Semalam, selesai bersantap di daerah Menteng, tiba-tiba saja Ibu bercerita tentang kebiasaan Bapak yang kerap menggoda dan meledek Ibu.
BAPAK Bu, ke restoran yuk.
IBU Mau makan di restoran?
BAPAK (kalem) Nggak. Kita nonton orang makan aja.
IBU (melotot)
Atau di lain kesempatan,
IBU Hari ini kita makan di luar ya Pak.
BAPAK Siap! (langsung ambil tikar dan gelar di luar rumah)
IBU (bingung) loh, kok malah nggelar tikar di luar?
BAPAK (pasang muka serius dan polos) Katanya mau makan di luar.
IBU (kesal) Hhheeeh!
Dulu, Ibu akan merasa kesal setiap kali Bapak menggoda atau meledeknya.
Tapi kini, apapun tentang Bapak, menjadi
kenangan manis dan menambah kadar kerinduan Ibu pada Bapak. Hingga tak ada
ruang kosong yang tersisa untuk laki-laki lain yang ingin mengisi hati Ibu.
IBU Nggak ada laki-laki lain sehebat dan seganteng Bapakmu!
Itu jawaban Ibu, ketika pada suatu hari aku memintanya untuk menikah kembali.
Bagi Ibu, Bapak adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya. Tidak jarang kudapati Ibu berkaca-kaca saat bicara tentang Bapak atau ketika memandangi fotonya. Seperti tiga hari yang lalu, Ibu mendatangiku sambil membawa foto Bapak.
IBU Hari ini, tepat tujuh tahun Bapak meninggal, Mbak. Tapi Ibu selalu ngerasa kalau Bapak masih ada disini.
Aku hanya bisa memandang Ibu. Memandang wajah tuanya dan matanya yang berpendar menyimpan kerinduan. Iya, sudah tujuh tahun Bapak pergi, tapi aku bisa lihat cinta Ibu pada Bapak masih sama seperti saat mereka pertama kali bertemu 33 tahun lalu.
AKU Kita bacain Al Fatihan buat Bapak ya Bu.
p.s. Ya Allah, jagalah Bapak. Berilah laki-laki yang kami kasihi itu tempat yang lapang dan tenang disamping-MU. Amin.
Ada banyak hari dimana saya merasa dia sangat menyebalkan. Nggak bisa ngerti kerjaan saya. Selalu aja bikin saya marah.
Dan saya pun marah-marah. Marah-marah lagi. Lagi-lagi marah. Marah-marah kembali. Kembali marah-marah. Marah-marah selalu. Selalu marah-marah. Padanya.
Saking seringnya saya marah, dia sampai kebal. Kalau dulu dia bakalan tergopoh-gopoh menenangkan dan membujuk saya, kali ini tidak. Dia cuek aja nonton tv, pencet-pencet HP, mainan game.
Ehm...Sekarang malah saya yang ketakutan. Kira-kira dia sebal nggak ya kalau saya sering marah-marah nggak jelas? Marah nggak ya? Benci nggak ya?
Dan kenyataannya...Semalam, dia menarik saya ke dalam pelukannya. Mencubit hidung dan mencium pipi saya dengan mesra. Lantas berbisik lembut, kenapa belakangan ini saya nggak marah-marah seperti biasanya.
Ia hanya tergelak saat mendengar alasan saya. Bahwa saya takut ia membenci sikap saya yang suka ngomel tanpa alasan.
"Honey, I always love you...biarpun kamu suka marah-marah nggak jelas. Aku selalu cinta kamu..."
Rasanya hangat dan menyenangkan. Pipi saya merona merah. Saya tak ingin jauh dari pelukannya. Saya nggak mau apa-apa lagi. Saya nggak mau marah lagi. Saya sudah merasa cukup dengan cintanya.
Lebay sekali saya ini. Mau kembali ngeblog saja mesti menunggu momen. Kalau kata seorang kawan, mirip seperti pejabat saja, mesti menunggu hari 'bagus'.
Tak apa-apalah, sebagai manusia melankolis-melodramatis, momen seperti ini rasanya memang perlu. Semoga saja setelah kembali dari hiatus selama 6 bulan lebih, membuat saya jadi lebih rajin mengisi blog ini.
