Ada banyak hari dimana saya merasa dia sangat menyebalkan. Nggak bisa ngerti kerjaan saya. Selalu aja bikin saya marah.
Dan saya pun marah-marah.
Marah-marah lagi.
Lagi-lagi marah.
Marah-marah kembali.
Kembali marah-marah.
Marah-marah selalu.
Selalu marah-marah.
Padanya.
Saking seringnya saya marah, dia sampai kebal. Kalau dulu dia bakalan tergopoh-gopoh menenangkan dan membujuk saya, kali ini tidak. Dia cuek aja nonton tv, pencet-pencet HP, mainan game.
Ehm...Sekarang malah saya yang ketakutan. Kira-kira dia sebal nggak ya kalau saya sering marah-marah nggak jelas? Marah nggak ya? Benci nggak ya?
Dan kenyataannya...Semalam, dia menarik saya ke dalam pelukannya. Mencubit hidung dan mencium pipi saya dengan mesra. Lantas berbisik lembut, kenapa belakangan ini saya nggak marah-marah seperti biasanya.
Ia hanya tergelak saat mendengar alasan saya. Bahwa saya takut ia membenci sikap saya yang suka ngomel tanpa alasan.
"Honey, I always love you...biarpun kamu suka marah-marah nggak jelas. Aku selalu cinta kamu..."
Rasanya hangat dan menyenangkan. Pipi saya merona merah. Saya tak ingin jauh dari pelukannya. Saya nggak mau apa-apa lagi. Saya nggak mau marah lagi. Saya sudah merasa cukup dengan cintanya.