Mulanya... Tiga
hari yang lalu, sariawan di lidah, meradang. Buat ngomong susah, makan
nggak enak. Rasanya pedih, perih. Sakit banget. Paling bete waktu
ditelepon bos. Mau nggak mau harus angkat telepon. Lima menit, oke lah. Masih tahan. Tapi lebih dari itu, Omigad…
Harus
beli obat sariawan. Nggak bakalan sembuh-sembuh kalau cuma minum
vitamin C. Kebetulan di Kompas Minggu, ada iklan obat sariawan.
Kolomnya cukup besar. Mencolok mata. Nama obatnya ALBOTHYL®.
Begitu
dijemput adik – horeee...malam itu tidur di rumah – mampir dulu ke
apotik dekat kantor. Tanpa ba-bi-bu, langsung minta Albothyl sama si
mas penjaganya. Mahal juga. 10 ml harganya Rp.25.500,-. Mungkin memang
benar ampuh seperti iklannya.
Selesai
mandi dan ganti baju, bersiap-siap pakai Albothyl. Baca dulu
petunjuknya. Loh...kok...iihh...kok beda di iklan sih? Beneran nggak
neh? Aiihh...Masa salah beli? Apa mungkin ada dua obat bernama sama,
beda khasiat? Nggak...Nggak...Pasti ada yang salah.
Cocokin
nama dan kemasan Albothyl yang sudah dibeli dengan gambar di iklannya.
Sama persis. Terus apa yang salah? Kenapa yang di iklan ditulis untuk
mengobati sariawan, sementara di lembaran kertas petunjuk pakai,
tertulis khasiatnya sbb:
ALBOTHYL®
mempunyai efek selektif hanya bekerja terhadap jaringan rusak atau
patologis, yaitu koagulasi dan kemudian dikeluarkan atau dilepaskan.
Sedangkan epitel skuamosa yang sehat tidak dipengaruhi oleh ALBOTHYL®. Pada kontak langsung, ALBOTHYL®
dapat mematikan flora patogen dalam vagina (bakteri, jamur,
trikomonas), tetapi sebaliknya mempertahankan flora normal dan
memulihkan keasaman fisiologis dari vagina. ALBOTHYL®
segera pula menghilangkan keluhan-keluhan subyektif penderita seperti
pruntus (gatal-gatal), keputihan dan sebagainya...(dan seterusnya. Teks
aslinya masih panjang).
Nah, bingung kan.
Pertama, tidak ada kalimat "menyembuhkan sariawan" atau semacamnya.
Kedua, tidak kenal/tahu beberapa istilah ilmiah yang ada di teks.
Tulisan dibawahnya, lebih kacau lagi. Makin banyak istilah asing.
(Tentunya buat orang awam sepertiku).
INDIKASI
Ginekologi
Vaginitis,
keputihan vagina dan serviks (leher rahim) karena berbagai etiologi,
ektropia dan erosi dari porsio dan serviks, servisitis. Sebagai
hemostatik setelah biopsi dan pengangkatan polip di serviks, erosi
uretra eksterna dan papiloma uretra, kondiloma akuminata. Luka akibat
pemakaian instrumen ginekologi, untuk mempercepat proses penyembuhan
setelah elektro-koagulasi.
Bedah
Menghentikan
perdarahan lokal dan kapiler, mempercepat pelepasan dan pembersihan
jaringan nekrotik akibat luka bakar dan luka-luka biasa.
Dermatologi
Untuk
pembersihan dan stimulasi regenerasi jaringan luka/peradangan yang
kronik, lesi dekubitus, ulkus kruris, kondiloma akuminata, dsb.
Otorinolaringologi
Granulasi
berlebihan (proliferasi) dan polip akibat pembedahan radikal. Nekrosis,
proliferasi dan ekzema dari kanalis auditorius. Hemostasis pada
tonsilektomi dan epistaksis (mimisan).
Stomatologi dan Odontologi
Hemostasis
pada bedah endodontik, reseksi apeks, kistektomi, kuretase granuloma,
pasca ekstraksi gigi. Gingivitis, dry socket, stomatitis aftosa, herpes
labialis, ragades, kumur-kumur.
Berkali-kali
dibaca, tetap tidak bisa paham semuanya. Seharusnya, pihak produsen
menyertakan juga arti dari istilah-istilah asing diatas. Seperti
epistaksis yang langsung diberi kata penjelas mimisan. Apa karena ini
termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter, sehingga pihak
produsen merasa tidak perlu menjelaskan arti istilah-istilah diatas.
