".
Desma, gadis mungil berjilbab, terpaksa tetap bertahan ditempatnya bekerja. Setelah hampir sepuluh tahun "mengabdi" ditempat tersebut, bukannya mendapat kenaikan gaji berkala tapi justru penurunan gaji, ditambah adanya potongan-potongan lainnya. Alasannya tempatnya bekerja tidak seramai dulu. Pasaran sedang lesu. Ia tak memilih pindah karena takut tak bisa mendapatkan pekerjaan.
Oneng, gadis ceria dan bersemangat itu harus terbaring di tempat tidur. Pekerjaannya sebagai sales mengharuskan ia berkeliling Jakarta tiap hari. Naik-turun bus, metromini, angkot, ojek, bajaj, dan segala jenis angkutan umum di Jakarta. Seringkali sambil membawa contoh barang atau bahkan barang pesanan pelanggannya yang kadang beratnya sampai berkilo-kilo itu. Setelah beberapa tahun menjalani rutinitas tersebut, dokter memvonisnya menderita penyakit tipes dan maag akut serta mengharuskannya beristirahat total. Tanpa tunjangan kesehatan sedikitpun, ia justru diberhentikan dari tempatnya bekerja.
Mukadi, lelaki berusia hampir 40 tahun itu telah bekerja hampir 20 tahun lamanya di salah satu rumah produksi sebagai kurir. Gaji yang diterimanya tak lebih dari lima ratus ribu per bulan. Dengan penghasilannya tersebut, ia harus menghidupi keluarganya, membayar rumah kontrakan di pinggiran Jakarta dan membiayai sekolah kedua anaknya. Untungnya sang istri membantunya dengan berjualan kecil-kecilan di rumah.
* * * * *
Ini adalah rangkuman hasil percakapan singkat saya dengan beberapa orang. Beberapa saya kenal baik namun beberapa lainnya hanya kenal sambil lalu, ngobrol singkat untuk ngisi waktu saat nunggu bus di halte, terminal atau sekedar ngantri di sarana-sarana publik. Nama-nama terpaksa saya samarkan untuk merahasiakan identitas mereka. Sebenarnya masih banyak lagi, tapi saya tidak mungkin menuliskan semuanya disini.
Kenapa saya mem-posting cerita buram tentang para para pencari kerja?
Beberapa hari lalu saya terhenyak saat membaca ribuan CPNS berunjukrasa setelah merasa "dibohongi" oleh panitia penerimaan CPNS yang kemudian mengkambinghitamkan hal itu sebagai kesalahan sistem di komputer. (hahaha...Saya tertawa geli saat membaca alasan tersebut. Bodoh bener sih?).
Tadi, saya kembali terhenyak saat menonton berita ratusan buruh berunjukrasa menentang revisi UU Tenaga Kerja. Terus terang, saya tidak tahu seluruh isi UU Tenaga Kerja. Tapi yang saya tangkap, revisi ini membawa dampak buruk bagi para buruh (tenaga kerja). Pengurangan standar UMR, penghapusan cuti dan fasilitas serta kemudahan bagi para tenaga kerja. Kalau tujuannya untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan perusahaan, apa pembuat kebijakan lupa kalau sistem yang berlaku selama ini toh hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan. Bukan kepada buruh. Mereka - ralat termasuk saya di dalamnya - selalu menjadi objek penderita. Di-eksploitasi habis-habisan.
Ketika perusahaan mengalami krisis, keuntungan menurun, buruh yang terkena dampaknya. Namun sebaliknya jika perusahaan mengalami kemajuan. laba berlimpah, apa buruh juga mendapatkannya? Ehm...Saya jadi ingat beberapa tahun silam. Almarhum ayah saya - dipaksa mengundurkan diri dari tempatnya bekerja hanya karena, sebagai salah satu pengurus serikat pekerja, ayah dinilai terlalu vokal memperjuangkan hak-hak pekerja ditempatnya. Saya masih merasa beruntung, karena nasib ayah saya tidak setragis Marsinah atau buruh lainnya yang "menghilang" atau meninggal secara mendadak tanpa diketahui penyebabnya.
Sampai sekarang saya tetap tidak habis pikir, apa yang salah sebenarnya? Kenapa pemerintah dan kroni-kroninya dari jaman "Soe" sampai jaman "Soe" lagi tetap saja lebih mementingkan kepentingan segelintir orang. Oh, sebentar, saya lupa...Mereka (maksud saya, Soe dan kroni-kroninya itu) punya barter khusus dengan segelintir orang ini. Saya tak perlu jelaskan toh? Sudah banyak yang tahu. Sudah jadi rahasia umum.
Tapi tetap saja saya masih tidak habis pikir. Kenapa selalu rakyat banyak yang jadi korbannya? Kenapa nggak sekali-sekali dibalik, si Soe-Soe, kroni-kroninya serta segelintir orang itu? Kenapa para pemikir dan pengambil keputusan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah ketenagakerjaan ini dan malah makin membuatnya jadi ruwet? Katanya negeri ini kaya dan masih banyak bidang yang belum digarap? Tapi kenapa tiap tahun masih saja ada potret buram tentang para pekerja?
Kenapa? Siapa yang salah?
Aah, saya nggak tahu. Yang jelas jangan salahkan jika kriminalitas makin meningkat. Dan jangan salahkan para waria yang jumlahnya makin bertambah*. Jika perut sudah menjerit, siapa yang bisa disalahkan?
Nb.1. Masih terhenyak dan sesekali mengutuk diri sendiri yang cuma bisa posting di blog tanpa mampu berbuat apapun.
Nb.2. * Kutipan percakapan seorang kawan dengan salah satu waria di taman bawah Jembatan Jatinegara, samping ruas rel Jatinegara-Klender.
"Saya sebenarnya laki-laki beneran mas. Kalau siang saya nguli. Tapi duitnya nggak seberapa. Kadang buat makan aja nggak cukup. Makanya kalau malam saya begini, lumayan buat tambahan..."
"Kenapa nggak nyari kerjaan lain?"
"Bosen. Udah ngelamar kemana-mana tapi nggak ada satu pun yang diterima."
"Lah, mas-nya kalau dandan begini terus ngapain aja?"
"Yah, cuma mijet aja mas sambil nemenin ngobrol. Kalau diajak macam-macam saya biasanya nolak. Saya masih normal, kok mas".
"Istri situ tahu?"
Dan mas-nya pun mengangguk.
Saat mendengar cerita kawan saya tersebut, saya lantas membayangkan bagaimana mas itu tampil begitu macho di siang hari dan terpaksa jadi kemayu di malam hari. Tapi saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan mas itu maupun istrinya yang tiap malam menyaksikan suaminya berdandan perempuan.
Tapi saya jadi berpikir, apa yang akan dilakukan para penentu nasib negeri ini kalau ia tahu tentang hal ini?
Nb.3. Maaf kalau postingnya nggak runut. Tapi saya memang sedang muak!