Berjumpa dengan kawan-kawan lama, selalu menyenangkan buat saya. Berbagi cerita, kabar, bahkan kenangan. Siapa yang sangka jika sang kawan justru mengingat kejadian atau bahkan kalimat sepele yang pernah kita ucapkan di masa lalu.
"Gila lo. Elo mau gue bunuh-bunuhan?"
Dan lelaki berkacamata itu tergelak. Syal abu-abu yang dikenakannya bergerak seirama tawanya. Sorot matanya tak percaya saat menatap kami, saya dan seorang kawan perempuan.
"Masa sih gue ngomong begitu?", tanyanya tak yakin.
"Iya. Waktu itu kan elo marah banget", ujar saya mengingatkannya.
Ia kembali tergelak. Tawanya lepas.
"Gue udah lupa. Elo berdua masih inget aja."
"Ingat nggak, waktu kita bertiga belajar renang di kolam yang buat anak-anak kecil itu?"
Kami bertiga kembali tertawa mengingat kekonyolan yang pernah dilakukan. Tiga orang dewasa berenang gaya batu di kolam untuk anak-anak. Meski airnya cuma setinggi lutut, kami bergantian memakai pelampung warna shocking pink. OMG! *tepok jidat*
Seperti biasanya setiap kali bertemu, reuni sepanjang sore hingga malam tadi tak melulu soal mengenang masa lalu. Ada cerita tentang rencana dan harapan di masa mendatang. Pekerjaan, keluarga, kekasih, sampai soal liburan dan rumah impian.
Saya, entah kenapa, selalu merasa gembira setiap kali berbagi harapan dengan mereka. Melihat mereka tersenyum dengan sorot mata berbinar-binar, membuat hari saya sempurna.
Makasih kawan, untuk semuanya.
Nb. Jadi penasaran, siapa yang bakal dibawa olehmu ke Taman Mini minggu depan ya Mas? :p
Hari ini saya ingin sekali menjadi putri tidur. Hidup dalam buaian mimpi indah hingga sang pangeran membangunkannya dengan satu kecupan mesra. Dan dunia di sekitar menjadi penuh warna. Tak ada yang perlu dicemaskan.
Sayangnya, saya tak bisa tidur. Dua jam lebih bergolek, miring kanan-miring kiri, sembari menikmati Home milik Michael Buble, tak membuat mata segera terpejam. Semestinya dalam putaran kedua atau ketiga, suara lembut Buble akan mengantarkan saya dalam lena yang panjang. Seperti yang biasa dilakukannya. Tapi kali ini tidak.
Jadi saya memutuskan untuk bangun. Pekerjaan baru datang nanti malam. Masih tersisa banyak waktu dan ada banyak hal yang ingin saya lakukan. Membongkar beberapa barang, membaui setiap lembarnya yang akan membawa saya terbang menjelajah hingga puncak Monas yang berkilauan di satu pagi.
Pagi terindah. Saya rebah. Menyerahkan diri sepenuhnya pada hamparan rumput hijau dan matahari keemasan yang mengintip dari sela-sela pucuk dedaunan. Angin bertiup dari utara, menyebarkan aroma asin di udara. Aroma laut.
Angan saya pun melompat pada ikan lumba-lumba. Matanya bulat hitam berbinar tatkala dua tangan kanan saling bersentuhan saat mengusap kulitnya yang licin dan berwarna kelabu. Senyum malu-malu tergambar di sudut kerlingan. Tak usai hingga angin terus membawa angan saya di sepanjang ruas jalan menuju Senayan.
Sayup-sayup lirik lagu Lenny Kravitz menyeruak, memaku angan. I belong to you. You belong to me.
Ada yang basah.
Jarum jam di dinding menunjukkan pukul empat lebih duapuluhlima menit. Masih ada waktu. Saya ingin jogging. Sesuatu yang saya ingin lakukan sejak dulu. Memutari Senayan, Monas, maupun boulevard UGM dan menikmati sentuhan lembut angin di wajah, saat kita berlari.
Sepatu hitam bergaris merah akan menemani saya. Ini pertama kalinya kami akan bersama-sama mengejar jejak jingga di ujung cakrawala. Tapi sayangnya, jejak jingga tak mau menghias langit sore ini. Ia bersembunyi dalam nestapa yang berkelindan rapi membungkus. Berharap bisa menjadi putri tidur.