Tapi, ini bukan alasan. Toh, buktinya aku bisa beli bebas di apotik,
tanpa ada resep dari dokter.
Kenapa
tidak menelepon produsen obatnya langsung atau apotik? Di lembaran
kertas petunjuk pakai, tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi.
Nomor telepon apotiknya juga sudah keburu dibuang. Yang terakhir ini
kesalahan pribadi. Ceroboh!
Lantas menelepon mas ini, yang punya riwayat akrab dengan sariawan. Tanya, pernah menggunakan obat ini atau tidak.
"Oh iya, itu emang obat buat sariawan. Dokter biasanya nyaranin untuk makai obat itu kalau sariawannya sudah parah..."
Oke...Berarti
iklannya tidak salah. Berdasarkan pernyataan si mas tadi dan luka di
lidah yang makin tidak bisa diajak kompromi, akhirnya obatnya kupakai
juga. Begitu cairan obatnya dioleskan di luka, rasanya...Amit-amit
deh...Perihnya nggak ketulungan. Selang beberapa saat, lidah terasa
menebal dan ludah membanjir. Tapi setelah 2-3 kali diolesi, sariawannya
tidak lagi terasa sakit. Ngomong lancar, makan juga enak.
Akhirnya...
Lantaran
di khasiatnya tertulis obat ini juga bisa digunakan untuk menghilangkan
pruntus (gatal-gatal), iseng-iseng kupakai juga untuk mengobati
gatal-gatal di kaki akibat digigit dihisap nyamuk. Sebenarnya, dihisap
nyamuknya sudah luama suekali. Tapi berhubung kulitku zuper zenzitif,
gatal-gatalnya tak kunjung hilang, malah jadi luka. Untung cuma di
punggung atas kaki kiri. (ket: kalau bagian bawah kaki di sebut
telapak, maka bagian atas kaki ku sebut punggung kaki).
Begitu
cairannya diteteskan ke lukanya, rasanya juga amit-amit deh...Perih,
gatal, mengerunyap (ini istilahnya apa ya). Rasanya seperti didemo
ratusan kuman. Selama sehari-semalam terpaksa menahan rasa gatal yang
luarbiasa amit-amitnya. Melebihi hisapan si nyamuk. Tapi keesokan
harinya, rasa gatal itu hilang sama sekali. Lukanya juga mengering.
Sekarang baru tahu gimana rasanya bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian. Hehehe...
Mbah Truno...
Jadi
ingat, cara kerja obat ini hampir sama dengan cara kerja Mbah Truno.
Perempuan berusia lebih dari 60 tahun itu di desaku terkenal sebagai
pembasmi kuman, penyembuh luka, koreng dan bisul. Dulu, semasa Mbah
Truno masih hidup, sebagian besar orang di desaku yang menderita luka,
koreng dan bisul, memilih untuk berobat pada Mbah Truno daripada ke
dokter, mantri atau bidan.
Jika
ke dokter, mantri dan bidan, luka itu baru bisa sembuh setelah 3-5 hari
diobati, tapi di Mbah Truno, hanya satu hari. Pengobatannya ajaib.
Berdasarkan usianya, mata Mbah Truno seharusnya sudah tidak berfungsi
dengan baik. Tapi, hebatnya, mata tua Mbah Truno mampu melihat kuman –
yang pastinya zuper kecil – yang ada di dalam luka, koreng atau bisul.
Jari tangan Mbah Truno dengan lincah mengambil kuman-kuman itu dari
dalam luka/koreng. Memitesnya (menekan objek diantara kuku jempol kanan
dan kuku jempol kiri) hingga mati. Bunyinya ctik…ctik…ctik…
Terus-menerus
hingga kuman itu habis tak bersisa. Bisa dibayangkan, bagaimana
sakitnya si penderita ketika Mbah Truno beraksi. Tapi keesokan harinya,
luka itu lantas mengering dan sembuh.
Tapi
sayang, beliau sudah meninggal belasan tahun lalu. Jika tidak, mungkin
tak perlu repot-repot membaca lembaran petunjuk pakai yang penuh dengan
istilah asing itu.
Nb.
- Panjang bener ya?
- Harusnya dapat bayaran dari Albothyl nih. Hehehe...
- Dr.Tito, pe-er buatmu. Tolong jelaskan arti istilah-istilah asing diatas. :D