Sejak pertengahan Agustus 2008, si bungsu mulai bekerja di Mall Ambassador. Saya masih ingat, sehari sebelumnya, rupa si bungsu berseri-seri. Dengan penuh semangat ia memilih pakaian yang akan dikenakannya di hari pertama bekerja.
"Kalo gue pakai ini, bagus nggak mbak?"
"Bagus. Lucu kok."
"Apa mendingan pakai ini aja?"
"Yang itu juga bagus."
"Jadi pakai yang mana dong?"
"Terserah adek deh."
Bibirnya manyun, lantaran saya tak memberikan solusi buatnya.
Saya tertawa geli melihatnya sibuk membongkar lemari, memadu-padankan pakaian, bolak-balik mematut diri di depan cermin, meminta pendapat ibu dan kakak-kakaknya. Persis seperti yang saya lakukan bertahun-tahun silam, saat pertama kali mulai bekerja di kantoran. Saya masih ingat dengan jelas. Perasaan senang, cemas, bingung, bercampur-aduk.
Sebulan kemudian, tepatnya seminggu yang lalu, si bungsu terisak di hadapan saya dan ibu.
"Aku nggak tahan. Aku mau keluar aja."
Saya tidak menerima begitu saja keputusannya. Apalagi ia tak memberikan alasan jelas kenapa ingin berhenti.
Bekerja adalah idenya. Sejak awal kelulusannya, ia bersikukuh untuk bekerja jika tidak bisa masuk ke universitas negeri. Sembari menunggu SPMB tahun depan, demikian kilahnya.
Saya mengamini keinginannya yang menggebu-gebu, meski sebenarnya lebih suka jika si bungsu mengambil kursus bahasa atau pelatihan lainnya. Tapi tidak ada salahnya membiarkan ia bekerja. Siapa tahu ia bisa lebih matang dan tidak manja lagi.
Itu sebabnya, ketika si bungsu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, saya menolaknya. Saya ingin si bungsu menghormati kontrak kerja yang telah ditandatanganinya. Saya ingin ia belajar bertanggungjawab, berani menghadapi resiko dan konsekuensi dari keputusannya. Perkara capek, dimarahi bos atau dimusuhi rekan sekerja, adalah hal yang jamak. Dimana sih, kita bisa bekerja dengan enak dan bebas dari tekanan?
Satu hingga dua hari, si bungsu masih mau bekerja kembali. Tapi setelahnya, ia benar-benar menyerah. Airmatanya kembali berlelehan saat bercerita tentang kejadian di tempat kerjanya.
Sebagai anak baru, ia tak keberatan bekerja lebih banyak dari senior-seniornya. Rela tiap hari mesti mencuci kain lap dan mengepel toko, meski dokter sudah mewanti-wanti agar tangannya tak bersentuhan dengan sabun, bubuk deterjen maupun cairan pembersih lainnya. Maklum, kulitnya belakangan ini sedikit sensitif.
Tapi ia tak tahan jika tiap hari dituduh maling.
"Setiap ada barang yang hilang, selalu anak baru yang dituduh. Padahal aku nggak tahu apa-apa. Mana harganya mahal lagi. Ada yang harganya limaratus ribu lebih."
"Ya adek bilang dong, bukan adek yang ambil."
"Udah. Malahan aku sumpah demi Allah segala, tapi bosku tetep nggak percaya."
Saya tatap wajahnya. Airmata itu masih menggenang di pelupuk matanya.
Saya terdiam. Saya tahu rasanya difitnah untuk sesuatu yang tidak pernah kita lakukan. Beberapa tahun silam, manajer keuangan di tempat saya waktu itu bekerja, menuduh saya menggelapkan puluhan juta uang perusahaan. Saya hanya bisa beristighfar dan memohon agar Allah menunjukkan kebenarannya. Untunglah, beberapa minggu kemudian, terbukti kalau manajer keuangan yang menggelapkan uang tersebut. Perasaan saya sangat lega. Selama saya bekerja disana, tak sekalipun saya memegang uang kas lebih dari satu juta. Sebagai junior accountant, tugas saya hanya mengurus petty cash dan menangani pembukuan operasional harian.
Meski akhirnya saya terbukti tidak bersalah, tapi perasaan tak enak serta pandangan mencemooh dari rekan-rekan kerja, tetap membayang hingga beberapa waktu sesudahnya.
Suara isak si bungsu membuyarkan lamunan.
"Aku boleh berhenti kerja ya mbak..."
Saya mengangguk. Saya tak akan memaksanya untuk tetap bekerja di tempat dimana prasangka buruk masih dinomorsatukan. Saya ingin ia berkembang dalam lingkungan yang sehat, dimana kejujuran, empati, dan kepercayaan tumbuh subur dalam setiap ruangnya.
Kini si bungsu sudah bekerja di tempat lain. Setiap sore, saya menunggunya bercerita sembari mengamati wajahnya lekat-lekat. Saya tak perlu lagi khawatir. Si bungsu tetap bisa belajar dewasa tanpa perlu kehilangan seri di wajahnya.
Posted at 03:08 am by kisahmerahitam
kitaabdiri October 1, 2008 02:48 PM PDT [tanya] si bungsu dah punya pacar belom?
fitri mohan September 28, 2008 01:47 PM PDT setuju. memang nggak ada tempat kerja yang bebas tekanan, tapi sebisa mungkin kita kerja di tempat yang lingkungannya sehat dan nggak penuh prasangka. lebih sehat buat kita juga kan secara psikis dan fisik.
salam buat adeknya, semoga tetap semangat.
bentar lagi lebaran, minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin ya jeng.
Esha September 28, 2008 06:56 AM PDT Kejam ya......banyak orang yang sudah kehilangan akal dalam menambah penghasilan.....
mikow September 28, 2008 06:39 AM PDT samperin aja tuh bosnya yg suka nuduh2
ika September 26, 2008 10:22 PM PDT Akhirnya muncul lagi tulisannya.
hehe. Serasa de javu. beberapa bulan ini, saya juga seperti si bungsu....
yati September 26, 2008 08:25 PM PDT bagus, keluar aja. masih ada dunia lain yang lebih bersih, dek!
dia akan dewasa pada waktunya :)
Meity September 26, 2008 01:58 PM PDT Difitnah itu, nyebelin banget. Dituding sesuatu yang engga kita lalukan juga bikin kita engga nyaman. Tapi orang seperti itu biasanya akan kena sama karmanya sendiri.
mbah sangkil September 26, 2008 01:27 PM PDT wogh sia dek udah kerja....
ya itulah dunia kerja, tidak seperti apa yg tergambarkan di cerita-cerita atau film-film. Saya malah pernah dipaksa munafik dan menjadi penjilat di tempat kerja yg terdahulu dan akhirnya saya memilih untuk keluar.
ayo adek semangat dan keep smile
Fitra September 26, 2008 01:20 PM PDT Kurang ajar banget itu orang2 yg bikin fitnah! BIasanya mereka yang fitnah itu karena menutupi kesalahan di diri mereka sendiri! Jalan lainnya memang tidak lain minta pertollongan sama Allah, agar tangan KeadilanNya turun....dan kebenaran ditunjukkan....